
Setelah menunggu lama namun tidak mendapatkan jawaban akhirnya Lan An mulai tidak enak hati, ia tersadar sudah menganggu privasi Xin Fai terlalu jauh. Dia menyadari kesalahannya dan berniat meminta maaf.
"Aku terlalu mengusikmu adik kecil. Maafkan aku." Lan An bangkit dari duduknya lalu menghampiri tubuh siluman kepiting, ia mengambil permata siluman tersebut lalu memberikannya kepada Xin Fai.
"Ini berguna untuk meningkatkan lingkaran tenaga dalammu."
"Tapi–"
"Tidak, kau yang membunuhnya tadi. Aku hanya memberi sedikit pemanasan di awal." Sambil berkata demikian Lan An tertawa riang dengan menatap langit. Hari mulai cerah, matahari sudah terbit dari persinggahannya.
Xin Fai menguji permata hijau lumut tersebut, dia berharap permata itu adalah satu dari 33 permata yang dicarinya dan benar saja saat meletakkannya di punggung seketika permata itu hilang. Terasa sensasi yang berbeda selama beberapa detik seperti biasanya.
Dengan begini, dia hanya perlu mengumpulkan 30 permata lainnya.
"Ah...? Apa yang terjadi dengan permata itu? Seketika hilang..." Lan An dibuat aneh. Dia sempat mengira itu sihir.
"Jika nanti kita bertemu lagi, aku pasti akan memberitahumu. Untuk saat ini aku harus memiliki kekuatan untuk melindungi diriku sendiri."
Xin Fai menjelaskan dengan tenang, tentu dia tidak mau hal ini diketahui oleh orang terlalu awal. Jika nanti ada yang menyerangnya, dengan kekuatannya sekarang Xin Fai belum tentu bisa mempertahankan diri apalagi nyawanya sendiri. Di sisi lain Lan An dibuat mengernyit oleh perkataan adik kecilnya itu.
"Memangnya kau akan pergi ke mana? Bukankah kota ini sudah aman bagimu untuk tinggal di sini? Tidak akan terjadi pembantaian seperti di desamu sebelumnya. Percayalah."
Xin Fai menggaruk tengkuknya sambil menjelaskan. "Aku harus pergi untuk berguru ke Kuil Teratai di Kota Zhu."
"Bukankah itu artinya kita akan berpisah?" Mata Lan An mulai berkaca-kaca, "ah tidak, aku tidak mau berpisah denganmu adik kecilku!" teriak Lan An tak rela. Ia memeluk Xin Fai erat seolah akan kehilangannya.
"Aku harus pergi cepat atau lambat... Maafkan aku."
Mencoba menerima kenyataan adalah hal yang paling dibenci Lan An, ia sudah menganggap Xin Fai sebagai adiknya sendiri. Namun bagaimanapun dia menahan Xin Fai, adik kecilnya itu harus tetap pergi. Dia sama sekali tidak punya daya untuk menahannya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan pulang Lan An jadi lebih murung, ia tampak tak semangat seperti biasanya dan Xin Fai menyadari hal itu. "Tidak perlu bersedih, aku berjanji akan menemuimu nanti."
Meski tidak bisa meredakan rasa sedih Lan An namun dia tetap menyahut. "Iya. Kuharap kau menepati janjimu, adik kecilku."
Matahari merangkak naik ke atas kepala, latihan kembali dimulai di tempat yang sama. Tanpa basa-basi latihan pun dimulai dan seperti biasa Lan An bisa memukul mundur Xin Fai dengan mudah.
Xin Fai mencoba mengingat pola gerakan Lan An dan mulai berhasil membacanya.
Kayu yang digunakan Lan An terlempar jauh ketika adik kecilnya itu melepaskan satu serangan telak.
Senyum Lan An melebar hangat, ia bertolak pinggang seperti biasanya. "Kau sudah berkembang. Yah, kita akan bertanding sampai malam, adik kecil," ujarnya sambil memungut kayunya yang terjatuh.
Mereka berlatih dari pagi sampai siang dan berlanjut hingga sore. Hanya ada sedikit istirahat itupun dilakukan sambil memberikan arahan pada Xin Fai.
Xin Fai yang kini napasnya terputus-putus hanya bisa memejamkan mata kelelahan. Dia kembali menyerang tanpa menurunkan konsentrasi. Sejak berlatih dengan Lan An dirinya sudah biasa untuk berkonsentrasi di setiap detik dengan atau tanpa disadari.
Setelah bertukar serangan beberapa saat akhirnya retakan di kayu Xin Fai mulai bersuara, dengan serangan Lan An kayu itu akhirnya terbelah dua.
"Di ambang batas... Aku harus melampauinya..." Xin Fai mulai kehilangan keseimbangan. Dengan kayu setengah lebih pendek daripada Lan An dia maju menyerang sambil meniru seluruh gerakan Lan An yang berhasil diingatnya.
"Gerakan ini--!?"
"Hahaha, bukankah tidak ada larangan untuk meniru gerakan lawan?" Xin Fai tertawa kecil, dia sedikit menikmati rasa terkejut Lan An.
"Adik kecil yang pintar, tapi itu saja belum bisa mengalahkanku!" ledek Lan An meningkatkan kecepatan serangnya hingga susah diikuti mata Xin Fai.
"Hah... Hah..."
"Apa kita istirahat dulu?" Lan An mundur beberapa langkah saat menyadari keseimbangan Xin Fai mulai goyah.
__ADS_1
"Tidak. Aku harus melampaui batas untuk jadi lebih kuat..."
"Baiklah!" Lan An maju dengan cepat menyambut serangan Xin Fai, pertarungan mulai seimbang. Hal itu tentu membuat Lan An bangga bisa melihat perkembangan adik kecilnya itu.
Hingga di serangan terakhir, Xin Fai yang sudah terlalu lelah akhirnya jatuh tertelungkup.
"Adik kecil! Kau tidak apa-apa?!"
"Aku baik-baik saja..." Xin Fai mengangkat jempol lalu jatuh pingsan.
"Dasar anak bodoh!" Suara di kepala Xin Fai menggema, suara seekor serigala yang daritadi sabar hanya bisa melihat pertarungan itu.
Meskipun tak berhasil mengalahkan Lan An namun setidaknya Xin Fai masih memiliki kesempatan hingga esok hari. Dia bertekad mendapatkan Kitab Tujuh Kunci tersebut, jika melihat ilmu tingkat tinggi yang Lan An gunakan sudah pasti itu semua berasal dari kitab tersebut.
Xin Fai terbangun saat Lan An berusaha membangunkannya, dia melihat langit-langit rumah yang nampak asing.
"Kau ada di rumahku, jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri."
"Tapi, aku harus kembali ke penginapan."
"Apakah seharus itu?" Lan An sedikit tidak setuju mengingat hari sudah larut ketika Xin Fai sadar.
"Ada yang harus kubicarakan dengan Paman Gui." Jelas Xin Fai berusaha meyakinkan Lan An, meskipun dengan berat hati akhirnya ia diizinkan pamit. Tentu dengan pesan hati-hati selama di jalan. Banyak orang jahat yang berkeliaran bebas ketika malam tiba.
Saat perjalanannya baru beberapa meter Xin Fai dibuat berhenti oleh dua orang dengan gerak gerik mencurigakan. Mereka sedang berjaga di depan sebuah rumah. Setelah agak lama menunggu aksi mereka selanjutnya, Xin Fai mulai merasa bosan ketika melihat mereka hanya berdiri di sana. Dirinya mulai sadar mungkin itu hanyalah pengawal pribadi yang disewa untuk pengamanan.
Namun tanpa disadari, ketika dia berbalik badan di dalam rumah tersebut telah terjadi pembantaian.
***
__ADS_1
Tujuh update di tanggal 7, ehhee capek juga rupanya