
Tanpa banyak bertanya lagi Rubah Petir menghilang begitu saja sedetik kemudian, dia melancarkan serangan membabi buta. Sama halnya seperti Rubah Petir, Xin Fai juga melakukan hal yang sama. Keduanya saling bertarung tanpa ingin mengalah, kehancuran yang ditimbulkan tidak bisa dibendung lagi.
Pohon-pohon ambruk ke tanah ditambah dengan aliran air yang begitu deras membasahi tanah, beberapa binatang buas yang kebetulan lewat bahkan langsung tewas saat cakram pipih milik Rubah Petir mengenai tubuhnya. Untungnya Xin Fai memiliki pisau emas yang melindungi tubuhnya dari cakram tersebut, jika tidak mungkin sejak beberapa jam yang lalu dia sudah kehilangan banyak anggota tubuhnya.
Rubah Petir mengangkat tangan ke atas hingga awan bergerak berkumpul di sana, bunyi dentuman gemuruh terdengar berturut-turut di atas sana.
"Kau tahu, kan? Siluman dewa sepertiku bisa mengendalikan langit semauku."
Xin Fai merasakan langit di atas sana seperti sedang mengutuknya, dia tertawa kecil. "Jika langit memihakmu, kurasa yang memihakku hanya rakyat-rakyat kecil.."
"Kau benar-benar..." Rubah Petir sampai kehilangan akal untuk menjawab pernyataan Xin Fai kali ini, dia tidak tahu lagi bagaimana cara menghentikannya. Membuatnya pingsan saja gagal, apalagi melukainya. Tapi sebenarnya, Rubah Petir pun tidak sanggup melukai pemuda itu.
"Tidak usah memasang wajah susah seperti itu, Paman Rubah... Pertarungan ini baru saja akan berakhir."
Xin Fai mengangkat pedang yang kini hanya seperti aliran listrik emas di tangannya, dia tersenyum singkat.
"Apa paman merasakan ada sesuatu yang aneh?"
Rubah Petir buru-buru memasang sikap siaga sebelum dia menyadari pisau-pisau emas di belakangnya kini menuntun pedang milik Xin Fai secepat kilat hingga mengenai punggungnya.
Mata perak si rubah melebar kemudian berdalih ke arah Xin Fai yang kini menarik kembali kekuatannya, pedang emas yang semula berada di tangannya menghilang begitu saja, Rubah Petir yakin pedang sebenarnya adalah kini yang berada di belakangnya secara tiba-tiba itu.
"Kau mengecohku, ya?"
"Hehehe memang seperti itu cara aku bertarung dengan musuh yang lebih kuat dariku."
Ketika Xin Fai mengeluarkan tenaga dalamnya secara besar-besaran tadi dia lebih dulu menyembunyikan pedang miliknya, bahkan macan tutul dan buaya danau saja tidak menyadari akan hal itu karena terlalu fokus dengan cahaya emas yang diciptakan di tangannya. Selama pertarungan Rubah Petir tidak menyadari hal sekecil itu hingga pedang milik Xin Fai berhasil mengenainya walau sebentar.
__ADS_1
"Peraturannya jika pedangku bisa mengenaimu, berarti aku yang menang bukan?"
"Hah... Iya, iya. Benar-benar keras kepala kau," gerutu Rubah Petir kesal. Dia menatapi Macan tutul dan buaya danau yang saling merangkul meninggalkan tempat itu. Nampaknya mereka kini sedang cekikikan melihat kekalahan sang Rubah Petir.
"Kalian berdua!"
Kedua siluman itu tersentak kecil.
"Ke sini!"
Xin Fai tidak peduli apa yang akan terjadi pada dua siluman itu, dia memilih memasuki goa untuk menangkap belut listrik sebanyak mungkin dan memasukkannya ke cincin ruang demi persediaannya selama beberapa bulan ke depan.
Semakin dalam memasuki goa Xin Fai merasakan sesuatu yang aneh di dalam sana, entah perasaannya saja atau bagaimana tubuhnya merasa hawa pembunuh begitu kuat. Sejenak Xin Fai mengikuti asal hawa tersebut secara mengendap-endap dan menyadari tidak ada satu orangpun di dalam jantung goa ini.
Dalam keheningan di dalam goa hanya bunyi derap kaki Xin Fai yang terdengar, dia memastikan situasi aman sebelum mendekat ke sumber hawa yang sedari tadi menyelimuti tempat ini.
Sebuah kitab berwarna merah hitam tergeletak di atas batu kokoh yang dirancang khusus untuk menempatkan kitab misterius tersebut, kain putih yang berwarna agak putih lusuh membungkusnya dengan rapi.
Kain yang melapisi kitab tersebut ditarik dan saat Xin Fai meraba sampulnya dia dapat merasakan huruf-huruf aneh dicetak tebal di atasnya.
Xin Fai membalik setiap halaman hingga merasakan sebuah kejanggalan di dalamnya. Kitab ini adalah kitab ilmu bela diri aliran hitam, mungkin kekuatannya lebih lemah atau sama kuat dengan jurus-jurus yang monster iblis keluarkan dulu.
Saat jarinya meraba kitab tersebut dia dapat merasakan beberapa halaman di kitab ini telah sobek meninggalkan bekas darah di atas kertas, mungkin kitab ini pernah menjadi rebutan di kalangan para pendekar meskipun Xin Fai tidak dapat memastikan kebenarannya. Dia terus membalikkan halaman hingga suara Rubah Petir terdengar menggelegar.
"Apa yang kau lakukan!?"
Xin Fai tersentak kaget beberapa detik sebelum menaruh kembali kitab tersebut ke tempat semula.
__ADS_1
"Maaf, aku hanya penasaran."
Derap kaki Rubah Petir terdengar menggema meskipun bobot tubuhnya kecil, dia menatap Xin Fai ganas. "Kau tidak boleh sembarangan membuka kitab terlarang seperti ini. Bisa saja nyawamu diserap olehnya."
Xin Fai mengangguk pelan bersiap menerima ocehan sang Rubah Petir.
Ketika Rubah Petir hendak memegang kitab tersebut dia melebarkan matanya ketika merasakan hawa kehadiran orang lain di tempat ini.
Si rubah merubah keputusannya. "Nampaknya tempat ini sudah tidak aman lagi, kau harus pergi segera dari sini sebelum mereka menemukanmu dan bawalah kitab ini juga."
Begitu mudahnya Rubah Petir menyerahkan kitab terlarang itu, Xin Fai berusaha mengambil kitab tersebut. "Tapi bukankah katamu kitab ini bisa menyerap nyawa seseorang?"
Rubah Petir segera menjawab waspada. "Kitab itu adalah kitab yang diciptakan pemimpin sebuah kelompok manusia yang mengendalikan kekuatan iblis. Mereka berhasil mendapatkan setengah dari isi kitab terlarang ini dulu ketika aku masih bebas berkeliaran."
Tak lama kemudian Rubah Petir melanjutkan, "Kurasa kitab ini tidak akan memakan nyawamu karena iblis itu sendiri tinggal di tubuhmu, jadi bawalah kitab ini dan gunakan kekuatannya sebaik mungkin. Jangan sampai kau menjadi iblis juga saat menggunakannya.." nasehat Rubah Petir menjadi peringatan sendiri baginya, Xin Fai mengingat baik-baik pesan darinya.
Mendadak Xin Fai akan teringat masa lalu di mana saat para Manusia Darah Iblis yang hampir mati akan menancapkan pedangnya di dada tempat tato kalajengking berada dan seketika orang itu akan mendapatkan kekuatan yang sepuluh kali lipat lebih kuat.
Teknik itu adalah ilmu penyegelan tingkat tinggi di kelompok aliran hitam dan juga jurus Tarian Dewa Iblis yang pernah dilihatnya dulu kemungkinan berasal dari kitab ini juga.
Xin Fai merasa memang harus membawa kitab ini bersamanya, dia segera memasukkannya ke cincin ruang dan berhenti sebentar di depan Rubah Petir.
"Terimakasih sudah menjadikan aku murid, Paman Rubah. Aku berjanji akan mendapatkan kembali permata kehidupanmu dari Siluman Penguasa Es. Selama aku belum kembali tolong jaga Lang sebaik mungkin."
Rubah Petir hanya mengangguk, namun tatapannya begitu hangat menatapi Xin Fai. "Baiklah, sekarang kau boleh pergi. Jaga kesehatanmu, Faifai..."
Salam perpisahan antara keduanya terjadi begitu singkat hingga akhirnya Xin Fai pergi dari hadapannya.
__ADS_1
Rubah Petir sendiri segera bergerak membunuh para manusia yang telah berani memasuki wilayah kekuasaannya ini. Dia yakin orang itu adalah orang-orang yang hendak mencari Xin Fai yang telah menghilang selama beberapa tahun.
***