
"Aku juga berpikir demikian. Kurasa dia memang ditakdirkan untuk menyelamatkan banyak orang. Bukan hanya anakku dan juga pemuda itu, namun semua orang di Kekaisaran kita ke depannya."
Qin Gaozu yang mendengar kata-kata tersebut menjadi semakin yakin, seandainya Xin Fai tidak masuk 3 besar pun dia berniat akan mengangkatnya menjadi pengawal pribadi.
Yang Guifei berdiri di depan arena untuk mengakhiri babak utama ini. Dia berkata lantang hingga terdengar di seluruh stadium.
"Dengan ini babak utama telah berakhir, para peserta yang berhasil memasuki 8 besar silahkan beristirahat cukup untuk mengikuti pertandingan besok." Yang Guifei berhenti sebentar.
"Dan ditekankan kepada semua pihak agar tidak menggunakan segala jenis senjata rahasia maupun racun! Pihak kami tidak akan memberikan toleransi jika hal ini terjadi lagi. Sekian dan terimakasih."
Kerumunan penonton mulai bubar, Xin Fai dan juga Huang Kun bergegas menuju ruang medis tempat Shen Xuemei dibaringkan. Di sana sudah ada Li Yong yang menjaganya.
Li Yong menyuruh mereka untuk kembali ke kediaman dan dirinya akan menjaga Shen Xuemei hingga sembuh. Pendeta itu menegaskan bahwa penjagaan di ruangan ini sangat ketat jadi mereka tak perlu khawatir.
Baik Huang Kun dan juga Xin Fai sama-sama mengembuskan napas panjang. Mereka menatapi Shen Xuemei yang hanya bisa terbaring lemah.
Jika Shen Xuemei sama sekali tidak bisa dipulihkan mungkin dia tidak bisa ikut babak final esok hari.
Huang Kun dan juga Xin Fai berjalan tanpa minat menuju kediaman, mereka tidak ceria seperti biasanya. Sementara itu hanya terdengar bunyi burung-burung imigran yang kebetulan bertengger di dahan tinggi, mereka bercicit menyambut teriknya matahari.
Hingga akhirnya suara Huang Kun terdengar, dia nampak menyesal mengatakannya.
"Maaf, aku malah memilih menyerah tadi..."
"Senior Huang, kau terlalu bodoh. Menyerah dengan gadis seperti itu."
Huang Kun memaklumi rasa kecewa juniornya, dia melipat lengan bajunya hingga ke atas.
"Aku sama sekali tidak bisa bertarung karena luka bakar ini..." Huang Kun menunjukkan sebuah luka bakar yang cukup serius akibat pertarungan sebelumnya dengan peserta pengguna jurus Salamander Api.
"He...? Kenapa tidak mengatakannya? Kupikir kau-"
"Kau mengira aku menyukai gadis sombong sepertinya? Jangan mimpi! Nenek-nenek reot saja lebih baik daripada dia!"
Xin Fai tertawa lebar mendengar hal itu, secara tidak langsung Huang Kun menyatakan bahwa dirinya memang menyukai nenek-nenek.
__ADS_1
Namun seorang gadis cantik muncul di hadapan mereka membuat keduanya kaget, apalagi tatapannya sama sekali tak bersahabat. "Apa yang kalian bicarakan adalah aku?"
"Aaa... Bukan... itu, si gadis yang menjaga pintu sekte ini. Dia seperti nenek-nenek!"
"Apa kau membicarakan temanku?!" Seorang gadis yang sedang bertugas menjaga sekeliling sekte memaki kesal. Dia tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
Xin Fai menahan tawa sebisa mungkin, dia memalingkan muka dan tertawa dalam hati. Beberapa saat setelah menyadari Ren Yuan terus menatapnya Xin Fai menjadi sedikit terganggu.
"Aku tak punya kepentingan di sini, aku pergi dulu."
Ren Yuan menghentakkan kaki sangat marah, dia memang sengaja datang sendirian tanpa Gong Li dan juga Zhuan Ang untuk menemui Xin Fai.
Huang Kun sibuk berdebat dengan gadis dari sekte Lembah Kabut Putih, dia nampak kelabakan menanganinya sementara Xin Fai pergi seolah tak peduli.
Ren Yuan tentu saja tak bisa menerima perlakuan seperti ini lagi, cukup tadi pagi Xin Fai membuatnya malu di hadapan semua orang. "Kau! Berhenti!"
"Kalau aku tak mau berhenti memang kau bisa apa?"
Ren Yuan mengepalkan tangannya erat, kali ini dia merasa lawan bicaranya sama keras kepala sepertinya.
"He... Seumur hidup? Sungguh mengerikan ahahaaha," tawa terdengar dari mulutnya. Ren Yuan sama sekali tidak bisa tenang asal berdebat dengan pemuda kecil yang usianya hampir sama dengannya ini, dia sangat pandai bermain kata-kata.
"Berhenti bermain-main! Aku sedang serius."
"Baiklah, baiklah... Jadi apa yang membuatmu datang kemari?"
"Aku datang ke sini baik-baik, jika kau meminta maaf padaku terkait masalah tadi pagi aku akan memaafkanmu dengan satu syarat."
"Hm? Untuk apa aku meminta maaf padamu? Sedangkan yang mencari masalah kalian sendiri?" Xin Fai melipat dua tangan seolah tak yakin. Harga diri Ren Yuan memang sangat tinggi sampai harus berusah payah menawarkannya untuk meminta maaf begini.
"Pantas saja rakyat jelata sepertimu tak tahu apa-apa! Kau akan berurusan denganku dan juga keluargaku seumur hidup karena telah mempermalukan kami!"
Xin Fai justru merasa masalah ini hanya masalah sepele namun Ren Yuan terus saja memperpanjangnya.
"Bagaimanapun kau yang salah, lagi pula kalau kau memaafkanku pasti ada maksud lain di dalamnya, kan?"
__ADS_1
"Ya. Benar sekali. Aku akan memaafkanmu jika kau mengundurkan diri dari pertandingan besok."
Xin Fai tertawa keras-keras hingga matanya berair, dia sampai tak habis pikir mendengar penuturan gadis itu. Memang sangat tidak masuk akal, bahkan perutnya seperti menari-nari meledeki gadis bernama Ren Yuan ini.
"Kau sungguh bodoh... Mana ada orang yang mau mengundurkan diri dari turnamen ini hanya demi permintaan maaf! Huahahaha!"
Wajah Ren Yuan memerah menahan malu, dia pikir dengan mendatangi Xin Fai secara langsung begini akan membuatnya sadar. Namun ekspektasinya justru berbalik pada realita.
Xin Fai malah tertawa sampai napasnya habis dan membuatnya batuk-batuk kecil, dia begitu menikmati lelucon ini sampai akhirnya Huang Kun telah berhasil melepaskan diri dari gadis penjaga Lembah Kabut Putih setelah meyakinkannya puluhan kali. Huang Kun mengernyitkan alis heran.
"Fai'er? Kau baik-baik saja?"
"Apa kau lihat aku sedang tertawa? Hahaha," Xin Fai berhenti tertawa setelah tatapan dingin Ren Yuan kembali menyerbunya. Mereka saling berhadapan. Xin Fai mulai serius dengan perkataannya.
"Aku akan meminta maaf padamu kalau kau berhasil mengalahkanku di turnamen nanti."
Ren Yuan mengangkat sebelah alisnya. "Begitu sombong. Baiklah. Seandainya kita tidak bertemu di arena nanti, siapapun yang menjadi pemenangnya ditentukan dengan peringkat masing-masing. Kalau seandainya aku juara dua dan kau juara tiga, berarti kau harus segera meminta maaf padaku."
Xin Fai menarik sneyuman kecil. Dia merasa Ren Yuan ini tak hanya sombong namun pikirannya benar-benar dangkal. Dengan mudahnya gadis itu menyetujui usulannya tanpa pikir panjang.
Xin Fai menarik lengan Huang Kun setelah merasa tak ada lagi yang harus dibicarakan. Sedang Ren Yuan berdiri memandangi Xin Fai hingga akhirnya dia hilang dari pandangannya.
Ren Yuan menggelengkan muka sambil mengutuk-ngutuk setelah menyadari pipinya terasa panas. Dia berjalan dengan kaki menghentak.
Tanpa disadarinya Gong Li dan Zhuan Ang menguping pembicaraan mereka sedari tadi, mereka merasa Nona Ren ini tak seperti biasanya. Saat melihat tingkah laku Nona Ren tadi akhirnya Gong Li sampai pada satu kesimpulan.
"Sepertinya Nona Ren menyukai pemuda itu."
"Jangan asal omong!" Zhuan Ang tak percaya, dia yang sudah menyukai Ren Yuan selama bertahun-tahun saja tak dipedulikan, sedangkan Xin Fai baru beberapa hari ini bertemu dengan Ren Yuan. Pendapat Gong Li sama sekali tak masuk akal.
"Kau pernah dengar kata-kata seperti cinta berawal dari benci?"
"Hooo... Tak kusangka orang sepertimu tahu juga soal cinta-cintaan! Huh! Sudahlah aku pergi saja!"
***
__ADS_1