
Lang baru saja mendapatkan buruannya setelah beberapa jam memutari hutan, rata-rata tempat ini hanya dikelilingi oleh serigala buas. Hewan seperti kelinci, ayam hutan ataupun kambing hutan sangat jarang ditemukan.
Seekor rusa yang telah mati Lang bawa kembali ke tempatnya semula, dia masih mengingat jelas di mana Xin Fai latihan.
Seketika terdengar suara teriakan Xin Fai yang begitu keras, Lang berlari secepat mungkin karena takut hal buruk sedang terjadi.
Tetapi di luar dugaannya, saat sampai di sana Lang dikejutkan oleh pemandangan yang tidak biasa.
Sebuah kepulan asap mengepul dari pedang milik Xin Fai yang sedang menerobos batu di depannya. Tak lama terdengar bunyi retakan yang sangat keras, perlahan-lahan pecahan batu jatuh dan terpecah di atas tanah.
Batu itu telah berhasil Xin Fai taklukan.
Xin Fai mengepalkan tangan begitu erat di udara, cengiran khasnya melebar dengan sangat bahagia. Dia menyadari Lang sedang menonton di sana dan langsung mengacungkan jempolnya.
"Aku berhasil, Lang! Hahahaha!" tawa Xin Fai sembari bertolak pinggang, dia menjatuhkan pedang ke sampingnya saat tenaga dalamnya habis total.
Brukh!
Xin Fai tergeletak jatuh di tanah, dia pingsan setelah tertawa lebar membuat Lang mengumpati anak itu lagi dan lagi.
"Dasar anak bodoh!"
Lang hanya mendengus berat seperti biasa, malam tiba lebih awal dari biasanya disebabkan oleh awan mendung yang sejak tadi mengepung langit. Angin bertiup kencang menggoyangkan pepohonan di sekitarnya.
Saat menatapi wajah kelelahan Xin Fai, ketika itu juga Lang menyadari bahwa Xin Fai memang seorang yang pantang menyerah.
Dia tak pernah mengeluh saat perutnya kelaparan, atau mengerang ketika luka merobek kulitnya. Entah sejak kapan Lang mulai mengagumi majikannya.
__ADS_1
Dengan mengeluarkan cahaya emas dari ekornya Lang mengangkat tubuh Xin Fai ke punggungnya. Dia akan mencari tempat berteduh sebelum hujan deras turun.
Setibanya di sebuah goa hujan sudah turun dengan lebatnya, namun dengan kekuatan Lang rintik air tak bisa menyentuh tubuhnya maupun Xin Fai. Lang memasuki goa secara hati-hati dan membaringkan tubuh Xin Fai di sana.
Selagi Xin Fai masih tak sadarkan diri Lang memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan keselamatan anak itu. Dia mengendus udara sekitarnya dan tiba-tiba menunduk dengan mata waspada.
"Grrrhhh...."
"Ah, ternyata ada juga yang ikut berteduh di sini?"
Seorang pemuda dengan jubah biru laut keluar dari dalam goa, senyumnya nampak sangat ramah. Dia memerhatikan Lang sebentar lalu menoleh ke bawah melihat ada seorang anak berusia 10 atau 11 tahun tergeletak di depannya.
Terjadi keheningan yang cukup lama di antara Lang dan pria tersebut, sebelum akhirnya salah satu dari mereka mulai bersuara.
"Perkenalkan, namaku Li Yong. Seorang Pendeta dari Kuil Teratai."
Mendengar Kuil Teratai Lang teringat tujuannya dengan Xin Fai memang ke sekte itu, Lang duduk setelahnya kemudian menoleh ke Xin Fai.
"Maksudmu ke sekte ku?" Li Yong menaikturunkan alisnya, dia tak merasa orang seperti mereka memiliki urusan dengan sektenya. Daripada menunggu Xin Fai bangun, Lang memilih untuk menceritakan asal usul anak itu pada Li Yong.
Setelah mendengarkan penjelasan Lang, Li Yong membuka mulutnya tak percaya. Tatapannya sungguh berbeda pada Xin Fai, menjadi sedikit takut.
"Apa kau yakin anak ini sama sekali tak berbahaya?" Li Yong curiga.
"Justru dia telah menyelamatkan banyak nyawa sebelum sampai ke sini, dia menyelamatkan orang-orang dari pembantaian maupun kelaparan. Apa dengan begitu aku masih harus mengatakannya berbahaya?"
Bukan tanpa alasan Li Yong mencemaskan hal tersebut, mengingat pemilik tubuh Manusia Iblis memiliki sifat yang haus darah.
__ADS_1
Li Yong bingung dengan situasi yang sedang dihadapinya, dia mengatakan bahwa sejujurnya dia pernah mendengar kisah tentang pemilik tubuh Manusia Iblis ini dari gurunya.
"Gurumu?"
"Ya, guruku. Tao Wei, kau pasti sudah pernah mendengar namanya."
"Aku tidak peduli," tanggap Lang enteng. Li Yong hampir saja terbatuk-batuk mendengar kata-kata pedas itu. Dia mengulas senyum agar terlihat tenang.
"Baiklah, sebaiknya kita menunggu anak ini bangun dulu, baru bisa bicara lebih jelas."
Selagi menunggu Xin Fai bangun, Li Yong menceritakan bahwa dirinya dipanggil oleh Walikota Majia karena kemunculan siluman iblis di kotanya. Akibat kemunculan iblis tersebut sudah banyak korban pertumpahan darah yang meninggal, termasuk para pejuang dan orang-orang biasa.
Cukup lama mendekam di tempat duduknya sampai berjam-jam membuat Li Yong khawatir, entah kenapa Xin Fai tak kunjung bangun. Sedangkan malam mulai larut lagi, Lang yang mengerti wajah Li Yong tersebut akhirnya menjelaskan.
"Dia melakukan latihan berat sepanjang hari untuk menjadi kuat demi membalaskan dendam atas kematian keluarganya."
Li Yong mendekati Xin Fai lalu menempelkan telunjuk di keningnya. "Dendam atas kematian keluarganya akan membuat Iblis Hati di dalam tubuhnya semakin kuat. Jika dibiarkan bisa sangat berbahaya."
"Kita harus bergegas ke Kuil Teratai setelah aku menyelesaikan siluman Iblis di kota ini. Kurasa kita bisa pergi bersamaan ke sana."
Tidak memikirkan lebih jauh Lang segera menyetujuinya, dia menggulung di dinding goa lalu tertidur pulas.
Li Yong masih tak bisa tertidur, sebenarnya dia sungguh terkejut atas penjelasan Lang tadi. Manusia Iblis telah terlahir kembali ke muka bumi ini, dia yakin yang bisa menyelamatkan kondisi anak ini hanya Guru Besar Tao Wei dan orang-orang hebat lainnya di Kuil Teratai.
Lagipula mendengar Xin Fai dengan sengaja mendatangi Kuil Teratai membuatnya yakin anak itu tak berbahaya. Sesaat matanya menatap Xin Fai kasihan, jika seandainya dia yang berada di posisinya mungkin Li Yong memilih untuk mengakhiri hidupnya.
Li Yong memegang sebuah tanda bakar di dada Xin Fai, bekas itu semakin lama semakin membentuk tubuh iblis. Dengan menggunakan sedikit ilmu dari Perguruannya Li Yong setidaknya berhasil menghentikan pertumbuhan iblis itu sementara.
__ADS_1
"Kuharap kau akan baik-baik saja setelah ini." Nada bicaranya sedih, Li Yong tak berbicara lagi setelah itu.
***