
Beberapa menit sebelum Rio dan Beelzebub mulai bertarung, disaat itu didalam sebuah gang kecil Angga dengan pedang pendek ditangannya sedang menantang Silla yang mana adalah salah satu dari 3 jendral Beelzebub. Dengan armor hijau kehitaman Silla mengeluarkan aura yang sangat berbahaya, bahkan dirinya memiliki bau-bau racun yang keluar dari tubuhnya.
“Wuusshkk…” namun Angga yang mengetahui hal tersebut langsung menggunakan kekuatan angin miliknya untuk menjaga dirinya dari bau racun tersebut, melihat hal itu Silla hanya tersenyum sedikit pada Angga.
“Apa yang kau tertawakan, kau sebentar lagi akan mati disini” kata Angga.
“Hahahha… kau kasar sekali, tetapi lumayan juga kau sudah berkembang lebih baik dari sebelumnya, tetapi apa kau benar-benar yakin dapat mengalahkanku” kata Silla.
“Ttsshhtt…” dari ujung telunjuk jarinya sebuah cairan hijau yang mana mengandung racun sangat kuat muncul, cairan hijau itu bahkan sampai dapat membuat tanah yang ada terkena cairan itu meleleh seperti es. Melihat hal tersebut Angga langsung berjaga-jaga pada dirinya, dia menggunakan seluruh kekuatan angin yang dia dapatkan dari Rudra untuk mempertajam indra miliknya.
“Ingatlah Angga kunci dari tehnik ini bukanlah melihat tetapi merasakan, kau harus bisa merasakan perubahan udara yang ada disekitar dengan kulit dan juga pendengaranmu, lalu dengan cepat menggunakan instingmu kau harus bergerak disituasi apapun” kata Rudra yang mana sedang mencoba untuk membimbing Angga.
“Aku mengerti Rudra, aku dapat merasakan kalau udara yang ada disekitarnya semakin berbahaya dan juga menjadi semakin dingin, tetapi bukan pada dirinya melainkan sesuatu yang ada didekatnya” pikir Angga yang mana merasakan udara disekitar Silla.
“Wuushhkk…” dengan cepat secara tiba-tiba sesosok bayangan yang mana adalah salah satu bawahan Silla langsung muncul, dia dengan cepat langsung mengarahkan belati yang mana telah diolesi oleh racun kearah Angga. “Trranggskk…” akan tetapi Angga dengan mudahnya menahan serangan belati tersebut menggunakan pedang pendek yang ada ditangan kanannya.
“Hmm… serangan dadakan, tidak ini cuman umpan” kata Angga.
Dan benar saja seorang iblis yang mana adalah bawahan Silla secara diam-diam mencoba untuk menyerang Angga dari atas, dan dengan pisau yang juga beracun iblis tersebut berusaha untuk menyerang Angga disaat temannya mengalihkan perhatian Angga.
__ADS_1
“Bagus sekarang kau tamat” pikir Silla.
“Crrakk…” akan tetapi dengan cepat Angga mengangkat tangan kirinya kearah iblis tersebut, dengan sebuah pistol ditangannya dia membidik iblis yang ada diatasnya dan “Dorrsst…” dengan satu tembakan yang tepat dikepalanya iblis itu langsung mati terbunuh. Melihat temannya yang mana berada dititik buta tersebut terbunuh iblis yang ada didepan Angga langsung terkejut dan agak panik saat melihat mayat rekannya, dia bahkan tidak menyadari kalau Angga telah mengarahkan pistol ditangan kirinya kearah kepalanya.
“Kau lengah…” kata Angga, “Dorrsstt…” dengan satu tembakan dia membunuh iblis itu.
“Bagaimana mungkin, seharusnya senjata manusia tidak akan bisa menembus kulit iblis yang tebal” kata Silla yang mana tidak percaya dengan apa yang dialihat.
“Oooh… yang kau terkejut dengan hal itu, memang benar normalnya itu tidak mungkin, akan tetapi peluru didalamnya terbuat dari besi untuk menciptakan senjata sihir dan, juga setiap peluru telah ditaruh lingkaran sihir kecil yang mana cukup untuk membunuh iblis yang tidak memiliki perlindungan seperti mereka” kata Angga yang mana memamerkan senjata baru miliknya.
“Cih… aku tidak menyangka para manusia itu akan memiliki sebuah senjata seperti itu, tetapi aku tidak perlu khawatir karena armor milikku adalah sebuah senjata sihir tingkat tinggi, dengan armor ini dia tidak akan bisa mengalahkanku dengan senjatanya itu” pikir Silla.
“Wuush… Fuussh…” dengan cepat Angga langsung melompat kearah dinding bangunan yang ada disebelahnya, “Crranggs…” dan menggunakan pedang pendeknya dia membuat dirinya bergelantungan di dinding bangunan tersebut. “Crrasshh… Tsshtt…” dan disaat yang bersamaan bola air hijau itu langsung jatuh ketanah, dan dengan cepat bola air hijau itu langsung melelehkan tanah tempatnya jatuh dan bahkan uap dari lelehannya membuat udara menjadi sedikit beracun.
“Fuusstt…” dengan tangan kirinya Angga langsung membersihkan udara dari sisa-sisa uap racun tersebut, melihat Angga berhasil menghindari serangannya dengan sangat cepat membuat Silla menjadi kesal dengan dirinya.
“Gerakanmu cepat juga, kau seperti binatang sekarang ini” kata Silla.
“Terserah kau saja, akan tetapi jangan kira kata-kata seperti itu bisa memprofokasi diriku” kata Angga.
__ADS_1
“Hehehe… tidak berhasil rupanya” kata Silla, dia lalu menyiapkan bola racun kecil diujung jarinya.
Tidak seperti yang tadi bola racun tersebut benar-benar padat dan memiliki energy sihir yang lebih kuat dari bola racun sebelumnya, lalu dengan cepat Silla mengarahkan telunjuknya kearah Angga. “Klluppst…” bola racun kecil tersebut langsung ditembakkan kearah Angga, “Tiiunggs…” dengan kecepatan yang sama dengan peluru bola racun tersebut dengan sangat cepat mengarah ke tubuh Angga.
Akan tetapi dengan kekuatan angin yang dia punya Angga langsung membuat bola racun kecil tersebut untuk berbelok, “Wuussh…” dan dengan sangat cepat bola racun kecil tersebut langsung melewati tubuh Angga, bola racun itu sangat dekat dan hampir menyentuh kulit Angga akan tetapi dia juga bergerak sedikit untuk menghindari bola racun itu. “Trrassk…” dan saat bola racun itu mengenai dinding di bangunan tersebut dinding itu langsung meleleh, dan bahkan aura beracun yang sangat kuat mulai muncul dan menyebar dengan sangat cepat.
“Sialan ini lebih kuat dari yang tadi” pikir Angga, “Wuush…” dia langsung melompat untuk menghindari hawa beracun tersebut.
“Wuushhkk… Fuusst…” dengan kekuatan angin yang dia punya Angga langsung menghilangkan hawa udara beracun tersebut, akan tetapi secara tiba-tiba Silla muncul didekat Angga. “Srringgs…” dengan kukunya yang panjang dan juga telah diolesi oleh racun, Silla mengarahkan sebuah serangan cakaran kearah Angga “Trranggs…” akan tetapi Angga dengan cepat menangkis serangan tersebut menggunakan pedang pendek miliknya.
“Buussh… Wuussh…” dengan cepat Silla yang mendaratkan serangan tadi langsung melompat mundur untuk menjaga jarak dari Silla.
“Cih… sialan…” kara Angga, “Krrasstt… Crraatts…” serangan dari Silla berhasil menggores tubuh Angga dan bahkan membuat dirinya terkena racun Silla.
“Heheheh… sekarang mari kita lihat apa kau bisa mengalahkanku” kata Silla yang mana tersenyum saat mengetahui kalau racunnya telah berhasil mengenai tubuh Angga.
“Jangan senang dulu kau, racun seperti ini bukanlah apa-apa, aku hanya tinggal membunuhmu sebelum racunnya menyebar” kata Angga, “Buushh… Krrasst…” dia menggunakan kekuatan sihirnya untuk menekan racun Silla agar memperlambatnya menyebar keseluruh tubuhnya.
Bersambung…..
__ADS_1