
Suara pedang terdengar di seluruh ruangan yang kini menjadi tempat pertumpahan darah, satu demi satu peserta mulai berguguran menyisakan empat puluh orang tersisa yang terus bertahan.
Jeritan setiap satu nyawa yang melayang lewat begitu saja tanpa ada arti, Gao Lan melihat ke bawahnya dengan tatapan mata puas. Dia senang akan pertumpahan darah, tidak peduli apa itu adalah orang-orang di pihaknya sendiri yang penting rasa haus darahnya terbalaskan.
Di setiap sudut ruangan terdapat beberapa jagoan yang muncul, mereka adalah orang-orang yang paling banyak membunuh setelah sebelumnya hanya membunuh satu orang pendekar demi mendapatkan satu kunci. Dalam kurun waktu yang cukup singkat jumlah peserta yang terbunuh hampir mencapai setengahnya dan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Dua dari sepuluh orang yang sangat menarik perhatian Gao Lan akhirnya saling bersinggungan, mereka mulai menyerang satu sama lain tanpa henti.
Pertarungan kedua pendekar misterius ini membuat peserta lain harus menjaga jarak agar tidak terkena serangan nyasar.
Xin Fai menarik ayunan pedang saat senjata lawan hampir mengenai tenggorokannya, dia menghindar cepat dan mengambil posisi untuk melakukan serangan balik.
Lawannya ini adalah seorang pria dengan jubah tengkorak hitam, dia bisa membuat Xin Fai terkecoh tanpa harus melakukan banyak gerakan. Saat menyadari keahlian pria ini memang melakukan gerakan penuh tipu daya Xin Fai mulai waspada agar tidak terjerumus di lubang yang sama.
Setelah bertarung agak lama dengan pria ini Xin Fai mulai melakukan serangan jarak rendah layaknya binatang liar. Pria itu lantas saja seperti tercekik napasnya sendiri saat merasakan pahanya mulai terkena belasan terkaman pedang bak singa kelaparan itu.
Tidak mau terluka sendirian pria itu melepaskan topi miliknya ke arah Xin Fai yang tengah bergerak ke arahnya, dia merasa pemuda itu tidak bisa melihat karena pandangannya terhalangi dan mulai bersiap memasukkan serangan lain.
Tidak disangkanya Xin Fai sama sekali tidak terkecoh, pedangnya melesat tajam dan dia baru berhenti saat tiba di belakang lawannya.
Seketika cuatan darah berhamburan membasahi lantai, Xin Fai menyarungkan kembali pedangnya sampai sebuah teriakan terdengar lantang di atas sana.
__ADS_1
"Cukup! Total peserta saat ini adalah 25 orang, tidak perlu bertarung lagi. Tahap dua telah selesai. Kita akan langsung ke hutan untuk mengikuti tahap selanjutnya!"
Dua puluh lima orang yang berhasil selamat mengeluh di sepanjang perjalanan, luka mereka semakin fatal setiap melewati satu pertarungan. Di saat itu juga Xin Fai menyadari seorang petani yang sebelumnya direkrut bersamanya tempo hari ternyata berhasil lolos tanpa luka lecet sedikitpun, sepertinya lelaki itu memang memiliki keberuntungan yang besar.
Entah sampai kapan keberuntungan itu akan bertahan, Xin Fai pun hanya bisa berharap si petani itu tidak benar-benar masuk ke kelompok aliran hitam ini seperti yang lainnya.
Gao Lan dan anak buahnya berhenti di perbatasan antara markas dan hutan rimba yang kelihatannya dihuni banyak binatang buas, beberapa dari mereka mulai merinding kala suara auman dan bunyi-bunyian aneh terdengar dari sana. Namun Xin Fai justru sudah kebosanan dengan tempat seperti itu apalagi dia bahkan harus bertahan hidup 7 tahun tanpa melihat di tengah hutan.
Kegelapan dan keheningan malam beberapa tahun lalu membekas jelas di ingatannya, Xin Fai mulai merindukan bagaimana dia bisa melihat matahari atau setidaknya langit beserta awan cerah di siang hari. Mengingatnya saja dia mulai merasa sedih.
'Tidak apa-apa, setelah tahap ketiga ini mereka akan merekrutku dan kami akan pergi ke markas di pusat Kota Sanmin setelahnya.' batin Xin Fai menyemangati diri sendiri. Dia menegakkan punggungnya bersiap mendengar arahan Gao Lan yang baru saja menghentak kakinya.
Gao Lan kembali berseru lantang seperti biasanya. "Setelah melewati hutan ini akan ada penjaga markas yang menuntun kalian untuk proses peresmian anggota. Tidak peduli bagaimana cara kalian bisa selamat, mau dengan mengorbankan teman sendiri, bersembunyi, atau saling membunuh! Sebelum matahari terbenam kalian harus sampai di sana, jika lebih dari itu penjaga markas sendiri yang akan membunuh kalian!"
Peserta lain meneguk ludah mendengar kalimat tersebut, ancamannya selalu berujung dengan kematian. Jika saja mereka tahu bagaimana sistem Manusia Darah Iblis bekerja mungkin mereka memilih untuk hidup damai saja di desa biar dalam keadaan melarat sekalipun.
Bunyi auman serigala disertai bunyi burung mengisi hutan tersebut, belum berjalan lima meter para peserta sudah dihadapkan oleh kehadiran b4bi hutan yang ukuran tubuhnya sepuluh kali lipat dari b4bi biasa. Taringnya terlihat runcing ke atas disertai mata memerah.
Binatang tersebut bersiap menanduk gerombolan manusia di depannya, membuat para peserta berlari ketakutan. Ukuran tubuh yang luar biasa itu bisa meremukkan tulang manusia dalam satu pijakan, beberapa yang bertahan bersiap mengayunkan pedang saat binatang tersebut hendak berlari ke arah mereka.
Detik berikutnya ketika serangan datang tiba-tiba saja binatang itu sudah jatuh terkapar bersimbah darah.
__ADS_1
"Apa yang terjadi-!?" Teriak peserta lain, dia mencoba memahami di hadapannya ini benar-benar terjadi atau tidak, baru saja dia melihat b4bi itu hendak menanduk namun dalam sekejap mata tubuhnya telah terpotong hingga darah amisnya tercium membasahi tanah.
"Ini benar-benar gila! Kau lihat pemuda yang sudah duluan berjalan di depan kita!" Sahut yang lainnya tak kalah terkejut, dia menunjuk ke depan di mana seorang pemuda tengah berjalan sembari menenteng pedang. Tidak terlihat sedikitpun rasa takut di dalam dirinya.
Sebelum mati b4bi hutan itu sempat berteriak seperti meminta pertolongan kepada teman-temannya, lantas saja lebih dari sepuluh binatang buas berbadan besar itu datang. Mereka melihat temannya yang telah tewas dan beralih ke seorang manusia yang kemungkinan besar telah membunuhnya.
Para peserta lain memilih diam di tempat karena mau mundur tidak bisa karena akan dianggap telah gugur dan langsung dibunuh oleh anak buah Gao Lan, tapi maju juga lebih berbahaya. Di depan sana berduyun-duyun binatang buas ingin memakan mereka.
Peserta lain tak sanggup menarik napas saat melihat seorang pemuda berani yang maju sendiri menghadapi binatang buas itu, dia yakin jika jatuh saja tubuhnya akan dicabik-cabik oleh mereka tanpa ada celah sedikitpun untuk melarikan diri. "Lihatlah! Dia sudah gila!"
"Kita cari jalan aman saja!"
"Percuma, hutan ini dipenuhi oleh binatang buas seperti mereka!"
Xin Fai menarik pedang saat hampir bertubrukan dengan binatang-binatang di depannya, insting bertarungnya kembali terbangun. Dia telah melalui hal yang jauh mengerikan dari apa yang dia rasakan di depannya, bukan hanya belasan namun juga angka ratusan binatang buas juga pernah ditemuinya dulu.
"Kitab Tujuh Kunci - Seratus Pedang Purnama!"
***
wkwkwk **** jd b4bi. kenapa? ntar takut disensor aja:P
__ADS_1