
Terlalu banyak kesedihan sekaligus kesengsaraan yang mereka buat. Hingga akhirnya pihak aliran putih memutuskan untuk melawan balik.
"Aku tidak peduli apa yang harus kita hadapi, mau itu monster atau sesuatu yang lebih mengerikan darinya..." Chang Wei bersuara pelan, tatapannya jatuh pada kobaran api yang tengah melalap kayu di atasnya. "Sejak awal kita sudah mengorbankan nyawa untuk itu semua, tidak ada yang berubah, kecuali tempat di mana kita akan dikuburkan."
"Aih... Suara dari anak muda yang putus asa!" Ho Xiuhan menanggapinya jenaka, dia menyenggol Chang Wei yang tak kunjung melepaskan sorot matanya dari kayu bakar. Merasa kayu itu adalah dirinya, perlahan suatu saat nanti akan ada yang mengambil nyawanya.
Xin Fai memahami perkataan Chang Wei sepenuhnya, dia sadar setiap orang pasti memiliki kisah tersendiri. Mungkin Chang Wei mengalami sesuatu yang jauh lebih berat darinya, Xin Fai pun tidak paham. Yang diketahuinya saat ini adalah meyakinkan para anggota untuk melaksanakan tugas Aliansi Pedang Suci sebaik mungkin.
"Dalam 8 tahun ini kita akan fokus menghancurkan markas Manusia Darah Iblis, seluruh markas pusat mereka harus kita jatuhkan sebelum berangkat ke markas utama dalam pasukan besar. Selain itu untuk membantu Kekaisaran yang sekarang ini kehilangan banyak sumber penghasilan makanan, kita harus merebut kembali desa-desa yang telah dikuasai. Tempat itu adalah lahan tani, merebutnya juga termasuk dalam menyelamatkan kehidupan manusia."
Mereka mendengarkan sangat serius, hingga akhirnya semua rencana selesai disampaikan, semuanya terlelap dalam mimpi. Entah apa yang akan terjadi dalam kurun waktu delapan tahun ke depan, Xin Fai menutup kedua matanya perlahan-lahan. Bayangan akan Xin Xia terngiang jelas. Dia mengepalkan tangan ke atas, menantang gelapnya langit malam.
"Aku harus membawanya kembali."
**
Angin Timur membawa hawa panas serta udara kering, musim kemarau panjang sudah dimulai sejak beberapa bulan terakhir membuat lahan tani menjadi tandus tak memiliki sumber perairan cukup untuk mengalirinya.
Di samping itu sebuah desa yang baru saja dibangun kembali dengan kerja keras para penduduk menjadi ramai, pesta makanan dan arak digelar beramai-ramai demi merayakannya. Jika bukan berkat Aliansi Pedang Suci yang namanya sudah melambung tinggi selama beberapa tahun terakhir, tak mungkin mereka dapat mendapatkan tanah mereka kembali.
"Tuan Pendekar, kami sangat-sangat berterimakasih padamu karena telah mengambil kembali tanah milik kami, sekarang ini kami tidak memiliki sesuatu yang cukup bernilai untuk berbalas budi kecuali dengan ini..." Seorang wanita berpenutup kepala menyodorkan satu keranjang yang dipenuhi oleh ubi, roti kering dan persediaan makanan lainnya yang dia miliki.
"Tidak perlu sungkan, lagipula aku memang berniat menyelamatkan desa ini sejak awal tapi sayangnya karena terlalu banyak markas yang harus ku urus desa ini baru bisa kukunjungi sekarang."
"Kalau begitu terimalah sedikit pemberianku ini." Wanita itu menyodorkan keranjang ramah, dia dapat melihat sosok yang wajahnya masih terbilang cukup muda itu mengembangkan senyum kecil. Parasnya yang tampan menunjukkan kharisma saat dia berbicara.
"Kalau kau memberinya padaku anak-anakmu akan makan apa nanti? Sudahlah tidak perlu sungkan, untuk makanan kami bisa berburu sendiri di hutan," tolaknya halus.
"Ketua! Ketua Xin!"
__ADS_1
Xin Fai dan wanita tersebut menoleh ke arah Zhu Yue yang setengah berlari ke arah mereka sembari melambaikan tangan.
"Kenapa?"
"Kapal yang akan kita tumpangi sudah berhasil diperbaiki, kemungkinan bisa menyeberang ke kota selanjutnya besok pagi."
"Baguslah, katakan pada anggota untuk bersiap-siap besok pagi."
"Baik, Ketua." Zhu Yue undur diri kemudian berlari ke arah rombongan pendekar dan beberapa penduduk pria yang sibuk memindahkan beberapa persediaan aliansi ke dalam palka.
Cuaca di laut lepas akhir-akhir ini terbilang cukup baik, Xin Fai tidak perlu takut akan angin kencang yang bisa membuat kapal mereka kandas di tengah lautan.
Dia mengalihkan pandangan ke sudut lain, melihat para warga bersuka cita dalam keremangan malam. Sebagian harta karun yang mereka dapatkan dari markas Manusia Darah Iblis yang menguasai daerah ini dibagikan pada penduduk, lalu sisanya digunakan untuk membiayai aliansi.
Sudah berjalan kurang lebih delapan tahun bersama Aliansi Pedang Suci, kehilangan beberapa teman seperjuangan yang harus mengembuskan napas terakhirnya dalam pertarungan memperebutkan wilayah, serta mengalami suka duka bersama dengan mereka membuat Xin Fai sadar arti pertemanan.
Xin Fai tidak bisa membayangkan andai hari itu dia menolak ajakan Yong Tao untuk bergabung dengan Aliansi Pedang Suci dan memilih menghancurkan markas musuh sendirian dengan jumlah yang di luar batas nalar. Setidaknya hari ini dia tidak merasa sedang berjuang sendirian.
"Hahaha... kau ingin aku pulangkan kembali ke sana?" sahutnya terdengar sarat akan ejekan.
"Kau mencoba mengejekku? Di sekte itu aku sama sekali tidak bisa bernapas tenang, duduk sebentar saja pasti langsung kena suruh."
"Padahal hari itu aku memintamu ke sana untuk jadi murid, bukan jadi budak kumal." Xin Fai menggelengkan kepala kecewa, baru tahu nasib Lan An tidak semulus yang dipikirkannya selama ini.
Lan An menyikut pemuda di sampingnya kesal namun juga tetap tertawa renyah, dia sudah paham sekali dengan sikap Xin Fai. Jika keadaan mendesak wajahnya akan serius sepanjang abad, kalau di waktu senggang seperti ini Zhu Yue pun bisa menjadi bahan leluconnya.
Zhu Yue memang orang tercerewet sekaligus tersabar di Aliansi Pedang Suci, dikarenakan ulah Xin Fai yang senang sekali mengerjainya laki-laki itu hanya bisa menarik napas berkali-kali sambil mengelus dada. Dibanding meladeni Xin Fai, Zhu Yue lebih memilih merawat sepuluh bocah nakal sekaligus.
"Besok kita akan mulai berangkat ke Lembah Kabut Putih, kudengar upacara peresmian Pilar Kekaisaran akan berlangsung dua minggu lagi." Lan An kembali duduk di dekatnya setelah mengambil ubi rebus di atas meja.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan diangkat menjadi Pilar Kekaisaran. Delapan tahun bergerak siang malam tanpa henti seperti tidak terasa sama sekali, banyak yang telah berubah, salah satunya desa ini."
"Ada apa dengan desa ini? Bukannya kita baru datang ke tempat ini sekali?"
"Nama desa ini adalah Desa Peiyu, desa kelahiranku. Puluhan tahun sudah berada di tangan Manusia Darah Iblis sejak aku meninggalkannya."
"Semuanya berjalan sangat cepat, kau sampai lupa waktu hanya demi mengejar tujuanmu itu."
"Bagaimana denganmu sendiri? Perang besar akan dimulai sebentar lagi. Setelah kita kembali ke Lembah Kabut Putih dan diresmikan menjadi Pilar Kekaisaran, perang besar yang sebenarnya akan kita hadapi."
Lan An terdiam sejenak, menautkan kedua alisnya berpikir keras. Belum sempat berbicara ternyata Xin Fai lebih dulu berucap.
"Aku mempertaruhkan nyawaku demi kemenangan ini, menghancurkan Manusia Darah Iblis hingga ke akar-akarnya dan menyelamatkan adikku bagaimana pun caranya. Setelah itu kurasa tidak akan ada penyesalan lagi ke depannya."
Lan An tersenyum sedikit, dia kini sibuk menguyah ubi. Meskipun begitu dia terlihat serius saat berbicara.
"Aku ingin membalaskan kematian ibuku, agar ke depannya tidak ada lagi yang merasakan penderitaan yang sama seperti yang kualami."
Tak begitu lama saat mereka sibuk berbincang sekumpulan pendekar memasuki daerah di pinggir laut tempat mereka berpesta, Xin Fai memasang sikap waspada sama halnya seperti Lan An. Siap sewaktu-waktu terjadi pertempuran berdarah.
"Pendekar Pedang Iblis... Apa itu benar dirimu?"
***
**aku baru tau akhir2 ini bnyk penulis pindah platform/berhenti ngelanjutin karyanya krna regulasi yg berat sebelah. bisa diliat bbrp novel berhenti tengah jln tanpa ada kelanjutan, sbnrnya itu gk salah authornya, tapi bbrpa dari mereka menjadikan menulis buat memenuhi kebutuhan hidup, kalo menulis suka rela aja siapa yg mau dah sedangkan hak cipta cerita mereka udh dibeli dengan keuntungan yg sedikit. itu sih klo pendapatku, menurut kalian sndiri gmna?
jdi sedih jga liatnyaTnT
3 hari ke depan aku ada simba daring(online) jd gak tau bisa ngetik apa gk, tergantung situasi aja, doain aja sempet wkwkwk
__ADS_1
btw judul chapter ini satu hati sama judul ceritanya hiya hiyaa hiyaa**🐣🐣🐣