
Xin Fai tersenyum sinis saat akhirnya pemuda itu mengetahui posisinya saat ini.
Gong Li mundur sembari menyeru keras. "Dia hanya menguras tenaga kita daritadi!"
Zhuan Ang yang sudah kelelahan tak menghentikan serangannya. "Aku tidak peduli! Kita hanya perlu menyerangnya terus menerus sampai dia kalah!"
Semakin lama serangan digencarkan justru mereka dua yang semakin kelelahan, keduanya menatap Xin Fai yang tak kelihatan lelah sedikitpun.
"Hm? Sudah menyerah? Baiklah, sekarang giliranku."
Serangan beruntun dengan kecepatan kilat menyambar mereka layaknya petir, dalam satu kedipan mata saja Gong Li sudah mundur dua langkah.
"Jangan hanya karena aku sedikit memberi kalian waktu untuk bersinar saja kalian sudah meninggi."
"Apa maksudmu?!" Zhuan Ang terpojokkan di situasi yang sama seperti sebelumnya, mata pemuda itu memerah dengan gigi menggerutuk kesal.
"Aku hanya ingin membuat guru kalian yang sedang menonton di sana tak malu memiliki murid seperti kalian."
Zhuan Ang tercengang dan segera membalikkan badannya ke belakang, namun dia tak bisa melihat apalagi merasakan kehadiran siapapun selain mereka berempat.
"Kau-! Jangan membohongiku!"
Pedang emas yang Xin Fai pakai mengeluarkan cahaya saat dialirkan tenaga dalam, mereka mundur waspada namun Xin Fai masih saja memperpendek jarak.
"Sudah sore. Mari kita akhiri ini semua."
Saat hendak melakukan serangan ke arah Zhuan Ang justru Gong Li menghadang serangan tersebut menggunakan pedangnya.
Hasilnya pedang milik Gong Li mendapatkan retakan di tengah-tengah dan jika mendapatkan satu serangan lagi dia tak yakin pedang tersebut akan bertahan lama.
Gong Li tak peduli lagi, dia melepaskan ayunan pedang dan Xin Fai menyambutnya dengan segera.
Krakkk!
Pedang milik Gong Li telah terbelah dua, retak akibat energi besar yang menghantamnya dan energi itu berasal dari pedang Xin Fai.
"Ketajaman pedang bergantung pada penggunanya, heh? Kurasa itu sangat benar."
__ADS_1
Gong Li berkomentar masih terkejut melihat pedangnya terbelah dua, sebenarnya pedang itu adalah pedang pemberian kakeknya dan jika dibeli harganya sangatlah mahal. Dia tak menyangka pedang tersebut akan patah di tangan lawan tak terduga seperti Xin Fai.
Zhuan Ang tak kalah terkejutnya dibanding Gong Li, kini secara perlahan tatapannya pada Xin Fai berubah takut. "Kau... Kau pasti bukan murid! Kau pendekar tua yang sedang menyamar dengan tubuh anak kecil!"
Sontak pernyataan tersebut membuat Xin Fai tergelak lucu, matanya bahkan sampai berair akibat tawaannya.
"Aku memang anak kecil. Namun semua yang sudah kujalani selama ini jauh lebih mengerikan dari kalian semua." ucap Xin Fai.
Kehilangan seluruh keluarga akibat pembantaian, melihat ratusan mayat busuk dalam desa, bertarung melawan Manusia Darah Iblis, membunuh banyak siluman, bertemu Monster Iblis dan terakhir melihat sendiri Siluman Penguasa Air di depan matanya.
Semua hal tersebut menjadi perjalanan panjang yang sangat berarti baginya, pola pikir dan pengalaman bertarungnya jauh meningkat tajam dibandingkan anak seusianya.
Pengalaman memang guru yang paling hebat, itulah yang selama ini Xin Fai rasakan. Dia tak berniat menceritakan hal tersebut pada dua orang di depannya ini.
Zhuan Ang memang sangat keras kepala, dia mencengkram gagang pedang lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku yang akan mengalahkanmu!"
Gong Li sempat menahan temannya itu karena sudah sadar Xin Fai memiliki kekuatan di atas mereka. Tetapi Zhuan Ang tak memperdulikannya, dia bertarung lagi dan lagi hingga napasnya terputus-putus.
Xin Fai masih bisa bertarung dengannya sampai esok hari sekalipun berhubung energi alam di Lembah Kabut Putih sangat melimpah, dia merasa sangat diuntungkan kali ini.
"Aku... Aku menyerah..." Zhuan Ang menstabilkan deru napasnya yang semakin berantakan, dia seperti hendak pingsan saja.
"Bagaimana rasanya kalah saat musuhmu sendiri sama sekali tak mengeluarkan keringat sedikit pun? Hahaha, kalah karena diri sendiri sungguh konyol."
"Tutup mulutmu bocah! Aku sudah berbaik hati padamu sejak tadi!"
"Ah... Berbaik hati? Aku tidak mengingat kapan kau berbicara sopan padaku."
Bibir Zhuan Ang bergetar seperti hendak mengeluarkan protesnya lagi namun emosi yang memuncak dalam kepalanya membuat dia tak bisa berpikir.
"Bocah sialan, tujuanmu memang untuk mempermalukan kami sejak tadi!"
"Hahaha akhirnya otak dangkalmu itu menyadarinya juga..."
Tawaan meledak dari mulut Xin Fai karena melihat kekalahan Zhuan Ang yang jauh lebih menyedihkan dari perkiraannya. Dia memang hendak memberi pelajaran untuk orang-orang sombong seperti ini karena kekesalannya di masa lalu, ketika tak memiliki kekuatan untuk membela diri saat dihina oleh seorang keluarga bangsawan.
__ADS_1
Sedangkan Gong Li sudah lebih dulu beristirahat di bawah pohon yang tak jauh dari tempat bertarung. Dia dan Ren Yuan menonton dengan wajah lesu tak seperti biasanya.
Saat Zhuan Ang sudah mengatakan kekalahannya, Gong Li serta Ren Yuan bangkit dari tempat mereka berdiri. Keduanya tidak mengangkat wajah sombong seperti tadi, masih dalam keadaan kesal Ren Yuan berbicara.
"Aku yang akan membalaskan kekalahan kedua temanku nanti saat turnamen! Tunggu saja aku akan mempermalukanmu saat itu tiba."
"Baiklah aku akan menunggu tanggal mainnya. Jangan sampai kau kalah juga seperti dua temanmu ini."
Perkataan Xin Fai layaknya sumbu api yang siap membakar kapan saja, Ren Yuan yang memiliki harga diri sangat tinggi jelas saja dibuat sangat-sangat tersinggung oleh perkataan itu.
"Kau akan ku kalahkan jauh lebih menyedihkan dari dua temanku ini!"
"Jadi kau mengakui kekalahan dua temanmu ini memang menyedihkan? Hahaha."
Pernyataan tersebut membuat dua teman Ren Yuan murung, Gong Li tak bisa lagi mempertahankan wajah cueknya. Sebelumnya dia selalu menang saat latih tanding dengan murid-murid di sektenya, kekalahannya hari ini adalah pil pahit yang harus ditelannya bulat-bulat setelah merasa tak terkalahkan di sektenya dulu.
"Kurasa kau jauh lebih sombong dari bangsawan sekalipun, cih, apa bedanya kau dengan kami?"
"Bedanya aku hanya akan sombong pada orang kaya, dan kalian hanya bisa sok berkuasa di depan rakyat jelata. Bukannya itu sudah sangat berbeda. Apalagi yang harus diperjelas?"
Gong Li menahan Ren Yuan yang seperti hendak mencakar pemuda di depannya, pemuda itu menatap Xin Fai tajam.
"Kami sudah mengakui kekalahan kami, jadi kau tak perlu berbicara sesuatu yang memancing perkelahian lagi seperti itu."
Xin Fai melipat kedua tangan di depan dada sembari memasang tatapan tak yakin. "Bukankah kalian duluan yang menghinaku? Sekarang justru malah kalian yang seolah menjadi korban, padahal aku duluan yang kalian hina. Dunia ini sungguh aneh memang."
"Siapa namamu tadi? Xin Fai, ya? Lihat saja setelah ini namamu akan menjadi incaran semua keluarga bangsawan."
"Semua? Kurasa akan ada satu keluarga yang takkan membelamu," ucap Xin Fai mengeluarkan sebuah benda dari jubahnya. Di tangannya kini terdapat sebuah medali dengan ukiran indah milik keluarga Lian.
"Kau-!? Darimana kau mendapatkannya?Bukankah itu milik keluarga besar Lian?!"
Sontak saja ketiga orang itu dibuat terperanjat oleh medali tersebut, posisi keluarga Lian di Kekaisaran Shang sangat berpengaruh. Keluarga Ren sendiri masih di bawah keluarga Lian.
Xin Fai tersenyum tipis sembari membatin. 'Aih benar kata paman Lian, ternyata medali ini berguna juga.'
Tak ingin menunggu mereka pilih dari rasa terkejut apalagi harus berdebat lebih lama dengan gadis bermulut pisau seperti Ren Yuan, Xin Fai berbalik badan.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti ketika langkah lain terdengar mendekati mereka berempat, sosok yang daritadi menonton pertarungan mereka akhirnya menampakkan diri.
***