Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 40 - Bulan Separuh Lingkaran


__ADS_3

Xin Fai terpental beberapa meter saat mendapat serangan telak di depannya, ia memegang perut kesakitan. "Bagaimana bisa orang tua sepertinya memiliki kekuatan yang sangat besar?!" Batinnya menjerit. Jika seandainya Kaibo menggunakan seluruh kekuatannya sudah pasti dirinya akan mati tak lama lagi.


Seketika Kaibo menutup mata dan tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya, Xin Fai terlonjak kaget tidak bisa menghindar. Tongkat Kaibo menghantam pundaknya lagi.


"Arghh!"


"Berhenti bermalas-malasan jika tidak ingin terluka. Dalam latihan bersamaku kau harus siaga setiap detik!"


Xin Fai bangun dengan bertumpu pada lututnya, sekarang dia baru mengerti maksud perkataan Lan An. Tidak semua pertarungan harus menggunakan tenaga dalam, dia harus mengembangkan ilmu bela diri dan kekuatan fisik untuk menghindari serangan Kaibo. Itulah yang daritadi Kaibo uji darinya selama latihan.


"Tendangan Bulan Sabit!"


"Lagi-lagi jurus itu! Kau tahu, jurus itu adalah yang terlemah dan semakin lemah jika kau yang menggunakannya!"


Raut wajah Xin Fai mengerut, dia sudah memaksimalkan jurus itu beberapa kali namun hanya komentar pedas yang dituainya. Mau tak mau dia harus melawan Kaibo dengan tangan kosong.


Memar mulai menghiasi sekujur tubuh Xin Fai, dia terus menyerang sambil menaikkan tempo serangan membuat Kaibo juga menaikkan kewaspadaannya setiap detik.


"Jangan terburu-buru, kau hanya membuka celah di mana-mana."


Di pinggir sungai mereka berlatih hingga sore tiba, Lang yang sudah terbangun untuk memakan ikan hanya bisa menebak identitas seorang pria sepuh yang terlihat ganjil itu.


"Aura roh ini... Dia kah penghuni kitab itu?" Lang memerhatikan lama, dia memakan ikan di sekitar arang api yang sudah padam. Sambil memerhatikan indahnya langit sore.


Kaibo tak lain ingin mengembangkan ilmu bela diri Xin Fai, dengan mematangkan pemahamannya tentang pertarungan. Variasi gerakan baru dicontohkannya dan diikuti oleh Xin Fai dengan terbata-bata.


"Hei!" Kaibo yang sejak tadi geram akhirnya melampiaskan kekesalannya dengan mengetuk kepala Xin Fai menggunakan tongkatnya. "Aku sedang melatihmu bela diri, bukan menari!"


Xin Fai melakukan gerakan berulang-ulang namun tetap saja hanya komentar buruk yang dia dapatkan. Seakan pasrah dengan keadaan dirinya Xin Fai memutuskan berhenti sejenak. Kaibo memejamkan mata sebelum berbicara lagi.


"Aku akan kembali setelah tiga hari, kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"

__ADS_1


"Mmm..." Xin Fai hanya mendecak pelan dibuatnya, dia sendiri juga ikut kesal karena tidak bisa melakukan yang terbaik saat latihan tadi. Kekecewaan di wajah Kaibo jelas karena dia sangat tidak bisa diandalkan.


Saat malam harinya Xin Fai yang baru saja membuat api unggun berdiri di batu besar pinggir sungai. Dia menggenggam pedangnya sambil memejamkan mata, sepanjang malam itu dia gunakan untuk mengayunkan pedang.


Lang membuka tutup matanya setiap jam dan masih menemukan Xin Fai berlatih sangat giat. Entah apa yang mendorongnya sejauh itu. Lang bangun lalu memasuki hutan.


Esok paginya Xin Fai masih berdiri di tempat yang sama dengan kantung maka menghitam, dia tidak tertidur dari semalam. Lang yang baru saja berburu dibuat bingung, dia meletakkan kambing hutan dari mulutnya ke tanah.


"Berhenti dulu sebentar. Kau tidak lapar?"


Xin Fai berhenti mengayunkan pedang, dia melompat dan menimbulkan percikan air di kakinya.


Asap mengepul setelah Xin Fai menghidupkan api, mata Xin Fai kosong. Lang yang memerhatikan hal itu sedari tadi hanya bisa diam memilih tak ikut campur namun rasanya membiarkan anak kecil seperti Xin Fai berpikir terlalu keras agak membuatnya tak tega.


"Tidak perlu menjadi seperti yang pria tua itu inginkan. Kau hanya perlu memaksimalkan apa yang sudah ada dalam dirimu."


"Memaksimalkan apa yang ada di dalam diriku? Seperti apa? Apa aku memiliki sesuatu yang kau maksud itu?"


Burung kecil hinggap di dahan rendah lalu terbang tinggi ke arah timur seiring dengan kerutan di dahi Xin Fai yang semakin dalam.


"Lang tidak memberi tahu kekuatan yang bisa ku maksimalkan sedangkan kekuatan paling besar yang kumiliki semuanya bergantung memakai tenaga dalam..."


Berjam-jam Xin Fai duduk berpikir tanpa memperdulikan sekitarnya. Akhirnya karena tak menemukan jawaban Xin Fai mendecak kesal dengan mengacak-acak rambutnya.


"Yang benar saja aku berpikir berjam-jam begini dan hanya menemukan jalan buntu! Sial!" Dia mengumpat kesal dan hendak menceburkan dirinya ke sungai.


Sempat terpikir olehnya potensi besar yang dia miliki adalah bertahan di dalam air selama 4 menit namun jika dipikir-pikir itu juga tidak terlalu tepat.


Xin Fai melakukan segala cara, dia bermeditasi hingga petang dan hal itu juga tidak ada hubungannya dengan potensi besar yang dimilikinya. Lagi-lagi ia mendengus panjang sampai menggaruk kepalanya.


Xin Fai memutuskan untuk mengembangkan jurus Tendangan Bulan Sabit yang sebelumnya mendapatkan kritikan paling pedas dari Kaibo.

__ADS_1


"Tendangan Bulan Sabit!"


Xin Fai dapat melihat garis retakan di pohon itu, namun rasanya perkembangannya tak berarti apa-apa di mata Kaibo nanti. Ia membuka kitab, mempelajari beberapa jurus yang bisa digunakan tanpa melibatkan tenaga dalam.


Jurus Bulan Separuh Lingkaran menjadi pilihannya, Xin Fai memfokuskan pikiran dan menumpu kedua kakinya dengan benar.


"Bulan Separuh Lingkaran!"


Xin Fai melompat ke belakang dengan tubuh memutar. Gerakan itu masih terlalu pemula dan butuh waktu untuk menyempurnakannya sedangkan Kaibo akan kembali satu hari lagi untuk menguji kekuatannya.


Tentu Xin Fai harus menunjukkan perkembangan jika tidak ingin mendengar omelan Kaibo yang super menjengkelkan itu. Dengan pasrah Xin Fai menarik pedangnya, dia menatap pedang itu lesu.


"Jika nanti aku diomeli ya sudahlah, untuk saat ini aku tidak harus latihan ilmu bela diri lagi. Yang harus kulatih adalah kesabaranku nanti jika bertemu dengannya," gumam Xin Fai pada dirinya sendiri.


Xin Fai melompat ke atas batu sungai sembari mengayunkan pedangnya hati-hati, dia mencoba mengingat-ingat ilmu yang diajarkan Lan An padanya.


Xin Fai baru menyadari sensasi memegang kayu dan pedang sangatlah berbeda. Dia mencoba menyesuaikan pola gerakan milik Lan An dan dirinya kemudian menyatukan kedua teknik tersebut.


Lang yang baru saja pulang berburu ketika malam hari akhirnya bisa bernapas lega. Rasa khawatirnya terjawab, sebenarnya tidak ada yang perlu ditakutkannya. Xin Fai memang bocah bodoh sekaligus ceroboh namun anak itu memiliki pola pikir yang sulit ditebak.


Setidaknya anak itu sudah menemukan jawaban yang menghantui pikirannya sedari tadi.


Saat tenggelam dalam pikirannya sendiri, Lang melebarkan mata emasnya kala melihat Xin Fai mencoba mengotak-atik jurus yang dipelajarinya.


Anak itu menyatukan jurus Bulan Separuh Lingkaran dengan tenaga dalamnya, hasilnya pedang yang digunakannya bergerak separuh lingkaran dengan cahaya keemasan yang bertahan di udara selama beberapa detik.


Pemandangan itu tentu saja sangat indah, Lang bahkan seperti sedang melihat bulan sabit tepat di depannya.


Xin Fai menoleh padanya. "Sangat indah, kan?" Ia mundur untuk melihat cahaya sabit itu.


"Seandainya Ayahku melihat ini, kurasa dia akan jatuh pingsan hahahaha," dia tertawa lebar namun tersirat rasa kesepian di dalamnya.

__ADS_1


__ADS_2