
"Kudengar akhir-akhir ini keluarga Li akan menggelar pernikahan besar-besaran, kau pasti akan datang menghadiri pernikahan itu, kan?"
Sejujurnya Xin Fai tidak tahu menahu tentang keluarga Li ini, dia hanya asal ceplos. Merasa ini malah menjebak dirinya sendiri Xin Fai hanya bisa mengutuk dalam hati. Dia berpikir agak lama sebelum Ren Yuan merasa curiga.
"Ya... Sepertinya aku ikut."
Mata Ren Yuan berbinar bahagia, dia mulai memikirkan berbagai cara untuk mendekati pemuda ini. Entah mengapa dia merasa Xin Fai memiliki kriteria yang cocok sebagai pasangannya. Gadis labil itu memandang wajah Xin Fai lekat-lekat dan sejak detik itu dia berjanji tidak akan ada satu gadis pun yang boleh menyentuh pemuda ini darinya.
"Kalau begitu kita pergi bersama-sama saja, kebetulan aku juga akan pergi ke sana!"
Langkah Xin Fai terhenti sejenak, semakin jauh dia terjebak dengan kata-katanya sendiri semakin pusing juga dia memikirkan jawaban yang tepat. Dia menoleh ke samping di mana Ren Yuan begitu berharap permintaannya disetujui.
Di detik itu Xin Fai baru menyadari perkataan ibunya yang mengajarkannya agar selalu berkata jujur memang beralasan. Hari ini kebohongannya malah menjadi pisau bermata dua. Dia merasa tidak tenang akan hal ini.
"Dengarkan aku baik-baik."
Ren Yuan mengangguk antusias, Xin Fai berdeham pelan.
"Aku bukan berasal dari keluarga bangsawan, aku hanya seorang anak nelayan miskin."
Ren Yuan mulai tidak percaya namun di satu sisi dia masih menatap penuh harap akan pemuda itu. Sejauh ini dia belum menemukan sosok pendekar pria yang kekuatannya melebihi dirinya.
Ayah Ren Yuan selalu berpesan pada dirinya untuk menemukan sosok yang dapat menjaganya saat dia sudah tiada, Ren Yuan bisa melihat sosok itu berada di hadapannya. Sejak awal tadi Xin Fai telah menjadi cinta pertamanya.
Perasaan berbunga-bunga itu berbanding terbalik dengan suasana hati Xin Fai, dia merasa ini buruk sekali. Mata Ren Yuan yang berkilat-kilat itu justru terlihat seperti monster yang ingin memakannya bulat-bulat.
"Biar kuberi tahu, kita memang pernah bertemu sebelumnya."
__ADS_1
Satu detik dua detik Ren Yuan masih tidak paham, dia memilih mendengarkan lagi.
"Aku adalah orang yang sering kau panggil dengan sebutan 'rakyat jelata'. Itupun kalau kau benar-benar mengingatku."
Ren Yuan mematung di tempatnya berpijak, angin malam bertiup pelan menerbangkan rambutnya. Di malam bertemankan bulan purnama itu, di bawah indahnya pancaran sinarnya gadis itu menangis tanpa sadar.
"Kau... Masih hidup?" Ren Yuan hanya bisa menatapi punggung Xin Fai yang telah menghilang di balik kerumunan. Tatapan rindu yang amat mendalam terpancar di kedua bola matanya. Sesaat dia tersadar, cinta pertamanya memang sosok yang pernah dia panggil dengan sebutan rakyat jelata itu.
**
Sebuah kedai arak tempat Aliansi Pedang Suci berkumpul penuh sesak bahkan beberapa lainnya tidak kebagian tempat dan memilih duduk di luar, Zhu Yue salah satunya. Wakil ketua itu berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan pimpinan mereka.
"Hei ada apa dengan wajahmu? Kenapa tegang sekali?"
"Ambilkan aku air putih."
Mendengar Xin Fai hendak mencari penginapan Zhu Yue dan yang lain ikut dengannya, sedangkan yang masih ingin menghabiskan waktunya meminum arak masih tinggal di sana sambil bercerita tentang apa saja yang sudah mereka lalui sejak meninggalkan kota Renwu dua minggu lalu.
Tidak sulit menemukan penginapan di tempat ini, awalnya Xin Fai yang ingin berbicara pada pemilik penginapan sebelum Zhu Yue yang lebih berpengalaman mendorongnya ke belakang.
"Untuk urusan ini kau bisa memercayakannya padaku," bisik laki-laki itu dengan wajah meyakinkan. Xin Fai mengangkat sebelah alisnya dan beberapa menit kemudian perdebatan panjang tanpa henti terjadi. Anggota Aliansi Pedang Suci yang menunggu perdebatan di belakang hanya bisa menguap lebar.
Zhu Yue ini terlalu memaksakan diri, meskipun kemampuan bicaranya lemah tapi dia bersikeras bernegosiasi dengan harga termurah. Berhubung mereka semua akan menyewa 44 kamar sekaligus dia ingin mereka mengurangi setidaknya sepuluh persen dari jumlah pembayaran.
Pemilik penginapan tidak bisa menyetujuinya, dia merasa permintaan itu terlalu membebaninya. Di sisi lain hari ini pengunjung di tempatnya sepi, jika dia menolak tentu saja dia akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Bagaimana? Kau setuju?"
__ADS_1
"Tuan Pendekar, aku akan memberimu potongan harga tujuh persen saja. Selebih dari itu aku tidak bisa..." Wanita itu jadi serba salah memikirkannya.
"Sudahlah wakil Zhu, lagipula kita punya banyak biaya untuk menyewa kamar-kamar di sini." Xin Fai melerai di tengah-tengah, namun Zhu Yue tak kunjung mendengarkan setelah itu. Dia justru semakin gencar berceloteh agar mendapatkan harga sesuai seperti yang diinginkannya.
"Potongan harga delapan persen atau kami akan mencari penginapan lain?" Penawaran Zhu Yue memutuskan alur perdebatan, pria itu menang. Dia terkikik kecil melihat wajah pucat pemilik penginapan, wanita itu tidak bisa menyambut kata-katanya lagi dan memilih menyerah.
Xin Fai beralih memasuki kamarnya, pada Zhu Yue tadi dia meminta agar dirinya ditempatkan pada kamar sendirian dengan alasan ingin mendapatkan ketenangan. Padahal sebenarnya dia ingin berlatih kekuatan iblis dan memastikan tidak ada satupun yang melihat Kitab Terlarang itu.
Pintu kamar dikunci rapat, tirai dan jendela ditutup. Sunyi senyap malam hari begitu terasa ketika memasuki waktu tengah malam tanpa disadarinya sosok Iblis Merah mulai menampakkan diri. Bola matanya yang berkilat tajam terasa menusuk di tengah kegelapan, iblis itu mendekat ke arah Xin Fai duduk bersila.
"Bagaimana dengan kekuatan iblismu?"
"Kurasa ini terlalu membebani tubuhku," ucapnya sembari memperlihatkan tanda bakar di dadanya yang mulai muncul setelah menghilang beberapa tahun dengan segel dari Pendeta dari Kuil Teratai.
"Kau harus tahu bagaimana cara menggunakan kekuatan itu, sendirian. Karena bagaimanapun juga kau dan iblis itu berbagi satu tubuh dengan dua jiwa. Kekuatannya adalah kekuatanmu."
Meski Iblis Merah sudah mengatakan hal itu sebelumnya namun Xin Fai masih tidak paham bagaimana cara menggunakan kekuatan ini tanpa melemahkan segel iblis dalam tubuhnya. Semakin besar dirinya menggunakan kekuatan Manusia Iblis semakin mudah pula dia hilang kendali atas tubuhnya.
"Yang kutakutkan ke depannya saat menggunakan kekuatan ini monster itu kembali mengambil alih, dan aku membunuh banyak orang tak bersalah seperti dulu..."
Peristiwa kebangkitan monster iblis beberapa tahun lalu masih amat membekas di ingatannya, kematian banyaknya pendeta hebat di Kuil Teratai adalah sebuah kesalahan. Dia tidak mau mengulanginya lagi.
"Sayangnya kau tidak punya pilihan lain, tanpa kekuatan iblis tidak ada yang bisa menolongmu dari monster itu! Kau hanya akan menambah lebih banyak kematian dari yang kau bayangkan. Saat tubuhmu sepenuhnya diambil alih..." Ucapan Iblis Merah tertahan.
"Dunia akan sama sekali berbeda. Tidak ada lagi yang namanya manusia di tempat ini, selain para monster dan iblis."
***
__ADS_1