
Perjalanan menuju markas Manusia Darah Iblis yang lain ternyata memakan waktu sampai dua hari, Xin Fai mengalami banyak rintangan ketika menuju ke tempat itu.
Sebelum kedatangannya ke markas cabang di kota Lunbei beberapa sekte aliran hitam datang menghadangnya. Beberapa tahun hidup di hutan ternyata terjadi perubahan yang cukup besar di Kekaisaran ini, kelompok aliran hitam semakin merajalela menguasai tanah-tanah milik warga dan aksi pembunuhan kerap kali terjadi dalam waktu dekat. Ancaman besar ini tentu saja membuat keadaan sama sekali tidak damai.
Kepala desa setempat memohon di depannya ketika dia menyadari Xin Fai adalah seorang pendekar, dia mengatakan dalam waktu dekat kelompok aliran hitam bernama Gagak Putih akan datang membawa pasukan pemanah handal. Dia seperti ingin menjerit karena tidak bisa melakukan perlawanan apa-apa. Pejuang desa banyak yang telah gugur saat melalui pertempuran sebelumnya ketika memperebutkan wilayah dengan kelompok aliran hitam lain.
Xin Fai sebenarnya tidak memiliki urusan apa-apa dengan kelompok bernama Gagak Putih ini, dia hanya ingin membunuh Manusia Darah Iblis secepatnya. Namun ketika melihat tatapan para penduduk begitu bergantung padanya hatinya mulai tidak tega membiarkan mereka semua dibantai di tempat ini.
"Baiklah aku akan menunggu sampai mereka datang."
"Terimakasih Tuan Pendekar sudah mendengarkan permintaanku, aku sedikit putus asa ketika melihat beberapa hari ini tidak muncul pendekar yang bisa dimintai pertolongan."
"Aku merasa penyerangan yang dilakukan aliran hitam ini semakin ganas." Xin Fai bercelutuk sembari menyenderkan punggungnya di dinding rumah warga, dia berusaha memulihkan rasa penatnya.
Kepala desa melakukan hal yang sama, terlihat jelas di wajah tuanya kini wajah yang telah melewati banyak kematian dan kesedihan mendalam. Lelaki itu menatap sendu ke depan seolah mengingat kembali istri dan dua anaknya yang telah tiada.
"Ah, seandainya aku memiliki kekuatan untuk melindungi keluargaku..."
Xin Fai beralih menatapi wajah lelaki itu, dia merenung sebentar karena pernah merasakan hal sama yang pernah dialami kepala desa.
"Dulu aku juga berpikir demikian. Setelah seluruh keluargaku dibunuh ketika aku masih berumur 9 tahun," ungkapnya memandang lurus ke kandang sapi yang kini kumuh, hewan ternak di sana telah habis direbut dari mereka.
"Kau sendirian? Di umur seperti itu bagaimana caramu bertahan hidup?" Kepala desa menjadi penasaran kisah di balik mata Xin Fai yang kini menerawang jauh ke masa lalunya dulu.
"Aku sampai lupa bagaimana aku bisa terus hidup seperti ini. Mungkin, karena dendamku yang terlalu besar."
Xin Fai tak mau memandang kepala desa karena tahu lelaki itu kini sedang mengasihaninya.
__ADS_1
"Di umur belia seperti itu kau bertahan hidup sendirian? Aih seandainya aku memiliki kekuatan untuk menjadi orang setegar dirimu ini... Melihat keluargaku mati saja aku menangisinya sampai berhari-hari."
"Itu manusiawi, bukan? Setelah sesuatu yang berharga terenggut dari kita rasanya nyawa sendiripun ingin sekali dipertaruhkan, tapi alam punya cara sendiri untuk mengembalikan apa yang telah direbut itu."
"Dengan cara?"
"Dengan cara memberiku kekuatan yang besar, aku ingin hal ini tidak akan dirasakan orang lain lagi. Pertumpahan darah ini hanya membuat banyak orang sengsara."
Kepala desa baru saja bisa tersenyum ketika jeritan meminta tolong terdengar di salah satu rumah.
"Mereka sudah datang!"
Api menyulut membakar perumahan warga yang terbuat dari bahan papan, kobaran api tersebut terus berlanjut hingga ke rumah paling ujung.
Xin Fai mendecak kesal karena pergerakan Gagak Putih begitu cepat, anggota yang dikerahkan juga terbilang banyak bahkan hampir menyentuh angka ratusan.
"Sial! Kalau hanya sendiri seperti ini bagaimana aku bisa membunuh dan menyelamatkan orang secara bersamaan!?" Umpatnya kesal. Dia sebelumnya merasa yakin bisa menangani semua hal dengan kekuatannya namun tampaknya hal itu masih diragukan setelah menghadapi ini semua.
"Tidak perlu cemas, kami akan membantumu."
Xin Fai tidak bisa memalingkan wajah untuk melihat siapa yang berbicara padanya sekarang, api di perumahan kini mulai membakar jubahnya.
Beberapa saat kemudian dia disambut oleh sebuah pasukan berbaju armor yang kini bergotong royong menyelamatkan warga sekitar, kekuatan mereka setidaknya mencapai pendekar menengah tahap 3 sampai 5. Beberapa bahkan memasuki tahap pendekar agung yang cukup kuat, ini menjelaskan bahwa orang-orang yang datang kini bukanlah kelompok sembarangan.
Xin Fai baru saja memenggal kepala lawannya, dia mengalihkan perhatian ke pertarungan yang terjadi di dekatnya. Di tengah terangnya pencahayaan akibat api kobaran, dia melihat seorang pria dengan tangan diperban tengah bertarung gesit lima lawan satu.
"Senior Yong?"
__ADS_1
Lelaki itu memalingkan wajah ke arah Xin Fai, tak diduga malah sebuah pedang hampir saja menusuknya dan menimbulkan bekas goresan di pipinya.
Yong Tao berusaha membunuh lima orang musuh secara cepat dan ingin menanyakan langsung pada pemuda misterius itu. Tetapi setelah itu Yong Tao menyadari orang itu telah pergi dan mengincar musuhnya di tempat lain.
Xin Fai bergerak cepat saat sebuah pedang hendak menikam punggung kepala desa, merasa langkahnya tidak bisa mengejar dia mengambil batu seukuran kepalan tangannya dan melemparkannya menggunakan tenaga dalam. Alhasil batu itu mengeluarkan perubahan energi cahaya hingga aliran listrik terlihat dari batu tersebut.
Kepala pendekar yang hendak menyerang kepala desa pecah berhamburan ketika batu tersebut menabraknya, lelaki itu tidak sempat menjerit. Tubuhnya meronta-ronta seperti ikan kekurangan air.
Kepala desa tentu saja muntah melihat pemandangan sadis ini, dia bukan seorang pendekar yang terbiasa membunuh. Meskipun sudah banyak melihat kematian namun pecahnya otak dan daging pria ini membuat dia tidak bisa menahan diri dan segera lari dari tempat itu.
Beberapa gadis desa diculik dan dibawa ke sebuah tempat, Xin Fai mengejar orang-orang yang telah membawa para gadis itu sembari mengayunkan pedang.
Rupanya Gagak Putih telah bersiap menunggu di pelabuhan yang tak jauh dari sana untuk membawa para gadis yang akan dijadikan budak ini, di sana telah terlihat sebuah kapal besar berisikan para pendekar aliran hitam yang cukup banyak.
Kehadiran Xin Fai membuat mereka sedikit tertarik, beberapa meludah ke laut menertawakannya.
"Lihatlah pemuda itu! Sepertinya dia salah satu cecunguk yang berhasil melarikan diri! Jika kau mencari tempat melarikan diri maka kau salah tempat, bodoh!"
"Kau hanya akan mati di sini!"
"Hahaha jangan menakuti anak muda labil sepertinya bodoh, lihat kakinya pasti sudah gemetaran mendengar omonganmu!"
Tertawaan di atas kapal itu menggelegar terdengar bersama bunyi petir malam itu, ketika kilat membuat silau mata para awak kapal di detik itu juga Xin Fai telah menghilang dari tempatnya.
***
crazy up untuk menemani para jomlo wkwk yg tidak jomlo semoga terhibur juga hehehe✌️
__ADS_1