
Sebuah cairan hitam pekat dengan aroma busuk menyerbu mata Xin Fai, cairan itu tepat mengenai bola matanya yang kini terasa berdenyut amat perih.
Xin Fai mengucek mata beberapa kali dan berusaha melihat sekitarnya namun sesuatu yang amat buruk telah terlanjur terjadi.
Dia tidak menemukan siapa-siapa di hadapannya.
Atau lebih tepatnya dia tidak bisa melihat apa-apa, Xin Fai termundur beberapa langkah dengan jantung berhenti berdetak. Dia mencoba mengedipkan matanya namun penglihatannya sama sekali tidak kembali seperti semula.
"Ini--!? Apa yang kau lakukan pada mataku!?" Xin Fai berteriak kencang, dia memutar kepalanya ke segala arah dan penglihatannya sama sekali gelap tak bisa mampu menangkap apapun. Rasa panik menyerbunya akan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, tanpa bisa melihat seperti ini dia sama saja seperti orang buta. Kepalanya tak bisa memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini tanpa indera penglihatan.
Sedangkan Liu Fengying merasa rencana terakhirnya ini berhasil, dengan begini dia akan semakin mudah mendapatkan mangsanya.
Liu Fengying segera saja berlari menyambar Xin Fai. Namun Yong Tao lebih dulu berlari dan menangkap tubuhnya, dia membawa Xin Fai mundur dari Liu Fengying sementara keadaan masih amat kacau.
Lamat-lamat Xin Fai semakin menyadari dia telah kehilangan indera penglihatannya, para roh yang sebelumnya bergerak atas perintahnya kini bergerak tak tentu arah. Mereka mengambang di udara berhenti menyerang saat sang pengendali roh berhenti menggerakkan mereka.
Keberisikan di sekitarnya sama sekali tidak Xin Fai pedulikan, dirinya berjongkok pelan sembari menutup telinga berusaha membungkam suara-suara di sekitar. Cairan yang tadi membasahi matanya telah mengering dan menyatu dengan tubuhnya, jika benar itu racun khusus untuk membuat seseorang buta maka racun itu benar-benar bekerja padanya.
Bunyi tepukan tangan diiringi tawaan lebar menggema. "Hahaha percuma... Percuma saja kau lakukan itu semua, mulai hari ini kau tak lebih dari seorang pendekar buta yang hanya menjadi beban untuk semua orang..."
__ADS_1
Yong Tao dapat menebak apa yang kini mengacaukan pikiran Xin Fai, dia memegang pundak anak itu berusaha menguatkan namun dirinya sendiri saat ini juga tidak bisa tenang kala melihat ribuan pasukan datang dengan jubah hitam, mereka adalah pasukan dari pembunuh bayaran yang datang di gelombang kedua setelah pertempuran habis-habisan sebelumnya.
Liu Fengying mengangkat lebar-lebar tangannya. Strategi perang yang digunakannya kini berhasil melumpuhkan kekuatan pihak aliran putih hampir setengahnya, dan kini serangan lanjutan datang bersiap menghancurkan lebih banyak lagi.
"Jhahahaha! Bukankah ini semakin menarik?! Lihatlah, lihatlah di atas sana! Seorang Manusia Iblis buatan kami baru saja datang!"
Ratusan siluman burung elang berwarna perak memenuhi langit-langit disertai ratusan hujan panah, di tengah mereka terlihat seorang manusia yang sebelah matanya ditutupi perban putih menatap dengan mata kosong, aura yang dilepaskannya sama sekali tidak manusiawi bahkan lebih menyerupai iblis. Sesaat ketika telah sampai dia meloncat dari ketinggian dan menghantam lantai hingga bumi bergetar keras.
Yong Tao segera mengambil tindakan atas hal ini, dia menoleh ke belakangnya di mana Xin Fai berdiri tak mengerti akan situasi yang terjadi di sekitarnya. Lang yang baru saja datang menanduk semua pendekar aliran hitam, dia menggeram begitu kencang hingga siapapun bergidik ngeri melihat siluman itu mengamuk.
"Bocah!! Sudah kukatakan firasatku ini benar-benar terjadi! Kau lihat, sekarang masalah yang datang sudah melenceng jauh dari semua perkiraanmu bukan?!"
Lang buru-buru membawa Xin Fai ke atasnya, dia bersiap melindungi anak itu dan melakukan penyerangan sampai titik darah penghabisan sebelum Yong Tao menahannya.
"Membawa lari?! Kau lihat di depanmu mereka datang seperti semut yang berduyun-duyun! Jumlah mereka bahkan lebih dari sepuluh ribu orang sedangkan pasukan aliran putih jauh lebih sedikit dibandingkan mereka!"
Segera saja Yong Tao memasang kuda-kuda penuh waspada, dia masih menatap ke arah Manusia Iblis buatan itu dengan tajam, jika dilihat-lihat lagi setidaknya kekuatannya dua kali lipat daripada Liu Fengying.
"Di Lembah Kabut Putih ini terdapat sebuah hutan misterius yang ditinggali seekor Siluman Penguasa Bumi, tempat itu tidak pernah bisa dimasuki sembarang oleh orang biasa, dan kurasa itu adalah tempat yang cocok untuk kalian bersembunyi."
__ADS_1
Lang dibuat tak habis pikir dengan perkataan Yong Tao, jika seandainya tempat yang dia maksud itu tidak bisa dimasuki oleh orang-orang maka tentu saja dia dan Xin Fai juga tidak bisa melewati tempat tersebut.
Namun seolah tak peduli dengan pendapat Lang, Yong Tao kembali mendesaknya. "Pergilah ke Utara! Jangan sampai anak itu jatuh ke tangan mereka, meskipun kau harus bertaruh nyawa sekalipun!"
Yong Tao sudah lebih dulu turun di pertempuran besar-besaran tersebut, dia berteriak kencang sambil mengayunkan pedang tanpa henti.
Sedangkan Lang segera berlari meninggalkan stadium menuju arah Utara seperti perintah pria itu, dia mengumpat sepanjang perjalanan karena kini hal buruk lainnya kembali terjadi. Ternyata lautan pendekar aliran hitam di luar stadium jauh lebih banyak dan bahkan mereka memiliki siluman singa iblis dengan jumlah mencapai dua puluhan.
Lang bergerak lincah menghindari setiap serangan namun beberapa kali tubuhnya tercakar hingga memperlebar luka di tubuhnya yang sejak tadi sudah tak terhitung jumlahnya. Dengan sisa tenaga tersebut dia tak lagi peduli harus mempertahankan nyawanya seperti apa, yang menjadi prioritasnya kini adalah mengantarkan Xin Fai ke tempat yang dikatakan Yong Tao tadi.
Sekilas Lang mengintip ke belakangnya menatapi suasana mulai pecah di sana, suara jeritan dan juga aroma amis darah menguar di mana-mana, dia menyadari pasukan siluman burung mengejarnya dengan menghujani anak panah.
Beberapa anak panah melesat tajam menancap di kaki kiri Lang, serigala itu mulai huyung dan terjatuh menabrak pohon hingga tumbang.
Ketika jarak mulai terkejar oleh musuh Xin Fai segera mengeluarkan sisa kekuatannya untuk menyembuhkan Lang meski hanya sedikit, serigala itu berupaya bangun dan berlari tanpa henti seperti tadi. Tetapi yang menjadi permasalahan kali ini tiga anak panah kembali menancap di tubuhnya.
Xin Fai mengatur pernapasan setenang mungkin untuk mendengar semua pergerakan di sekelilingnya, meskipun masih belum menerima kenyataan kini dia sudah tidak bisa melihat namun sebisa mungkin dirinya menyesuaikan diri. Tidak ada waktu untuk mengeluh. Pedang miliknya bergerak teratur bagaikan air terjun menepis puluhan panah yang bergerak hendak menikam Lang.
Serigala itu tetap fokus berlari menahan segala rasa sakit di sekujur tubuhnya, sedangkan Xin Fai berdiri seimbang di atasnya menahan serangan yang datang.
__ADS_1
Salah satu panah berhasil lolos dan menancap tepat di pundak Xin Fai, anak itu berhenti sejenak mencabut panah itu dari tubuhnya kesakitan.
***