Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 132 - Nona Xiu Menangis


__ADS_3

Xiu Juan menatap lurus ke depan dengan keheningan yang terjadi di tengah arena, lawannya sama sekali tak membuat pergerakan karena merasa was-was padanya. Satu demi satu langkah kaki Xiu Juan menapaki arena pertandingan hingga dia berdiri di satu titik tepat berhadapan dengan Xin Fai.


"Sudah berapa kali kubilang..." Xiu Juan mengangkat kepala tampak geram.


"Aku tidak akan kalah darimu!"


Serentak setelah seruan itu lima buah rantai petir keluar dari balik punggungnya sangat cepat, ribuan pasang mata menatap hal itu sampai tercengang beberapa detik. Xiu Juan bahkan dapat mengeluarkan kekuatan yang mengimbangi kekuatan para Pilar Kekaisaran. Perubahan energi tingkat tinggi seperti ini sangat tidak mudah dilakukan dan hanya bisa dikuasai setelah berlatih selama waktu puluhan tahun. Namun Xiu Juan mengeluarkan jurus tersebut tanpa beban.


Pengecualian dalam menggunakan jurus terlarang, siapapun dapat melakukannya jika bersedia mengorbankan sesuatu saat menggunakan jurus tersebut.


"Apa yang dilakukannya?! Dia sudah gila?!" Tetua dari Lembah Kabut Putih berdiri tegak dari kursinya, urat di dahinya menonjol dengan muka padam.


"Tenanglah Tetua..." Salah seorang yang berasal dari sekte besar lainnya menenangkan.


"Bagaimana aku bisa tenang ketika anak itu menggunakan jurus terlarang milik ibunya! Ini sama sekali tidak bisa dibiarkan!"


Tetua Lembah Kabut Putih hendak menaiki panggung arena namun Yang Guifei menahan laju langkahnya.


"Selagi pertarungan berlangsung adil tidak ada alasan untuk menghentikannya. Kuharap Anda mengerti maksudku ini dan tidak mengambil hati."


Tetua itu tentu tak bisa diam saja, dia hendak maju lagi namun Yang Guifei menghalangi jalannya.


"Jika dia memakainya terus menerus umurnya akan semakin pendek! Jurus itu akan menyerap energi kehidupannya secara berkala dan kau tidak berniat menegurnya?" Meskipun bisa mengendalikan diri namun Tetua Lembah Kabut Putih tidak bisa menenangkan dirinya sendiri.


Yang Guifei menolehkan pandangan ke belakang dan mendapati Xiu Juan yang sudah bersiap dengan rantai petir, di hadapannya Xin Fai mengeluarkan ratusan pisau cahaya dan bersiap untuk pertarungan selanjutnya.


"Kurasa pertarungan ini berjalan adil. Perihal masalah itu, semuanya adalah pilihan Xiu Juan. Jika ini keputusannya kita tidak boleh mengganggu gugat."


Tetua Lembah Kabut Putih mundur begitu saja setelah mendecak kesal, dia kembali ke bangku dengan perasaan gelisah.

__ADS_1


Lima rantai petir milik Xiu Juan bergerak seolah memiliki akal, saat hampir saja bertabrakan dengan salah satu rantai Xin Fai meloncat dan mendapati lantai arena rusak akibat tusukan mata rantai tersebut.


Tiba-tiba saja hal yang tak diduga terjadi, ketika Xin Fai masih meloncat di udara salah satu rantai mengejarnya. Dia mengayunkan pedang hingga mengenai rantai itu tetapi yang berikutnya terjadi adalah empat rantai lain menyerbunya secara bersamaan.


'Gawat!' batin Xin Fai panik, dia sama sekali tidak memiliki pijakan untuk menghindar.


"Kitab Tujuh Kunci - Jurus Seribu Roh!"


Angin kencang datang memotong rantai tersebut, sebuah kepulan asap berbentuk layaknya lingkaran penuh bertahan di udara selama beberapa detik hingga semua mata tak berani berkedip dibuatnya.


Penonton seperti tersihir melihat pertarungan kedua peserta tangguh ini, Yong Tao tidak mau lagi membandingkan kekuatan mereka dengan para generasinya dulu. Tentu saja kekuatan mereka jauh berbeda dan ini akan menjadi sejarah dalam kemajuan dunia persilatan di Kekaisaran Shang.


"Jurus-jurus yang dipakainya selama ini... Bukankah itu semua berasal dari Kekaisaran Qing?"


"Kurasa dia pendekar dari Kekaisaran itu, pantas saja kekuatannya sangat mengerikan."


"Tapi aku yakin dia bukan berasal dari sana, aku bisa menjaminnya seratus persen!"


Diskusi penonton terdengar samar-samar, Xin Fai mendarat mulus dengan tangannya yang mulai bercucuran darah. Di satu sisi satu rantai Xiu Juan telah hancur akibat serangannya tadi.


"Mengorbankan usia hidupmu demi menjadi Pilar Kekaisaran? Bukankah itu sia-sia?"


Xiu Juan menggertak membuat rantai miliknya bergerak kian liar. "Kau tidak tahu apa-apa tentang aku!"


"Aku tidak peduli. Tapi mengorbankan energi kehidupan demi pertarungan seperti ini agaknya–"


"Berhenti mengguruiku! Aku berlatih siang malam tanpa henti demi pertandingan ini! Aku... Aku harus menepati janjiku pada Ibu!"


Xin Fai merasa kasihan ketika melihat energi kehidupan Xiu Juan terserap sangat banyak sewaktu satu rantai yang telah hancur kembali ke bentuk semula. Berkat tanda bunga api di keningnya, Xin Fai dapat melihat aliran energi itu sangat jelas.

__ADS_1


"Setiap satu rantai yang rusak akan mengurangi umurmu satu tahun. Apa itu benar?"


Xiu Juan tak menjawab, dia kembali bersiap-siap bertempur melawan Xin Fai.


Xin Fai mendecak kecil. "Aku tidak akan mengasihanimu, karena aku juga harus menepati janjiku pada Ayah!" seru Xin Fai berlari menggunakan Langkah Kilat.


"Kitab Tujuh Kunci - Seribu Pedang Purnama!"


"Rantai Penghancur Kabut!"


Dua jurus saling bertemu menciptakan loncatan energi yang sangat dahsyat, cahaya silau membuat para penonton menutup mata diakibatkan rantai petir milik Xiu Juan layaknya kilat yang sedang menyambar bumi.


Lingkaran pertarungan terbentuk, dalam kurun waktu kurang dari semenit ratusan ayunan pedang melukai Xiu Juan dan disaat bersamaan pula rantai miliknya menusuk tubuh Xin Fai dari berbagai arah.


Jurus Seribu Pedang Purnama sangatlah berbahaya, rantai Xiu Juan bahkan sama sekali tidak berkutik untuk untuk melindunginya, terlebih lagi kini menyerang Xin Fai balik merupakan suatu kemustahilan mengingat keadaan telah berbalik dengan mudahnya.


Pertarungan sengit tersebut menyebabkan dua peserta tersebut tiba di penghujung garis arena. Keadaan Xiu Juan sangatlah buruk, sekujur tubuhnya mengalami pendarahan akibat sayatan pedang dan lukanya sendiri jauh lebih parah daripada Xin Fai yang mengalami tiga bekas tusukan dari mata rantai.


Tiga rantai milik Xiu Juan telah hancur berkeping-keping dan berubah menjadi cahaya, gadis itu tidak berniat lagi menciptakan rantai petir lain karena kondisi tubuhnya sangat memprihatikan.


Xiu Juan menatap Xin Fai dengan bola mata basah, dia tidak bisa menerima kekalahan dan ingin terus bertempur sampai nyawanya habis sekalipun, namun tubuhnya menolak, luka fatal yang dia alami sudah begitu banyak.


"Dulu aku tidak pernah mengorbankan nyawa untuk menyelamatkan apa yang kumiliki, hingga akhirnya sesuatu yang berharga telah direnggut dariku, dan aku hanya bisa menyesalinya."


Xin Fai diam mendengarkan, dia merasa cerita itu sama seperti yang dialaminya dulu.


Sejenak Xiu Juan mengingat kembali masa lalunya ketika para pendekar aliran hitam datang. Mereka merampok seluruh hartanya.


Xiu Juan yang masih kecil tidak tahu apa-apa, dia ketakutan dan bersembunyi di dalam lemari kecil sedang Ibunya mencoba menghalangi para pendekar agar tidak mengambil barang berharga milik keluarganya. Kepala ibu Xiu Juan terpotong begitu saja di malam mencekam itu.

__ADS_1


Kematian ibunya menjadi luka mendalam di hati Xiu Juan, satu janji yang sempat diucapkannya dulu, suatu saat nanti dirinya akan menjadi Pilar Kekaisaran.


Xiu Juan menangis sembari menundukkan kepalanya membuat Xin Fai lagi-lagi ditatap tajam oleh penonton. Kini setelah Ren Yuan, dia telah membuat satu gadis lagi menangis.


__ADS_2