
'Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan?' Xin Fai membatin sendiri. Dia mulai tidak peduli akan identitas Iblis Merah karena tampaknya sosok itu sendiri enggan memberitahunya jadi untuk apa dia memusingkan hal tersebut.
Di pikirannya saat ini adalah bagaimana cara menghancurkan jiwa si pemilik gelar Raja Iblis ini selamanya. Agar tidak muncul lagi di generasi berikutnya. Dia mengeluarkan tenaga dalam membuat pedang legendaris yang telah dimilikinya muncul di kedua tangan.
Monster Iblis menyadari pergerakan tersebut setelah sebelumnya sibuk meladeni sang Iblis Merah.
"Tampaknya bocah kecil ini terlalu terburu-buru." Dia hanya bisa mengumpat.
"Aku tidak memiliki waktu untuk bermain-main denganmu, iblis jelek."
"Kalian berdua mengatakan iblis jelek bergantian, apa sudah direncanakan sejak awal? Kalau iya bersiaplah mati dengan cara paling mengenaskan sekarang!"
Xin Fai tersenyum sinis, menggebukan Pedang Kaisar Langit agak ke atas menuju arah sang raja iblis.
"Seharusnya kau ingatkan itu pada dirimu sendiri, mulai hari jangan harap akan bangkit lagi. Kau sudah menyusahkan banyak orang selama ribuan tahun."
"Melenyapkanku?" Raja Iblis mengulang dengan nada mengejek, "kau tidak tahu apa resikonya? Kutebak si bocah besar itu belum memberitahumu."
Xin Fai berdalih pada Iblis Merah, dia membalas menatap namun di balik matanya itu dia seperti menyembunyikan sesuatu.
"Resikonya? Apa yang harus kulakukan untuk melenyapkan monster ini? Kau boleh memberitahukannya sekarang."
Iblis Merah mulai tidak yakin, dia merasa menyesal sudah memberitahu Xin Fai sebelumnya.
"Kemungkinan kau berhasil melakukannya hanya lima puluh banding lima puluh persen, Xin Fai..."
Pemuda itu mengendurkan pegangannya pada pedang, yakin bukan hanya itu yang akan ditanggungnya nanti.
"Jika kau gagal melakukannya, bisa dipastikan nyawamu akan melayang... Atau paling parahnya iblis itu akan menguasai tubuhmu dan mengundang masalah terbesar yang paling ditakutkan semua orang."
__ADS_1
Monster Iblis berceloteh. "Di mana wajah yakinmu sebelumnya? Aih, sepertinya sudah tak berani lagi mengusirku dengan kasar seperti tadi," Raja Iblis menertawainya terus terang.
"Tapi jika kau berhasil melakukannya kupastikan iblis jelek itu tidak akan muncul lagi sampai kapanpun."
Sebuah harapan kecil tersebut bisa berakibat baik dan buruk, resiko dan keberhasilannya berbanding setengah-setengah. Xin Fai mulai terdiam memikirkan pilihan tersebut.
"Kau hanya bisa melakukannya sekarang, di kebangkitan ketiga jiwa iblis ini sudah menempel sepenuhnya di tubuhmu dan sangat sulit menyingkirkannya meskipun kau menggunakan ribuan cara sekalipun."
"Aku akan melakukannya."
Raja Iblis terdiam cukup lama, di satu sisi dia ingin membiarkan pemuda itu melakukannya agar tujuannya untuk memiliki wadah tubuh manusia mudah tercapai akan tetapi resikonya terlalu besar.
Nyatanya bukan hanya dia yang merasakan keresahan namun Iblis Merah juga merasakan hal yang sama.
Sesaat Xin Fai terdiam, lantas melanjutkan ujar, "mungkin ini akan menjadi akhir hidupku atau mungkin akhir ancaman manusia. Aku akan mempertaruhkan nyawa untuk hal ini."
"Kenapa harus repot-repot bertarung? Berikan saja tubuhmu itu secara langsung dan kupastikan kau tidak akan merasakan penderitaan setelahnya."
Xin Fai memalingkan muka tak berminat menanggapi omongan sang monster iblis, melihat mukanya saja dia sudah muak. Membalas perkataannya yang sebenarnya hanya bertujuan untuk memanas-manasi itu sungguh membuang waktu saja.
Iblis Merah perlahan-lahan mulai meyakinkan diri, dia menggerakkan tangan hingga akhirnya sebuah segel putih terlihat di tempat mereka berpijak. Tulisan kuno dan bentuk-bentuk aneh bersinar kala Xin Fai menapaki segel tersebut.
"Apa ini?"
"Aku berhasil mempelajari jurus ini sebelum hari kematianku, sayangnya saat itu sudah terlambat menggunakannya..."
"Menggunakannya?" Xin Fai mengulang ucapannya dengan alis menurun. Dia mulai menerka-nerka beberapa kemungkinan besar yang sepintas lalu di kepalanya.
Iblis Merah menunjuk ke arah dahinya. "Apa kau masih belum sadar juga akan simbol ini?"
__ADS_1
Xin Fai memerhatikan tanda bunga api di dahi tersebut, perlahan-lahan bola matanya melebar. Hanya satu orang yang memiliki julukan tersebut. Dia menarik senyum kikuk sekaligus heran, merasa tebakannya sama sekali salah dan tak mendasar. Entah mengapa terlalu sulit mempercayai sosok iblis di hadapannya ini adalah Qiang Jun.
"Jangan bercanda... Ini terlalu tidak masuk akal." Pemuda itu menggelengkan kepala, namun di sisi lain dia teringat saat-saat di mana dia dan Iblis Merah mendatangi Desa Daan.
Tatap mata sendu bercampur rindu pada desa Daan masih begitu diingatnya, sang Iblis Merah memiliki alasan tersembunyi untuk hal itu. Saat menatap Qiang Jun kembali yang Xin Fai lihat hanyalah anggukan kepala, pertanda tidak ada kebohongan yang terucap dari lawan bicaranya itu.
Desa Daan adalah tempat paling lama yang pernah Qiang Jun tinggali jadi wajar saja ingatan di tempat itu begitu membekas di kepalanya.
Tidak ingin membuang waktu lebih lama Qiang Jun mengalihkan perhatian pada segel di bawah kakinya, berusaha menyalurkan sisa kekuatannya yang tersisa untuk menciptakan jurus yang berhasil dia ciptakan itu.
Jurus itu sendiri bisa dipelajari oleh Xin Fai jika berhasil membuka kunci terakhir Kitab Tujuh Kunci.
Qiang Jun pernah mencoba menggunakan jurus itu dulu namun sayangnya tak berhasil karena di hari dia menggunakannya, hari itu adalah kebangkitan terakhir. Jiwa iblis telah sepenuhnya tumbuh dalam tubuhnya. Sementara perang besar terjadi secara berkala tanpa henti, membuatnya tak memiliki kekuatan lagi untuk bertahan dan di saat itu pula kebangkitan ketiga terjadi.
Qiang Jun yang selalu dianggap sebagai ancaman seluruh dunia persilatan nyatanya harus mengakhiri kisahnya di lautan darah medan tempur, mati di tangan rekan sendiri yang sejak awal dia lindungi dengan segenap kekuatan.
Meskipun begitu dia tidak pernah menyimpan dendam maupun penyesalan pada siapapun, Xin Fai tersenyum saat teringat pada Rajawali Kegelapan. Dia hendak mengatakan sesuatu, paling tidak jika hari ini dia harus mati Xin Fai berhasil menepati janjinya pada Rajawali Kegelapan.
"Kaisar Langit, temanmu yang memiliki gelar Rajawali Kegelapan telah menjaga mayat dan dua pedangmu selama ribuan tahun. Dia menyegel jiwanya di desa Daan, dan saat ini sedang berharap bisa bertemu denganmu."
"Aku sudah mengetahuinya, setiap apapun yang kau lakukan aku bisa melihatnya." Qiang Jun menanggapi serius membuat Xin Fai hanya bisa terbatuk-batuk kecil, dia merasa harus berbagi tubuh dengan sosok pendekar nomor satu ini sangat memalukan. Itu artinya apapun yang dilihatnya pasti akan diketahui oleh Qiang Jun, karena sebagian kesadarannya yang tersisa menetap di tubuh Xin Fai.
"Paling tidak aku terhibur, satu orang yang kutolong masih mengingatku sampai hari ini." Qiang Jun menatap ke depan, Raja Iblis tampaknya sedang disibukkan dengan pertarungan di luar. Pria itu menjelaskan kemudian.
"Sebelum aku mati, aku menyegel kesadaran spiritual-ku di Kitab Terlarang. Berharap suatu saat nanti bisa mencegah kebangkitan iblis jelek ini kemudian hari. Selama ratusan tahun akhirnya Rubah Petir mengambil alih kitab itu akibat perebutan kepemilikan di antara para manusia."
Iblis Merah merubah penampilannya yang semula hanya berwujud sosok iblis menjadi pria tampan yang berkharisma, air muka yang sangat tenang memancar di wajahnya. Xin Fai sampai tidak bisa melepaskan pandangan dari Qiang Jun selama beberapa detik.
"Saat pertama kali bertemu kau pernah mengatakan seperti pernah melihatku, bukan?" Qiang Jun menepuk pundaknya. "Aku pernah melewati desamu saat jiwaku berada di Kitab Terlarang yang dibawa oleh Rubah Petir, hari itu aku melihatmu dan tahu kelak kau akan menjadi sosok hebat yang disegani semua orang."
__ADS_1