
Pertarungan Xin Fai dan Lin Zheng sontak saja membuat Kaisar Shang yang bernama Qin Gaozu membenarkan posisi duduk ikut tegang menyaksikannya, dia seolah tak percaya melihat seorang pemuda berusia 10 tahun bisa memainkan dua ratus pisau emas layaknya mainan anak-anak. Padahal perubahan jenis energi itu cukup sulit dilakukan bahkan oleh tingkat pendekar besar sekalipun.
Tatapan terpana itu juga terlihat di wajah Yong Tao seorang Pilar Kekaisaran nomor satu di Kekaisaran Shang. Dia berdehem pelan karena merasa saat umurnya 10 tahun pun dirinya belum tentu bisa melakukan apa yang Xin Fai lakukan sekarang.
Yong Tao tak lagi melipat kedua tangannya di dada dan bersender di kursi seperti sebelumnya. Lelaki gagah itu duduk tegap dengan wajah serius untuk bisa menyaksikan pertarungan lebih jelas.
Saat Lin Zheng terpental sangat jauh semua orang berhenti bergerak bahkan tak berani berkedip demi tidak melewatkan sedetikpun pertarungan ini. Sontak saja, setelah Lin Zheng keluar dari arena suasana pecah di antara penonton, para murid sekte Lembah Kabut Putih tak menyangka murid seperguruan mereka kalah di kandang sendiri.
Namun mereka harus menjalankan tugas masing-masing dan mengontrol penonton agar tidak membuat kerusuhan.
Tetua Lembah Kabut Putih yang duduk di kursi tamu terhormat hanya bisa mengepalkan tangannya begitu erat, dia sungguh kecewa pada Lin Zheng dan tak menyangka dalam kurun waktu kurang dari lima menit murid terkuatnya itu kalah dengan begitu mudah.
Kegaduhan di kursi penonton berlangsung sangat lama, hingga akhirnya Qin Gaozu mengangkat tangan menyuruh mereka diam.
Qin Gaozu menoleh ke Lian Sheng yang kini memasang wajah berseri-seri. "Apa dia pemuda yang kau maksud?"
"Yang Mulia benar sekali! Dia adalah anak angkatku, Xin Fai! Hahaha!" Lian Sheng tertawa renyah. Dia membatin setelahnya. 'Dan aku adalah ayah angkat yang tidak dianggapnya.'
Qin Gaozu tak memedulikan wajah Lian Sheng yang berubah sedih sembari menggendong putri kecilnya, pria itu mencermati Xin Fai yang kini berdiri di arena pertandingan dan disaksikan puluhan ribu penonton dengan tatapan kagum.
"Dia bukan anak biasa, aih, tak kusangka di masa kepemimpinanku ini aku bertemu calon Pilar Kekaisaran sepertinya."
"Hahaha, jangan lupakan aku adalah ayah angkat Xin Fai. Kau harus sering-sering bertamu padaku setelah Xin Fai menjadi anggota di Pilar Kekaisaran."
Qin Gaozu tertawa bersama Lian Sheng, mereka menjadi sangat akrab di kursi tamu istimewa. Nampak keduanya tak peduli dengan kegaduhan di sekitar, para penonton sibuk membahas pertarungan yang baru saja mereka saksikan tadi dengan begitu bersemangat.
Xin Fai sendiri memilih turun dari arena pertandingan, dia menatap ke barisan penonton dan mendapati Li Yong meneriaki namanya.
"Xin Fai! Bersemangat lah!"
Xin Fai tersenyum pada pendeta itu dan sontak saja semua mata beralih pada Li Yong.
__ADS_1
"Jadi pendeta yang tadi hampir menangis ini adalah gurunya, bisa dipastikan dia bukan orang sembarangan melihat muridnya sehebat itu."
"Sekte Kuil Teratai sangat mengejutkan, mereka menyimpan bibit unggul seperti pemuda bernama Xin Fai ini."
"Apalagi yang kau tunggu, Yu Yuwen yang kuat saja belum tentu bisa menang dari pemuda kecil ini."
Xin Fai tersenyum kecil karena dirinya bisa mendengar pujian itu dari kejauhan berkat ketajaman indera pendengarannya, tak mau besar kepala dulu Xin Fai menyempatkan diri untuk menaruh hormat pada Lin Zheng yang kini berjalan di sebelahnya dengan dipapah oleh murid sekte Lembah Kabut Putih.
Pemuda bernama Lin Zheng tak bisa mengakui kekalahannya, dia berseru kencang. "Aku tak terima ini! Aku tidak mungkin kalah! Tidak mungkin! Ini sungguh memalukan!"
Sampai akhirnya pemuda itu dibawa ke dalam ruangan medis baru suaranya berhenti terdengar.
Xin Fai segera menuju tempat itu juga untuk memulihkan diri, dia tersentak dengan suara seorang pria berambut cokelat di kursi tamu.
Xin Fai menolehkan pandangannya dan mendapati Lian Sheng sedang melambaikan tangannya bersama seorang putri kecil yang sangat menggemaskan.
"Paman Sheng..." Xin Fai tanpa sadar tersenyum, jika diingat-ingat lagi dia sudah sangat lama tidak melihat Ayah dan anak itu.
Xin Fai berkata pada Lian Sheng. "Setelah pertandingan ini aku akan menemui kalian," katanya sambil memasang cengiran khasnya, Lian Sheng sudah begitu lama tak melihat cengiran Xin Fai. Agaknya, karena telah menganggap Xin Fai sebagai anak sendiri Lian Sheng juga merindukannya layaknya anak sendiri.
"Baiklah, aku akan menunggu kedatanganmu di kediamanku," jawab Lian Sheng sangat senang. Qin Gaozu menatapi mereka berdua bergantian.
Xin Fai dituntun ke ruang medis untuk memulihkan kondisi fisik dan staminanya, saat berada tepat di depan pintu dia dikejutkan oleh seorang pemuda dalam baju armor yang baru saja keluar dari pintu ruangan tersebut.
"Ah, maaf aku menghalangi jalanmu." Ucap pemuda itu masih belum fokus.
"Tidak apa-apa, Kakak An." Setelah mengucapkan itu Xin Fai tertawa kecil, dia tak melihat betapa terkejutnya pemuda di hadapannya itu.
Kepalanya terangkat secara tiba-tiba dan langsung saja dia mengamati wajah Xin Fai.
"Kau... Kau..." Lan An menunjuk Xin Fai hampir tak percaya, bola matanya bergerak-gerak liar seakan memastikan orang yang berdiri di depannya ini bukan khayalan.
__ADS_1
"Kau adik kecil! Fai'er! Tak kusangka kau ada di sini! Huaaahh!"
Sontak saja Lan An memeluk Xin Fai seperti gadis yang kehilangan kekasihnya selama puluhan tahun, dia seperti hendak menangis, rasa harunya itu membuat Xin Fai keringat dingin karena orang-orang memerhatikan mereka kebingungan.
"Kakak An... Aku-"
"Kau pasti ingin mengatakan kalau kau lebih merindukanku, kan?! Ayolah, aku merindukanmu lebih dari siapapun, adik kecilku!"
Gadis-gadis yang sempat terpesona akan ketampanan Lan An mulai geli melihat tingkah pemuda itu di hadapan Xin Fai, mereka sendiri tak mengerti apa yang terjadi dan memilih diam saja.
"Kakak An, kita bicarakan ini nanti saja..."
"Tidak, tidak! Kau bilang kau akan menemuiku di sekte Pasukan Seribu Kaki! Aku menunggumu hampir setahun dan kau tak pernah datang!"
"Heee.... Kakak An, maafkan aku. Kita bicarakan ini nanti saja, para medis sudah menunggu aku masuk."
Lan An mengembuskan napas berat dan tak lagi memeluk adik kecilnya itu, dia baru menyadari sesuatu dan segera mengatakannya.
"Hei, cepat sekali tumbuhmu adik kecil! Tinggi badanmu bahkan hampir sejajar denganku," ucap Lan An mengukur tubuh Xin Fai dengan cermat. Jelas sekali pemuda itu mengulur-ulur waktu agar bisa berbincang lebih lama dengan adik kecilnya, namun sayang para panitia turnamen datang dan menyarankan Xin Fai untuk segera dipulihkan.
Namun salah seorang murid berpendapat saat melihat kondisi tubuh Xin Fai. "Menurutku dia tak perlu ke ruang medis lagi, dia sama sekali tak mendapat goresan sedikitpun."
Temannya mengamati tubuh Xin Fai yang masih dalam keadaan prima dan setuju dengan perkataan temannya.
"Hm, benar juga. Saudara muda, apa kau ingin tetap masuk ke ruang medis atau langsung menuju kursi peserta selanjutnya?"
Xin Fai tersenyum sopan. "Ke kursi peserta selanjutnya saja, aku pun tak mengalami luka serius untuk diobati."
"Oh baiklah, terimakasih. Kami akan memberikan laporan, saudara muda silakan menuju ke sana." Pemuda itu menunjuk ke arah kursi peserta yang kini diduduki oleh murid lainnya. Wajah Lan An berubah senang mendengarnya.
Lan An dan Xin Fai menuju tempat yang ditunjukkan sambil berbincang-bincang, saat itu juga di arena pertandingan Ren Yuan sang gadis bangsawan jenius baru saja mengalahkan musuhnya. Dia bertolak pinggang dengan angkuh, meski hanya melihat samar-samar namun Xin Fai bisa memastikan tadi Ren Yuan sekilas menatapnya lalu berpaling muka.
__ADS_1
***