
Di tengah perjalanan Xin Fai sempat dibuat keheranan oleh Lang, serigala itu bersikeras untuk memakai tas yang disampirkan di punggungnya saat Xin Fai meminta melepas tas tersebut ketika di desa. Melihat respon itu istri kepala desa mengatakan tidak perlu memaksa Lang jika dia memang menyukai tas itu.
Sebelumnya Lang sangat marah saat dipakaikan tas dan menyebut dirinya sebagai keledai. Hal itu membuat Xin Fai tak tega, namun justru sekarang Lang begitu bangga memakai tas tersebut.
Mungkin julukan serigala pengembara membuatnya sangat senang dengan penampilannya saat ini. Barang bawaan yang ada dalam tas itu juga tak terlalu penting seperti merica, lada, bawang dan beberapa bahan dapur lainnya. Merasa sudah terlanjur membawanya Xin Fai berencana menggunakan bahan-bahan itu jika mereka dapat hewan buruan.
Sesekali Lang berhenti ketika melihat aliran sungai, mereka akan beristirahat sejenak sambil mengisi perut sekaligus menghilangkan dahaga. Walaupun masih memiliki cukup makanan tapi selagi mereka bisa berburu maka tidak ada salahnya untuk menghemat persediaan makanan.
Perjalanan terus berlanjut tanpa menemukan kesulitan lagi, kali ini mereka memasuki sebuah hutan yang terlihat menyeramkan. Pepohonan di tempat itu sangatlah angker disebabkan batang pohonnya yang nampak layu, dedaunannya rontok. Saat memasuki hutan, Xin Fai dibuat kaget setengah mati saat terdengar bunyi kepakan sayap dan suara gagak di atasnya.
"Koak! Koak! Koak!"
Xin Fai hampir saja menjerit karena tak lama setelah itu seekor ular melompat dari ranting pohon ke atas pahanya.
"Apa-apaan dengan hutan ini?!"
Lang juga merasakan hawa yang sama, walaupun langit masih cerah namun suasananya amatlah mencekam. Hawa pembunuh terasa di mana-mana tanpa mereka ketahui arahnya dari siapa.
Ketika memandang sekitar Xin Fai merasakan hutan ini seperti kuburan, suasana yang begitu mencekam membuat bulu kuduknya merinding.
__ADS_1
Bunyi burung gagak semakin terdengar, mereka berterbangan di atas dengan ribut seakan-akan menemukan bangkai manusia yang baru. Xin Fai mencium bau busuk dan berusaha mencarinya.
"Lang, kau tahu tempat apa ini?"
"Grrrhmm.. tempat ini begitu aneh, aku tidak pernah ke sini." Lang memicingkan matanya awas, ia memutar matanya ke segala arah untuk mencari sumber hawa pembunuh yang begitu pekat.
Sesaat Xin Fai maju semakin dalam, Lang tidak bisa mencegahnya karena berdiam di tempat juga amat berbahaya. Sedangkan jika mereka mundur tidak ada jalan lain selain harus melewati tempat ini.
Semakin memasuki area terdalam hutan bau busuk yang dikeluarkan semakin tak sedap, Xin Fai hampir muntah dengan mata berair menahan bau tersebut. Bau yang lebih menyengat dibandingkan desa pembantaian yang pernah dilewatinya.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, Xin Fai akhirnya menemukan sumber bau tersebut. Terlihat gunungan mayat manusia di satu titik dan dikerubungi ribuan tikus.
"Sial! Ayo lari, Lang!" Xin Fai menaiki serigala itu, mereka berniat keluar dari hutan ini. Namun hal yang aneh kembali terjadi, justru mereka hanya berputar-putar dan kembali terjebak ke tempat yang sama. Tempat bangkai manusia yang sedang dikoyak oleh ribuan tikus.
Xin Fai sempat berpikir untuk menyerang balik tikus-tikus itu bersama Lang namun idenya itu malah seperti acara bunuh diri saat melihat ribuan tikus itu melewati sebuah mayat. Dan dalam waktu singkat mayat tersebut hanya tinggal kerangka tulangnya saja.
Tak punya pilihan lain Xin Fai memberi saran agar tempat yang telah mereka lalui diberi tanda dengan cakaran Lang. Namun mereka seperti berlari dalam labirin. Tetap saja mereka tidak menemukan jalan keluar dari hutan tersebut.
Napas Lang mulai berantakan, larinya pun mulai melambat sedangkan lautan tikus terus mengejar mereka.
__ADS_1
Berlari kencang selama beberapa jam tentu berefek pada stamina Lang, serigala itu kadang huyung namun berpikir untuk tetap berlari ketika melihat lautan tikus semakin mendekat.
Xin Fai berpikir keras dalam keadaan panik, jika tikus itu berhasil menangkap mereka hal yang sangat buruk akan terjadi. Dalam waktu semenit saja mereka akan langsung jadi tulang dimakan oleh tikus kelaparan itu.
Kesialan seperti tak pernah bosan mengikuti mereka, membuat Xin Fai mengutuk keras dalam hati. Dia juga kasihan pada Lang, jika mengandalkan kecepatan berlarinya sendiri tentunya Xin Fai akan terkejar dengan cepat.
Sedangkan untuk melawan ribuan tikus tersebut bukanlah hal mudah, saat sedang fokus mencari jalan keluar Lang semakin hilang kendali.
Tubuh Lang huyung dan menabrak pohon di sampingnya, Xin Fai terpental beberapa meter menimbulkan beberapa lecet di tangannya.
"Sial!"
Xin Fai melebarkan matanya saat melihat gunungan tikus itu semakin mendekat, dia merasa kematian semakin dekat kala melihat Lang yang sudah tak sadarkan diri.
"Apa yang harus kulakukan?!"
Bunyi decitan tikus semakin menggema, di saat bersamaan muncul raja tikus dengan ukuran yang sama seperti Lang. Mata tikus itu merah dengan bulu hitam yang jorok, larinya memang jauh lebih lambat dari yang lain namun Xin Fai yakin kekuatannya setidaknya setara dengan Lang.
Xin Fai menahan napas. Dia tidak bisa berpikir lagi, siluman raja tikus itu mengeluarkan suara sangat besar dan seketika tikus-tikus dari seluruh penjuru menuju ke arahnya.
__ADS_1
"Kenapa hari ini begitu sial?!!"