Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 249 - Pengorbanan Zhu Yue


__ADS_3

"Ketua Xin, ada apa!?" Yang lainnya jelas ikut panik saat melihat raut wajah pemuda itu, sama sekali tidak bisa dikatakan baik.


"Turunkan layar! Kita harus lebih cepat pergi ke sana!"


"Siap, Ketua!" seru yang lainnya segera mematuhi perintah, asap kebakaran dari perumahan mulai menebal di atas udara. Terlihat semakin jelas keadaan kota tersebut kini tak jauh beda dengan Lembah Kabut Putih.


Untuk mempercepat kapal beberapa orang lainnya mendayung, mereka tiba di jembatan dan segera turun menarik pedang. Bersiap bertempur untuk yang ke sekian kalinya. Pimpinan Aliansi Pedang Suci melangkah lebih dulu dari yang lain, memimpin jalan mereka dari depan. Lan An berada di sisinya sambil berjaga-jaga.


Namun cukup lama mengitari seisi kota yang terlihat hanyalah mayat para pendekar aliran hitam yang telah membusuk dihinggapi lalat, Xin Fai berjongkok memastikan keadaan salah satu mayat. Tidak menemukan luka sayatan apapun, tapi darah berceceran di tanah tempatnya tergelatak.


Xin Fai menopang tangannya berpikir-pikir. "Sebenarnya apa yang sudah terjadi? Zhu Yue itu, ke mana dia membawa anggota aliansi?"


"Ketua, jangan-jangan mereka semua sudah mati..." Salah satu anggota mengeluarkan suaranya khawatir.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu," sanggah yang lainnya. Sementara itu Lan An bergiliran mengamati tubuh mayat tersebut. "Dia keracunan. Aku hafal betul racun ini dibuat oleh Klan Ming, salah satu peracik racun yang handal di Kekaisaran kita, kalau dipikir-pikir lagi belakangan mereka juga mulai melakukan pergerakan melawan Manusia Darah Iblis setelah salah satu keluarga mereka dibunuh mereka."


Lan An memberitahu, sekilas angin menerbangkan dedaunan kering di sepanjang jalan kota.


"Jika ini ada kaitannya dengan mereka kemungkinan setengah anggota aliansi masih memiliki harapan untuk selamat."


"Semoga saja seperti itu."


Xin Fai mencari tempat duduk sebentar, dia duduk bersila di tempat yang teduh kemudian memejamkan mata. Lan An bergerak ke arahnya dengan penasaran tapi Xin Fai lebih dulu menahannya dengan isyarat tangan, menyuruh mereka semua diam untuk beberapa lama.


Tidak terdengar suara apapun, mereka kompak menutup mulut menunggu Xin Fai merespon. Mata pemuda itu terbuka pelan, tatap matanya perlahan-lahan mengarah ke arah selatan di mana suara puluhan orang terdengar samar dari kejauhan.


Lan An mengamati arah pandangannya dan bisa melihat sebuah gunung di sana, dia mulai bisa menebak pemikiran Xin Fai. Kemudian pasukan digerakkan mengikuti arah perginya, melewati hutan-hutan lebat dan dalam hingga tiba di kaki gunung menemukan puluhan mayat tergeletak tak bernyawa di sana.

__ADS_1


Mereka berjalan dengan waspada, curiga masih ada musuh yang menguasai tempat ini. Xin Fai dapat mendengar sebuah tali busur kini ditarik kuat, dia menoleh cepat ke arah depan di mana tumpukan tong minyak telah menanti mereka.


"Semuanya! Mundur!" teriaknya keras, pasukan segera berlari menghindari tong-tong minyak itu di waktu yang tepat. Tidak ada yang mengalami luka berat karena telah menyadarinya lebih dulu.


"Ke-Ketua Xin?" Penarik busur itu menjatuhkan senjatanya dari tangan, dia berdiri di antara tebing tinggi bersama dua orang lainnya.


"Tahan serangan! Mereka Aliansi Pedang Suci telah kembali!" Salah seorang berseru lantang, berselang beberapa menit sekitar lima orang datang menyambut mereka. Tangan dipenuhi luka bakar dan sayatan luka, tampak mati-matian bertahan hidup di kota itu.


"Kalian... Apa yang terjadi? Di mana Wakil Zhu?"


"Wakil Zhu, dia..." Pria itu tidak melanjutkan kata-katanya, temannya di samping menyenggol agar dia segera memberitahu.


"Dia sekarang sekarat, sudah beberapa jam yang lalu. Sejak Ketua meninggalkan kota, Manusia Darah Iblis lainnya datang mengepung kami."


"Sial, firasatku benar-benar terjadi." Dia menggerutu kecil, menggaruk-garuk belakang kepalanya tak nyaman.


Aliansi Pedang Suci secara beriringan berjalan menuju gunung yang sekitarnya dikelilingi oleh laut lepas, mereka bergerak ke belakang gunung tersebut menuju tempat yang sangat sulit dijangkau hingga menemukan sebuah celah seukuran tubuh orang dewasa.


"Lewat sini, Ketua." Satu per satu pendekar masuk melewati celah tersebut dan dapat menemukan penduduk lokal dievakuasi di dalam goa berukuran besar itu, terlihat beberapa anggota aliansi yang mengalami luka sebelumnya. Entah jumlah mereka masih sama atau tidak Xin Fai tidak bisa memastikan.


Pemuda itu mendekati tubuh Zhu Yue yang kini tengah dirawat oleh wanita berumur 50-an, luka bakar wajahnya terlihat jelas serta matanya robek dalam terkena sayatan pisau tajam.


"Seharusnya aku tidak meninggalkan kalian semua di sini..." gumamnya pelan, tapi seandainya dia membawa sepenuhnya anggota aliansi bisa dipastikan tidak ada satupun penduduk kota tersisa dan kota ini akan menjadi wilayah kekuasaan musuh berikutnya. Xin Fai menggeleng lemah, berharap Zhu Yue masih bisa bertahan hidup lebih lama lagi.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi selama aku pergi?" tanyanya.


Salah satu anggota menjawab, dia mulai bercerita panjang. "Waktu itu aku berada di rumah kediaman merawat anggota yang terluka, tidak tahu saja tiba-tiba musuh datang mengepung. Ho Xiuhan langsung memberitahu kami untuk segera meninggalkan kediaman dan benar saja rumah itu dibakar habis oleh mereka."

__ADS_1


"Bagaimana dengan Zhu Yue?"


"Dia bersama penduduk desa menebang pohon untuk membangun benteng, saat penyerangan tidak ada yang melakukan perlawanan sesuai arahan Wakil Zhu, Ketua. Jadi kami hanya bisa melarikan diri ke sini bersama penduduk yang tersisa... Tapi..."


"Tapi kenapa?"


"Tapi musuh mengikuti kami dari belakang, membuat tempat evakuasi terlacak oleh mereka. Wakil Zhu bersikeras kembali ke kota sendirian, tidak ada yang bisa menghentikannya. Sedangkan kami berusaha mempertahankan tempat ini untuk melindungi penduduk di dalam. Tahu-tahu saja setelah itu Zhu Yue kembali membawa tong minyak menggunakan gerobak, katanya sebagai pertahanan kami semua. Dan kondisinya seperti yang Ketua lihat sekarang."


Xin Fai tersenyum sedih, tidak menyangka Zhu Yue akan melakukan sejauh itu demi menyelamatkan nyawa semua orang. Dia menjadi sedikit kagum, memiliki partner seperti Zhu Yue adalah sebuah keberuntungan. Dia memang bisa diandalkan di saat-saat sulit seperti ini.


"Sisanya serahkan pada kami." Hanya itu yang terdengar dari mulutnya, Xin Fai membantu menyembuhkan tubuh Zhu Yue dengan tenaga dalamnya. Memang butuh waktu cukup lama tapi perlahan-lahan tubuh pria itu membaik, deru napasnya lebih teratur dari sebelumnya.


Selagi itu anggota Aliansi Pedang Suci yang membawa obat dan sumber daya dari Lembah Kabut Putih menyerahkannya pada yang terluka. Mereka saling bahu membahu, beberapa lainnya pergi berburu dan beberapa sisanya mencari kayu bakar.


Malam tiba, Lan An mendekatkan diri pada api unggun dan duduk bersebelahan dengan Xin Fai.


"Anggota aliansimu sangat kompak, aku sampai tidak bisa berkata-kata melihat mereka semua."


"Ya, begitulah. Aku rasa keputusan hari itu memang sudah benar."


"Kau sedang membicarakan tentang apa?"


"Tidak, lupakan saja. Malam ini kita tidur di sini menunggu pagi besok, kurasa kita harus segera bergerak dari sini secepat mungkin untuk mencapai tujuan utama kita."


"Baik, baik, Ketua Xin." Lan An tertawa kecil setelah mengatakan itu. Tenda-tenda kecil didirikan di seberang dinding batu dan dia memasuki salah satunya untuk beristirahat.


Sedangkan Xin Fai pergi ke luar mencari angin segar sekaligus berjaga-jaga akan kedatangan musuh.

__ADS_1


__ADS_2