
Banyak tanda tanya muncul di kepala para anggota Aliansi Pedang Suci, mereka saling bertukar tatap dalam sejenak kala melihat Xin Fai berdiri tak jauh dari mereka, menatap sosok roh misterius yang membuat mereka menjerit beberapa detik lalu.
"Iblis telah kembali..."
Hanya itu yang dapat didengar dari roh tersebut, wujudnya yang berasal dari asap mulai memadat menjadi sosok berwujud nyata. Kaibo mengetuk tongkatnya di tanah hingga membuat asap mengepul di sekitarnya. Hutan belantara tempat mereka bersinggah seketika dipenuhi oleh asap-asap putih, roh-roh berdatangan setelahnya.
Belasan pria mundur ketakutan, mereka menarik pedang secara cepat mewaspadai segala macam kemungkinan buruk. Xin Fai sendiri tak berkutik di tempatnya, dia masih menatapi kumpulan roh yang berterbangan di atas dan masuk ke tubuhnya tanpa seijinnya.
Kitab Tujuh Kunci di balik jubahnya pun turut bersinar kehijauan, rupanya itu pertanda bahwa energi roh terasa di sekitarnya. Tak berapa lama Kaibo berjalan mendekat, dengan wujud nyata itu dia menapak di tanah seperti manusia.
Para pendekar meminggirkan diri membiarkan Kaibo lewat, mereka masih terlalu ketakutan untuk melihat sosok misterius yang muncul dari kepulan asap dan menganggap dia sebagai hantu.
"Kau... Harusnya hari itu..." Xin Fai tak tahu harus berkata apalagi mengingat peristiwa 7 tahun lalu, di mana saat penyerangan di Turnamen Pendekar Muda dia mengeluarkan seluruh kekuatan roh untuk menghentikan musuh-musuhnya namun sayang Liu Fengying membalikkan keadaan dan terpaksa membuatnya meninggalkan seluruh roh-roh itu di sana.
"Aku dan para roh-roh ini kembali ke Desa Daan untuk menunggumu tapi sayangnya di sana para Manusia Darah Iblis datang menghancurkan tempat itu dan seperti yang kau lihat, kami pergi melarikan diri."
Para roh ini memang asalnya dari Desa Daan, itu kebenaran hampir dilupakannya barusan.
"Kukira hari itu kau benar-benar sudah pergi, maaf aku telah berpikiran buruk terhadapmu." Kaibo berkata menyesal, suasana malam itu menjadi begitu lengang karena Xin Fai tak kunjung membuka suara.
Hanya gerak-gerik yang terlihat agak lama kemudian, ini membuat Aliansi Pedang Suci semakin curiga akan hubungan Kaibo dengan Xin Fai namun tak satupun berniat mengatakan.
Sejurus kemudian Xin Fai melambaikan tangan pada Kaibo menyuruhnya untuk berbicara berdua saja, Aliansi Pedang Suci diperintahkan menunggu sampai dirinya kembali.
Saat jarak mereka sudah agak jauh dari lokasi api unggun Xin Fai angkat bicara, dia menoleh ke sampingnya. "Syukurlah kalian masih ada, kita dipertemukan lagi seperti ini. Seperti bukan sebuah kebetulan."
"Hahaha..." Kaibo tertawa. "Kalau tidak menyebutnya sebagai kebetulan kau bisa menganggap ini sebagai takdir."
"Takdir, ya?" gumamnya pelan. Kaibo tak tahu harus membalas apalagi, dia langsung mengalihkan topik pembicaraan.
"Kulihat ada sebuah energi asing di dalam tubuhmu yang sekarang, bisa kau jelaskan apa itu?" Seperti biasa Kaibo yang begitu teliti bertanya curiga, sedari awal dia sudah menyadari ada sebuah kekuatan besar yang tumbuh dalam diri Xin Fai.
__ADS_1
Kekuatan itu begitu asing tapi berbahaya. Dengan matanya sekarang di dalam aliran darah Xin Fai telah dipengaruhi oleh kekuatan tersebut, hal ini membuatnya sedikit menaruh khawatir.
"Ini kekuatan iblis, aku mulai bisa mengendalikannya baru-baru ini." Xin Fai menahan kata-kata yang hendak dikeluarkannya lagi, dia terdiam dan berpikir untuk tidak mengatakan apapun tentang Iblis Merah.
"Mengendalikannya? Bukankah itu seperti menggali kuburanmu sendiri?"
"Maksudnya?"
"Semakin kau menggunakan kekuatan itu, segel iblis itu akan semakin terbuka. Perlahan juga jiwamu akan ditelan oleh si monster iblis. Jika saat itu tiba, di mana kau sama sekali tidak memiliki daya untuk mengendalikan tubuhmu sendiri, kupastikan dunia ini akan hancur dalam sekejap mata."
Tentu saja Kaibo mengatakannya dengan nada mengancam, dia tidak begitu setuju akan keputusan ini. Lelaki itu masih berniat menambahkan. "Kukatakan padamu, sekarang susunan permata di tulang belakangmu hampir sempurna, besar kemungkinan iblis itu akan bangkit saat kau berhasil menyempurnakannya. Apa kau sudah mempersiapkan diri untuk kebangkitan kedua?"
"Aku sudah memikirkan itu sejak dulu dan melatih dengan segala upaya agar menjadi lebih kuat."
Kaibo memukul betis Xin Fai dengan tongkatnya kuat-kuat, wajah marahnya persis seperti kakek tua yang sedang dijepit banyak utang. Pria itu menghardik, kumis putihnya melunjak naik. "Bodoh!"
"Aduh! Kenapa kau memukulku?" Pemuda itu mengusap tulang kakinya yang seakan retak dihantam tongkat kayu berkekuatan besi itu. Jika saja Kaibo memukulnya dengan lebih keras, dia yakin tulang betisnya telah retak berkeping-keping.
"Iya–aduh!"
Lagi-lagi tongkat itu menyambar betisnya kuat, jauh lebih kesal tampaknya Kaibo kali ini.
"Jangan berkata omong kosong!"
"Semakin tua semakin galak juga kau ini–aduhh!"
Kaibo tidak menunjukkan tanda-tanda hendak berhenti memukul yang akhirnya membuat Xin Fai berusaha tidak membangkang. Dia baru teringat bahwa ketika berdebat dengan tiga hal ini dirinya amatlah amatir. Yang pertama melawan mulut Lang, yang kedua para gadis dan ketiga si kakek tua bernama Kaibo ini.
"Kau sama sekali tidak serius melatih tubuh dan hanya membunuh menuruti rasa dendammu!"
"Apa ada yang salah dengan itu?" tanya Xin Fai, dia menjauh saat tongkat kayu kembali mengayun hendak menyerangnya.
__ADS_1
"Sudah jelas salah!"
"Apa salahnya berbicara tanpa memukul begitu..." gerutunya menggaruk-garuk telinga, agak sedikit kesal diperlakukan seperti anak kecil. Tapi mau bagaimana lagi Kaibo tidak mau mendengarkan, dengan amat terpaksa Xin Fai menahan diri menghadapi roh ini.
"Kekuatan yang kau dapatkan dari dendam itu tidaklah hebat, kau pasti menyadarinya bukan?"
Xin Fai menunduk dalam, tampaknya dia merasa perkataan itu benar. Saat melihat patung Qiang Jun pagi tadi dirinya merasa sangat kagum, bahkan hanya dengan melihat patungnya saja sudah terasa jiwa kepahlawanan dari sosok pria itu dan Xin Fai sama sekali tidak bisa menemukan itu dalam dirinya.
"Kau ingin menjadi orang seperti penerus Manusia Iblis sebelumnya?"
"Aku tidak tahu, yang kupikirkan hanya membunuh musuh-musuhku sebelum nyawaku habis."
Kaibo mendecih tak percaya, dia menahan langkah sejenak dan berhasil membuat Xin Fai menatapnya. Sesaat keduanya bertukar pandang dengan wajah serius.
Secara mendadak pedang di punggungnya bergerak, keluar dari tempatnya dan menghujam tanah membuat Xin Fai waspada. Tentu hal itu Kaibo yang melakukan. Lelaki itu melipat kedua tangan di belakang punggung.
"Aku akan memberikanmu sedikit pelajaran agar kau paham untuk apa dirimu berada di sini."
"Aku mengerti."
Tepat di tengah-tengah padang rumput yang luas keduanya berdiri saling berhadapan, malam itu kunang-kunang muncul menerangi teduhnya malam. Xin Fai menarik pedang yang menancap di depannya, kemudian berdalih menatap Kaibo.
Kaibo mengajukan pertanyaan. "Kalau begitu, pertama-tama aku ingin bertanya, untuk apa kau mengayunkan pedang itu?"
"Untuk membunuh musuhku."
"SALAH!"
BUGK!
***
__ADS_1
Abah Kaibo jangan galak2 ngapa🙄wkwkw