
Badai dahsyat terjadi, mengirim gulungan awan gelap yang menggulung langit. Angin kencang menerpa bangunan, mencabik-cabik atap-atap rumah. Hujan deras turun seperti kerudung air yang tak henti-hentinya menghujam bumi. Pemandangan ini mencerminkan kemarahan Raja Eden, sang naga badai, yang tersulut oleh ramalan putrinya, Elin.
Elin adalah naga peramal yang memiliki kemampuan langka untuk meramal masa depan. Dalam visi yang misterius, ia melihat kelahiran seorang manusia tanpa bakat penguasa yang berpotensi menjadi penguasa wilayah barat, bahkan seluruh dunia.
"Bunuh semua manusia yang dilahirkan tahun ini!" desak Raja Eden dengan amarah yang membara, memerintahkan seluruh pasukan naga untuk menghancurkan semua anak manusia yang dilahirkan pada tahun tersebut.
"Baik raja, perintah Anda akan kami laksanakan," serentak seruan para jenderal pasukan naga menggema di balik hiruk-pikuk badai.
Namun, Elin tak dapat menerima keputusan ayahnya dengan begitu mudah. Tatapan tajamnya menatap Raja Eden dengan penuh keberanian. "Tetapi ayah, walaupun kau membunuh semua manusia yang lahir tahun ini, kau tidak akan dapat mengubah takdir seorang calon raja dunia," katanya dengan lantang. "Kau bodoh sekali, ayah!"
Kata-kata Elin mengejutkan Raja Eden. Ia menatap putrinya dengan pandangan campuran antara keterkejutan dan kebingungan. "Apa maksudmu, Elin?" tanya sang raja dengan suara gemetar.
Elin tersenyum sinis. "Aku telah menerawang lebih jauh, dan aku melihat dewa sedang menciptakan senjata yang hebat untuk seorang manusia. Ada juga kelompok-kelompok yang siap membantunya dalam menaklukkan dunia."
Raja Eden terdiam, mencoba memahami kata-kata putrinya. Namun, ia merasa ragu. Sebagai naga yang perkasa, ia tidak ingin menerima kenyataan bahwa ada manusia yang dapat mengancam kekuasaannya.
"Ayah harus memikirkan hal ini dengan baik. Jangan mengabaikan kekuatan yang mungkin dimiliki para manusia itu," lanjut Elin dengan nada bijaksana.
Sementara itu, di negeri Braga yang penuh dengan kehidupan manusia, terdapat seorang raja bernama Erick yang pemberani. Ia baru saja mendapat informasi dari mata-mata yang ia kirim.
"Aku tahu kau datang membawa kabar penting," kata Raja Erick dengan serius ketika mata-mata itu tiba. "Berikan laporanmu."
Mata-mata itu melaporkan dengan hati-hati tentang rencana dan persiapan pasukan Raja Eden. Ia menjelaskan jumlah pasukan, kekuatan mereka, serta strategi serangan yang direncanakan.
Raja Erick mendengarkan dengan penuh perhatian. Tanpa sadar ia menjatuhkan setetes keringat dingin.
__ADS_1
"Terima kasih atas informasinya," kata Raja Erick. "Lanjutkan tugasmu dan tetap berhati-hati. Jangan mengabaikan informasi-informasi kecil!"
Negeri Braga berada dalam bahaya besar karena pasukan naga ganas dari Kerajaan Raja Naga Eden yang dikenal dengan kekejamannya. Raja Erick, dengan tekad yang bulat, memerintahkan semua kesatria negeri untuk bersiap-siap dan menghadang serangan itu.
"Walaupun ramalan itu tidak terbukti benar, aku tidak akan membiarkan rakyatku menderita karena serangan ini," batin raja Erick sambil memegang pedang Dragon Slayer yang dibuat khusus oleh para pandai besi terbaik di negeri Braga.
"Panggil semua kesatria terbaik negeri ini dan para pertapa terhormat. Kita tidak boleh membiarkan negeri ini hancur karena serangan naga-naga konyol itu!" ucap raja Erick kepada perdana menteri, yang dengan sigap mencatat perintah sang raja. "Lengkapi mereka dengan senjata terbaik, senjata khusus untuk membunuh para naga."
Perdana menteri segera menyampaikan pesan raja kepada seluruh negeri Braga. Kabar tentang bahaya yang mengancam negeri mereka menyebar dengan cepat. Kesatria-kesatria pemberani dan kuat mulai bersiap-siap dan berkumpul di Istana Kerajaan. Sementara itu, para pertapa dari pegunungan terpencil juga mendengar panggilan darurat tersebut, mereka meninggalkan tempat-tempat pertapaan mereka guna bergabung dalam upaya melindungi negeri.
Di Istana Kerajaan Braga, pasukan kesatria berkumpul di bawah komando Raja Erick. Mereka siap melawan keganasan pasukan naga yang akan segera datang. Suasana di istana penuh dengan semangat dan tekad untuk melindungi negeri mereka.
Raja Erick berdiri di hadapan mereka semua, memandang wajah-wajah pemberani yang siap tempur. "Kalian adalah harapan terakhir negeri Braga. Keberanian dan kekuatan kalian akan membawa kemenangan bagi kita semua. Bersama, kita akan menghancurkan ancaman yang mengintai negeri ini!" seru raja Erick dengan penuh semangat.
Akhirnya, hari yang ditakuti tiba. Pasukan naga Eden mendekati perbatasan negeri Braga. Serangan mereka terasa tak terhindarkan. Namun, kesatria-kesatria Braga tidak gentar. Mereka berdiri kokoh dan siap melawan demi melindungi tanah air mereka.
Peperangan tidak terhentikan terjadi pada tahun 852 hingga berakhir pada kerugian dua negara tersebut. Para kesatria gugur walaupun sudah dilengkapi persenjataan pembunuh naga. Para panglima perang dipihak raja Eden pun banyak yang terbunuh pada perang itu.
"Kenapa para pertapa agung belum juga datang?" Raja Erick benar-benar cemas akan serangan para naga.
Para naga benar-benar menikmati pertarungan di gurun Majin perbatasan antara wilayah manusia dan wilayah naga. Para naga api menyemburkan api yang sangat panas ke udara sehingga membuat pasukan raja Erick cepat kelelahan. sedangkan naga petir dan naga tanah memorak-porandakan wilayah gurun.
Blarrrr....
Benturan kekuatan petir dan pedang pembunuh naga saling bertabrakan.
__ADS_1
Sringgggg...
Suara pedang yang menebas kulit naga yang sangat keras.
"Kuakui kalian para manusia. Kemampuan kalian dan semangat kalian," seru raja Eden.
Sebenarnya semua pedang yang dibuat manusia tidak dapat melukai para naga. Naga hanya bisa dilukai oleh kekuatan iblis ataupun naga itu sendiri. Tapi karena pedang pembunuh naga terbuat dari taring naga yang sudah mati, menjadikan kekuatan pasukan manusia hampir menyamai kekuatan para naga.
Tiba-tiba, dalam keadaan yang mengejutkan, enam ekor naga raksasa terjatuh secara tiba-tiba di medan pertempuran. Raja Eden dan pasukannya terkejut melihat kejadian tersebut, tidak menyangka bahwa naga-naga itu bisa dikalahkan dengan cepat.
Raja Eden marah, berusaha mencari tahu apa yang telah terjadi. Ia melihat bahwa serangan pasukan mereka tidak bisa dihubungkan dengan jatuhnya naga-naga itu. Sesuatu yang tidak diketahui telah terjadi, dan Raja Eden menyadari bahwa ada kekuatan lain yang terlibat dalam pertempuran ini.
Hanya ada bekas sinar ungu di langit.
Para pertapa agung!
Mereka baru saja tiba. Mereka melihat kejadian ini dengan rasa puas di wajah mereka. Salah seorang dari mereka, dengan senyum puas di bibirnya, berbicara dengan nada sinis, "Heh, apa cuma begini kekuatan naga sekarang? Tampaknya legenda kekuatan mereka terlalu dibesar-besarkan!"
Raja Erick, yang menyaksikan kejadian ini dengan kagum sekaligus bersyukur.
"Apa hanya enam pertapa agung yang ada di negeri ini?" Pertanyaan raja Erick membuat bingung perdana menteri.
"Tidak yang mulia, seharusnya ada tujuh pertapa agung yang akan datang membantu," ucap perdana menteri.
"Bahkan dengan kekuatan enam pertapa, para naga itu di buat mundur," senyum raja Erick akhirnya terlihat sejak pertempuran dengan para naga pecah.
__ADS_1