Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 273 - Ren Ning


__ADS_3

Dia tak sabar lagi melihat Lan An terus menengadah ke atas tanpa dapat mengingat apapun. Ketika Lan An baru saja membuka mulutnya, tiba-tiba Yong Tao datang.


"Sedang apa kalian di sini? Bukannya sudah diperintahkan naik ke atas memberi penyambutan? Sebentar lagi pengangkatan Pilar Kekaisaran akan dilakukan di hadapan puluhan ribu pendekar. Apalagi kau Lan An, cepat naik ke atas bersama Xin Fai dan Xiu Juan. Kita tidak memiliki waktu lagi!"


Ocehan yang sangat panjang tersebut ditanggapi Lan An dengan wajah cemberut, dia menggumam iya sebelum pergi bersama Yong Tao ke benteng atas untuk bergabung dengan Xin Fai, Xiu Juan dan beberapa Pilar Kekaisaran.


Upacara peresmian Pilar Kekaisaran berlangsung meriah, genderang bertabuh keras meramaikan suasana. Beberapa penduduk lokal menonton di kejauhan tak kalah antusiasnya. Hiasan-hiasan di sepanjang jalan Lembah Kabut Putih menyemarakkan suasana, sepanjang jalan menjadi sangat padat.


Yong Tao berdiri tegap turut merasakan suka cita. Dengan begini posisinya sebagai Pilar Kekaisaran berganti ke urutan ke empat, dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu karena sudah selayaknya yang muda turun tangan sendiri. Lelaki itu menggulirkan pandangan ke seberang, melihat ratusan murid sekte Lembah Kabut Putih berkumpul turut memenuhi jalan yang berhadapan langsung dengan benteng tinggi tempat mereka berdiri.


"Dengan begini secara resmi kau telah dianggap menanggung semua permasalahan di Kekaisaran kita, jangan pernah lupakan tanggung jawab ini. Kedamaian berada di tangan kalian bertiga."


Lan An, Xin Fai dan Xiu Juan mengangguk patuh, mendengar nasehat demi nasehat yang dituturkan para Pilar Kekaisaran senior mereka serta himbauan dan arahan yang sekiranya berguna di masa depan. Usai peresmian Pilar Kekaisaran yang berlangsung cukup lama akhirnya pesta besar dirayakan.


Tak terbayangkan seramai apa Lembah Kabut Putih di hari peresmian Pilar Kekaisaran hari ini, meski hanya melihat sebagian Xin Fai cukup senang akan antusiasme orang-orang. Dia merasa kepercayaan mereka saja sudah cukup membuatnya bahagia. Selebihnya dia langsung mengatakan akan beranjak pamit pada Qin Minjie.


Yong Tao berdiri dari kursi duduknya saat mendengar Xin Fai harus pergi lagi untuk yang kesekian kalinya. Entah mengapa pemuda itu benar-benar tidak bisa berdiam lama di satu tempat tanpa melakukan apapun.


Delapan tahun berada dalam ombang-ambing antara hidup dan mati seharusnya membuat dia kelelahan, paling tidak satu bulan ini dia harus mengistirahatkan tubuh. Namun Xin Fai memilih pergi, dia memberikan hormat sebentar sebelum benar-benar melangkah kakinya pergi


"Tu-tunggu!"


Suara sosok gadis terdengar dari arah belakang, napasnya memburu saat berhasil meraih lengan Xin Fai. Ren Yuan menautkan kedua alisnya, sedikit terdengar memaksa.


"Aku ingin ikut denganmu!"

__ADS_1


"Jangan, ini terlalu berbahaya."


"Berbahaya?!" Yong Tao berseru panik, lantas Xin Fai menutup mulutnya cepat-cepat. Entah mengapa pikirannya menjadi kacau, dia pun tidak bisa mengerti. Apalagi kini Ren Yuan tak kunjung melepaskan tangannya.


"Senior Yong, dengar penjelasanku dulu."


"Kau tidak boleh pergi. Kalau kau mengalami hal buruk nanti semua rencana yang telah dipersiapkan harus dimulai dari awal lagi." Yong Tao mendekatkan tubuhnya. "Jangan melakukan hal yang tidak-tidak."


Ren Yuan dapat melihat raut wajah Xin Fai mulai memburuk, dia yakin ini merupakan hal yang penting baginya. Tapi Ren Yuan sendiri tak bisa membiarkan pemuda itu pergi sendirian apalagi saat dia mengatakan itu adalah hal yang berbahaya.


Qin Minjie jalan perlahan untuk mendamaikan kedua belah pihak. "Xin Fai bisa kau katakan lebih rinci lagi siapa yang akan kau temui?"


"Aku benar-benar tidak bisa mengatakannya, apalagi di tempat ramai seperti ini."


"Senior Yong, untuk yang terakhir kalinya tolong ijinkan aku pergi. Aku tidak akan meminta apapun lagi setelah ini, lagipula sebelumnya aku bisa menepati janjiku, bukan?"


"Tidak bisa, Xin Fai." Yong Tao bersikeras dan tetap pada pilihannya. Dia tidak akan membiarkan Xin Fai pergi ke manapun. Terakhir kali pemuda itu meminta izinnya untuk menjelajahi Kekaisaran Qing, kali ini entah bahaya apa lagi yang sedang dicarinya.


"Sepertinya aku ketinggalan berita..."


Terdengar derap kaki yang cukup berat melangkah, dari anak tangga terlihat seorang pria dengan baju mewah tengah datang ditemani oleh istri dan para pelayannya. Dia adalah kepala keluarga bangsawan besar Ren yang diundang hari ini. Akibat ramainya Lembah Kabut Putih ini terpaksa dia datang terlambat, bahkan setelah upacara selesai dilaksanakan.


"Kau akan pergi ke mana seperti terburu-buru begitu?" Tanya Ren Ning pada Xin Fai, belum sempat menjawab laki-laki itu kembali berucap. "Bahkan kau belum sempat berkenalan denganku, sudah ingin pergi saja dari sini?"


"Ma-maafkan aku..."

__ADS_1


Ren Ning menurunkan pandangannya ke tangan Ren Yuan yang tengah mencengkram kuat lengan Xin Fai, benar-benar pemandangan yang membuat dadanya terasa berbunga-bunga. Istrinya pun demikian bahkan jauh lebih bahagia dari suaminya itu.


"Yuan'er, mungkin ayah bisa membantumu sedikit. Bisa ceritakan apa yang terjadi di sini?"


Ren Yuan mau tak mau segera menjelaskan soal kepergian Xin Fai yang dihalangi Yong Tao, dia menambahkan dirinya pun akan ikut dengan pemuda itu.


Merasa kesempatan ini terlalu bagus untuk dilewatkan Ren Ning mulai mendekati Yong Tao, berbicara sangat lembut padanya. "Yong Tao... Apa kau tidak mau membiarkan putriku bahagia?"  bisingnya di telinga lelaki itu. Yong Tao menjadi serba salah, di satu sisi dia tidak ingin membiarkan Xin Fai pergi begitu saja di sisi lain diapun tak ingin Ren Ning kecewa terhadapnya.


"Jika kau mengkhawatirkan Xin Fai kurasa itu terlalu berlebihan, kemampuannya sudah mencapai pendekar agung tahap terakhir ditambah lagi dua pedang legendaris berada di tangannya. Apa kau melupakan itu? Atau kau masih menganggapnya anak kecil?"


Ren Ning tersenyum sekilas, kalau dalam hal berpendapat dia memang juara satu.


Yong Tao menarik napasnya berat kemudian membuangnya perlahan, dia terlihat pasrah akan keadaan. Sedangkan Qin Minjie tampaknya tak berkeberatan membiarkan pemuda itu mengurus masalahnya sendiri.


Hanya Yong Tao yang sangat khawatir, lelaki itu menjadi kaku sendiri. Dia mengangguk pelan membuat senyum melebar di kedua sudut Ren Ning.


"Putriku, sisanya kuserahkan padamu..."


Wajah gadis itu bersemu merah hampir menyerupai tomat. "Ayah, hentikan itu."


"Tidak usah menggodanya lagi, dia sudah dewasa sayang." Istri Ren Ning menengahi. Dia mengumbar senyuman sedikit pada Xin Fai.


"Tolong jaga putriku, ya."


'Aku bahkan belum bilang akan menyetujuinya pergi bersamaku atau tidak...' batin Xin Fai dalam hati, hanya bisa mendengus sambil mengangguk kecil. Berharap Ren Yuan takkan menyusahkannya nanti.

__ADS_1


__ADS_2