Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 151 - Insting Bertarung


__ADS_3

Xin Fai tak mau bertanya lagi, saat ini dia masih berlarut-larut dalam penyesalan. Seandainya dia tidak terburu-buru untuk membalas dendam dan memilih melarikan diri saja mungkin Lang tidak akan mati. Namun resikonya, orang-orang yang berada di dalam stadium Turnamen Pendekar Muda harus meregang nyawa karenanya.


Di tempat yang jauh dari keberadaan manusia ini Xin Fai juga tidak mengetahui apa yang terjadi di luar sana. Bagaimana nasib Lembah Kabut Putih dan juga apa Li Yong, Shen Xuemei dan juga Huang Kun masih hidup. Dia berharap semuanya baik-baik saja meskipun harus menerima kenyataan pahit bahwa kini serigala tangguh di depannya harus tumbang di tengah perjalanan mereka.


Xin Fai mencengkram tangan amat kuat dengan dendam berapi-api mengobar di dalam dadanya, kematian semua keluarganya dan juga Lang adalah karena kelompok bernama Manusia Darah Iblis itu. Maka dari itu dia bangun hendak memberi perhitungan pada mereka namun Rubah Petir lebih dulu mencegatnya.


"Mau ke mana kau?" Rubah Petir bertanya.


"Aku ingin membunuh para iblis di luar sana. Berkat mereka aku harus berada di titik terendah seperti ini dua kali..." Bersamaan dengan itu dia mengambil sebuah pedang yang tergeletak di bawah kakinya.


Rubah Petir seolah berpikir sebentar, secara garis besar agaknya dia paham masalah yang sedang dihadapi Xin Fai hingga harus melarikan diri dan bertaruh nyawa datang ke tempat ini.


"Apa kau bodoh?" Siluman itu berkata serius. "Di luar sana banyak orang yang sudah mengetahui identitasmu dan sedang berdesak-desakan mencari tahu di mana kau berada. Dalam beberapa hari belakangan bahkan ribuan manusia telah memasuki tempat ini sekaligus tanpa takut mati."


Angka ribuan manusia sangat mengejutkan bagi Xin Fai, dia berbalik badan sebentar sebelum Rubah Petir melanjutkan. "Tenang, sebelum mereka sampai ke sini kupastikan mereka semua akan mati oleh sengatan listrik."


Cukup terbayangkan bagaimana Rubah Petir ini membunuh ribuan manusia dalam sekejap mata, di atas hutan kabut ini sendiri awan tebal mengapung rendah seperti ingin menyentuh bumi. Petir dan halilintar menyambar kapanpun saat sang Rubah Petir menginginkannya.


Xin Fai duduk bersila berusaha menenangkan diri, perkataan siluman rubah ada benarnya. Kehadirannya hanya akan membunuh orang lebih banyak lagi, namun dengan kekuatan seperti ini dia tentu tidak akan berhasil mewujudkan dendamnya pada Manusia Darah Iblis yang terus saja menumpuk hingga tidak bisa dibendungnya lagi.


"Jika dipikir lagi, dengan tidak bisa melihat seperti ini aku juga tidak bisa berbuat apa-apa."


"Kau bisa melihat atau tidak itu tidak akan menentukan kau akan kalah atau menang," ucap Rubah Petir. Saat rubah itu duduk di dekatnya Xin Fai merasakan sesuatu yang aneh, dirinya merasakan bulu lembut menggelitik betisnya. Saat sadar ternyata itu adalah ekor kecil sang Rubah Petir.


Xin Fai terperangah beberapa detik mencoba mencerna apa yang terjadi.


Siluman Penguasa Bumi seperti naga air bahkan ukurannya bisa menguasai seisi langit. Namun Rubah ini ukurannya tak lebih dari ukuran seekor ayam kampung yang benar-benar kampung, membuat Xin Fai ingin sekali tertawa keras.


"Hahahaha..." Xin Fai mengumpati diri sendiri karena kelepasan tertawa.


"Apa?! Kau menertawaiku!!"


BLARRR!

__ADS_1


Petir menyahut berturut-turut secara mendadak. Xin Fai dapat merasakan tubuhnya seperti tak bertulang lagi ketika aura pembunuh milik siluman setingkat dewa itu menyerbunya. Dia menyesal kini dan tidak berniat lagi mengusik rubah tersebut. Lagipula ukuran tidak menentukan kuat tidaknya siluman tersebut, Xin Fai yakin sang Rubah Petir memiliki kekuatan sangat besar yang bisa membunuh ribuan manusia dalam sekejap mata.


"Aku tahu kau meledek tubuhku!"


"Ma-maaf... Aku hanya menertawai..." Xin Fai memutar pandangannya seolah memikirkan alasan yang tepat.


"Menertawai apa?! Kau bahkan tidak bisa melihat."


Pedas tertohok Xin Fai mendapatkan kata-kata itu, meskipun sangat tersinggung namun dia memilih tak memusingkannya lagi.


"Sudahlah. Mataku ini memang sudah tidak berguna lagi, jangan kau ejek-ejek lagi." Anak itu seketika murung, dia berusaha mengelus tubuh Lang di depannya.


"Lalu kenapa kau tidak berpikir untuk mengambil semua yang telah direbut darimu?"


Kalimat tersebut membuat Xin Fai tersadar akan sesuatu, alisnya mengerut diam-diam kemudian terlihat ekspresinya berubah drastis.


"Mustika 7 Musim!!!"


"Hm? Aku baru saja hendak mengatakannya, kau sudah tahu duluan?"


Namun kebahagiaan Xin Fai mengendur saat menyadari hal lainnya. "Tapi mencarinya tentu membutuhkan waktu yang lama, sedangkan saat aku mendapatkannya nanti Lang sudah menjadi tulang belulang."


Rubah Petir mengibaskan ekornya seraya berucap.


"Simpanlah."


Seketika tubuh Lang menghilang, rubah itu menyembunyikannya ke suatu tempat yang tidak diketahui Xin Fai secara ajaib.


"Heee? Ke mana perginya tubuh siluman cerewet itu?!"


"Siluman cerewet?" Rubah Petir menggumam pelan entah apa yang dipikirkannya. "Dia kini berada di ruang tanpa batas. Dengan kekuatanku ini, sebuah ruang di mana waktu akan berhenti tercipta di sana. Bisa dikatakan dengan ini siluman itu tidak akan membusuk sampai kapanpun."


"Benarkah? Wah terimakasih Tuan Baik Hati! Aku tidak tahu kenapa kau mau menyelamatkan sekaligus membantuku seperti ini hahaha, kuharap aku bisa melakukan sesuatu untukmu."

__ADS_1


Rubah Petir tertawa senang saat Xin Fai akhirnya menyinggung hal itu. "Hahaha benar sekali tentu saja aku tidak akan membantumu tanpa bayaran..."


Kini Xin Fai yang mematung.


"Hee... Memang apa yang kau inginkan dariku? Kurasa aku tidak membawa sesuatu yang berharga kecuali nyawaku sendiri..."


"Tidak, tidak, bukan itu." Siluman rubah lewat di depannya membuat Xin Fai semakin waspada. .


"Sebenarnya hari ini kau sudah tewas jika bukan karena aku." Siluman rubah mulai mengeluarkan aura yang tidak biasa.


Semakin tertekan Xin Fai kala merasakan tatapan mengintimidasi tengah tertuju padanya. "Dan juga kau pasti tidak akan selamat dari ribuan pasukan yang mencarimu kalau bukan karenaku."


"Jadi?"


Xin Fai berkeringat dingin ketika sesuatu yang sangat mengejutkan menyapa telinganya. "Aku ingin kau mengalahkan Siluman Penguasa Es di Utara sana untuk mendapatkan permata kehidupanku yang dicurinya. Tubuhku mengecil seperti ini juga karena permata itu telah direbutnya saat pertarungan terakhir kami dan kini aku tidak bisa bertarung imbang melawannya dengan tubuh lemahku yang seperti ini."


Xin Fai ingin sekali mengumpat, dengan tubuh lemah itu Rubah Petir bahkan bisa membunuh ribuan manusia begitu mudahnya. Dirinya benar-benar merasa hal itu sangat tidak mungkin bisa dilakukannya dan memilih mencari jalan lain. Namun sang Rubah lebih dulu berkata.


"Setelah mengalahkan Siluman Penguasa Es baru kau bisa mendapatkan kembali jasad siluman ini."


Xin Fai berteriak 'sudah kuduga!' di dalam hatinya. Rubah ini memang sangat licik. Walaupun wajah Xin Fai terlihat masih tenang namun pikirannya kacau sama sekali.


"Dengan kekuatan seperti ini? Aku tidak bisa melihat, mustahil bagiku untuk bertarung."


"Untuk hal itu aku tidak bisa membantumu. Tapi aku bisa menjadi gurumu untuk menjadi lebih kuat."


Xin Fai menarik napas lalu membuangnya perlahan, setidaknya sekarang ini dia masih memiliki harapan terhadap Lang. Kini keinginannya hanya merebut apa yang telah dirampas darinya.


Sedikitnya Xin Fai sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan kembali penglihatannya yaitu mendatangi si pembuat racun ini. Dengan menyusup menjadi anggota Manusia Darah Iblis, Xin Fai yakin bisa mendapatkan penawar racun tersebut.


Satu hal yang dapat disadari olehnya setelah tidak bisa melihat yakni pendengarannya meningkat sangat tajam. Kewaspadaannya jauh lebih tinggi dan bahkan bunyi aliran air di kejauhan sana dapat terdengar jelas olehnya.


Sebuah batu runcing turun tajam dengan kecepatan tinggi, Xin Fai refleks membelah batu itu menggunakan pedangnya hingga terpecah berkeping-keping.

__ADS_1


"Insting yang bagus, dengan atau tanpa melihat kau bisa menang dalam pertarungan tersulit sekalipun." puji Rubah Petir, namun Xin Fai yakin mahluk licik itu hanya berusaha menyemangatinya setelah memaksanya untuk melawan Siluman Penguasa Es nanti.


Xin Fai menengadahkan kepalanya. Jika dipikir-pikir lagi, kehidupannya ke depan nanti lebih mengerikan lagi. Melawan Siluman Penguasa Es sama saja seperti menantang dewa.


__ADS_2