
Bromo adalah seorang tentara yang dulunya pernah berperang melawan para penjajah, dia dulunya adalah seorang prajurit yang sangat setia pada negara dan sangatlah tangguh tetapi pada saat melawan penjajah dia kabur dari medan perang, dan semua itu karena dia melihat kematian dari rekan-rekannya yang mati ditangan senjata para penjajah, dihadapi oleh kenyataan tersebut Bromo memulai perjalanannya untuk mengasingkan diri dari dunia luar.
Lalu pada saat dia berumur 50 tahun dia menemukan sebuah goa mistik yang mana terdapat sebuah pedang sihir didalamnya, pedang tersebut mengandung kekuatan mistik yang membuat Bromo ingin mengambil dan ketika dia mengambil pedang itu dirinya dipenuhi dengan rasa haus akan membunuh. Dia lalu mulai pergi keberbagai desa untuk membantai para warga yang ada disana, “Srrasst… Crraasst… Krraastt…” tidak perduli itu laki-laki, perempuan, orang tua ataupun anak-anak semuanya mati ditangan pedangnya.
“Hhahahahaha…” disaaat pembantaia pada waktu itu dia hanya tertawa karena senangnya, dan juga karena pembantaian tersebut tubuhnya menjadi mudah kembali.
Selama berpuluh-puluh tahun dirinya memegang pedang tersebut dia terus membunuh dan membunuh tidak perduli siapa atau apa itu dia akan membunuhnya jika mereka berada dalam jarak pandangnya, tetapi kebebasannya sirna setelah dirinya ditangkap oleh serikat pencari kebenaran dan pada saat dirinya dipisahkan dengan pedang sihir miliknya kewarasannya lalu kembali lagi.
Lalu saat itu dia mulai merasa berterimakasih pada serikat pencari kebenaran karena telah membebaskan dirinya, Bromo lalu menyerahkan tubuhnya sebagai bahan percobaan pada serikat kebenaran dan sampai pada akhirnya Bromo menjadi salah satu tetua dari serikat pencari kebenaran tersebut. Dengan pedang sihir terkutuk yang telah disegel Bromo dapat dengan mudah mengendalikan pedangnya sampai pada akhirnya dia bisa dengan mudah mengalahkan setiap musuh dengan pedang miliknya sihir miliknya.
Tetapi pada saat ini Bromo yang mana menggunakan pedang sihir miliknya mencoba menebas Lita “Trraanggss…” tetapi sebuah energy sihir berbentuk sisik-sisik ular melindungi tubuh Lita, “Buusskk….” Dan membuat Bromo terhempas jauh karena kekuatan sihir miliknya Nagini ada didalamnya.
“Apa…?? Apa yang terjadi, pedangku dapat membelah tank dengan mudahnya tetapi pelindung anak ini kenapa bisa sekuat itu” pikir Bromo, “Grrr…” dengan insting dari Cindaku harimau hitam Bromo langsung menyerang Lita dengan buasnya.
“Trraanggs… Trraanggs… Trraanggs… Trraanggs…” dia bergerak dengan sangat cepat dan menyerang dari segala arah untuk mencari celah dari pelindung milik Lita, “Boomssh…” tetapi secara tiba-tiba sebuah bola api dilemparkan dan membuat bulu harimau hitam milik Bromo terbakar.
“Grraaahh… Rooaarr…” Bromo yang kepanasan tersebut lalu menggulinggulingkan tubuhnya, “Brubububuk….” Melihat hal itu Lita hanya bisa tertawa karena kelucuan melihat sesosok kucing besar yang menggelinding didekat dirinya.
“Hahhahaha…. Aku baru tahu ternyata kucing itu tidak kuat dengan panas” kata Rio yang mana terbang bersama dengan Garuda.
__ADS_1
“Grrrr… rupanya kau juga adalah rekan dari bocah ini” kata Bromo yang terlihat sangat marah.
“Hei-hei jangan terlalu marah, bukannya seharusnya kau berterimakasih padaku, sekarang bulumu jadi tambah hitam” kata Rio yang mana sedang memancing emosi dari Bromo.
“Roooarrr….” Bromo yang marah lalu mengumpulkan energy sihir dikedua telapak kakinya dan “Buussk…” melompat dengan sangat kuat untu dapat menjangkau Rio, tetapi Garuda yang melihat hal itu langsung terbang menerjang kearah Bromo.
“Wuusshh…” dengan cepat Garuda terbang menukik kearah Bromo, sementara itu melihat Garuda yang menuju kearahnya “Srrinnggs…” Bromo menyiapkan pedang miliknya dengan energy sihir yang padat dipedang miliknya, “Srraanggss…” lalu pada saat Garuda sudah sangat dekat Bromo melancarkan serangan tebasan miliknya “Trranggsskk…” tetapi dengan menggunakan sayap miliknya Garuda menangkis serangan pedang milik Bromo.
“Grrrr… sayapnya terlalu keras” pikir Bromo, lalu menggunakan kedua kakinya “Buusskk…” dia menendang tubuh Garuda untuk membuat sebuah jarah.
Kemudian disaat Bromo sudah hampir jatuh mendarat Rio sudah menunggu dirinya dibawah dengan crosbow miliknya yang telah membidik kearah Bromo, “Crraakss…” dengan satu tembakan Rio dapat melancarkan tiga buah anak panah kearah Bromo, “Traanggss… Traanggss…” namun dengan pedang miliknya Bromo menangkis setiap anak panah yang diarahkan kepada dirinya.
“Brruukkss…” lalu pada saat Bromo sudah mendarat dia langsung ingin menyerang Rio tetapi saat dia melihat kesekitarnya Rio dan Lita sudah tidak ada lagi disekitarnya, “Trraasskk… Trraasskk… Trraasskk…” lalu secar tiba-tiba serangan cambukan dari alat sihir milik Rio mengekang Bromo. Dari dalam bayangan Rio muncul bersama Lita dan pada saat tubuh Bromo telah tidak bisa bergerak karena terkunci oleh alat sihir milik Rio, “Zuunggss…” Lita telah menyiapkan alat sihir gelang miliknya untuk menembakkan sebuah peluru sihir.
“Serangan yang bagus, tetapi kurasa itu belum cukup” kata Rio yang mana masi tidak melihat ada tanda-tanda kematian menggunakan mata miliknya.
“Brruusskk…” Bromo yang mana sudah terluka parah langsung keluar dari rerentuhan gedung tempat dia terhempas tadi, “Krraakks… Trraakkss…” tulang-tulang miliknya yang patah kembali seperti semula dan beberapa luka ditubuhnya mulai sembuh seperti sedia kala, tetapi energy sihir miliknya juga berkurang secara drastis.
“Menyerahlah kakek, aku akan mengampunimu jika kau menyerah dan patuh kepadaku” kata Rio.
__ADS_1
“Hahahah…. Menyerah katamu, maaf anak kecil tetapi aku tidak akan lari lagi dari medan perang” kata Bromo, “Zrriinggss… Zrriinggss… Zrriinggss…” dia lalu memanggil tiga buah Begu ganjang untuk menghadang Rio.
“Hmm… mau main jumlah kalau begitu Lita juga bisa” kata Lita, “Zrrinnggss…” dengan menggunakan sisa dua cahaya dari gelang miliknya Lita memanggil puluhan hantu Pagebluk untuk menghadang ketiga Begu ganjang tersebut.
“Aaaahhkkk….” Rio dan Lita lalu dikejutkan dengan tindakan kakek Bromo yang membuka mulutnya lebar-lebar dan memasukan ujung pedang miliknya kedalam mulutnya, “Srrraassstt…” pedang milik kakek Bromo lalu masuk dan tertelan seluruhnya kedalam perut miliknya.
“Dia lagi laparya makanya dia makan pedangnya” kata Lita dengan polosnya.
“Hmm… kurasa dia bukan makan pedangnya karena lapar dek Lita” kata Rio.
“Zooommmnggss….” Lalu dari dalam tubuh Bromo keluar energy sihir yang sangat besar, energy sihir tersebut lalu mengubah setruktur tubuhnya, dan kemudian “Srringgss… Srringgss… Srringgss…” menumbuhkan beberapa pedang dari beberapa bagian tubuhnya.
“Hohoho…. Alat terkutuk kah, itu benda yang cukup jarang bisa kau lihat” kata Batara Kala.
“Kau tahu tentang pedang itu Batara Kala…??” tanya Rio.
“Tentu saja itu adalah alat sihir yang mana telah ditingkatkan, namun cara untuk meningkatkannya adalah dengan memasukan roh pendendam kedalamnya, memang alat terkutuk sangatlah kuat dan lebih kuat dari pada alat sihir tetapi efek balik pemakaiannya itu sangat besar” kata Batara Kala.
“Maksudmu ada harga untuk memakai alat itu” kata Rio.
__ADS_1
“Tentu saja dan harganya adalah darah, darah dari para mahluk hidup yang mereka lawan dan juga semakin lama pengguna alat terkutuk memakai alatnya maka mereka akan semakin tertelan oleh alat mereka dan sampai pada akhirnya mereka dikendalikan sepenuhnya oleh alat terkutuk itu” kata Batara Kala.
Bersambung…..