
Yong Tao mengernyit heran, dia terlalu banyak meminum arak hingga tidak bisa berpikir jernih lagi. Xin Fai mengulang lagi perkataannya.
"Kita harus segera bergerak, Senior Yong. Aku ingin segera bertemu dengan Kaisar Qin dan menggerakkan Aliansi Pedang Suci untuk membasmi para Manusia Darah Iblis, semakin banyak kita mengulur waktu mereka pasti akan bersiap-siap dengan pasukannya. Sebaiknya kita menyerang sebelum berita tentang penyerangan kita kemarin tersebar."
"Kau tampak terlalu terburu-buru," balas Yong Tao singkat. Xin Fai memijit kepalanya sakit, jika saja dirinya tidak memilih bergabung dengan mereka Xin Fai saat ini sudah pasti berada di medan tempur untuk menghabisi para pendekar aliran hitam itu.
Salah satu pendekar lain menjawab. "Sudahlah anak muda, aku tahu semangat anak di usiamu masih membara, tapi kita juga perlu istirahat. Nikmatilah waktumu selagi kau bisa." Pria itu menenggak anaknya dalam satu tegukan.
Dengan terpaksa Xin Fai duduk bersila di ruangan tersebut, dia masih tidak setuju akan keputusan tersebut namun tidak memiliki pilihan apapun selain menunggu hingga hari terang.
Menjelang pagi Xin Fai telah terbangun dari tidurnya mengamati ruangan yang kini dipenuhi oleh para pendekar yang sedang tertidur pulas, dia melangkahi tubuh mereka diam-diam agar bisa sampai ke depan pintu demi mendapatkan udara segar.
Suasana di tempat ini terbilang nyaman, bau hujan masih terasa kuat. Beberapa saluran air penuh oleh air keruh. Orang-orang pun mulai beraktivitas seperti biasanya.
"Tiba-tiba aku jadi teringat dengan Desa Peiyu.." gumamnya pelan, tidak disangka ternyata Yong Tao telah terbangun juga dan mendengar perkataannya.
"Desa Peiyu? Apa dari saja kau berasal?"
Xin Fai menoleh ke samping melihat Yong Tao tengah meregangkan otot tubuhnya, dia mengangguk.
"Suatu saat kita akan pergi ke sana."
"Untuk?"
Yong Tao menghadap Xin Fai. "Untuk mengusir Manusia Darah Iblis, mereka sudah merebut tempat itu dan menjadikannya markas. Mungkin bisa jadi itu termasuk sepuluh besar markas terbesar mereka."
"Ck, mereka itu..." Baru pagi saja Xin Fai sudah dibuat kesal lagi, dia menarik napas mencoba menenangkan diri sendiri. Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu, Yong Tao sibuk menatapi ke depan sedang Xin Fai larut dalam pikirannya sendiri.
__ADS_1
Sebuah suara terdengar di belakang, ternyata Xu Ming memanggil.
"Tuan Pendekar, sebelum kalian pergi makanlah dulu."
Hari mulai terik, Xin Fai memandang ke atas menunggu para pendekar selesai makan, di bawah pohon rindang dia duduk di bangku kayu. Angin berembus pelan berusaha menenangkan pemuda itu namun pikirannya terlanjur kalut sejak semalam.
Entah apa yang membuatnya sekhawatir ini, dia mencemaskan banyak hal namun tak sedikitpun keluhan keluar dari bibirnya. Yong Tao sebenarnya sudah berulang kali meminta dia menceritakan masalahnya namun Xin Fai menolak.
Satu jam menunggu akhirnya mereka keluar, Xin Fai bangkit dari duduknya bersiap pergi. Dia menatapi Xu Ming, Mei Lian dan anak-anak di rumah itu singkat sebelum benar-benar pergi dan menghilang di ujung jalan.
Perjalanan menuju Kota Renwu tidak dihalangi oleh hambatan apapun karena kenyataannya kota ini adalah salah satu kota yang aman dari serangan aliran hitam, orang-orang berlalu lalang sepintas di matanya. Xin Fai tersadar beberapa detik saat melihat pemandangan kota yang tidak asing di matanya.
Dulu Kota Renwu terbilang sangat mewah, namun penyerangan 7 tahun yang lalu banyak menghancurkan bangunan di tempat ini hingga lebih dari seperempat kota terdampak. Khususnya daerah di sekitar Lembah Kabut Putih, pasukan yang dibawa Yong Tao tidak pergi ke sekte tersebut melainkan ke jantung kota Renwu di mana Kaisar Qin sedang menunggu.
Seperti yang dikatakan Yong Tao, patung Pilar Kekaisaran sudah mulai dibangun. Xin Fai menatapi patung ketiga di mana ukiran seorang gadis cantik terpampang di sana, dia adalah Xiu Juan.
Kebahagiaannya pudar dalam sedetik kemudian, meluap begitu saja di udara saat melihat patung seorang anak kecil. Mengganggu pemandangan. Hal itu membuat dirinya ingin menjerit.
"Apa-apaan?! Patung anak kecil? Kejam! Aku tidak terima ini, ganti! Ganti patung yang lain!"
Orang-orang di kota Renwu mengernyit heran melihat tingkah pemuda itu, Xin Fai ingin sekali mengangkut patung tersebut dan menenggelamkannya ke jurang. Salah satu penduduk lokal mencoba menenangkannya.
"Sudahlah saudara muda, aku tahu kau sangat mengidolakannya tapi orang itu sudah tidak ada. Pembuat patung ini juga hanya melihat anak ini ketika umurnya 10 tahun..."
"Kenapa tidak lihat mukaku saja sekarang?"
"Apa kau sudah gila? Kukatakan sekali lagi, patung yang kau pegang itu milik calon Pilar Kekaisaran kita. Jangan pernah bersikap seperti ini lagi atau para Pejuang akan segera menangkapmu." Peringat lelaki itu tajam, Yong Tao turun dari kudanya sembari menarik napasnya amat berat.
__ADS_1
Saat menyadari kedatangan pendekar nomor satu itu lelaki tersebut menundukkan kepala begitu hormat. Dia segera pergi dari tempat itu karena takut salah bicara.
"Sudahlah Fai'er, aku akan menyuruh pembuat patung ini untuk menggantinya. Tenang saja, aku akan mengurusnya besok."
Xin Fai mengangguk pelan, dia menatap patung Lan An lama seolah di sana pemuda itu berdiri di hadapannya. Tampaknya dia tumbuh dengan baik di sekte Pasukan Seribu Kaki. Yong Tao menatap ke arah yang sama.
"Lan An, ya? Dia orang yang paling terpukul saat tahu kau hari itu tidak pernah kembali lagi dari Hutan Kabut."
"Benarkah? Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Sama sepertimu."
"Maksudnya?"
"Dia menyimpan dendam mendalam pada Manusia Darah Iblis, kurasa kepribadiannya berubah drastis sejak kau pergi.. Terakhir kali aku bertemu dengannya, dia tidak sedikitpun tersenyum seperti dulu."
Pernyataan Yong Tao sedikit membuatnya terpukul akan keadaan pemuda itu, membayangkan bagaimana gelapnya kepribadian Lan An saat ini dia tidak tega. Bagaimanapun ini adalah karenanya, maka dari itu sebenarnya sejak awal Xin Fai tidak ingin melibatkan siapa-siapa.
Yong Tao mengalihkan perhatian pemuda itu, dia menarik tangannya agar segera pergi dari tempat tersebut. "Sudahlah jangan berlarut-larut, kau masih terlalu muda untuk memusingkan banyak hal seperti ini..."
Xin Fai tertawa canggung menanggapi hal itu, dia terbiasa memikirkan banyak hal sejak dulu. Jika tidak, mungkin dirinya tidak akan berkembang secepat ini baik dalam pikiran maupun kekuatannya.
"Senior Yong, boleh aku bertanya di mana Lan An? Aku ingin segera bertemu dengannya."
"Maka dari itu aku menggeretmu seperti ini." Yong Tao tidak menjelaskan apa-apa lagi setelah percakapan itu, mereka tiba di sebuah kedai arak dengan gemerlap lampu-lampu terang di sana. Kebisingan mengisi ruang yang diisi dengan canda tawa para pendekar. Di pojok sana puluhan pendekar dalam pakaian armor sibuk bersulang merayakan sesuatu.
***
__ADS_1