
Kedamaian usai perang besar menjadi titik awal baru di Kekaisaran Shang, selama bertahun-tahun terjebak dalam kekejaman Manusia Darah Iblis kini kelompok aliran hitam nomor satu itu hanya tinggal nama dan diabadikan dalam sejarah.
Cabang Manusia Darah Iblis juga sebenarnya masih tertanam di Kekaisaran lain dan segera dimusnahkan dikarenakan kelompok itu sudah sangat melemah, tidak ada apapun lagi yang bisa dipertahankan.
Nama Pendekar Pedang Iblis telah melegenda hingga ke Kekaisaran lain, banyak orang ingin mengetahui siapa pemuda yang baru berumur 25 tahun itu dan ingin melihat sehebat apa dirinya hingga bisa mengalahkan Ratu Iblis.
Ditambah lagi, berita baru tersebar bahwa Xin Fai kembali bertarung dengan Naga Es setelah berperang dengan Manusia Darah Iblis.
Sedangkan pendekar aliran hitam sendiri berada dalam situasi yang buruk, mereka menjadi buronan selama hampir sepekan. Mereka mengendap-endap seperti tikus, sama halnya seperti yang pembunuh bayaran lakukan.
Hingga pembunuhan yang biasanya terjadi setiap waktu berkurang hari demi hari. Meski masih ada beberapa musuh berkeliaran namun mereka tak begitu berbahaya.
Yong Tao baru saja mendengar berita bahwa bangkai Naga Es terlihat di Kutub Utara sana. Berita itu baru terdengar olehnya setelah satu minggu sejak kejadian tersebut, dia curiga memang pelakunya adalah Xin Fai. Siapa lagi kalau bukan dia.
"Aku tidak pernah melihat orang senekat dia... Benar-benar, anak itu..." Yong Tao memasang wajah cemas. Memikirkan bagaimana nasib Xin Fai di negeri dingin sana.
"Kau sudah menganggapnya seperti anakmu sendiri," ucap Ren Ning sembari menenggak minumannya. Dia dan sang istri duduk di dalam ruangan yang sama dengan Yong Tao. Kebetulan siang ini keluarga bangsawan Ren mendatangi kediaman untuk sekedar bertamu.
"Ya... Tidak bisa dikatakan begitu juga, aku mengkhawatirkan Xin Xia juga. Anak itu menghilang bersama kakaknya, aku khawatir dia ikut bersama Xin Fai."
"Anakku juga tidak kembali sejak perang besar itu.." Ren Ning berucap sedih, tapi di sisi lain dia tahu pasti anaknya itu memiliki kesibukan lain. Dirinya tidak ingin menganggu Ren Yuan putri kesayangannya.
"Ren Yuan? Maksudmu, anak gadismu? Dia tidak kembali juga-?" Yong Tao sedikit terkejut mendengarnya, entah bagaimana dia tidak mengetahui soal ini.
"Mungkin yang mengantarkan Xin Xia adalah Ren Yuan, aku sedikit tahu bagaimana sikap Xin Fai. Dia pasti tidak ingin menjerumuskan orang lain dalam permasalahannya. Menantuku itu, harusnya kau lebih paham dengan karakternya seperti apa." Ren Ning tersenyum menatap istrinya, terlihat wanita itu terkekeh kecil saat melihat Yong Tao kaget sekaligus bingung.
"Sejak kapan anak itu menjalin kedekatan dengan Ren Yuan? Dia... Dia tidak pernah mengatakannya padaku!"
"Kau merasa gagal menjadi Ayahnya?"
"Bukan begitu!" Yong Tao tak bisa mengelak lagi, dia menganggap Xin Fai memang seperti anaknya sendiri dan merasa tak percaya pemuda itu merahasiakan kedekatannya dengan Ren Yuan.
"Sebenarnya aku khawatir akan satu hal.." ucap Ren Ning sedikit sedih.
"Tentang?"
Pria itu menarik napas sangat dalam, menghembuskannya pelan-pelan. Mengingat anak gadisnya itu pasti berada dalam situasi sulit, di tempat antah berantah, meskipun dia percaya Xin Fai dapat menjaganya tapi dia tidak percaya pemuda itu mengerti bagaimana perasaan Ren Yuan.
"Aku takut anakku patah hati karenanya, Xin Fai itu, dia sepertinya tidak mencintai anakku."
Suasana muram tergambarkan di wajah Ren Ning, melihat anaknya tak bahagia rasanya dia sulit untuk bernapas. Ren Yuan adalah anaknya satu-satunya, semua dia lakukan agar anak gadisnya itu bahagia kelak.
Sebenarnya Ren Ning bisa menyiapkan calon suami yang tampan, kaya, gagah, apapun itu jika Ren Yuan menginginkannya. Menjadi bagian keluarga Ren adalah sebuah kehormatan besar, banyak orang berlomba-lomba memenangkan hati Ren Yuan akan tetapi gadis itu jatuh cinta pada Xin Fai.
Ren Ning tak mengerti lagi, orang yang dicintai anak gadisnya itu terlalu jauh dari genggamannya. Dari keberhasilan perang besar yang dipimpinnya, pertarungan hebat lainnya dan membuat nama Pedang Iblis menjadi perbincangan heboh masyarakat.
Dia telah menduduki kursi pertama sebagai orang terkuat di dunia persilatan. Tidak ada yang bisa mengimbanginya. Apalagi di umurnya yang masih terbilang muda sudah banyak sepak terjangnya yang membuat orang-orang akan tercengang begitu mendengarnya. Ren Ning merasa tak bisa berbuat apa-apa jika Xin Fai menolak anak gadisnya itu.
"Justru karena aku lebih dulu memahaminya, aku tahu, Xin Fai hanya belum menyadari perasaannya saja."
Ren Ning berubah lebih semangat dari sebelumnya, dia tersenyum bahagia. Terlihat berbunga-bunga. Sama halnya seperti istrinya saat ini. "Benarkah? Apa menurutmu begitu?" Istrinya bertanya, nada suaranya sangat merdu terdengar.
__ADS_1
"Tidak percaya? Saat dia dan Ren Yuan kembali nanti, kita harus merayakan sebuah pernikahan yang besar."
Ide gila ini membuat Ren Ning tak percaya lagi, lebar senyumnya semakin terlihat sewaktu-waktu. Pria itupun merasa Yong Tao tidak mungkin hanya membual.
"Tapi atas dasar apa?"
"Ah, dia pergi tanpa seizinku, dia harus menerima permintaanku ini. Lagipula satu minggu menghilang bersama anak gadismu terdengar tidak wajar, kan? Anggap saja dia berbuat sesuatu dan harus segera dinikahkan!"
"Yong Tao, kau memang sahabatku!"
Keduanya berpelukan bahagia sekaligus haru. Benar-benar tak tergambarkan oleh kata-kata.
**
Sebuah dunia indah terpampang di depan mata, air terjun berwarna hijau bening mengalir pelan menimbulkan bunyi gemericik layaknya alunan suara. Terdengar menenangkan didengar. Ditambah lagi dengan suara para burung imigran di langit sore, saat ini Naga Air sibuk bermain dengan Lang di atas air danau. Tampaknya dua siluman itu mulai akrab.
Di dalam sebuah rumah seorang pemuda tertidur pulas, tak sadarkan diri semenjak seminggu yang lalu. Suara berisik dari Lang dan Shui membuatnya sedikit terganggu, matanya mulai bergerak-gerak. Dia terbangun dan menyadari tubuhnya diperban.
Xin Fai berusaha mengingat kembali apa yang terjadi dan teringat sebelumnya dia bertarung dengan Naga Es, memang luka yang dia dapatkan cukup fatal sebelum memasuki dunia alam bawah sadar. Dia membuang pandangan ke luar jendela, melihat sebuah dunia yang amat berbeda. Dunia yang diciptakan Naga Air sangat damai, dia menjadi sedikit senang melihatnya.
Tatapan pemuda itu teralihkan pada Pedang yang berbentuk sangat unik, perpaduan emas merah dengan aura begitu kuat. Sebuah senjata tak terkalahkan yang mampu memotong tubuh Siluman Penguasa Bumi terkuat, Xin Fai mengambil pedang tersebut untuk melihat-lihat sebentar.
Ketika itu Ren Yuan masuk dengan mangkok bubur, dia terlihat senyum saat melihat Xin Fai telah sadar.
"Kau sudah bangun. Makanlah dulu, berhari-hari perutmu kosong tidak terisi."
"Berhari-hari? Berapa hari aku pingsan?"
Xin Fai tercengang, segera bangkit dari tempatnya duduk. Dia terlihat terburu-buru ketika mengingat sesuatu.
Ren Yuan menahannya sebentar. "Ada apa? Kenapa terlalu terburu-buru seperti itu?"
"Aku belum memberikan permata kehidupan kepada Rubah Petir," jawabnya. Ren Yuan menggeleng. "Kalau kau mencemaskan soal itu, Naga Air sudah mengantarkannya padanya. Sekarang kau istirahatlah, aku akan membantu membersihkan lukamu nanti."
Xin Fai terdiam agak lama, lantas duduk di tempat semula dan melihat Ren Yuan. Dia memalingkan muka saat Ren Yuan menyadarinya.
"Kenapa kau membantuku?"
"Ya?" Ren Yuan menjadi bingung dengan pertanyaan itu.
"Kenapa kau membantuku?" ulang pemuda itu lagi, tak mau berpikir untuk menata ulang kata-katanya agar Ren Yuan mengerti. Dia tidak tahu mengapa, jika bersama Ren Yuan pikirannya bisa kacau jika dihadapkan situasi canggung.
Ren Yuan terlihat salah tingkah, dia menutup matanya melihat ke bawah. Xin Fai sedikit kagum pada gadis cantik itu, dia bersifat keras dan pemberani. Nekat menembus dinginnya salju es demi mengantarkan Xin Xia padanya, dia sangat berbeda dari gadis kebanyakan.
"Aku men–"
"Ya?"
"Lain kali kita bahas! Buburnya jangan lupa makan, ya!"
Blamm
__ADS_1
Pintu kamar ditutup kencang, Ren Yuan melarikan diri begitu saja meninggalkan banyak pertanyaan di kepala Xin Fai. Pemuda itu mencoba menebak-nebak kata yang mungkin ingin dikatakan gadis itu.
"Aku men...?" gumamnya. "Menebak? Menampar? Menyukai?"
Di kata terakhir Xin Fai sedikit terdiam, tertawa sedikit setelahnya. Berpikir seandainya tebakannya benar dan mereka akan segera menikah membuatnya sedikit tersipu. Menurutnya itu hanya sepintas terpikirkan olehnya, tanpa dia ketahui sebuah pernikahan besar tengah dipersiapkan untuknya dan Ren Yuan.
Xin Fai keluar dari rumah menemukan Lang dan Shui sedang berada di atas danau, keduanya terlihat sibuk sendiri. Sementara dirinya duduk di bawah pohon yang teduh, melihat di kejauhan hingga Lang tersadar akan kehadirannya.
Serigala itu mendekat, duduk di sampingnya dan tidur menggulung. Membuat Naga Air kecewa temannya bermain malah sibuk bermalas-malasan di samping majikannya.
"Kukira kau akan tertidur satu bulan tadi," ucap Lang seperti biasa. Dia memejamkan matanya.
"Rencana begitu, malas juga harus meladeni omonganmu setiap hari." Pemuda itu sedikit mengecilkan suaranya. Membuat Lang tidak begitu jelas mendengar apa yang dia katakan.
"Kau berbicara apa?"
"Tidak ada..." Dia melihat Shui di kejauhan yang tampaknya ingin bergabung dengan mereka.
"Senang melihatmu bisa memenangkan pertarungan itu."
"Ya begitulah."
"Jadi apa kau akan tetap tinggal di sini? Bersama Ren Yuan dan Xin Xia?"
"Tidak, sepertinya. Kami akan tinggal tiga hari lagi di sini, setelah itu aku akan kembali."
Naga Air terlihat sedih, namun tak begitu lama kemudian terdengar suara Xin Xia di kejauhan. Dia baru saja memetik buah dari hutan.
"Kakak!" Teriaknya kencang, melambai-lambaikan tangannya.
Melihat Xin Xia telah tumbuh layaknya gadis pada umumnya membuat hatinya ikut senang, Xin Xia terlihat ceria. Dia sangat bahagia bermain-main di dunia buatan Naga Air ini. Tidak ada keributan, musuh dan kekacauan. Terasa damai dan menenangkan.
Xin Xia duduk di dekatnya. Memberikan bunga yang dipetiknya dari hutan. "Untukmu."
Dia menerimanya, terdengar Xin Xia bertanya. "Apa setelah ini kau akan menikahi Kakak Ren?"
Xin Fai terbatuk-batuk, "kenapa kau menanyakan itu?"
"Kakak Ren sangat baik dan cantik, dia juga bisa melakukan memasak. Kakak sendiri kenapa terkejut begitu? Apa karena..." Xin Xia menutup mulutnya, lalu berlari ke arah rumah berniat mengatakan sesuatu pada Ren Yuan.
"Xia'er! Jangan-!" Dia melihat pelan-pelan ke arah Naga Air dan Lang.
"Kalau kau benar-benar menikah dengannya jangan lupa mengundang kami." Naga Air berucap dengan wajah tak bersalah.
"Terserah." Pemuda itu pasrah, dia membaringkan tubuhnya di atas rumput memandang langit berwarna jingga di atas langit. Hembusan angin lembut membuatnya merasa mengantuk, saat dipikir-pikir lagi semua tugas dan janjinya telah terpenuhi. Bahunya terasa ringan, tidak seperti sebelumnya.
"Aku tidak pernah merasa setenang ini."
\[ㄒ卂爪卂ㄒ\]
***
__ADS_1