Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 98 - Tujuh Kapal Datang


__ADS_3

"Hei tenanglah dulu, jangan mengancamku seperti itu! Kau mau membunuhku? Kalau sekarang aku terbunuh bagaimana aku bisa menepati janjiku?" oceh Xin Fai panik saat melihat lima naga tersebut bersiap-siap menerjangnya, melihat sekilas saja dia sudah tahu kekuatan satu naga ini setara dengan kekuatan Lang.


Bahkan lebih kuat lagi dikarenakan kecepatan mereka jauh lebih mengerikan dari siluman yang berasal dari dunia manusia.


"Hahaha," tawa siluman akhirnya terdengar dan lima naga tersebut bergerak menjauh tak berniat mengusik Xin Fai. "Jadilah kuat secepat mungkin, semua janjimu akan kuingat. Jangan sampai kau mengingkarinya."


"Iya.. iya.. tak kusangka kau sama cerewetnya seperti serigala itu."


"Barusan kau berbicara apa?" Suara mengerikan kembali terdengar. Terdapat nada penuh ancaman ketika siluman tersebut berbicara.


"A-- tidak, maksudku, apa kabar dengan serigalaku di bawah. Dia pasti sedang terluka."


Xin Fai membuang napasnya ketika sang siluman tak lagi mempermasalahkannya.


"Aku akan kembali ke tempatku. Kau bisa pergi dari sini dan menjalani semua tujuan hidupmu, jangan sampai kau mati sebelum menepati janjimu itu."


"Hhh... Kau mengatakan berkali-kali, iya aku janji akan menepatinya." Pundak Xin Fai merosot dengan malas, dia saat ini tak merasakan hawa ancaman lagi dan menganggap Siluman Penguasa Air sebagai temannya. Karena sebelumnya sudah berteman dengan siluman buas seperti Lang, agaknya Xin Fai terbiasa dengan mahkluk-mahkluk buas seperti ini.


Para roh menurunkan Xin Fai ke tempat Li Yong sedangkan sang Siluman Penguasa Air memasuki air dan menyebabkan permukaan air bergelombang hebat. Langit malam tak mencekam lagi seperti sebelumnya, petir berhenti terdengar dan angin topan perlahan menghilang.


Lang tak mengatakan apa-apa, tubuhnya mengalami banyak luka dan memilih memulihkan dirinya dengan beristirahat di dalam tubuh Xin Fai.


"Syukurlah, kita selamat... Kami sangat berterima kasih padamu, Xin Fai." Salah seorang pemuda yang merupakan sosok pendekar menengah berucap, sebelumnya dia sudah mengetahui nama Xin Fai dari Li Yong dan amat berterimakasih karena nyawanya tertolong hari ini.


"Fai'er, sebaiknya kau memberikan penjelasan yang memuaskan untuk menjawab semua pertanyaanku nanti," giliran Shen Xuemei yang masih memandang Xin Fai tak percaya.


Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan tentang kekuatan Xin Fai yang sebenarnya. Rasanya tak berlebihan menyebut Xin Fai sebagai bocah penuh kejutan.


***


Tak berselang lama, tujuh buah kapal yang menampung para pendekar berdatangan. Saat mendengar suara sang Siluman Penguasa Air yang menggema di seluruh penjuru, segera saja walikota Fanlu mengirimkan banyak pasukan.

__ADS_1


Orang-orang yang dikirimkan juga bukan orang sembarangan, mereka berasal dari pendekar menengah hingga pendekar agung. Ketika telah tiba di tengah lautan, yang mereka dapati adalah serpihan kayu kapal berserakan serta beberapa orang yang mengambang di tengah lautan.


Saat hendak menanyakan apa yang terjadi mereka dibuat takjub oleh suatu pemandangan menakjubkan, kurang dari seratus meter di hadapan mereka seekor siluman naga bergerak turun ke bawah lalu menceburkan dirinya mengakibatkan gelombang yang amat besar di lautan.


"Mahkluk apa itu...? Sangat mengerikan."


"Lihat! Kau lihat itu! Ada anak kecil yang melayang di atas sana!"


"Ya Tuhan! Apa aku sedang bermimpi hari ini?"


Banyak kata-kata takjub yang spontan keluar dari mulut mereka, ada yang berdecak tak karuan bahkan sampai mengedip-ngedipkan mata merasa yang terjadi di depan mereka ini adalah bohongan.


Saat kapal tidak terlalu jauh lagi dari mereka akhirnya Li Yong menyadarinya, dia baru saja hendak menanyakan dengan apa mereka akan pergi ke Kota Renwu dan kini tujuh kapal telah berhenti di dekat mereka.


"Hei? Apa kalian baik-baik saja?!" Seorang pria berteriak agar bisa didengar, Li Yong mengangguk pelan.


"Ya!"


Shen Xuemei naik buru-buru, dia sudah amat kedinginan mengapung di dalam air laut sampai beberapa jam.


Saat Xin Fai yang naik, semua mata tertuju padanya seorang. Terjadi keheningan sesaat membuat Xin Fai kaku sekaligus kebingungan. Dia memilih tak memikirkannya lagi, dan segera mengistirahatkan diri dengan bersender di dinding kapal.


Sang pria tua yang membuat masalah dengan siluman naga tadi tak disangka selamat, meski tidak memiliki keahlian pendekar namun nasibnya sungguh beruntung. Xin Fai menggeleng kepala pelan, karena lelaki itulah mereka dalam masalah tadi.


Belum sempat menarik napasnya, Xin Fai sudah diburu oleh ratusan pertanyaan dari orang-orang sekitarnya. Terlebih lagi kini Huang Kun baru saja siuman, pemuda itu terbangun layaknya seekor tikus yang terkena penjerat.


Setelah diceritakan situasinya oleh Xin Fai, Huang Kun berkaca-kaca. "Aku tak menyangka masih bisa hidup setelah ini, ini semua berkat dirimu Fai'er."


Pendekar yang baru saja datang dari kota Fanlu menyimak dengan takjub penuturan Li Yong, Pendeta itu menceritakan semua kejadian yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri tanpa berbohong. Dengan ini, sebentar lagi nama sekte Kuil Teratai akan semakin terpandang di dunia persilatan.


"Melawan Siluman Penguasa Air? Jangan bercanda! Pilar Kekaisaran saja belum tentu sanggup melawannya!"

__ADS_1


Salah seorang pendekar lain menyela, "Jadi menurutmu siapa juga yang tadi melayang di atas langit? Dan juga, jelas-jelas tadi kita semua melihat mahkluk mengerikan itu masuk ke dalam laut."


Perkataan tersebut membuat mereka terdiam, Xin Fai menghela napas pelan tak mau berbicara. Sebenarnya yang melawan Siluman Penguasa Air adalah Kaibo, namun dia tak berniat menceritakannya kepada orang asing seperti pendekar-pendekar ini karena akan mengundang banyak pertanyaan lainnya.


Kaibo sendiri adalah roh, jika menceritakan hal tersebut sudah pasti para pendekar ini tak percaya akan adanya roh di dalam dirinya.


Li Yong meminta pada pengemudi kapal untuk mengantarkan mereka ke Kota Renwu, ketiga muridnya ini akan mengikuti Turnamen Pendekar Muda di pusat Kekaisaran Shang.


Dengan memberikan beberapa keping emas, akhirnya kapal bergerak meninggalkan lautan lepas tersebut. Sedangkan kapal yang lain bergerak berlawanan arah dengan mereka. Kapal-kapal tersebut kembali ke Kota Fanlu untuk memberikan kabar.


"Ah, Fai'er. Rasanya dalam beberapa hari ke depan namamu akan langsung menjadi topik hangat."


"E... Aku? Memangnya aku kenapa?"


"Bertanya lagi! Kau itu memang bodoh, Fai'er!" Huang Kun berapi-api. "Hanya dalam pertarungan saja licikmu itu tiada banding, di biasa begini kebodohanmu itu juga tiada bandingannya!"


"Hahaha, maafkan aku Senior."


Huang Kun memasang wajah asam, dia mengembuskan napas berat. "Kalau begini... Rasanya sulit untuk mengimbangi kekuatanku denganmu. Padahal aku sudah menganggapmu sebagai rivalku."


Pundak Huang Kun ditepuk pelan, terdengar Xin Fai berucap hangat seperti biasanya. "Bukan waktunya putus asa. Tujuan kita menjadi yang kuat dari yang terkuat, dengan itu kau tak perlu mengeluh, Senior. Orang buta sekalipun, jika memiliki tekad kehidupannya akan lebih baik dari orang yang tidak buta."


"Ah, bahasamu sangat berat. Hahaha dasar bocah sok bijak!"


Kepala Xin Fai terkena pukulan tangan Huang Kun.


"Hei, kau memukul kepalaku!"


"Hahaha balas saja kalau kau bisa!"


***

__ADS_1


__ADS_2