Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 221 - Kepingan Sesal


__ADS_3

Li Yong membuka matanya panik, padahal sebentar lagi mereka berhasil menyegel pria itu. Jika kali ini gagal terpaksa mereka harus mengulang dari awal lagi.


Hendak menghindar kala Ho Xiuhan berhasil melepas satu rantai di lehernya, Xin Fai tiba-tiba muncul di depan Li Yong.


"Jangan keluar dari formasi, Senior. Biar aku yang tangani ini semua."


Li Yong mengangguk. "Mohon bantuannya."


Xin Fai berlari kencang, seperti bayangan kilat dan menghilang di tengah temaramnya penerangan. Ho Xiuhan tersentak dalam satu detik saat menyadari sebuah aura mengerikan mengincar di belakangnya.


"Sebaiknya kau duduk manis saja, jangan banyak melawan, iblis kecil." Xin Fai mengunci tubuh Ho Xiuhan hingga pria itu tidak bisa bergerak dalam satu waktu, Li Yong tak membuang-buang kesempatan dan langsung saja menggerakkan rantai penyegel yang semula terlepas untuk mengikat pria itu.


Tak lama kemudian Li Yong membuka kelopak matanya saat telah berhasil menyelesaikan formasi penyegelan Iblis. Enam rantai yang mengikat leher Ho Xiuhan mengendur membuatnya jatuh ambruk ke tanah.


Tampak setelahnya aura kegelapan keluar begitu saja dari mulut Ho Xiuhan, dia menengadah memuntahkan energi jahat dalam dirinya, dalam waktu yang bersamaan pula tato kalajengking dalam tubuhnya meluap dan menghilang di antara gelapnya ruangan.


Lantas Li Yong agak terkejut menyadari perkataan Xin Fai terbukti, penyegelan ini benar-benar berhasil. Andai saja para Manusia Darah Iblis di luar sana berniat kembali ke jalan yang benar maka kemampuan sekte Kuil Teratai ini akan sangat berguna bagi mereka.


Xin Fai membaringkan Ho Xiuhan sejenak membiarkan pria itu mengambil napas, selagi itu Li Yong mendekat menepuk pundaknya pelan.


"Jika iblis dalam tubuh pria ini bisa dikeluarkan, berarti iblis dalam tubuhmu–"


"Tidak, Senior Li. Aku tidak berniat mengeluarkannya."


Li Yong menukikan alis penuh pertentangan. "Iblis itu hanya menjadi masalah bagi kita semua!"


Saat mencerna kembali kata-katanya Li Yong terlihat menyesal, dia tahu kata-kata itu agaknya menyinggung Xin Fai namun saat dia menoleh pemuda di hadapannya hanya terlihat biasa saja. "Jika iblis ini dihilangkan mungkin dia akan bangkit lagi di tubuh yang lain. Aku tidak ingin mengeluarkannya, aku akan mengalahkannya."


Sebuah senyuman lagi-lagi terbit di wajah Li Yong, meskipun mengalahkan sosok raja iblis sangat amat sulit namun Xin Fai mengatakannya seperti mengangkat kertas. Li Yong memaklumi itu semua, karena dia juga sudah hafal betul jika anak itu adalah seorang bocah penuh kejutan.


"Uhuk! Uhuk!"

__ADS_1


Tatapan keduanya beralih pada Ho Xiuhan yang telah sadarkan diri, beberapa pendeta segera mendekat untuk memberinya air. Ho Xiuhan lantas meminumnya seperti orang kesetanan.


"Apa ini, tubuhku panas sekali!" gerutu lelaki itu mengibaskan tangannya beberapa kali. Dia menoleh ke samping di mana Li Yong dan Xin Fai tengah menatapnya. "Apa yang terjadi padaku?"


"Panjang ceritanya, yang terpenting sekarang iblis dalam tubuhmu sudah tidak ada."


Ho Xiuhan melebarkan netra matanya tak percaya, dia meraba dadanya dan melihat tidak ada lagi tato kalajengking di sana. Dan juga bisik-bisik misterius yang belakangan menghantui pikirannya sudah menghilang lenyap tak bersisa.


"Kau benar-benar melakukannya... Terimakasih banyak! Aku benar-benar berterimakasih padamu!" Ho Xiuhan menunjukkan sikap hormatnya, dia merunduk beberapa kali dengan amat senang.


"Hahaha harusnya kau berterimakasih pada Senior Li yang paling tampan."


Li Yong tersedak napasnya sendiri, beberapa pendeta di dekatnya tertawa kecil saat Xin Fai mengatakan hal itu tanpa rasa malu. "Aih, Fai'er kau memang tidak pernah berubah."


Ho Xiuhan menunduk pada Li Yong. "Aku berterimakasih pada Senior Li yang paling tampan!"


Lagi-lagi Li Yong terbatuk-batuk mendengar hal itu.


"Hahahaha bukan salahku, dia sendiri yang memanggil Senior seperti itu!"


*


Udara malam dingin seperti biasanya, Xin Fai memilih duduk mengasingkan diri di bawah sebuah pohon tempatnya selalu latihan saat kecil dulu. Meskipun tak bisa melihat jelas namun pemuda itu dapat mengenali suasana nyaman ini, Kuil Teratai tidak banyak berubah pikirnya.


Belakangan juga dirinya jarang sekali memakan belut listrik, Xin Fai mengeluarkan beberapa dan segera menghabiskannya. Dia menarik napas dalam, energi alam terus memasuki tubuhnya sejak tiba di Kuil Teratai ini. Dan tanpa sadar lingkaran tenaga dalamnya terus menerus bertambah bahkan tanpa melakukan apapun.


Dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh sinar bulan sabit, bunga api di dahi Xin Fai menyala terang benderang membuat tubuhnya menghangat. Pemuda itu berdiam diri mencoba memasuki dimensi alam bawah sadar untuk berlatih kekuatan iblis sebelum sebuah suara menghentikan gerak-geriknya.


"Tidak ikut jamuan makan? Kenapa?"


Langsung saja Xin Fai berpaling ke belakang mencoba melihat siapa gerangan yang mengganggunya. Tampak seorang pemuda yang sedikit lebih tua darinya tengah berjalan dengan langkah berat. Mungkin diakibatkan luka tusuk dalam yang menancap di bagian perutnya akibat pertarungan beberapa hari terakhir.

__ADS_1


Pemuda itu duduk setelah bersusah payah berjalan, membiarkan Xin Fai tetap larut dalam kebingungannya.


"Kau melupakan Seniormu ini?" Akhirnya dia mengeluarkan suara setelah agak lama bertatapan namun tak sedikitpun lawan bicaranya menunjukkan tanda-tanda bahwa dia mengenalnya.


"Senior? Senior Huang!"


"Hehehe... Baru ingat kau, aih, harusnya namaku ini kau ingat baik-baik."


"Senior Huang, jangankan namamu, mukamu saja aku tidak ingat."


Huang Kun tertohok mendengarnya dan dia mencoba sadar diri, kata-kata frontal itu membuat kepercayaan dirinya merosot. "Dasar kau ini..."


Keduanya tak berbicara lagi melainkan saling memandang langit yang sangat luas, tatap mata Huang Kun berubah beberapa saat, dia mencoba mengedipkan mata beberapa kali saat merasakan kelopak matanya mulai panas.


"Hari itu aku begitu bodoh, membiarkanmu pergi ke Hutan Kabut dan menghadapi semua itu sendirian. Padahal aku sudah berjanji akan melindungimu."


Xin Fai tidak langsung menjawab karena tak tahu harus membalas dengan kata-kata seperti apa agar bisa menenangkan Huang Kun. Pemuda itu memang terbilang lebih cengeng, suka mengeluh dan banyak omong. Namun tidak ada yang bisa mengalahkan keteguhan hati pemuda itu.


"Tidak ada yang perlu disesali, Senior. Semua orang juga memiliki penyesalan," ucapnya. Sekilas bayangan Tao Wei muncul di ingatannya membuat rasa bersalah datang kembali.


"Lagipula aku masih hidup sampai sekarang, jadi kau tidak perlu khawatir lagi. Dengan kembalinya dari Hutan Kabut kupastikan para penjahat di luar sana akan kapok merasakan kemarahanku!"


"Hahaha ceritamu itu seperti cerita pahlawan kesiangan saja! Jangan katakan setelah ini akan ada nenek-nenek yang jatuh hati padamu!" Huang Kun menimpali dengan riang gembira.


"Ck, masih ingat saja dia lelucon nenek-nenek itu..." Xin Fai menggerutu pelan sekali, dia masih tidak habis pikir. Tapi mau bagaimana lagi, tawa Huang Kun menular seperti penyakit. Malam itu mereka berdua berbagi cerita. Tertawa hingga tidur larut malam.


Huang Kun menggeser tubuhnya agar bisa melihat ke samping, menatapi Xin Fai lamat-lamat. Tidak ada suara, semua sunyi senyap kecuali bunyi angin malam yang tak pernah berhenti menyentuh kulitnya.


"Sepertinya selama ini aku salah, justru kau yang selalu berusaha melindungi orang banyak. Sedangkan aku hanya bisa berlindung di balik gerbang sekte, berharap musuh tidak datang menghancurkan kami..." Suara Huang Kun tertahan. Dia melipat tangan agar bisa menopang kepalanya sebagai bantal. "Sepertinya kau sudah sangat sulit kukejar, Fai'er."


***

__ADS_1


__ADS_2