Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 270 - Strategi Perang


__ADS_3

Gelap kembali mengambang bersama awan. Samar-samar terdengar suara derap dari kejauhan mendekati keduanya, Zhu Yue memberhentikan kudanya sesaat menatap mereka berdua yang tampaknya tengah berada dalam masalah.


Tak begitu lama Ren Yuan menjauhi keduanya, pergi tanpa mengatakan apapun lagi sedangkan Xin Fai hanya mengerutkan alisnya, menatap lama dan kemudian menggendikan bahu. Dia saja tidak tahu telah berbuat salah seperti apa hingga gadis itu memarahinya.


Zhu Yue tidak mengetahui apa-apa hanya bisa menebak, dia merasa kedua orang ini sedang membahas sesuatu yang rumit. Seperti pertarungan besar melawan penjahat terkenal mungkin. Selain hal itu dia tidak mengetahui hal rumit lainnya.


"Ketua Xin, aku baru saja menerima surat dari Senior Yong Tao." Dia menyodorkan secarik kertas yang digulung rapat, memberikannya pada Xin Fai. Pemuda itu mengambilnya sembari melihat isi, lantas mengerutkan alisnya dalam kembali menatap Zhu Yue.


"Upacara peresmian Pilar Kekaisaran?"


***


Genderang bertabuh kala Aliansi Pedang Suci memasuki wilayah Kota Renwu, hiasan-hiasan di sepanjang jalan kota mengisi kota tersebut dalam kemeriahannya. Kurang lebih tujuh tahun berlalu ternyata kota tersebut mengalami kemajuan pesat, diakibatkan melemahnya pihak aliran hitam dan kembalinya kekayaan penduduk Kekaisaran, wilayah yang dulunya sempat dikuasai musuh berhasil direbut kembali.


Ini semua berkat pencapaian Aliansi Pedang Suci, dan dengan reputasi itu banyak pasukan pihak aliran putih maupun netral yang melakukan perlawanan sama. Mereka tak lagi takut memerangi musuh walaupun harus bertaruh nyawa.


Anggota Aliansi Pedang Suci yang semula berjumlah 88 orang kini hanya tersisa 65 orang, mereka gugur dalam medan tempur secara hormat dan namanya selalu dikenang oleh masyarakat. Banyak orang ingin bergabung dengan mereka akan tetapi kebijakan yang dibuat pimpinan Aliansi tersebut tidak ingin menerima anggota baru. Karena tidak semua orang memiliki tekad yang sama seperti mereka, bahkan beberapa hanya ingin ikut tenar jika bergabung dalam mereka.


Kuda-kuda memenuhi sepanjang ruas jalan, dibarengi senyuman para penduduk lokal yang antusias menyambut mereka. Kini gerbang Lembah Kabut Putih terlihat di depan sana, Yong Tao, Yang Guifei Xiang Yu, dan beberapa Pilar Kekaisaran lainnya menyambut kedatangan Aliansi Pedang Suci serta utusan dari Gunung Angin Timur.


Gegap gempita membuat mereka tak bisa mendengar apapun secara jelas bahkan hingga memasuki sekte Lembah Kabut Putih, tak berjarak jauh dari gerbang nampak seorang pria dalam balutan jubah emas yang sangat mewah berdiri di sana.


Lan An mengerjapkan matanya saat melihat lelaki itu, dia hafal betul siapa dia


"Itu Kaisar Qin Minjie, kurasa sebentar lagi kau harus berurusan dengannya."


Xin Fai memacu kudanya agak lamban, menoleh ke arah Lan An sambil mengingat-ingat. Qin Minjie tampaknya adalah orang yang serius, berbicara dengannya juga harus dipertimbangkan beberapa kali.

__ADS_1


Rombongan berhenti bergerak saat telah tiba di depan gerbang, Yong Tao tersenyum sembari memberikan hormatnya. Tampaknya senyumannya sangat cerah, cuaca panas membuat deretan giginya makin bersinar lagi itu.


"Kau benar-benar menepati janjimu. Padahal aku sudah berencana mengomeli kuburanmu nanti."


Xin Fai tertawa lucu, tak menyangka lelaki itu masih mengingat leluconnya beberapa tahun lalu. Waktu berjalan sangat cepat, tak terasa kini Yong Tao menjadi lebih tua. Kerut dalam di wajahnya pun terlihat saat dia berbicara.


"Suatu pencapaian yang baik bagi kelompok yang dibuat langsung di bawah pemerintahan kita. Aku merasa sangat bangga, kalian telah mengembalikan kedamaian secara perlahan-lahan, hari ini Kaisar Qin kita akan memberikan imbalan yang sepadan untuk membayar semuanya."


Kali ini Yang Guifei berbicara, dia juga sama halnya seperti Yong Tao. Wajahnya terlihat lega saat melihat pemuda itu kembali, karena hari itu saat Xin Fai dan Aliansi Pedang Suci angkat kaki langsung dari Lembah Kabut Putih dirinyalah yang bertanggungjawab penuh atas kepergian mereka.


Andai terjadi sesuatu di luar kendali dirinya yang akan disalahkan. Wanita itu menggeser tubuhnya saat Qin Minjie berserta pengawal dan pelayannya berjalan, dia menundukkan kepala dengan segala hormat.


Qin Minjie memerhatikannya lamat-lamat, tidak menunjukkan ekspresi suka cita sedikitpun. Hanya datar saja.


"Silakan masuk. Penjamuan makanan sudah disiapkan."


"Bagaimana pendapatmu?" Lan An sedikit berbisik, hampir terdengar tertawa.


"Luar biasa."


"Apanya?"


"Kolotnya, hehehe."


Terdengar dua pemuda itu tertawa diam-diam, hingga Zhu Yue turun dari kudanya juga lalu berdiri di tengah-tengah mereka.


"Apa yang kalian tertawakan?"

__ADS_1


Mereka menjadi kikuk, pura-pura melihat ke arah lain sambil melanjutkan langkah. Di belakang rombongan menyusul mengikuti Kaisar Qin menuju kediamannya yang terletak tak jauh dari Lembah Kabut Putih.


Berjam-jam telah berlalu sejak kedatangan dua pemuda yang kelak akan menduduki kursi sebagai pemegang gelar Pilar Kekaisaran. Suasana riuh rendah mulai menjadi damai seiring bergantinya siang.


Yong Tao mengatakan secara langsung bahwa pengangkatan Pilar Kekaisaran akan dilaksanakan besok, selagi itu mereka diperkenankan beristirahat sejenak melepas penat.


Tidak bisa dibohongi bertahun-tahun berada dalam situasi hidup atau mati membuat beban pikiran dan fisik sangat berat. Xin Fai menyandarkan tubuhnya cukup lama seraya memerhatikan ke tujuh mustika di tangannya hingga terlelap tidur.


Malam harinya suara ketukan pintu terdengar, Yong Tao menunggunya di depan pintu mengatakan sidang rapat akan segara dimulai.


Xin Fai segera mengikuti arahan Yong Tao tanpa banyak berbicara, masih dengan wajah penuh kantuk menuju aula yang sangat luas hingga puluhan pasang mata memerhatikan dari ujung ke ujung


Orang-orang penting dalam Kekaisaran berkumpul di sini, sesuai yang dijanjikan mereka akan membahas perang besar yang akan menjadi penentuanmasa depan Kekaisaran. Wajah-wajah tegang tergambarkan di raut wajah mereka, ini bukan hanya masalah hidup dan mati. Justru jauh lebih berbahaya dari itu, maka saat melihat ekspresi sosok yang akan memimpin perang besar ini biasa saja, salah seorang tetua senior Lembah Kabut Putih angkat bicara.


"Baru kali ini aku melihat seorang yang akan turun ke medan perang menguap-uap seperti tiada beban. Apalagi umurmu masih cukup muda, apa kau meremehkan pertarungan ini?"


Yong Tao berniat menegur Xin Fai, tapi di sisi lain tetua itu tidak seharusnya membesarkan suara hingga didengar seluruh orang di ruangan.


"Aku sudah melalui terlalu banyak pertempuran, rasanya sudah bosan merasa takut akan kekalahan."


"Kau–"


"Sebaiknya kita membahas yang lain, rapat ini dilaksanakan untuk mendiskusikan perang bukan untuk bertengkar yang tidak penting."


Tetua itu memasang sikap jutek, masih tidak terima dengan jawaban tadi lantas membuang mukanya ke arah lain. Xin Fai menggelengkan kepalanya sedikit, semakin tua manusia semakin sensitif juga perasaannya.


Yang Guifei menjelaskan semua strategi perang serta koordinasi tempat yang akan diisi oleh prajurit, beberapa yang memiliki kemampuan terbaik di tempatkan pada sayap depan. Untuk itu dia memanggil seorang pria yang merupakan seorang ahli strategi yang ulung dalam dunia peperangan bernama Wen Xue.

__ADS_1


__ADS_2