Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 180 - Bertemu Musuh Lama


__ADS_3

Xin Fai mendekatkan telinganya ke dinding sambil mengutak-atik angka hingga ke nomor terakhir, di angka kesembilan dia mendengar sebuah bunyi yang sama saat menggunakan tuas besi di markas pusat Sanmin. Pemuda itu tersenyum sedikit. "Benar dugaanku. Aku yakin bahasa aneh ini hanya untuk mengecoh saja, trik mereka tetap murahan seperti biasanya."


Senyum jahil semakin melebar ketika dia bisa membuka pintu itu tak lama kemudian, Xin Fai menggeser pintu besi yang amat berat tersebut dengan sekuat tenaga dan mendapati di depannya bergelimpangan harta menyambut kedatangannya.


"Ada beberapa tempat yang kosong, berarti mereka masih memindahkan barang-barang rampokan itu dan masih ada yang belum tersimpan di sini."


Sambil berkeliling di ruangan besar tersebut Xin Fai menajamkan penglihatannya ketika mendapati sebuah sinar hijau memancar di sudut ruangan. Dia mendekati gelang giok tersebut lamat-lamat.


"Gelang giok ini bisa dibilang barang pusaka, aku yakin khasiatnya untuk menyembuhkan. Pantas saja Kaisar Qin ingin memperebutkan barang ini.." ucapnya sambil memerhatikan gelang tersebut di tangannya.


Dia memasukkan gelang giok tersebut ke dalam saku lalu memandang jahil ke arah gudang harta di depannya. "Nah, setelah ini aku akan menjadi Juragan Besar di Kekaisaran ini..."


Dalam satu gerakan gunungan harta tersebut masuk ke dalam cincin ruang miliknya, entah sudah berapa puluh ribu koin emas dan juga barang berharga lainnya yang telah dia kumpulkan Xin Fai juga tidak terlalu memikirkan hal itu. Baru memasukkan setengah cincin ruang terdengar suara derap kaki penjaga datang ke arahnya.


"Apa Senior Yong telah berhasil dikalahkan?" tanyanya pada diri sendiri, Xin Fai mempercepat gerakannya hingga saat penjaga itu telah sampai ke gudang harta semua barang di sana telah raib tanpa sisa sama sekali.


"Kau-!? Apa yang kau lakukan?!" teriak penjaga menjadi lebih panik dari sebelumnya, dia tak menyangka saat dirinya mengira sudah datang tepat waktu malah semua barang ini sudah hilang tak bersisa.


"Hehehe sudahlah jangan panik begitu, lagipula semua harta ini bukan milik kalian, kan?" Xin Fai memandang delapan penjaga tersebut sembari melayangkan tatapannya dengan amat tajam. "Ini adalah harta orang-orang yang telah kalian bunuh, kalian hanya mencuri dan membunuh. Seperti binatang saja."


"Tutup mulutmu atau aku akan merobeknya nanti!"

__ADS_1


Delapan orang di sana mulai naik pitam melihat kelakuannya saat ini, Xin Fai maju secepat kilat dan membabatkan pedangnya belasan kali tanpa ampun hingga dalam kecepatan tinggi nyawa mereka telah melayang begitu saja.


Teriakan penjaga gudang menggema di lorong-lorong, kini suara derap kaki yang lebih banyak menyusul di depan sana. Xin Fai mengayunkan pedang ke samping menyambut puluhan orang itu. "Sekarang aku tidak perlu menahan diri lagi, lagipula barang-barang berharga itu sudah ada di tanganku."


Di sisi lain musuh menyerbu Yong Tao seperti gelombang kejut, pria itu menghadapi belasan orang kewalahan dengan sebelah tangan sedang sebelah tangannya lagi dalam keadaan dibalut kain. Sedikit demi sedikit luka menjalar di tubuhnya membuat dia huyung ke samping.


Yong Tao tak pernah menyangka ruang bawah ini ternyata dijaga sedemikian banyaknya Manusia Darah Iblis berbaju besi. Ini membuatnya terpaksa mundur sejenak untuk memulihkan diri.


Ketika dirinya sedang memulihkan diri tak disangka penjaga mulai memasuki tempat Xin Fai berada, Yong Tao mengejarnya langsung berharap dia sempat membantu pemuda itu.


Namun ketika dirinya tiba di depan pintu yang terlihat hanya genangan darah dan tumpukan manusia yang telah menjadi mayat, Xin Fai mencabut pedangnya dari tubuh musuh sembari menyunggingkan senyum lebar. "Aku sudah mendapatkannya. Ayo kita keluar dari sini, atau kau mau mengalahkan mereka semua sekarang?"


Xin Fai tergelak mendengar lelucon Yong Tao, meskipun umurnya tak lagi muda sikapnya benar-benar tidak mencerminkan dirinya adalah seorang yang sudah tua mengingat tingkah laku dan gerakannya masih membara layaknya anak muda.


Kedua orang itu maju menerjang ke arah musuh dan bertarung dalam pusaran musuh yang terbilang amat banyak.


"Kau masih sanggup, Senior Yong? Atau kau mau lari saja di belakang biar aku yang menangani mereka semua."


"Hei kau melupakan sesuatu, anak muda. Meskipun keadaanku sudah buruk begini aku adalah si nomor satu Pilar Kekaisaran. Pendekar kacangan seperti mereka bukan tandinganku."


Deritan pedang menjerit-jerit di dalam ruang bawah tanah itu, Xin Fai menghabisi lawannya dengan gerakan yang sulit ditebak hingga korban yang jatuh di tangannya dipastikan akan mati dalam seketika. Pemuda itu memotong tubuh lawan tanpa sedikitpun belas kasihan tampak dari pancaran matanya. Dalam hitungan beberapa menit mereka bisa menghabisi setidaknya lima puluh lawan dalam satu ruangan.

__ADS_1


Memastikan tidak ada lagi penjaga tersisa Xin Fai beralih menuju lorong jalan berikutnya dan mendapati sebuah ruangan dengan desain yang cukup unik. Mungkin tempat itu dirancang sebagai ruang pertemuan orang-orang penting.


Namun sayangnya hari ini mereka kedatangan tamu tak diundang, Yong Tao dan Xin Fai menghancurkan tempat itu. Kursi dan meja terbalik serta beberapa penghias ruangan dibuat hancur oleh mereka.


Keributan yang ditimbulkan mengundang banyak musuh ke tempat tersebut, keduanya bersiap bertarung dengan punggung saling membelakangi. Di depan Xin Fai musuh mulai memasuki pintu begitupun dengan Yong Tao.


Melihat musuh yang datang ke gudang harta mereka adalah Yong Tao para penjaga cukup terkejut, meskipun tidak dalam keadaan prima namun kekuatannya sama sekali tidak bisa diragukan. Di satu sisi terlihat seorang pemuda dengan aura yang tidak biasa siap membantai mereka. Merasa kedua orang ini begitu berbahaya mereka memilih diam sebentar demi mengumpulkan lebih banyak pasukan.


Yong Tao baru saja berniat melanjutkan pemulihannya sebelum seseorang yang telah lama tak pernah berjumpa dengannya akhirnya muncul di tengah-tengah musuh.


"Kau-!?" geram Yong Tao amat emosi, matanya seperti diisi kobaran api panas yang meluap-luap.


"Ah, tidak kusangka kau datang ke sini? Sepertinya seseorang telah memberitahumu tentang gudang harta kami." Sedikit terdengar Liu Fengying berdecak, dia meneliti seseorang yang berdiri di belakang Yong Tao.


"Dan siapa orang yang berdiri di belakangmu? Kalau dia calon Pilar Kekaisaran berikutnya, kupastikan nyawanya akan habis hari ini." Liu Fengying berucap sangat sinis, didengar dari nada bicaranya saja sudah membuat Xin Fai sangat jengkel.


"Oh, benarkah? Seharusnya kau katakan itu pada dirimu sendiri pak tua," balas Xin Fai setelahnya. Sebenarnya dia menyimpan dendam yang amat mendalam pada pria itu dan merasa ini waktu yang tepat untuk membunuhnya.


Liu Fengying adalah dalang di balik semua rasa sakit yang ditanggungnya selama ini. Kematian keluarganya, kematian Lang dan juga Tao Wei si pendeta dari Kuil Teratai serta kesedihan semua orang yang dibunuh oleh Manusia Darah Iblis berasal dari perintah pria itu.


***

__ADS_1


__ADS_2