Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
AGIL VS TREVOR


__ADS_3

Saat pertarungan antara Teo dan Mael berlangsung, Trevor, Dewa Petir, menyaksikan dengan penuh minat. Senyumannya yang tajam mengisyaratkan kengerian yang tak terduga.


"Hahahaha... sungguh menarik kedua anak ini," kata Trevor dengan tawa yang terdengar seperti gemuruh petir.


Trevor turun dengan cepat dari tempatnya di atas arena, menarik perhatian semua orang yang hadir. Ayah Teo merasakan sebuah kehadiran yang tidak menyenangkan saat melihat Dewa Trevor.


Tak membuang waktu, Agil, dengan kecepatan kilat, meluncur ke arah Dewa Trevor. Dengan penuh keberanian, ia menendang dengan segenap tenaganya tepat mengarah ke wajah Dewa Trevor. Serangan itu begitu tiba-tiba sehingga Dewa Trevor tidak sempat mengantisipasinya, dan akhirnya terlempar hingga membentur pembatas arena.


Blommmm...


Dewa Trevor bangkit dari jatuhnya dengan wajah yang terluka, dan pandangan penuh kemarahan. Ada goresan di wajahnya yang mengeluarkan sedikit darah. Gemuruh penonton bukan lagi mengarah pada pertarungan kecil itu, tapi pada Dewa Trevor. Termasuk Raja dan semua jajarannya.


Raja begitu terkejut, sosok yang ia kenal muncul entah dari mana.


"Kau... tidak buruk juga, manusia," ucap Trevor dengan suara yang dipenuhi amarah.


Trevor yang merupakan dewa memiliki kekuatan yang jauh melebihi manusia biasa, tetapi Agil telah berhasil melancarkan serangan kejutan yang memberikan dampak pada dewa tersebut.


Agil, yang biasanya ramah dan selalu tersenyum, menunjukkan ekspresi yang sangat serius hari ini. Namun, Teo dan Mael tidak menyadari keributan yang terjadi di dekat mereka. Keduanya terlalu fokus pada pertarungan mereka, dengan konsentrasi yang tinggi melebihi anak-anak seumur mereka.


"Sekarang aku tidak tertarik pada mereka berdua, mari kita pindah ke tempat yang lebih menyenangkan," kata Trevor mendekati Agil sangat cepat dan mencengkeram wajahnya.


Tanpa disadari Agil, Trevor menyeretnya ke tempat yang sangat luas dan dengan kasar membantingnya ke tanah. Tanah berguncang hebat akibat benturan yang keras, menciptakan awan debu yang menyelubungi Agil.


Agil, terbaring lemah di tanah, merasakan rasa sakit yang tak tertahankan, sekujur tubuhnya terasa tercabik-cabik.


Agil mendapat kembali kesadarannya, lantas bingung dengan situasi tempatnya berada, mengumpulkan kekuatannya dan fokus pada pertarungan yang sedang terjadi. Dia melihat pukulan yang mengarah ke arahnya dan dengan cepat menghindarinya, menghindari pukulan mematikan dari Dewa Trevor.


"Sangat mengesankan, manusia ini," batin Trevor dengan sedikit kekaguman.


Agil menatap Trevor dengan tatapan tajam, penuh dengan keberanian yang tak tergoyahkan. "Aku tidak tahu apa motifmu, tetapi jika kau menyentuh anakku, aku tidak akan menganggapmu sebagai dewa pelindung negeri ini," ucap Agil dengan suara yang tegas, menunjukkan tekadnya yang kuat dalam melindungi Teo.


Dewa Trevor, yang telah lama tidak terlibat dalam pertarungan, merasa gairah pertarungan yang membara. Ia bermaksud sedikit memberi kelonggaran pada Agil. Dalam sekejap, dia melepaskan serangkaian senjata, termasuk sepuluh senjata dewa, yang berhamburan di sekitar mereka. Ibarat tetesan hujan, senjata-senjata itu muncul begitu saja dari langit.

__ADS_1


"Pilihlah senjata yang kau sukai, manusia!" goda Trevor dengan senyum licik di wajahnya.


Agil mengamati senjata-senjata yang tersebar di sekitarnya. Dia merasakan getaran kuat dari senjata dewa yang mengisyaratkan kekuatan yang luar biasa.


Melihat banyaknya senjata, Agil memilih pedang dengan bilah berwarna merah. Senjata yang dipilih agil adalah senjata iblis, dan tidak pernah digunakan sejak perang antara dewa antara iblis. Insting Agil tidak pernah salah dalam memilih senjata terbaik untuk dirinya.


"Pilihan yang bagus, itu adalah salah satu senjata dewa kesukaanku. Jika senjata itu memilihmu, maka kau bisa memaksimalkan kekuatannya." Ujar Dewa Trevor dengan senyum mencurigakan.


Saat semua senjata yang tidak dipilih Agil menghilang, Dewa Trevor mengambil busur naga berwarna biru.


"Dengan senjata ini, aku harap bisa melindungi anakku dan menghentikan segala rencananya," batin Agil dengan tekad yang kuat.


Dewa Trevor tersenyum senang, menikmati semangat pertarungan yang ada di mata Agil. Kedua pihak siap untuk memulai pertempuran yang akan menentukan nasib Teo dan Mael.


Mula-mula Dewa Trevor menarik busur dan menembakkannya ke udara. Terciptalah ribuan anak panah dipenuhi energi dahsyat.


Agil dan Dewa Trevor terlibat dalam pertarungan yang epik. Pepohonan rindang dan angin yang berembus menambah dramatisasi pertarungan mereka.


Agil mengayunkan pedang iblisnya dengan kecepatan yang memukau, menangkis ribuan anak panah yang dilapisi petir dari Dewa Trevor. Setiap serangan anak panah yang menghujani Agil berhasil dia tangkis dengan presisi yang luar biasa. Percikan cahaya petir dan dentuman angin terjadi saat senjata-senjata itu saling bertemu.


Agil tidak hanya bertahan melawan serangan Dewa Trevor, tetapi dia juga mengarahkan beberapa anak panah Dewa Trevor kembali ke arahnya. Dengan keahlian dan kekuatan yang dia miliki, Agil mengirim balik serangan-serangan tersebut dengan tepat, membuat Dewa Trevor sedikit terkejut.


Dewa Trevor merasakan kekuatan yang jarang dia temui dalam seorang manusia. Wajahnya yang tadinya penuh kepercayaan diri perlahan berubah menjadi sedikit serius. Dia merapatkan tali busur naga berwarna birunya dengan erat, mempersiapkan serangan berikutnya.


Agil dan Dewa Trevor saling mengunci pandangan, keduanya memancarkan aura yang mempesona.


Agil melaju dengan kecepatan tinggi, menghadapi serangan anak panah Dewa Trevor dengan penuh ketangkasan. Api yang membara di pedangnya semakin membesar seiring waktu.


Menggunakan gaya berpedang Teo, Agil melancarkan serangan horizontal menggunakan satu tangan. Dari sayatan itu muncullah api dengan kecepatan tinggi mendekati leher Dewa Trevor.


Serangan itu berhasil dihindari dengan mudah. Dewa Trevor melompat untuk menghindar, Agil dengan cepat merespons, ia berpindah dalam sekejap ke belakang Dewa Trevor, lalu mengayunkan pedang dengan menggunakan kedua tangannya secara vertikal ke bawah.


Blash!

__ADS_1


Tebasan itu begitu kuat sehingga menerobos pertahanan Dewa Trevor dan memecahkan zirah yang melindunginya. Api itu begitu besar, tampak seperti menara. Daerah yang terkena tebasan pedang Agil langsung terbakar, mengubah tanah menjadi magma yang membara.


Dewa Trevor terkejut dengan kekuatan Agil yang luar biasa. Dia menyadari bahwa Agil telah menguasai langkah kilat tingkat kedua, suatu kemampuan yang hanya diketahui olehnya, sebagai dewa petir.


“Katakan padaku, dari mana kau belajar langkah kilat tingkat kedua?" tanya Dewa Trevor dengan rasa penasaran yang jelas terlihat di wajahnya.


Agil tersenyum dengan percaya diri, tetapi tidak menjawab pertanyaan Dewa Trevor. Dia hanya menatapnya dengan tekad yang kuat.


"Pertarungan kita akan memberikan jawaban yang kau cari," ucap Agil dengan suara yang penuh keyakinan.


"Hahahaha... Hebat sekali, manusia. Aku akan melawanmu dengan serius sekarang!" Ia bangkit.


Agil yang terkejut dan bingung mencoba mencerna situasi yang terjadi. Awan gelap dan angin kencang membuat atmosfer semakin mencekam. Dewa Trevor, yang kini dihiasi oleh kilatan petir, memancarkan kehadiran yang mengagumkan dan menakutkan.


"Aku akan bertanya sekali lagi. Dari mana kau belajar langkah kilat tingkat ke dua?" Suara Dewa Trevor terasa sangat menekan.


"Aku tidak belajar dari siapa pun. Aku hanya terus menggunakan dan sedikit memodifikasinya."


Dewa Trevor tersenyum, ia tidak menyangka akan menemukan sesuatu di dunia manusia.


"Sekarang kau akan belajar tentang kekuatan yang sesungguhnya," ujar Dewa Trevor dengan suara yang memenuhi ruang dan bergema di sekitarnya.


Agil tertekan, kakinya lemas, mencoba bangkit dari menggunakan segenap kekuatannya, namun terasa seakan-akan ada beban yang menekannya ke bumi. Ia merasakan kehadiran yang luar biasa kuat dari Dewa Trevor, membuatnya tidak dapat melawan.


"Sesuai keinginanmu, aku tidak akan mengganggu kedua bocah itu. Tapi sebagai gantinya, kau!"


"Apa maksudmu?" tanya Agil dengan penuh kebingungan, sambil mencoba membebaskan dirinya dari pengaruh Dewa Trevor.


Dewa Trevor tersenyum mengerikan. "Kekuatanmu yang kau raih sejauh ini hanya sebagian kecil dari potensimu yang sebenarnya. Aku akan melatihmu dan menjadikanmu dewa yang sesungguhnya."


Dengan kekuatannya yang luar biasa, Dewa Trevor mengangkat Agil dari tanah dan melayang di udara. Agil merasa energi yang luar biasa mengalir melalui tubuhnya, membuatnya merasakan potensi yang belum pernah ia sadari sebelumnya.


"Wahai manusia, kau akan menjadi alatku untuk mencapai ambisi-ambisiku yang besar," kata Dewa Trevor dengan suara yang penuh dengan niat jahat.

__ADS_1


Agil merasa tak berdaya, yang terperangkap dalam situasi tak terduga.


__ADS_2