Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 95 - Siluman Penguasa Air IV


__ADS_3

"Aarrghh!" teriak Xin Fai ketika ribuan roh memasuki tubuhnya bersamaan, dia merasa dihujam ratusan mata pedang di seluruh tubuhnya. Karena melihat Xin Fai begitu tersiksa, maka Kaibo berniat mengurangi penderitaan anak itu.


"Aku akan sedikit membantumu, kuharap kau membalasnya suatu hari nanti," kata Kaibo sebelum rohnya memasuki tubuh Xin Fai untuk mengambil kendali.


Xin Fai berhenti berteriak karena kesadarannya telah diambil Kaibo, kini kendali tubuhnya berada sepenuhnya di tangan pemimpin roh itu.


"Ah, tubuhnya masih sangat lemah," gumam Kaibo. "Aku tidak yakin tubuh anak ini bisa menampung seluruh kekuatan roh yang ada bersamaku."


Meskipun agak khawatir namun situasi tak memungkinkan, Kaibo yang berada di tubuh Xin Fai mulai mengeluarkan energi roh dalam jumlah besar. Energi tersebut meledak-ledak karena tak sepenuhnya bisa ditampung di tubuh Xin Fai.


Kaibo segera bergerak sebelum siluman naga menyerang, dia cukup mengangkat tangannya ke samping dan setelah itu ribuan roh bersatu membentuk sebuah pedang yang sangat besar. Pedang yang terbentuk dari kumpulan roh tersebut sangat tak biasa, baik dari bentuk maupun energi yang dilepaskannya.


Pedang Roh bergerak cepat hendak melibas sang siluman naga, sedetik sebelumnya hujan panah sudah turun lebih dulu dari langit.


Kaibo tak peduli akan keselamatan orang-orang di bawah dia memilih untuk mengalahkan sang siluman naga tanpa menahan diri. Sedangkan di bawah sana Lang menangkis hujan panah tersebut menggunakan energi emasnya, dampak serangan tersebut berkurang cepat karena serigala itu.


Mata Xin Fai yang semula emas kini berubah abu kegelapan saat Kaibo merasukinya. Dengan pedang roh, Kaibo melesat cepat mendekati musuh, saat mengayunkan pedang dia hanya menebas udara kosong dikarenakan sang siluman naga sudah duluan menghindar.


"Ch, padahal aku tak berniat bertarung hari ini." sang siluman naga terdengar kesal saat berbicara, tubuhnya yang berukuran besar membuat dirinya sedikit lebih lamban dibandingkan Kaibo.


"Benarkah? Jadi mengapa kau menyerang manusia-manusia itu?"


"Cih, mereka kurang ajar sekali. Menembakkan busur panah menyedihkan itu ke mataku ini."


"Hahahaha!"


Tawa Kaibo mengusik sang siluman, dia tak terima dipermainkan oleh manusia. Tanpa menunggu lama lagi, burung-burung petir yang sudah dalam bentuk sempurna terjun bebas dan bergerak teratur ke arah Kaibo.

__ADS_1


"Lihat apa kau masih bisa tertawa setelah ini."


Ratusan burung petir menyerbu Kaibo dalam waktu yang hampir bersamaan. Dia menggunakan wujud roh, dengan kekuatan istimewa roh tersebut memungkinkan tubuhnya untuk memudar ketika serangan datang dan dirinya tak bisa tersentuh layaknya arwah.


Sang siluman naga yang merasa serangannya sia-sia akhirnya mendengus kesal, dia mengarahkan burung petir lainnya untuk menyerang manusia di bawah.


"Bagaimana kalau teman-temanmu yang menjadi sasaran? Pasti sangat menyakitkan,"


"Temanku? Haha, jangan bercanda. Aku hanya roh, aku tidak peduli dengan keselamatan mereka. Tugasku saat ini hanya mengalahkanmu saja." Sambil mengatakan hal itu Kaibo kembali menarik Pedang Roh, kali ini energi roh yang menyerap ke dalam pedang tersebut bertambah banyak membuatnya lebih berbahaya dari sebelumnya.


"Mengalahkanku? Jangan bermimpi dulu, kekuatanku jauh lebih besar dibandingkan roh sepertimu."


"Haha, benar.. itu benar sekali, tapi apa gunanya kekuatan besarmu itu jika sama sekali tak bisa menyentuhku?"


Kali ini tak terdengar balasan sinis dari sang Siluman Penguasa Air, dia hendak membantah namun tak menemukan jawaban yang memuaskan. Sejurus kemudian Kaibo melayang cepat ke ekor sang siluman, menyerang membabi buta sambil tergelak.


"Sekuat apapun kekuatanmu pasti memiliki kelemahan. Dan kelemahannya adalah jika kekuatanmu itu sama sekali tak berguna di hadapanku."


Gelak tawa Kaibo lantas saja terdengar setelah siluman naga mengatakan hal tersebut, dia memang begitu senang saat melawan musuh berkekuatan besar yang sama sekali tak berdaya jika berhadapan dengannya.


"Mari kita lanjutkan pertarungannya."


Di sisi lain hujan busur yang terus menyerang membunuh hampir setengah manusia di bawahnya, Huang Kun tergores lengannya oleh salah satu busur itu. Kini jubahnya berdarah akibat robekan lebar yang terpampang jelas di sana.


Li Yong maupun Shen Xuemei membantunya meringankan luka tersebut, situasi semakin memprihatinkan karena ratusan burung petir bergiliran menyerbu mereka.


Saat burung-burung petir hendak menyambar, ratusan lingkaran emas menahannya hingga kekuatan beradu menimbulkan loncatan energi di sekitarnya.

__ADS_1


"Kita harus bisa menahannya sampai siluman naga itu kalah," kata Lang.


Sedangkan Li Yong sama sekali tak bisa mencerna situasi di sekitarnya, dia merasa ini semua mimpi. Melihat sosok siluman legenda dengan ukuran yang sanggup menutupi langit, dan juga Xin Fai yang bisa melayang di udara dengan sebuah pedang besar di tangannya. Bahkan Li Yong sempat bertanya pada muridnya Shen Xuemei. Namun pemuda itu mengatakan bahwa yang dia lihat ini memang bukanlah mimpi.


Dan lagi kini sebuah pusaran air mendekat disertai ombak-ombak kencang yang siap menghanyutkan mereka.


Li Yong tak mau memikirkannya lebih jauh lagi, dia melakukan apa yang bisa dilakukan. Sambil menyembuhkan Huang Kun, pendeta itu menengadah ke atasnya.


"Xin Fai... Semakin lama mengenalmu, aku merasa dirimu bukan manusia lagi."


Perkataan Li Yong tentu memiliki sebab, manusia setingkat pendekar agung kehormatan saja bahkan belum tentu bisa terbang setinggi itu, apalagi ketika serangan datang padanya, tubuh Xin Fai langsung memudar dan tak terkena dampak serangan sedikitpun.


Huang Kun sudah dalam keadaan pingsan, Li Yong menopang tubuh muridnya agar tak tenggelam di dalam air lalu bergerak menjauhi pusaran air laut.


Gelombang semakin meninggi membuat keseimbangan Li Yong terganggu, dia dan Huang Kun masuk ke dalam air. Shen Xuemei sendiri yang tak bisa berjalan di atas air memilih berenang menyusul. Sementara yang lain mengapung di laut sama sekali bergerak dan masih terpana dengan pertarungan di atas langit.


Di saat itu pula Kaibo terus menggencarkan serangan habis-habisan, ribuan roh menghantam badan kokoh sang siluman naga dan bersatu kembali. Hal itu terjadi ratusan kali dalam waktu singkat hingga kulit musuhnya yang seperti batu mulai mengalami keretakan.


Sang Siluman Penguasa Air marah, terdengar dia mengamuk dengan suara menggema, siapapun yang mendengarnya akan merinding termasuk orang-orang yang berada di tepi laut Kota Fanlu. Mereka yang dari kejauhan saja bisa mendengarnya ditambah lagi saat ini gelombang menjadi tidak stabil.


Pedang Roh di tangan Kaibo memancarkan asap tebal, dia melibas menggunakan dua tangannya ke arah tubuh siluman. Sedangkan air-air dari laut menguap ke atas menandakan sesuatu yang mengerikan akan tercipta lagi oleh siluman dewa tersebut


Jarak Li Yong serta yang lainnya sudah terbilang aman dari daerah pertarungan, mereka menjauh dan semakin menjauh tidak berniat menjadi korban serangan nyasar dari Kaibo maupun Siluman Penguasa Air.


Siluman tersebut menggabungkan air, petir dan angin puyuhnya membentuk lima naga yang ukurannya termasuk besar meski ukurannya jauh berbeda dari tubuhnya.


Tubuh lima naga tersebut sangatlah licin disebabkan angin puyuh yang berada di dalamnya. Kecepatannya pun seperti kilat, dan juga kekuatannya sama dengan kekuatan siluman berusia ribuan tahun.

__ADS_1


Ekspresi Kaibo mulai memburuk, jika tadi dia merasa di atas angin namun kali dia terdiam melihat kelima naga tersebut.


***


__ADS_2