Bed Friend

Bed Friend
Malam Pertama Part 1


__ADS_3

Lamunan Darren seketika buyar saat seseorang menepuk pundaknya.


"Darren!" panggil sebuah suara seorang wanita bersuara lembut.


"Oh Mama," jawab Darren.


"Kenapa kau di sini sendirian sayang? Apa kau tidak merindukan kami semua? Papa, Shakila, dan Tristan," ucap Aini.


"Iya Ma, aku tadinya ingin mendekat pada kalian semua, tapi tiba-tiba acara ijab qabulnya sudah dimulai, jadi aku tunggu di sini dulu sampai ijab qabulnya selesai."


"Oh, kalau begitu ayo kita mendekat pada mereka. Mereka sudah sangat merindukanmu, Darren. Selama dua tahun ini kau sangat jarang memberi kabar pada kami semua. Apa kau sangat sibuk, Sayang?" tanya Aini sambil menggandeng Darren lalu mulai mendekat ke arah Roy, Shakila, dan Tristan.


"Oh, emh. Iya aku sangat sibuk Ma."


Langkah mereka pun terhenti saat mereka sudah ada di depan Roy. Tampak Shakila dan Tristan duduk di belakang Roy.


"Anak Papa!" sambut Roy sambil merentangkan kedua tangannya. Darren lalu balas memeluk Roy.


"Kami sangat merindukanmu, Nak. Apa kuliahmu begitu menyita waktumu sampai kau tidak pernah pulang selama dua tahun terakhir ini?"


"Emh.., e iya Pa. Aku banyak mengambil kegiatan lain di luar kegiatan akademik."


"Papa jadi curiga kau sudah punya pacar di sana Darren," ucap Roy sambil tersenyum.


"Emhhhh... Tidak, belum Pa," jawab Darren dengan begitu terbata-bata.

__ADS_1


"Hahahaha, dasar pemalu! Katakan saja yang sebenarnya jika kau sudah memiliki seorang pacar!" ledek Roy yang membuat Darren salah tingkah.


"Belum Pa," jawab Darren sambil melirik ke arah Shakila yang kini terlihat begitu murung. Hatinya terasa begitu bimbang mendengar perkataan Roy. Namun, tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali menahan rasa sesak di dalam dada.


"Darren, temui kedua adikmu. Kau pasti merindukan mereka kan?"


Mendengar perkataan Aini, seketika tubuh Darren pun seakan membeku. Bimbang, satu kata yang ada di dalam hatinya saat ini. Jika waktu bisa dihentikan, jika dia bisa melanggar batas kepantasan. Ingin rasanya dia memeluk tubuh wanita yang terlihat begitu indah di hadapannya, mengecup bibir manisnya, dan menciumi seluruh bagian tubuhnya untuk meluapkan rasa rindunya. Namun, dia bisa apa? Hanya manusia biasa yang harus tunduk pada takdir jika wanita yang dicintainya tidak akan pernah jadi miliknya.


'Tuhan, mengapa kami harus merasakan semua ini? Perasaan cinta ini adalah sebuah dosa. Kenapa kami harus merasakan dosa ini? Dosa yang begitu indah,' gumam Darren.


Perlahan, dia pun mendekat ke arah Shakila dan Tristan, meskipun langkah itu terasa begitu berat.


"Senang bertemu dengan kalian. Kau kini sudah terlihat dewasa, Shakila. Kau juga sudah semakin besar Tristan."


"Kakak, aku sangat merindukanmu Kak," ucap Shakila lirih.


"Shakila, tolong hentikan ini, tolong hentikan ini. Aku adalah kakakmu, itu hal yang tidak bisa dihindari Shakila. Kita memang berbeda ibu, tapi kita memiliki darah yang sama. Kita memiliki ayah kandung yang sama, Papa Roy. Kita tidak boleh bersikap seperti ini, kubur semua rasa ini dalam-dalam Shakila, seperti yang pernah kukatakan padamu sebelum aku pergi dulu. Bunuh semua rasa cinta ini," jawab Darren dengan suara yang begitu pelan.


"Lalu apakah kau bisa membunuh rasa cintamu padaku? Aku bahkan masih bisa melihat dengan jelas cinta di matamu padaku? Tatap mataku dan katakan jika kau tidak mencintaiku. Tatap mataku, Kak!" perintah Shakila dengan setengah berbisik.


Darren pun hanya bisa terdiam, dia kemudian mencoba melepaskan pelukan Shakila. Semua orang yang ada di dalam acara pernikahan tersebut pun tidak ada yang curiga, karena yang mereka tahu yang dilakukan Shakila dan Darren adalah ungkapan rindu karena sudah lama tidak bertemu. Ungkapkan rindu sebagai kakak beradik, bukan sepasang insan manusia yang saling mencintai.


...***...


Maya sedang mengeringkan rambutnya yang terasa begitu kusut dan kaku akibat hair spray yang digunakan oleh penata rambutnya untuk acara pernikahannya tadi pagi. Sedangkan Vansh masih ada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Maya lalu menatap wajahnya di cermin. Dia kemudian memegang dadanya dan merasakan degup jantungnya yang berdegup begitu kencang.


"Kenapa aku gugup sekali malam ini?" ucap Maya sambil mengigit bibir bawahnya. Tubuhnya kini terasa begitu panas, padahal AC di kamar itu sudah distel dengan suhu yang rendah.


Saat pintu kamar mandi dibuka, spontan Maya memejamkan matanya. 'Astaga, dia datang,' gumam Maya sambil memegang dadanya.


"Maya! Kau kenapa?" ucap Vansh saat melihat Maya yang berdiri di depan cermin sambil memejamkan matanya. Mendengar suara Vansh, Maya pun membuka matanya lalu tersenyum dan begitu terpesona melihat tubuh telanjang Vansh yang terlihat begitu atletis.


Dia pun menelan salivanya dengan kasar kemudian memandang Vansh yang kini berdiri di hadapannya hanya dengan menggunakan celana boxer sambil menatap Maya dengan tatapan mata sayu.


"Kau kenapa Maya? Apa kau gugup?"


"Kenapa kau tidak memakai baju, Kak?" tanya Maya dengan polosnya.


"Untuk apa? Untuk apa memakai baju, merepotkanmu untuk membukanya saja," ucap Vansh dengan tatapan menggoda yang membuat Maya tersipu malu.


Perlahan, Vansh pun mendekatkan tubuhnya pada Maya. Lalu mengecup bibirnya. Sebuah kecupan, tapi membuat sekujur tubuh Maya seperti tersengat aliran listrik dan sungguh terasa begitu berbeda dengan kecupan yang biasa Vansh lakukan.


"Maya? Boleh?" tanya Vansh sambil membelai wajah Maya. Maya pun tersenyum lalu menganggukan kepalanya.


Vansh kemudian mengusap bibir Maya, sedangkan Maya mulai memejamkan matanya disertai nafas yang begitu tak beraturan. Vansh kemudian memiringkan kepalanya lalu mulai menempelkan bibirnya pada bibir Maya dan melummat bibir itu yang kini terasa begitu manis. Kini, lidah keduanya pun beradu, mengeluarkan kecapan-kecapan yang terasa begitu syahdu.


NOTE:


Malam pertama mereka dilanjut next episode ya, kayaknya masih panjang kisah malam pertamanya 😭😭🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2