
"Ti-tidak mungkin..." Pedang dalam genggamannya jatuh, Zhu Yue menggeleng pelan hampir tidak percaya melihat desanya kini telah menjadi lautan api. Atap perumahan habis dimakan api besar, rakyat-rakyat berlari saling menabrak demi bisa menghindari kayu rumah yang patah di atas jalan.
"Tunggu apalagi! Cepat bantu mereka!"
Aliansi segera bergerak menerabas padang rumput di depan mereka, mencapai Desa Daan yang kini dalam keadaan terpuruk. Ratusan pejuang mati dibakar di alun-alun desa, sedang beberapa lainnya kehilangan lengan dan betis agar tak bisa melakukan perlawanan.
"Orang-orang keji ini..." Xin Fai mengeratkan kepalan tangan memelototi ke arah depan, di sana musuh tengah berjalan menuju dirinya dengan gaya menantang.
"Sialan kalian semua!" teriakan Zhu Yue menggema di seberang sana, emosinya semakin tak terkendali kala tiba di depan gerbang desa. Pria itu memainkan pedang dengan sembrono membuat banyak celah terlihat darinya. Dengan mudah musuh mengepung lelaki itu sampai dia tidak bisa melakukan perlawanan lagi, kemudian mengikatnya dan membawanya pergi dari medan tempur.
"Zhu Yue!" Xin Fai berteriak lantang, dia berniat menyusul namun musuh-musuh di depannya lebih mendesak. Sadar tidak bisa melepaskan diri untuk bisa menyusul Zhu Yue, dia mulai mengayunkan pedang cepat meladeni musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak. Mereka terus berdatangan seperti tidak ada habisnya. Meski bisa menghadapi mereka semua tetapi dengan jumlah sebanyak ini dirinya hanya seperti membuang waktu saja.
Puluhan rumah terbakar habis sedang yang lainnya berusaha dipadamkan oleh Aliansi Pedang Suci. Sebagian anggota membantu mengevakuasi rakyat yang terluka dan membawanya ke tempat paling aman sedang lainnya memukul mundur musuh.
Melihat datangnya bala bantuan musuh segera melarikan diri, tidak ada satupun dari mereka yang tertinggal di desa.
Xin Fai memutar tubuhnya ke seluruh penjuru mencari keberadaan Zhu Yue tetapi pria itu tetap tidak terlihat, dia melompat ke atas atap rumah warga untuk bisa melihat dengan jelas. Sesaat dia memicingkan mata ke arah pegunungan, di dekat sana Zhu Yue diikat oleh musuh. Tak membuang waktu Xin Fai segera berlari ke sana menggunakan langkah kilatnya.
Sebuah kayu dipancang di atas tanah dengan Zhu Yue yang terikat di sana, lelaki itu berusaha melepaskan diri dengan tatapan membunuh terus tertuju pada pria di hadapan. Pria itu meludah, persis seperti mengejek.
"Setelah sekian lama akhirnya kau kembali... Bagaimana dengan kehidupan di kota? Bukankah itu menyenangkan?"
"..." Mulutnya terbungkam geram, Zhu Yue menggerak-gerakkan tangan mencoba melepaskan kain hitam yang mengikatnya.
"Kau terlalu terbawa dengan kehidupan kota sampai lupa dengan keselamatan adikmu sendiri, hahaha. Dan lihat, saat kau pergi seluruh desamu dalam bahaya, Pejuang Zhu."
"Rekan-rekan Pejuang lainnya pasti akan membunuhmu setelah ini! Mu Rou, dia temanku! Dia berjanji akan melindungi desa ini!"
"Mu Rou?" Pria itu tertawa mengejek, dia menggerakkan tangan memerintahkan anak buahnya. Sesaat salah satu pengawal datang membawa sebuah benda dalam kain putih berdarah.
__ADS_1
"Maksudmu dia?"
Zhu Yue melebarkan mata kuat-kuat melihat apa yang berada di balik kain tersebut, itu adalah kepala teman Pejuangnya. Mu Rou, dia berjanji akan melindungi Zhu Ye dan neneknya selama dirinya pergi ke kota.
"Sialan! Di mana adikku!? Di mana dia?!"
Tawaan panjang terdengar cukup lama dan sangat membuat Zhu Yue panik bukan main, sudah tidak sabar menunggu akhirnya dia berseru kencang. "Kau-! Apa salahku sampai kau melakukan ini semua?!"
"Kau lupa? Dulu saat berada di masa jayamu, kau telah membunuh lima puluh temanku sekaligus."
"Itu karena kalian melewati batas desa kami dengan sangat mencurigakan!"
"Padahal waktu itu aku hanya sekedar bermain-main dan tak kusangka pasukan yang kubawa harus mati di tanganmu, sekarang rasakanlah apa yang pernah kualami."
Pria itu sedikit melanjutkan. "Dan kau juga harus mati."
Zhu Yue merapatkan punggung pada tiang di belakangnya, pedang Manusia Darah Iblis melintang siap menembus kulit lehernya dalam beberapa detik lagi.
'Ketua Xin, kenapa dia tidak bersembunyi saja. Kalau begini musuh akan mengincarnya juga.' batin Zhu Yue khawatir.
Komandan pasukan berbalik badan sembari menarik pedangnya dari leher Zhu Yue, dia menoleh penasaran saat derap kaki terasa mendekat ke arah mereka.
"Siapa kau?"
"Aku, bawahan Ketua Zhu." Xin Fai menjawab asal membuat Zhu Yue tertegun. Kebohongan ini membuatnya kebingungan akan maksud Xin Fai.
"Nah? Kau bawahannya?" Komandan makin tertawa kencang. "Keledai bodoh! Kalau dia yang atasanmu saja tidak sanggup menghadapi ku, betapa beraninya kau datang ke tempat ini!"
"Aku diajarkan untuk tidak meninggalkan rekanku dalam pertarungan."
__ADS_1
"Hahaha omong kosong!" Pria itu meludah, hampir mengenai wajahnya. Postur tubuhnya yang besar menjadi sangat tinggi ketika berhadapan dengan Xin Fai.
Komandan itu berkata. "Kau masih terlalu muda, tidak baik menyia-nyiakan hidupmu demi orang sepertinya."
"Dan lagipula kau datang tanpa membawa pedang? Apa kau berniat mengganti nyawamu dengan nyawa Zhu Yue?"
Tidak mendengar jawaban komandan Manusia Darah Iblis berasumsi bahwa Xin Fai terlalu takut berbicara dan memilih diam saja. Pria itu tiba-tiba menyerahkan pedangnya tentu bersama senyum licik yang mengembang.
"Kau bisa pergi hidup-hidup dari sini dengan membunuh nyawa atasanmu. Bagaimana? Keputusan yang bagus bukan?"
Zhu Yue menghadapkan arah pandangan pada Xin Fai panik, situasi menjadi lebih rumit dari apa yang dia bayangkan. Jika seperti ini terus maka nyawa salah satu di antara mereka harus melayang.
"Hm? Kau ketakutan?"
"Tuan, aku datang ke sini bukan untuk membunuh."
"Ah iya-iya, kau datang di sini untuk dibunuh, bukan?"
Kali ini Xin Fai terdiam lagi membuat musuhnya semakin berkuasa, dia meminum arak di kendi dalam satu tegukan. Lalu memberikan pedangnya untuk yang kedua kali.
"Ini kesempatan terakhirmu. Bunuh dia, dan kau bisa selamat. Atau jika tidak kalian berdua yang aku lenyapkan."
"Baiklah jika kau menyuruhku membunuh, jangan menarik kata-katamu itu lagi setelah ini."
Komandan itu melunturkan senyumnya merasa kalimat tadi terasa berbahaya.
Xin Fai mengayunkan pedangnya ke arah Zhu Yue cepat hingga tak bisa dilihat dengan jelas. Pedang tersebut bergerak tajam memutuskan tali yang mengikat tangan Zhu Yue, pria itu terbebas dari ikatan talinya dan segera menarik pedang bersama aura bertarung.
"Sial! Kau-!?" Pria itu mendecih sebal, namun masih terlihat ekspresi sombong di mukanya. "Kau pikir si Zhu Yue itu mampu melawanku?"
__ADS_1
"Bukan Zhu Yue, tapi aku sendiri yang akan melawanmu."
*