
Vansh menghentikan mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam rumah Calista. Di dalam rumah itu, tampak Sharen dan kedua orang tuanya sedang bercakap-cakap dengan Calista di ruang tamu rumah tersebut.
"Selamat siang," sapa Vansh.
"Selamat siang Vansh," jawab Inara dan Abimana beserta Sharen.
"Kau dari rumah Queen, Vansh?" tanya Calista.
"Iya Tante, aku ada urusan dengan Mamanya Queen," jawab Vansh kemudian duduk di samping Calista. Vansh kemudian menatap Sharen dan tersenyum padanya.
"Sharen, kau mau pergi kemana?"
"Aku akan pergi ke Manchester, Kak. Aku ingin memulai lembaran baru dalam hidupku."
"Apa kau yakin mau melewati semua ini sendiri?"
"Sangat yakin, Kak."
"Baiklah, semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu, Sharen."
"Iya Kak, terima kasih banyak," jawab Sharen sambil menyunggingkan senyum di bibirnya, namun tanpa semua orang sadari, sebutir air mata hampir saja menetes dari sudut matanya. Sharen pun buru-buru menghapus air mata itu agar tidak ada yang melihatnya.
"Vansh, kami sangat berterima kasih padamu. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak menolong kami. Melihat kelakuan Sharen saja sudah membuat kami sangat sakit, apalagi jika harus ditambah dengan cibiran dari keluarga yang datang, perasaan kami mungkin akan sangat hancur Vansh. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu karena sudah menyelamatkan muka kami agar tidak lebih merasa malu," ucap Abimana.
"Sama-sama Om Abimana, saya hanya melakukan apa yang bisa saya bantu. Dan ini bukanlah hal yang sulit bagi saya. Saya senang bisa membantu kalian semua."
"Kau memang benar-benar anak yang sangat baik, Vansh. Semoga suatu saat kau bisa secepatnya menemukan pendamping hidupmu, kau juga layak bahagia sayang," tambah Inara.
__ADS_1
"Terima kasih banyak doanya, Tante Inara."
"Jika saja Vansh mau membuka hatinya, mungkin sudah banyak wanita yang mengantri di depan rumah ini Inara,"kata Calista sambil terkekeh dan membuat Abimana dan Inara ikut tersenyum.
"Tante bisa saja, saat ini aku memang belum siap Tante."
"Tapi mau sampai kapan? Coba lihat Nathan, awalnya dia sangat mencintai Cleo, tapi setelah bertemu dengan Clarissa dan dia mau membuka pintu hatinya, sekarang dia sangat tergila-gila pada Clarissa. Yang kau butuhkan hanya keikhlasan untuk melepaskan dan menutup lembaran lamamu," ujar Calista sambil menatap Vansh. Tanpa semua orang sadari, Sharen pun meneteskan air matanya saat mendengar kata-kata Calista. Dia pun bergegas menghapus air matanya tersebut sebelum semua orang menyadarinya.
"Mungkin suatu saat, tapi tidak untuk saat ini," jawab Vansh.
"Biarkan saja Kak Calista, aku yakin suatu saat Vansh juga akan menemukan wanita itu," ucap Inara.
"Baiklah kalau begitu, kami permisi pulang dulu," ujar Abimana.
"Apa kalian tidak terlalu terburu-buru? Bukankah kalian baru saja datang?"
"Oh baiklah kalau begitu, semoga semuanya lancar. Dan kau Sharen, semoga suatu saat kita bisa bertemu kembali."
"Iya Tante Calista, terima kasih banyak sudah mau menerima diriku menjadi bagian dalam keluarga Tante dengan tangan terbuka. Meskipun dalam hitungan hari, kehangatan Tante Calista begitu membekas di hatiku," ucap Sharen.
"Sama-sama Sharen, senang sudah mengenalmu."
Abimana dan Inara lalu bangkit dari atas sofa kemudian berjalan ke arah pintu diikuti Sharen di belakang mereka. Abimana dan Inara lalu masuk ke mobil mereka, namun Sharen masih berdiri di ambang pintu tersebut sambil menatap pada Calista dan Vansh disertai senyuman yang tersungging di bibirnya. Dia lalu memeluk Calista.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Tante Calista."
"Sama-sama Sharen, semoga kau bisa menemukan kebahagiaanmu."
__ADS_1
"Iya Tante," jawab Sharen sambil melepaskan pelukannya pada Calista. Dia kemudian melihat Vansh.
"Sekali lagi terima kasih banyak, Kak."
"Iya, semoga kau bisa memulai hidup barumu Sharen."
"Iya Kak."
"Apa kau tidak ingin memelukku? Meskipun kita belum lama mengenal, aku yakin kau sebenarnya gadis yang baik, hanya saja kau masih terlalu muda dan tidak bisa mengendalikan ambisimu. Kau tenang saja, aku akan selalu ada jika kau membutuhkan aku, Sharen. Karena aku sudah menganggapmu sebagai adikku," kata Vansh sambil tersenyum. Perkataan Vansh pun membuat Sharen terkejut. Dia lalu tersenyum kemudian memeluk Vansh.
"Terima kasih banyak, Kak Vansh. Kau dan Tante Calista benar-benar orang yang sangat baik," ujar Sharen saat memeluk Vansh.
"Iya Sharen."
Sharen melepaskan pelukannya dari Vansh lalu tersenyum pada Calista dan Vansh. Dia kemudian berpamitan dan masuk ke dalam mobil milik orang tuanya yang sudah menunggunya.
Tanpa mereka semua sadari, ada sepasang mata yang sedang sedang mengamati mereka di balik pintu gerbang rumah tersebut. Sebuah kotak kardus pun terjatuh dari tangan sosok di balik gerbang tersebut. Saat mobil milik Abimana keluar dari rumah itu, sosok itu kemudian membalikkan tubuhnya agar orang-orang yang ada di dalam mobil tersebut tidak melihat wajahnya. Setelah mobil itu pergi, dia pun membalikkan tubuhnya kembali dan melihat isi kotak yang sudah tercecer.
"Mungkin ini sebuah pertanda dari semesta jika sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa memilikinya. Seharusnya aku sudah menyadari itu sejak dulu, tapi sayangnya aku terlalu bodoh dan naif untuk menyadari itu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memiliki hatinya karena kita memang berbeda, dan lucunya aku baru menyadari itu setelah kebodohan ini sudah terlalu lama bersarang di dalam hidupku."
Maya kemudian menatap rumah milik Calista. 'Jadi, benar kata Tante Reni jika Vansh akan dijodohkan dengan seorang wanita, dan ternyata wanita itu adalah Sharen? Mungkin ini sebuah tamparan bagiku, mungkin juga ini sebuah hukuman dari Tuhan untukku karena hampir saja menyakiti seorang wanita karena ambisi dan dendam di dalam hatiku. Dan, kenyataan ini seolah memberikan tamparan bagiku. Kau menang Sharen, kau menang tanpa membalas apapun padaku. Hari ini aku sadar, sudah sepantasnya aku melupakan masa laluku, melupakan ksatriaku, dan melupakan semua kenangan itu. Aku harus kembali pada kenyataan bukan mimpi. Mimpi yang sampai kapanpun tidak akan pernah terwujud,' gumam Maya sambil berjalan pergi dari rumah itu.
Sedangkan Vansh yang kini sudah ada di dalam kamarnya tampak memandang sebuah foto liontin di layar ponselnya. Sekelebat bayangan di masa lalu kini pun mulai terlintas di dalam benaknya.
"AWAS! Ada mobil!" teriaknya pada seorang gadis yang sedang menyeberang jalan sambil membawa kotak kardus di tangannya. Vansh pun melihat dirinya berlari ke arah gadis itu dan tiba-tiba sebuah mobil mini bus menghantam dirinya.
BRAKKKK
__ADS_1
"AHHHHHH!!!" teriak Vansh. Dia kemudian bangkit dari atas ranjang sambil memegang kepalanya.