Demon Sumoning Game

Demon Sumoning Game
Bab 162 Bunuh pembuat monster chimera bagian 2


__ADS_3

“Trraakss… Buusskk…” tangan kanan yang mana ditutupi oleh sisik kadal tersebut dengan cepat meninju tubuh Angga yang telah dilapisi angin tersebut, “Buussh…” dengan kekuatan fisik dari monster chimera tersebut Angga terhempas sangat jauh dari tempat itu. Melihat hal itu Dion langsung mengambil inisiatif untuk melawannya “Crraangss…” dengna pedang emas miliknya Dion berusaha untuk menebas monster chimera tersebut, “Wuusshh…” namun ketika Dion menebasnya monster chimera itu menghindar dengan cara mengangkat kaki depannya.


Lalu saat Dion berada dalam jarak serangannya monster chimera tersebut langsung berusaha untuk menghancurkan Dion menggunakan kaki depannya, “Buusskk… Buusskk… Buusskk…” hantaman kaki depannya yang sangat kuat berhasil dihindari oleh Dion, tetapi serangan dari monster chimera itu sangatlah kuat bahkan sampai membuat retakkan ditanah tempat dia menyerang.


“Hmm… dia tidak berhenti menyerang” pikir Dion, monster chimera tersebut tetap mengincar Dion dengan kaki depannya.


“Mahluk ini dia mengabaikanku rupanya” kata Luna yang mana kelihatan kesal.


Luna lalu memerintahkan beberapa anak setan miliknya untuk menyerang monster chimera tersebut, bersama dengan hantu Kuntil anak para anak setan tersebut menyerang monster chimera itu secara beramai-ramai.


“Rooarr… Rooarr…” monster chimera tersebut menjadi marah karena merasa terganggu dengan serangan dari para anak setan tersebut, serangan-serangan dari para anak setan sama sekali tidak berdampak pada monster chimera tersebut tetapi serangan mereka dapat membuat sibuk monster chimera itu.


“Bagus sekarang adalah kesempatanku” pikir Luna, dia lalu menyiapkan belati miliknya dan mengincar bayangan dari monster chimera tersebut.


Tetapi sebelum Luna bisa menyerang monster chimera tersebut dari belakang, “Trraskk…” monster chimera itu mengangkat kaki belakangnya dan bersiap untuk menendang Luna yang ada dibelakang, “Wuussh…” dengan cepat Luna menghindari serangan tendangan kaki monster chimera tersebut dengan cara melompat kebelakang, “Trrinngss…” Luna lalu menggunakan cincin miliknya dan menembakkan sebuah cahaya putih dari permata cincin tersebut. “Buummsh…” sinar putih itu mengenai telak ditubuh monster chimera tersebut, namun dengan menggunakan tangan kanannya yang memiliki sisik kadal yang keras monster chimera tersebut berhasil menahan serangan milik Luna, “Trrasshh…” walaupun begitu tangan kanan dari monster chimera tersebut harus hancur karena menahan serangan Luna tersebut.


“Rooaarrrr…..” dengan amarahnya monster chimera tersebut berbali dan langsung berusaha untuk menangkap Luna menggunakan tangan kirinya, “Srruusshh… Srruusshh… Srruusshh…” tangan kiri yang mana adalah tentakel gurita berwarna hitam tersebut berusaha untuk menangkap tubuh Luna, “Srrasstt… Crrasstt…” tetapi dengan sigap Luna menghindari tangkapan tangan kirinya tersebut sambil menebas beberapa tentankel tersebut.


Melihan tuannya diseranga hantu Kuntil anak langsung dengan cepat berusaha menyerang monster chimera tersebut, “ROOAARR…” dengan menggunakan auraman miliknya monster chimera tersebut langsung membuat hantu Kuntil anak berhenti bergerak. “Buurrsshh…” dengan energy sihir yang dialirkan ketangan kirinya monster chimera itu langsung menyerang hantu Kuntil anak, “Wuusssh…” dengan sekali serangan tubuh gaib milik hantu Kuntil anak langsung terhapus dan dirinya dipaksa untuk kembali kealamnya.


“Rooaarr…” melihat hantu Kuntil anak yang sudah kalah monster chimera itu langsung kembali mengincar Luna, “Wuuusshh…” namun sebuah angin yang kuat muncul dan dari angin tersebut “Srrastt… Srrastt…” tubuh dari monste chimera itu tersayat-sayat dengan sendirinya.


“Hahahhaa… mahluk kurang ajar, jangan bilang kalau kau mengira aku sudah kalah” kata Angga yang terbang diatas monster chimera tersebut.

__ADS_1


Dengan baju yang compang-camping Angga terbang diatas monste chimera tersebut dengan sombongnya, “Wuussh…” lalu dengan menggunakan dorongan dari angin miliknya Angga berusaha untuk menyerang monster chimera tersebut. “Sriinggss…” pedang milik Pastur kepala puntung yang ada ditangannya tersebut langsung mengarah ke tenggorokan monster chimera tersebut, “Buussh…” namun dengan sigap monster chimera itu menghindari serangan Angga dengan cara melompat keudara.


“Kau pikir kau telah selamat karena menghindari seranganku” kata Angga yang mana terlihat tersenyum dengan liciknya.


“Buusskk…” dengan sangat kuat Dion mengambil kesempatan tersebut dan memukul monste chimera tersebut menggunakan sebuah palu emas raksasa, “Buummssh….” Dengan serangan yang kuat tersebut monster chimera itu langsung terhempas jauh dari tempat itu.


“Gahahaha… bagaimana apa kau suka dengan itu…?? Itu semua adalah rencanaku” kata Angga yang menyombongkan dirinya.


“Grrrr….” Tetapi monster chimera yang mana sudah terluka parah bangkit kembali, “Tuuskk… Tuuskk… Tuuskk…” walaupun beberapa tulang ditubuhnya telah hancur dan juga dirinya sudah tidak bisa berdiri dengan benar, “Rrrrr…” monster chimera tersebut tetap mengalirkan energy sihir yang luar biasa besarnya.


“Hmm… apa yang dia lakukan” kata Angga yang melihat kearah monster chimera tersebut.


“Trriinnggss…” dan pada saat Angga melihat lagi energy sihir didalam tubuh monster chimera tersebut semakin menguat.


“Semuanya bantu aku, akan kugunakan kurungan emas untuk mengurungnya” kata Dion, dengan cepat para anggota yang lainnya mengalirkan energy sihir milik mereka kearah tubuh Dion.


“Trringgss…” dan ketika seluruh tubuh dari monster chimer tersebut sudah menyala “Trriiisstt…” sebuah sengatan hitam muncul didalam otaknya dan membut dirinya tidak bisa bergerak, ketika monster chimera tersebut melihat kearah energy sihir hitam tersebut dia telah melihat Luna yang mana sudah menusuk tanganya sendiri menggunakan paku hitam sambil memegang boneka jerami berwarna hitam ditangan kirinya.


“Jangan berharap kalau kau bisa melakukan hal itu” kata Luna yang mana menahan rasa sakit ditangannya.


“Bagus tahan dia seperti itu” kata Dion, “Crranggss… Trranggss… Krranggss… Crranggss… Krranggss…” dengan beberapa lapis kurungan emas Dion membuat tubuh dari monster chimera tersebut terkurung didalam puluhan lapis emas yang kuat.


“Bommmsshh….” Dan ketika dia meledakkan dirinya Luna dan Dion langsung terkena luka dalam karena tehnik sihir milik mereka terguncang lewat ledakan tersebut, Angga yang ada disana langsung menggunakan kekuatan angin miliknya “Wuussh…” dan melindungi setiap rekannya dari sisa-sisa ledakan monster chimera tersebut.

__ADS_1


“Wuuussh… Ssshhhtt….” Dan ketika ledakan tersebut sudah berakhir semua orang yang ada dikelompok mereka selamat, beberapa dari mereka hanya mengalami luka kecil bahkan hanya Luna dan Dion baik-baik saja berkat kekuatan angin milik Angga.


“Huuuhh…. Tadi itu hampir saja, aku tidak menyangka dia akan melakukan itu” kata Angga.


“Dia itu senjata hidup, melakukan hal yang seperti ini sudah menjadi kewajaran yang akan dia lakukan jika mahluk itu kalah” kata Luna yang menatap sisa-sisa mayat monster chimera tersebut dengan tatapan sedih.


“Kau tidak apa-apa…??” tanya Dion yang mana melihat tatapan sedih Luna.


“Aku tidak apa-apa, sekarang mari kita cari orang gila yang menciptakan mahluk ini” kata Luna.


Lalu saat mereka sampai didalam pondok tersebut mereka dikejutkan karena melihat tempat itu sudah kosong, mengetahui hal itu para anggota yang lainnya langsung berlari untuk menemukan pencipta chimera tersebut. Namu setelah satu jam lebih mencari mereka sama sekali tidak menemukan tanda-tanda dirinya ada disekitar sana, Angga yang mana merasa marah “Wuuussh…” menggunakan kekuatan angin miliknya untuk mencari keberadaan dari pencipta chimera tersebut.


“Percuma saja Angga, kau tidak akan bisa menemukannya” kata Rudra yang tiba-tiba saja menghubungi Angga.


“Apa maksudmu itu Rudra, apa dia dilindungi oleh sesuatu sehingga kekuatan angin milikmu tidak dapat melacaknya” kata Angga.


“Tidak bukan seperti itu maksudku, yang ingin kukatakan adalah dia sudah pergi kealam lain, dan karena kau tidak memiliki petunjuk tentang dimana dia berada kau tidak dapat mengejarnya” kata Rudra.


“Cih…. jadi itu artinya dia menggunaka mahluk itu untuk mengulur waktu” kata Angga yang kelihatan sangat marah.


“Yaah… itu benar sekali, sangat disayangkan tetapi kau sudah kehilangan dirinya” kata Rudra.


Bersambung….

__ADS_1


__ADS_2