Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 61 - Menghancurkan Batu


__ADS_3

Seperti biasa saat mereka beristirahat, Xin Fai memilih berlatih. Mereka tiba di sebuah hutan rimba yang cukup jauh dari Kota Houbi, ada beberapa serigala hutan di sana namun tak ada yang berani mendekat ketika melihat seekor serigala yang ukurannya empat kali dari mereka, yaitu Lang sendiri.


Matahari terbenam, Xin Fai membuat api unggun sebagai penerangan. Berhubung di tempat ini mungkin saja hewan sejenis kalajengking atau ular bisa datang dari mana saja. Dia duduk bersila di atas sebuah batu yang sangat besar.


Sambil belajar memulihkan tenaga dalam Xin Fai kembali mengasah kemampuannya dalam berkonsentrasi. Secara sadar tak sadar dia selalu melakukannya, membuat pergerakan apapun yang terjadi di sekitarnya dapat diketahuinya dengan mudah.


Setelah dua jam bersila di atas batu, Xin Fai melompat dari sana. Dia berdiri di depan batu sambil menarik pedang Manusia Darah Iblis.


Seketika telinganya dapat mendengar gelombang suara yang sangatlah samar dari dirinya sendiri. Xin Fai mengerutkan alis kebingungan.


"Akhirnya terlahir kembali..."


Setelah berhasil mendengar suara tersebut dengan samar Xin Fai dibuat merinding olehnya, suara yang begitu pelan itu sangat menyeramkan. Seperti suara monster yang telah hidup ribuan tahun.


Lang hanya menyaksikan Xin Fai tanpa berkomentar, dia sebenarnya cukup bingung mengapa anak itu bertingkah aneh namun memilih tak mencampuri urusannya.


Suara bisikan misterius itu masih terdengar samar-samar sebelum akhirnya menghilang. Xin Fai beralih menatap permata dari pedang Manusia Darah Iblis yang kini memerah menyala.


"Apakah Manusia Darah Iblis memiliki hubungan dengan kondisi tubuhku saat ini?" Batinnya menerka-nerka, setelah berhasil menenangkan diri Xin Fai kembali fokus melanjutkan latihannya yang sempat tertunda. Dia mencoba mengalihkan perhatiannya karena memikirkan suara tadi pun sama sekali tak berguna, dia belum memiliki informasi yang cukup tentang Manusia Darah Iblis maupun kondisi tubuhnya saat ini.


Xin Fai membuka Kitab Tujuh Kunci, lalu membacanya di dalam cahaya yang remang-remang. Meski begitu penglihatan Xin Fai sudah jauh lebih tajam, dia bisa menyesuaikan diri dengan cahaya minim sekalipun.


Setelah menimbang-nimbang Xin Fai lebih tertarik dengan jurus yang sedikit aneh. Jurus Angin Desa Daan adalah jurus Kunci Bulan yang berada di urutan keempat. Kunci Bulan sendiri dari sepuluh jurus, Tendangan Bulan Sabit berada di tingkat terakhir yakni nomor sepuluh.


"Aku tidak yakin bisa menguasainya, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba."


Xin menguatkan pegangannya pada pedang, dia memantapkan kuda-kuda mengikuti arahan kitab tersebut.


Diperlukan teknik Langkah Angin yang tinggi dalam menggunakan jurus ini, serta dirinya harus bisa menyatu dengan alam. Konsentrasi tinggi juga diperlukan untuk mengumpulkan energi alam yang diperlukan sehingga butuh waktu cukup lama bagi Xin Fai melakukannya.


Dengan melibas pedangnya dalam satu hentakan, dua pisau angin lepas dari pedangnya dan menggores batu di hadapannya.


Meskipun tak menggores terlalu dalam namun Xin Fai rasa tenaga dalam yang dibutuhkan untuk melepas jurus ini cukup banyak. Dua kali lipat dari Jurus Seribu Roh.

__ADS_1


Xin Fai yakin jurus ini memiliki daya serang yang kuat jika dia berhasil menguasainya dengan sempurna. Xin Fai kembali mengacungkan pedangnya dan melakukannya secara terus menerus.


Semakin lama Xin Fai melakukan jurus itu semakin banyak pula jumlah pisau angin yang bisa dikeluarkannya. Setidaknya dia sekarang bisa mengeluarkan 8 pisau angin secara bersamaan namun ukurannya semakin kecil dari yang pertama kali Xin Fai lihat.


Terkadang dia mengkombinasikan Tendangan Bulan Sabit dengan Angin Desa Daan untuk menghancurkan batu di depannya.


Larut malam Xin Fai masih terus berlatih hingga kelelahan, dia tergeletak di atas tanah dengan tubuh banjir keringat.


"Jika aku memiliki waktu berlatih seperti ini setiap hari setidaknya aku bisa membalaskan dendam ku suatu saat nanti." Sambil menatap bulan sabit di atasnya, Xin Fai kembali teringat pada keluarganya.


Satu bulan lebih telah berlalu, saat Xin Fai kembali teringat pada keluarganya dia memilih mengalihkannya dengan berlatih mati-matian. Dia tak ingin terus bersedih ketika mengingat hal itu.


"Ayah, aku tidak tahu dengan membunuh mereka akan membuatmu tenang atau tidak..." gumamnya. "Setidaknya sekarang aku memiliki tujuan hidup meskipun kalian sudah tidak ada."


Xin Fai selalu merasa Ayahnya melihatnya dari atas, meskipun ayahnya adalah seorang lelaki bodoh yang kumal namun Xin Fai sangat menyayanginya. Begitupun dengan Ibu dan adiknya.


Daripada menyesali apa yang sudah terjadi Xin Fai kembali bangun, dengan kakinya yang mulai gemetaran ia mencoba memainkan pedang tanpa menggunakan tenaga dalam.


Lang hanya mendengus pasrah, bagaimana anak itu sama sekali tak kelelahan sepanjang malam berlatih apalagi setelah mendengar ceritanya bahwa dia sempat bertarung melawan pembunuh bayaran dan mendapat tebasan di pundaknya.


Lang hanya bisa menjawabnya sendiri, mungkin tekad Xin Fai jauh lebih besar daripada rasa lelahnya.


Xin Fai mengayunkan pedang dengan sisa tenaganya, nafasnya terputus-putus sejak tadi namun dia sama sekali tidak mempedulikannya.


"Tendangan Bulan Sabit!"


Batu di hadapannya kembali mengalami keretakan, keadaan batu tersebut sudah dipenuhi dengan goresan serta retakan. Dia terus melakukan serangan di seluruh bagian batu tersebut sampai akhirnya Lang mendekat.


"Kau mencoba sampai kiamat pun batu itu tidak akan terbelah."


Xin Fai menoleh ke belakangnya. "Meskipun sedikit demi sedikit, batu ini pasti akan pecah juga. Lihat saja!"


Urat-urat di tangan Xin Fai sampai kelihatan, dia mengangkat pedang tinggi-tinggi.

__ADS_1


Sekuat apapun tenaga yang dikerahkan Xin Fai namun tak ada satupun yang bisa menghancurkan batu setebal serta sekeras itu. Saat merasakan usahanya sia-sia, Xin Fai akhirnya memilih untuk beristirahat sebentar.


Lang sedikit kasihan melihatnya, dia mengerti pengalaman Xin Fai masih terbilang sedikit jadi tak heran memecahkan batu seperti ini saja sudah membuatnya kesulitan.


Serigala itu duduk di sampingnya.


"Apa kau pernah menghancurkan sebuah telur?"


Pertanyaan tiba-tiba itu Xin Fai tanggapi dengan alisnya yang berkerut.


"Tentu saja pernah. Jadi?"


"Bagaimana cara kau melakukannya?"


Masih tidak mengerti dengan maksud Lang, dia menjawab sekedarnya saja.


"Aku mengetuknya di panci, bukannya itu mudah saja?"


"Bukankah menghancurkan batu sebesar itu mudah saja jika kau sudah mengetahui caranya?"


Xin Fai berpikir sebentar sebelum akhirnya mengerti. Dia menatap batu di depannya yang penuh goresan.


Dia mengerti, jika melakukan serangan ke seluruh bagian batu merupakan kesalahan besar. Dengan menyerang satu bagian secara terus-menerus kemungkinan batu itu akan retak, seperti contohnya telur yang dikatakan Lang tadi.


"Aku baru menyadarinya, otakku ternyata masih sangat dangkal. Hahahaha!"


"Kau baru saja mengakui dirimu adalah orang paling bodoh sedunia?"


Xin Fai menatap Lang dengan tatapan menusuk. Dia akhirnya bangkit, lalu melompat ke atas batu.


"Dengan ini kupastikan batu ini akan retak sebelum matahari terbenam!"


***

__ADS_1


__ADS_2