Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 57 - Pembunuh Bayaran


__ADS_3

Suasana di ruang makan seperti biasanya, tak ada satu hal mengganjal pun yang dirasakan Xin Fai setelah itu. Banyak hidangan mewah di depannya membuat Xin Fai terlena.


Belum menghabiskan setengah makanannya seorang pengawal datang dan berdiri di depan pintu. Dia berlutut dengan wajah cemas.


"Tuan Lian, ada kabar buruk. Putri Kaili menghilang dari kamarnya dan kami tak menemukannya di manapun."


Semua orang sontak saja terkejut mendengar kabar itu, tak terkecuali Xin Fai. Firasat buruk yang daritadi menghantuinya sekarang benar-benar terjadi. Dia segera bangkit dan menuju ke kamar Lian Kaili setelah diberi tahu letaknya oleh seorang pelayan.


Lian Sheng tak bisa berlari secepat Xin Fai, nafasnya memburu saat tiba di depan kamar Lian Kaili dan tak menemukan apapun selain pintu jendela yang terbuka.


"Cari anakku sampai ketemu!" Lian Sheng memberikan perintah membuat puluhan pengawal bergerak bersamaan. Lian Sheng meremas rambutnya depresi, dia tak bisa kehilangan Lian Kaili untuk yang kedua kalinya.


Sambil menelusuri sekitarnya dan tetap tak menemukan siapapun Lian Sheng mendekati jendela, dia mendapati Xin Fai tengah berlari di atas atap rumah orang dengan kecepatan tinggi.


Di depannya berlari seorang wanita yang sedang menggendong bayinya, pakaian wanita itu menunjukkan bahwa dia adalah seorang pelayan yang bekerja di kediaman Lian Sheng.


Lian Sheng tak menyangka di saat-saat seperti ini dirinya akan kedatangan seorang pembunuh bayaran. Sedangkan mengharap para pengawalnya bisa mendapatkan kembali putrinya merupakan hal yang sulit mengingat kecepatan berlari pembunuh tersebut sangat tinggi. Setidaknya setara dengan pendekar menengah tingkat 3.


Lian Sheng hanya bisa berharap penuh pada Xin Fai, dia berharap Xin Fai bisa menyelamatkan anaknya untuk yang kedua kalinya.


***


Bunyi derap kaki Xin Fai seperti tak terdengar karena Langkah Cahaya yang dipelajarinya membuatnya seperti menyatu dengan udara, dalam waktu singkat jarak antara dia dan sang pembunuh bayaran itu tak sejauh tadi.


Sialnya, Xin Fai sama sekali tak membawa pedang bersamanya. Sedangkan Lang berada di penginapan. Saat ini yang ada di pikirannya hanya menyusul pembunuh bayaran itu.


Dalam waktu lima menit Xin Fai berhasil mendekati lawannya, dia hendak menggapai baju wanita tersebut sampai akhirnya wanita itu meloncat ke bawah dan berlari di antara keramaian.


"Sial!" Umpatnya kesal, padahal hanya hitungan detik lagi Xin Fai bisa menangkap wanita itu.


Xin Fai tak peduli lagi dengan sekitarnya, dia melompati meja makanan yang ada di depannya dengan kecepatan tinggi, sambil berharap menemukan pendekar yang membawa pedang. Sayangnya jalan kota ini hanya dilalui oleh orang-orang biasa dan pendekar sendiri kebanyakan berkumpul di kedai arak saat malam tiba.


Para penduduk Kota Houbi tak bisa mengedipkan mata ketika melihat kecepatan berlari Xin Fai, namun kecepatan berlari Xin Fai sekarang sama sekali tak berarti jika harus berhadapan dengan ribuan tikus di Hutan Terkutuk. Hal itu sendiri mendorong Xin Fai untuk bisa menguasai Langkah Cahaya dengan sempurna.

__ADS_1


Meskipun memiliki kecepatan berlari yang tinggi namun Xin Fai sama sekali tak memiliki senjata. Posisi tak menguntungkan itu membuat Xin Fai harus berpikir keras, karena percuma saja jika dia bisa menangkap wanita itu namun tak bisa mengalahkannya.


Saat jarak mereka dengan keramaian sudah cukup jauh, wanita itu berhenti. Dia menghadap ke belakang dan bertatapan dengan Xin Fai sejenak.


"Rupanya dari tadi aku diikuti oleh seorang bocah? Jangan bercanda denganku!" Wanita itu mengeluarkan pedang dengan tangan kirinya, tangan kanannya menggendong Lian Kaili.


Xin Fai mengumpat keras dalam hati saat tangannya tak memegang satupun senjata, seharusnya dia membawa pedangnya tadi.


Namun karena dia diundang makan malam ke kediaman keluarga besar Lian Sheng rasanya aneh jika Xin Fai membawa pedang apalagi dia hanya seorang anak di bawah umur. Tentu saja Xin Fai tak ingin kesalahpahaman terjadi.


Xin Fai mengambil sebuah tongkat kayu di tanah dan memegangnya dengan berani. Sejurus dia teringat dengan seseorang bernama Lan An, orang yang pernah melatihnya ilmu pedang dengan hanya menggunakan tongkat kayu.


"Apa kau meremehkanku dengan menggunakan tongkat seperti itu?!" Wanita itu berteriak kesal. Xin Fai sendiri masih cukup percaya diri jika hanya mengecoh wanita itu menggunakan tongkat kayu ini.


"Aku tak punya pilihan lain," kata Xin Fai. Seketika hawa pembunuh menyelimuti udara di sekitarnya, hawa begitu kuat itu berasal dari musuhnya. Xin Fai mengeluarkan hawa pembunuh yang sama membuat wanita itu kaget.


"Kau memilikinya juga?! Bagaimana bisa?" Wanita itu tak bisa menutupi kekagetannya.


"Itu tidak penting. Kembalikan putri Kaili padaku sekarang juga."


Wanita itu mengayunkan pedang dengan tempo cepat, sedangkan Xin Fai menyambutnya dengan membulatkan tekadnya seperti yang pernah diajarkan Lan An.


Mata pedang wanita itu sama sekali tak bisa menebas tongkat Xin Fai secara langsung karena Xin Fai menangkis serangannya sedemikan rupa hingga mata pedang tak mengenai tongkat sepenuhnya.


Wanita itu membelalakkan mata tak percaya setelah bertukar serangan dengan Xin Fai. Seandainya Xin Fai menggunakan pedang saat ini dirinya tak yakin lagi bisa menang dengan mudah.


Sambil menelan ludahnya wanita itu berusaha mencari celah, mengingat saat ini pertarungan tak berimbang. Konsentrasinya terpecah karena Lian Kaili terus saja merengek dalam gendongannya.


Di saat bersamaan dia harus melawan Xin Fai dan menjaga bayi itu agar tak jatuh ke tangan musuhnya, serta melindungi Lian Kaili agar tak terkena serangan nyasar.


Sementara itu Xin Fai yang sudah menyadarinya berusaha memanfaatkannya dengan membuat serangan semakin gencar hingga wanita itu terpukul mundur.


Posisi pembunuh bayaran semakin terpojok, dia berniat melarikan diri. Ilmu pedang Xin Fai sangatlah mengejutkan, pergerakannya sangat rapi tanpa terputus-putus layaknya air mengalir. Membuatnya sama sekali tak boleh berkedip jika tak ingin kalah dalam sekejap mata.

__ADS_1


Xin Fai sendiri yang sudah menghadapi banyak musuh lebih menakutkan sebelumnya seperti siluman raja tikus, Manusia Darah Iblis, serta pendekar besar seperti Zhishu Yan tak menganggap wanita ini sebagai ancaman besar. Bahkan menurutnya Lan An lebih kuat daripada wanita ini.


Pembunuh bayaran itu terus berupaya bertahan dengan segenap kemampuannya, dia mengayunkan pedang selincah mungkin namun tak mengenai tubuh Xin Fai yang bergerak sangat liar.


Saat hendak menebas tongkat kayunya lagi Xin Fai dikejutkan oleh serangan mendadak. Musuhnya tiba-tiba menendangnya sekuat tenaga membuat Xin Fai jatuh tertelungkup menghantam tanah.


Wanita itu tersenyum puas. "Rasakan itu."


Saat hendak berbalik badan, Xin Fai mengarahkan tongkat ke kaki wanita itu menggunakan tenaga dalam yang besar. Karena bisa merasakan pergerakan Xin Fai dari belakang wanita itu bisa menghindarinya.


Namun kali ini serangan Xin Fai jauh lebih berbahaya dari sebelumnya. Jika teknik pedang Xin Fai saja sudah membuat wanita itu kewalahan apalagi dengan serangan yang sangat rendah ini.


Xin Fai menyerang bagian perutnya dengan tongkat, beberapa kali wanita itu menjerit saat terkena serangan itu.


Meskipun saat ini keadaannya tak menguntungkan namun pembunuh bayaran sepertinya sama sekali tak menyangka akan bertarung imbang dengan seorang bocah seperti Xin Fai.


Serangan jarak rendah tersebut menimbulkan memar di sekujur tubuhnya, sedangkan serangan wanita itu hanya beberapa kali mengenai Xin Fai namun luka tersebut sama sekali tak berefek padannya.


"Kau-?! Siapa kau sebenarnya!?"


"Apakah itu penting? Kembalikan bayi itu padaku!"


Xin Fai mengeluarkan tenaga dalamnya semakin banyak, dia menunduk dan melakukan serangan rendah seperti tadi. Membuat musuhnya kewalahan, betis wanita itu memerah dan semakin huyung.


Dengan segenap kekuatan wanita itu mengangkat pedangnya dan berhasil menembus pundak Xin Fai.


Xin Fai memegang pundaknya yang mengeluarkan darah segar, namun sama sekali tidak peduli. Dia bahkan melakukan serangan yang lebih gencar.


Merasa tak mungkin lagi untuk menang dari Xin Fai membuat wanita itu hendak mengeluarkan petasan sebagai sinyal untuk mengundang pembunuh bayaran lainnya.


Xin Fai bisa menyadari benda itu akan mendatangkan orang-orang merepotkan lainnya, dia segera mengambil tindakan.


"Pengawal!" teriak Xin Fai membuat musuhnya begitu panik.

__ADS_1


Wanita itu menoleh ke belakangnya, saat merasa dirinya tertipu tongkat kayu sudah bersiap bersarang di mukanya.


BUGHK!


__ADS_2