
Rubah Petir terdiam beribu bahasa. Pantas saja belakangan ini pergerakan manusia di Lembah Kabut Putih menjadi semakin banyak, ternyata perang besar akan segera dimulai.
"Baiklah, aku pun tidak memaksa kau harus melakukannya..."
"Aku akan tetap menepati janjiku."
Rubah Petir membuat sebuah lingkaran dengan tujuh mustika berada di atasnya, setelahnya dia mengeluarkan mayat Lang yang masih tetap utuh seperti terakhir kali Xin Fai melihatnya. Tatapan pemuda itu berubah, terlihat sedikit merindukan Serigala cerewet itu.
"Setelah ini pasti hidupku tidak akan pernah tenang..." Xin Fai bergumam kecil sedikit tertawa dalam ucapannya.
Ren Yuan masih kebingungan dengan apa yang terjadi tapi dia memilih diam lebih dahulu takut Rubah Petir terganggu mengingat siluman itu tidak terlalu menyukai orang asing sepertinya.
***
Membutuhkan waktu agak lama sampai ketujuh mustika itu mengeluarkan seluruh kekuatannya, serentak cahaya yang beragam mengisi seisi ruang goa. Berasal dari warna seluruh mustika yang menjadi perwakilan musim. Keindahan tercipta dalam beberapa menit membuat Ren Yuan terpana.
Di sisi lain Xin Fai masih memfokuskan tatapannya ke arah Lang, binatang itu tak kunjung bangun bahkan setelah sinar cahaya lenyap.
Dua menit tidak sabar menunggu akhirnya Xin Fai berbicara dengan nada cemas. "apa mustikanya tidak bekerja? Kenapa dia masih belum bangun?"
"Aku tidak tahu, semuanya sudah kulakukan sebagaimana mestinya. Jika dia belum bangun sampai besok bisa dipastikan cara ini gagal."
Xin Fai merapatkan giginya, sangat geram akan keadaannya. Bertahun-tahun sudah dia berusaha keras mengumpulkan tujuh mustika legendaris ini bahkan sampai harus mempertaruhkan nyawanya. Andai benar hal ini tidak bekerja Xin Fai tidak tahu harus berbuat apalagi.
Ren Yuan duduk di sampingnya, memerhatikan raut cemas pemuda itu dalam diam. "Apa dia sangat berarti buatmu?" tanya gadis itu.
"Ya begitulah, walaupun menyebalkan dia selalu membantuku. " Xin Fai mulai ragu, apa karena telah bertahun-tahun lamanya mati jiwa Lang mungkin sudah menghilang. Membangkitkannya dengan mustika ini bisa saja tidak berhasil.
Kemungkinan buruk terus berkelebatan di kepalanya hingga Xin Fai tiba pada satu kesimpulan setelah menunggu dua jam lamanya. Lang mungkin telah lebih dulu tenang di alam lain. Menghidupkannya lagu hanya akan membuatnya tidak tenang.
__ADS_1
"Kalau dia benar-benar ingin bersamamu lagi aku yakin serigala itu akan kembali, kau pemiliknya, saat pemilik memerintahkan sesuatu dia akan menurutinya." Ren Yuan mencoba menghiburnya. Xin Fai tertawa kecil, melihat ke arah Lang dengan sedih
"Hei Lang cerewet, aku memerintahkanmu untuk bangun. Jangan tidur terus." Pemuda itu tertawa bercampur sedih, mengingat Lang dulu memang suka sekali tidur sambil menggulung ekornya.
"Namanya Lang, ya? Lang... Tuanmu memanggil, dia akan marah kalau kau tidak menurut." Ren Yuan ikut menambahkan. Sesaat hening mengisi suasana. Hingga membuat Xin Fai lelah sendiri akan harapannya. Dia sadar tidak semua impiannya akan terwujud.
Ren Yuan mendekati mayat Lang yang masih tergeletak kaku. Xin Fai membuang pandangannya ke luar goa menatapi Rubah Petir yang sibuk mengusir siluman lain yang mengganggu kawasannya. Sejenak terdengar suara berisik di sekitar Ren Yuan tapi Xin Fai tidak mempedulikannya. Dia yakin gadis itu pasti sedang membuat masalah lain.
"Xin Fai! Lihat ke sini!"
"Kenapa? Kakimu tersangkut? Atau sedang disengat belut listrik?" jawabnya tak minat.
"Lang bangun!"
Secepat mungkin dia melirik ke belakang demi memastikan, dapat dilihatnya mata Lang berkedip kecil. Sinar matanya masih seperti dulu, emas keperakannya tak pernah menghilang meski telah lewat bertahun-tahun.
"Lang!"
Lang berusaha berdiri namun kakinya terasa sakit sekali seperti yang dia rasakan sebelum memasuki Hutan Kabut dulu.
"Apa yang terjadi? Kau... Siapa?"
Senyum Xin Fai memudar seketika itu pula, mulai tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya. "Kau melupakanku?"
Mata Lang melihat lebih jelas lagi, dia memerhatikan dengan lebih cermat dan sampai pada satu kesimpulan bahwa di depannya adalah Xin Fai. Satu hal yang dibingungkannya adalah mengapa anak kecil itu memiliki tubuh orang dewasa?
"Jangan katakan..." Lang mulai bisa menebak, setidaknya dia teringat akan sebuah mustika yang didapatnya dari ibu Lan An.
"Sudah bertahun-tahun sejak hari itu," ucapnya perlahan.
__ADS_1
"Kau menggunakan Mustika 7 Musim untukku?! Sial, di mana kau letakkan otakmu itu?" Lang asal menyerobot tentunya dengan wajah kesal khasnya. "Ketujuh mustika itu sangat legendaris bahkan mustahil untuk menyatukan semuanya! Kau menggunakan benda pusaka itu hanya demi membangkitkan seekor serigala?" omel Lang panjang lebar. Untungnya Xin Fai sudah mempersiapkan diri untuk mendapatkan omelan seperti ini.
"Lebih baik digunakan untuk membangkitkanmu daripada berakhir dengan kebangkitan Ratu Iblis."
"Ratu Iblis?" Lang agak kaget mendengarnya, meminta penjelasan lebih jauh lagi.
"Ceritanya panjang, akan kuceritakan saat perjalanan nanti." Pemuda itu mengumbar senyum, membuat pipi gadis di sampingnya bersemu merah. Andai senyum itu ditujukan untuk dirinya Ren Yuan tidak yakin jantungnya baik-baik saja.
Mau tak mau Lang segera mengubah wujudnya dan memasuki tubuh pemilik, Rubah Petir yang sedari tadi memerhatikan dari jauh akhirnya mendekati mereka berdua. "Setelah ini apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku akan menemui Siluman Penguasa Air, mungkin dia bisa membantu untuk hal ini."
"Menggunakan kekuatan siluman sepertinya sangat berbahaya, andai lepas kendali manusia sendiri yang akan menerima akibatnya." Rubah Petir memberikan nasehat, sekedar berjaga-jaga agar Xin Fai tidak melakukan kesalahan yang akan berakibat fatal.
"Aku berjanji tidak akan membiarkannya lepas kendali, Rubah Petir, terimakasih sudah pernah menerimaku di sini. Aku akan selalu mengingatnya."
Rubah Petir menjadi sedikit sedih saat mendengarnya, dia hendak mengatakan sesuatu yang ingin di sampaikannya sejak dulu.
"Kalau kau senggang, tinggallah di sini seperti dulu. Aku akan sangat menerima kehadiranmu."
Pemuda itu mengangguk pelan sembari menyengir kecil, di sisi lain dirinya takjub saat melihat penampakan Rubah Petir secara langsung. Bulunya perak sangat indah, persis seperti bola bulu. Hanya saja sikapnya yang agak temperamental itu membuat Xin Fai takut menyinggungnya.
Ren Yuan bersikap hormat pada Rubah Petir, membuat siluman itu tidak terlalu mengintimidasinya seperti awal.
Mungkin karena terlalu banyaknya manusia yang datang ke hutan ini hanya demi mendapatkan kekuatan membuat Rubah Petir tidak terlalu menyukai manusia. Dia hanya bersikap baik jika orang bersikap baik pula.
Ren Yuan tersenyum kecil saat Rubah Petir turut mengantarkan keduanya di mulut goa, dia merasa wajah rubah itu sangat menggemaskan. Tapi tidak berani menyentuhnya takut rubah itu mengamuk, lagipula jika dipikir-pikir lagi pemikiran rubah itu sama seperti kakek-kakek berusia satu abad.
"Paman Rubah, kami pergi. Jaga tempat ini baik-baik, ya." Xin Fai mengucapkan salam perpisahan sebelum membalikkan tubuhnya. Berjalan jauh meninggalkan Rubah Petir seperti dulu.
__ADS_1
"Rupanya kau tumbuh semakin dewasa..." Hanya itu yang keluar dari mulut Rubah Petir saat Xin Fai dan Ren Yuan menghilang di balik rimbunnya pepohonan.
***