Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 183 - Mei Lian


__ADS_3

Perlahan puluhan kemungkinan berkelebat hebat di kepalanya, Yong Tao yang memacu kuda di sampingnya tak bisa tinggal diam melihat keanehan itu.


"Apa yang menggangumu?"


"Tidak, lupakan saja."


Biar mengatakannya mudah tapi Xin Fai terus saja berpikiran buruk akan hal ini, dia yakin Xin Xia tidak mungkin ingin membunuh orang banyak walaupun dia memiliki kekuatan hebat.


Jika benar adik perempuannya sudah dikuasai oleh kekuatan iblis mungkin dirinya tidak akan sempat menyelamatkan. Berharap waktunya cukup sampai mereka bisa dipertemukan kembali, Xin Fai memacu cepat kudanya saat melihat di kejauhan sana terlihat sinar dari rumah kecil tempat Xu Ming dan anak angkatnya tinggal.


Sedikit lega Xin Fai saat menatapi pria itu tengah berada di luar rumah melihat langit malam yang berawan hitam, dia membuka payung hendak keluar rumah namun dia segera mengurungkan niatnya saat melihat di depan sana seorang pemuda dan beberapa orang pendekar di belakangnya mengikuti.


"Itu Xin Fai? Dia sudah kembali?" Pria itu bergumam pelan, sebuah senyum lembut terbit dari bibirnya.


Xin Fai berdiri tepat di depannya, Xu Ming menatap pemuda itu berbinar-binar. "Apa kau berhasil mendapatkannya?"


"Begitulah." Sebenarnya dia ingin mengatakan bahwa dirinya mendapatkan lebih banyak harta bersama Yong Tao, namun rasanya hal itu tidak diperlukan.


Xu Ming membawa mereka masuk, kuda-kuda diikat di tempat yang teduh sedang beberapa anak gadis di dalam rumah memasak makanan hangat. Xu Ming menyodorkan arak demi merayakan kedatangannya. Sedikit heran juga dia melihat Xin Fai datang bersama pasukan, ketika melihat sosok yang terasa tidak asing di matanya itu Xu Ming baru tersadar di antara pasukan itu terdapat satu jagoan terhebat di Kekaisaran Shang.


"Aduh, bagaimana ini kita kedatangan pahlawan nomor satu. Maafkan aku Tuan Pendekar, rumah ini terlalu sederhana untuk menyambut kedatanganmu..." Xu Ming merasa sedikit bersalah, dia menunduk dalam.


"Sudahlah tidak perlu segan, aku hanya mengantarkan anak ini padamu. Kurasa dia punya satu urusan yang harus diselesaikan."


Yong Tao dan para pasukannya duduk sambil minum arak, sedangkan Xin Fai dan Xu Ming beralih ke tempat yang lebih sepi. Sesaat belum ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut pemuda itu hingga akhirnya Xu Ming angkat bicara.


"Apa ada yang harus kau bicarakan denganku?"


"Ya, jadi begini." Xin Fai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak yakin pertanyaan ini bisa dijawab oleh Xu Ming.


"Aku akan memberimu seribu keping emas jika kau bisa memberikanku jawaban untuk hal ini," tuturnya pelan. Xu Ming berubah lebih serius mendengar hal itu, jumlah yang ditawarkan Xin Fai bukanlah sedikit paling tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan anak-anak di sini selama 3 tahun.


"Apa kau bisa memberiku informasi tentang anak kecil bernama Xin Xia? Dia sekarang berada di kelompok Manusia Darah Iblis."

__ADS_1


Dua detik belum mendapatkan jawaban suasana perlahan hening, deru angin yang menerpa jendela mendadak sunyi. Beberapa saat setelah berusaha mengingat-ingat, akhirnya Xu Ming memecah keheningan. "Maaf, untuk hal itu aku kurang tahu. Kurasa informasi yang satu itu sangat tertutup dan sulit untuk mendapatkannya... Kecuali..."


Xin Fai mendekatkan wajahnya penasaran. "Kecuali?"


Mata Xu Ming berubah layu, dia menarik napas berat karena tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Kesempatan mendapatkan seribu keping emas melayang sudah.


"Hanya para petinggi yang mengetahui informasi itu, kau bisa mendapatkannya dari mereka. Tapi kurasa petinggi merekapun enggan memberitahunya padamu."


Seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri Xin Fai terdiam cukup lama, tatapannya kosong menatapi lantai kayu. Xu Ming membiarkannya berpikir sembari menyesap teh panas di atas meja.


"Nah! Aku tahu!"


Xu Ming kaget terbatuk-batuk melihat reaksi tiba-tiba itu.


'Aih, kurasa anak ini senang sekali mengejutkan orang...' batin Xu Ming.


"Aku hanya perlu mencari bayaran yang cukup untuk informasi itu, kan?"


"Tapi aku tidak tahu apa yang bisa kuberikan," ucapannya menghentikan alur pembicaraan sebentar, Xu Ming ikut mencarikan solusinya.


"Kenapa tidak memakai semua harta yang kau dapatkan itu? Orang-orang aliran hitam membunuh demi kepuasan dan harta, kurasa itu cukup sebagai bayarannya."


Secercah harapan itu membuatnya sangat antusias, dia menjabat tangan Xu Ming kuat. "Terimakasih sudah membantuku sejauh ini, paman."


Tangan Xin Fai melibas udara mengeluarkan tumpukan emas yang jika dihitung lebih dari angka seribu, Xu Ming menahan napas secara refleks melihat harta itu, di sisi lain dia juga menginginkannya.


"Duh, ini terlalu banyak... Aku tidak bisa menerimanya."


"Aku bisa mengeluarkan lebih banyak lagi kalau kau menolak ini, paman."


Xu Ming mengangkat wajahnya melihat senyum jahil pemuda ini, karakter Xin Fai amat berkesan di kepalanya. Pria itu menepuk pundaknya lembut. "Aku yakin kau akan menjadi sosok terhebat di Kekaisaran kita suatu saat nanti, sampai saat itu tiba jangan pernah merubah sikapmu."


"Hm? Aku kurang mengerti."

__ADS_1


"Aku bisa melihat kebaikan di matamu itu, jalan menjadi seorang pendekar masih jauh di depan sana. Suatu saat nanti, apapun yang terjadi jangan pernah menjadi pembunuh haus darah seperti para pendekar aliran hitam."


Meski belum memahami sepenuhnya perkataan tersebut Xin Fai memilih mengangguk mengerti, dia bangkit dari duduknya dan mengatakan harus segera pamit melanjutkan perjalanan.


Ketika membalikkan badannya Xin Fai bisa melihat sekilas bayangan sosok anak gadis di balik pintu, terdengar suara Xu Ming di belakangnya menyahut.


"Mei'er, tidak perlu takut. Kau pasti ingin berbicara dengannya, kan?"


Tak lama kemudian sosok gadis yang cantik muncul di depan sana, dia terlihat malu-malu dan masih menundukkan kepala. Tangannya terulur memberikan sebuah kalung berbentuk kerang, dia mengingat sekali benda tersebut dan mengambilnya pelan.


"Ini kalung pemberian ibuku dulu, ternyata kau masih menyimpannya?"


Gadis itu mengangguk. "Kukira waktu itu aku salah orang, ternyata ini benar dirimu." Ucapnya sedikit kagum, tubuh pemuda itu menjadi lebih tinggi dan juga wajahnya yang sudah mulai dewasa terlihat lebih tampan daripada pemuda-pemuda yang pernah ditemuinya.


Xin Fai memakai kalung tersebut, dia berucap lagi. "Jadi aku sudah menepati janjiku, kan?"


Xu Ming memerhatikan wajah Mei Lian sedari tadi, tatapan gadis itu tak lepas dari wajah Xin Fai sejak tadi. Dia yakin salah satu anak angkatnya sedang jatuh cinta pada pemuda itu, merasa tidak perlu ikut campur dirinya berniat pergi.


"Hari itu aku pernah berjanji akan bertemu lagi denganmu, dan kau sudah mengembalikan kalung ini padaku. Jadi janji hari itu sudah ditepati."


Mei Lian mengangguk kecil, dia berniat berbicara namun bibirnya berhenti bergerak saat Xin Fai teralihkan pada hal lain. "Paman, jangan pergi dulu." Tahan pemuda itu pada Xu Ming.


"Kau ingin aku menyaksikan pertemuan kalian berdua?"


Mei Lian menjadi sedikit salah tingkah, sedangkan Xin Fai hanya tersenyum kecut.


"Aku ingin pergi ke ruang depan juga untuk berbicara dengan Senior Yong," ucapnya. Dia membalikkan tubuh menghadap Mei Lian. "Terimakasih sudah menjaga kalung ini untukku."


Tidak ada satupun kata yang keluar dari mulutnya hingga Xin Fai benar-benar pergi dari sana, Mei Lian menyesalinya sebentar saat tidak ada orang lagi di ruangan tersebut.


"Apa setelah ini kita masih bisa bertemu?" tanyanya pada diri sendiri.


**

__ADS_1


__ADS_2