
"Kenapa? Kenapa anda harus takut pada suami anda, Bu Rahma?"
"Saya takut diceraikan..."
"Diceraikan? Kenapa? Apa yang membuat anda berfikir jika suami anda akan menceraikan anda hingga anda tega menukar Sachi dan Dea?" tanya Shakila sambil mengerutkan keningnya.
"Benar seperti yang kau katakan, Nona. Saya memang menukar Sachi dan Dea karena Dea menderita penyakit jantung. Saat itu di kereta yang sama, saya duduk tidak jauh dengan ibu anda yang membawa seorang anak kecil berumur sekitar dua tahun yang kemungkinan itu adalah anda, dan seorang bayi baru lahir dan dia adalah Sachi. Saat di dalam kereta, ibu anda tampak begitu ketakutan dan cemas. Sampai akhirnya kereta api tersebut berhenti dan dia meninggalkan Sachi di dalam kereta api tersebut yang dia taruh di atas kursi karena saat itu dia sedang tidur."
Kata-kata Rahma terhenti, sesak itu yang dia rasakan mengingat kejadian dua puluh tahun silam. Begitupula dengan Shakila yang saat ini hanya bisa terdiam sambil meremmas dadanya.
"Lanjutkan," ucap Shakila lirih.
"Melihat Sachi yang ditinggalkan begitu saja, sungguh saya tidak pernah berfikir kalau ibu anda tidak sengaja meninggalkannya. Saya berfikir kalau sepanjang perjalanan ibu anda tampak begitu cemas karena akan meninggalkan adik anda di dalam kereta. Jadi, setelah melihat ibu anda meninggalkan Sachi begitu saja, saya menghampiri bayi mungil itu dan menggendongnya, dalam gendongan yang sama dengan anakku, Dea. Awalnya saya memang akan menitipkan Sachi ke pihak stasiun atau puskesmas terdekat. Tapi saya terbujuk rayuan setan hingga menukar Sachi dan Dea," kata Rahma dengan begitu terisak.
"Jadi benar, kau menukar mereka karena Dea menderita penyakit jantung bawaan?"
"Saya takut, Nona. Saat itu saya melahirkan Dea di kampung halaman saya, tanpa didampingi suami saya, hanya bersama orang tua. Dan ternyata bayi yang saya lahirkan menderita penyakit jantung bawaan, yang memerlukan biaya pengobatan dan perawatan yang besar. Saya takut jika suami saya tahu dia marah dan menceraikan saya, karena kondisi ekonomi kami sangatlah pas-pasan. Jadi saat melihat ada kesempatan di depan mata, tanpa berfikir panjang, saya menukar Dea dan Sachi. Saya sengaja menaruh Dea di panti asuhan agar saya bisa bertemu dengannya kapanpun saya mau. Dan saya juga yakin, di panti asuhan itu mereka bisa mengobati Dea karena panti asuhan itu memiliki donatur tetap yang selalu membantu mereka merawat anak-anak panti."
"Kau benar-benar picik dan sangat egois! Tahukah kau bagaimana mati-matiannya keluarga kami mencari Sachi? Dan kau menggunakan Sachi hanya untuk kepentinganmu semata!"
"Maafkan saya. Tapi sungguh, selama ini saya juga sangat menyayangi Sachi, saya sudah menganggap Sachi sebagai anak kandung saya sendiri, karena bagi saya Sachi adalah penyelamat hidup saya. Saya sangat menyayangi Sachi, dia gadis yang sangat baik, pintar, dan menyenangkan."
"Dan kami sudah kehilangan Sachi yang baik, pintar, dan menyenangkan itu karena anda. Jadi, semua kata maaf yang anda ucapkan juga tidak cukup karena akibat kesalahan fatal yang kau perbuat, orang tuaku sampai salah mengambil keputusan dan menyangka jika Dea adalah Sachi!"
"Maafkan saya, maafkan saya Nona. Saya akan meluruskan kesalahpahaman ini. Tolong maafkan saya."
"Tidak semudah itu Bu Rahma! Orang tuaku sudah terlanjur menganggap Dea adalah putrinya, dan dia tidak mungkin begitu saja mempercayai perkataan anda tanpa bukti yang jelas!"
"Bukti yang jelas? Apa maksud anda?"
"Tes DNA. Anda juga harus melakukan tes DNA agar bisa membuktikan kalau Dea adalah anak kandung anda."
"Tes DNA?"
__ADS_1
"Ya, anda mau kan melakukan tes DNA tersebut?"
"Bu Rahma, semua yang terjadi adalah sebuah kesalahan fatal dan ini terjadi karena kecerobohan anda. Anda harus bertanggung jawab atas semua kesalahpahaman ini. Anda harus mau melakukan apa yang diminta oleh Shakila agar bisa meluruskan permasalahan ini," tambah Darren.
"Baik, baik saya mau melakukan itu. Saya mau melakukan seperti yang kau inginkan, saya mau melakukan tes DNA. Dimana saya harus melakukan tes DNA tersebut?"
"Di rumah sakit. Besok tolong anda datang ke rumah sakit dan temui seorang dokter yang bernama Dokter Vallen. Dia akan membantu anda melakukan tes DNA."
"Besok biar supir saya yang mengantar anda ke rumah sakit itu," tambah Darren.
"Terima kasih banyak," jawab Rahma.
Shakila kemudian menutup matanya sambil menghembuskan nafas panjangnya. "Bu Rahma, sekarang katakan padaku, dimana Sachi?"
DEG
"Dimana adikku Sachi? Apakah itu Sachi?" tanya Shakila sambil menunjuk sebuah foto seorang gadis cantik yang ada di dinding, dadanya terasa begitu sesak, dan sakit mengingat Sachi. Sachi adiknya yang seharusnya bisa hidup bahagia dengannya, kini dia bahkan tidak tahu bagaimana nasibnya.
"Namanya Luna, dulu saat saya akan melahirkan di kampung karena keterbatasan biaya, suamiku memberi pesan agar memberi nama Luna pada anak kami. Dan saya akhirnya membawa Sachi pulang dan memberi nama Luna padanya. Selama dua puluh tahun lebih, yang Sachi tahu namanya adalah Luna."
"Luna?" tanya Shakila sambil terisak.
"Ya, Luna. Dia gadis yang sangat baik. Dia sangat bertanggung jawab pada keluarga ini, terutama saat suamiku meninggal. Dia langsung mengambil alih sebagai tulang punggung dari keluarga ini, bahkan dia sengaja mengambil pekerjaan part time saat kuliah. Suamiku sangat menyayangi Luna, dia selalu memberikan yang terbaik pada Luna termasuk pendidikan. Sayangnya suamiku meninggal dunia akibat kecelakan, jadi saat Luna belum menyelesaikan kuliah, dia harus bekerja paruh waktu untuk menghidupi kami dan membiayai kuliahnya."
"Kau jahat!" teriak Shakila.
"Shakila tenangkan dirimu!"
"Kak Darren, apa kau tidak dengar dia sudah mengambil Sachi dari kami lalu Sachi juga harus menjadi tulang punggung untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Sachi harus menafkahi mereka! Padahal Sachi bukan bagian dari keluarga mereka, Kak! Entah pengorbanan apa saja yang sudah Sachi lakukan pada mereka tapi yang jelas Sachi sudah menjadi korban dari keegoisan mereka, Kak! Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Sachi selama ini!"
"Iya aku tahu Shakila, aku tahu. Tapi tolong tenangkan dirimu! Tenangkan dirimu, Shakila!" ujar Darren sambil memeluknya.
Shakila kini pun menangis tersedu-sedu dalam pelukan Darren. Sementara Rahma juga masih tampak meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Bu Rahma!" panggil Darren.
Rahma kemudian mengangkat wajahnya, lalu menatap Darren dengan perasaan takut.
"Ada apa, Nak?"
"Dimana Sachi? Apa kami bisa menemui Sachi sekarang?"
Rahma terdiam, bibirnya terasa kaku dan lidahnya seakan kelu, bahkan untuk mengucapkan satu patah katapun.
"Bu Rahma, dimana Sachi?" tanya Darren kembali.
"Sachi, dia sudah menikah. Dia baru saja menikah dua minggu yang lalu."
"Menikah?" ucap Shakila dan Darren bersamaan.
'Oh tidak,' batin Shakila. Dia kemudian menatap Darren.
"Kakak, kalau Sachi sudah menikah, Papa tidak mungkin menjodohkan dia dengan Devano. Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?"
"Kau tenang saja," jawab Darren.
"Sachi menikah dengan siapa?" tanya Darren memberanikan diri.
"Dia menikah dengan mantan bosnya, namanya Devano."
"Apa Devanooo?" teriak Shakila dan Darren bersamaan.
NOTE:
Biarpun nama Luna dan si messum Devano seringkali diucapkan di sini, tapi othor ga ceritain kisah mereka di sini ya, cerita selengkapnya di novel sebelah.
Terima kasih..
__ADS_1