
Rubah Petir mengangkat kepalanya ke atas menatap langit malam di mana sinar rembulan timbul tenggelam di balik awan-awan gelap, malam datang bersama sepi disertai desiran angin yang terdengar pelan sekali. Siluman itu agaknya terganggu akan sesuatu yang terus menghantui dirinya sejak beberapa tahun terakhir.
Setiap melihat bulan purnama muncul dirinya teringat akan Xin Fai yang tak kunjung kembali sejak tujuh tahun yang lalu, terhitung dari ini sudah 84 kali bulan purnama lewat begitu saja tanpa kehadiran muridnya itu. Rasa khawatir di malam itu mengusiknya lagi, Rubah Petir menarik napas berat seraya memejamkan mata.
Hutan ini sangatlah luas dan terletak di antara lembah terjal, setiap waktu maut malang melintang mengincar nyawa siapapun tanpa terkecuali, pertarungan dan bunuh membunuh dilakukan demi tetap bisa bertahan hidup.
Sedangkan tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Entah apa saja yang sudah dialami Xin Fai di hutan ini, mungkin sekarang dia sedang dihadapkan pada situasi sulit atau bahkan sudah tewas beberapa tahun yang lalu oleh serangan siluman buas.
Rubah Petir tidak pernah meninggalkan tempatnya demi menjaga sesuatu yang amat berharga di sana, dia khawatir seseorang akan mengambil barang tersebut. Namun jika dipikir-pikir lagi goa ini tidak pernah kedatangan manusia lain selain Xin Fai.
Baru saja dia turun dari tebing goa tersebut sosok pemuda tampan muncul di balik dedaunan liar, tangannya dia lilit menggunakan kulit pohon sebagai perlindungan dari gigitan serigala buas di sertai pakaiannya kini sudah diganti dengan armor yang terbuat dari kulit siluman. Penampilan yang sangatlah asing itu wajar saja membuat Rubah Petir merasakan ancaman darinya, dia bersiap membunuh pemuda itu dalam seketika jika jawabannya sama sekali tidak memuaskan.
"Siapa kau?"
"Heee?" Pemuda itu menaikkan sebelah alisnya kebingungan, di waktu yang sama Rubah Petir ikut terperangah mendengar suara yang rasanya tidak asing itu. Dia bahkan sampai mendekat demi memastikannya.
"Kau... Kau Xin Fai? Anak kecil itu, bukan?"
"Ayolah Paman Rubah, aku sudah bukan anak kecil lagi." Xin Fai menarik lalu membuang napasnya perlahan. Dia seperti baru saja selamat dari maut di tengah hutan sana.
Masih dalam keadaan terkejut Rubah Petir menatapi Xin Fai yang kini tumbuh begitu cepat di dalam hutan sana, tubuhnya mulai berotot serta wajahnya pun mulai terlihat dewasa. Gerak-geriknya kini terlatih menjadi lebih waspada terhadap rangsangan di sekitarnya. Dari itu semua, yang paling menakjubkan adalah wajah Xin Fai yang menjadi sangat tampan ketika dirinya beranjak dewasa dan besar di dalam hutan ini.
"Ahahaha maaf, aku sampai tidak mengenalimu..." Rubah Petir tak tahu harus berucap apalagi, kata-katanya tertahan di ujung tenggorokan.
Xin Fai sendiri masih berusaha menarik napasnya yang terputus-putus, dia merasa amat lega setelah menemukan Rubah Petir karena sejak beberapa hari ini dia kehilangan arah dan lupa di mana letak goa ini berada.
__ADS_1
Untungnya Xin Fai masih sering mendatangi danau buaya untuk menyerap satu permata siluman buaya setiap harinya. Berkat petunjuk dari belalang sembah yang kadang juga beberapa bertemu dengannya di hutan ini Xin Fai dapat kembali ke goa yang tempatnya benar-benar tersembunyi ini.
"Bagaimana?"
"Hm?"
"Maksudku, bagaimana petualanganmu selama di hutan? Aku ingin mendengarnya sekarang."
Sinar bulan purnama memancar saat awan tebal yang menutupinya dihembuskan angin.
Wajah Xin Fai terlihat sangat jelas kala sinar rembulan mengenainya, pemuda itu tidak bisa merangkai kata-kata atas apa yang dialaminya selama tujuh tahun belakangan, kalau hanya dengan satu kata saja mungkin dia akan mengatakan hutan ini sebagai 'neraka'.
Kerasnya hidup di alam rimba membuat Xin Fai sadar untuk selalu memasang konsentrasi penuh di manapun dia berada, serangan tak diduga bisa datang dengan atau tanpa pertanda belum lagi jumlah pemangsa di hutan ini sangatlah banyak. Mereka adalah siluman yang menang setelah membunuh siluman lemah, dengan itu dipastikan bahwa siluman yang hidup di hutan ini memiliki kekuatan besar dari yang sebelumnya.
Namun di balik itu semua Xin Fai merasa jauh lebih mudah untuk menemukan permata siluman, saat ini dia telah berhasil mengumpulkan total 27 permata siluman untuk melengkapi tubuh Manusia Iblisnya.
Xin Fai mengambil satu kesimpulan, tubuhnya sekarang harus mendapatkan permata siluman iblis yang kekuatannya jauh lebih besar untuk melengkapi ke-33 permata yang harus didapatkannya.
Saat sedang berpikir-pikir lebih lama Rubah Petir kembali bersuara, "Aku mengatakan kau boleh kembali saat merasa kekuatanmu sudah cukup, bukan?"
"Benar. Tapi aku tidak bisa mengatakan kekuatan ini cukup, karena jika terlalu lama di sini aku juga tidak bisa bergerak untuk mencapai semua hal yang harus kulakukan."
Rubah Petir mengangguk. "Sekarang bertarunglah denganku. Aku tidak akan mengizinkan kau pergi dari tempat ini sebelum pedangmu berhasil melukaiku."
Perintah Rubah Petir yang selalu saja tiba-tiba membuat Xin Fai mendengus sebal. Mau tidak mau dirinya harus melaksanakan apa yang gurunya itu katakan.
__ADS_1
Rubah Petir bersiap di hadapan Xin Fai, energi siluman berwarna keperakan keluar dari tubuh berbulunya yang kecil.
Detik berikutnya tanpa membuang waktu lagi Rubah Petir segera bergerak secepat kilat menghampirinya, langit menyusul berwarna hitam pekat bersama dengan kilat petir yang menghentak-hentak. Suasana malam itu amat mencekam, hujan turun deras membasahi bumi.
Xin Fai tidak bisa bergerak leluasa disebabkan suara hujan yang sangat deras mengganggu pendengarannya, dia tidak bisa mendengar dari mana Rubah Petir akan menyerang.
Satu detik sebelum Rubah Petir mendaratkan pukulan berkekuatan dahsyat, Xin Fai mundur begitu cepat. Di belakangnya sebuah batu besar pecah berkeping-keping dan berserakan di tanah.
Kala suara hujan semakin deras Xin Fai mulai berpikir keras bagaimana cara untuk mengalahkan Rubah Petir tanpa bisa mendengar maupun melihat, merasa tidak memiliki jawaban atas permasalahannya kali ini Xin Fai memutuskan untuk tetap dalam posisi bertahan.
Dalam satu detik saja Xin Fai harus menghadapi tiga serangan berkekuatan tinggi, samar-samar terdengar suara benda pipih dialiri arus listrik bertegangan tinggi tengah mengincarnya.
Ketika pedang Xin Fai bertemu dengan benda itu dia dapat mengambil kesimpulan, benda itu adalah sebuah cakram pipih dengan daya serang penghancur. Jika terkena kepala saja, kepala itu akan pecah berhamburan seketika.
Entah sudah berapa kalinya Xin Fai menghadapi situasi sulit hingga dirinya mulai terbiasa untuk mempertahankan nyawanya, dia melakukan pertahanan sekokoh mungkin bersiap melakukan perlawanan.
Delapan cakram datang bersamaan dari arah berbeda, di saat itu juga sang Rubah Petir terlihat tertarik dengan apa yang akan terjadi di hadapannya nanti.
Sebuah kekuatan misterius dengan ratusan pisau angin berkeliling cepat memutari tubuh Xin Fai, cahaya emas berkilat di pedangnya saat ini.
"Melihatmu aku jadi teringat pada Kaisar Langit, si Bunga Api Dari Kerajaan."
Dalam rintik deras air hujan Xin Fai dapat mendengarnya, kini bukan hanya delapan cakram pipih. Belasan, puluhan hingga ratusan cakram listrik tercipta di sekitar Rubah Petir dalam kurun waktu singkat.
"Tunjukkan semua kekuatanmu padaku!"
__ADS_1
***