
Kapal disandarkan saat tiba di pelabuhan kota Renwu yang cukup besar, jangkar diturunkan ketika kapal diberhentikan. Anggota Aliansi Pedang Suci turun dengan tertib saat paginya tiba di kota tersebut, satu hal yang membuat mereka asing adalah kini belasan kapal perang dengan bendera kalajengking merah telah memenuhi seisi bandar pelabuhan.
Xue Hao mengambil alih tugas Zhu Yue sebagai wakil untuk sementara, pria berusia sekitar 32 tahun itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru dan menyadari tengah terjadi pertempuran besar di dalam kota Renwu.
Xin Fai tentu mengetahui hal ini lebih dulu, dia menarik pedangnya kemudian memberikan perintah pada anggota.
"Ikut aku ke kediaman Kaisar Qin, kita harus segera bergerak ke sana!"
"Baik!"
Puluhan derap kaki membelah kepulan asap, Kota Renwu menjadi medan tempur untuk yang kedua kalinya setelah tujuh tahun yang lalu rusak parah. Di sepanjang jalan terlihat warga tak bersalah pun terkena serangan dari para Manusia Darah Iblis ini, mereka tidak segan-segan mengambil nyawa penduduk meski tidak berbuat apapun.
Tampaknya penyerangan ini telah terjadi selama satu jam sebelum mereka datang, pasukan prajurit telah banyak tumbang di depan kediaman yang telah porak poranda. Ratusan pendekar aliran hitam berdiri membawa bendera resmi Manusia Darah Iblis, kuda-kuda berlalu lalang di jalan besar.
Terdapat satu kereta kuda yang di dalamnya diisi oleh Putra Mahkota pertama, Qin Yijun. Pria itu masih tersenyum penuh arti kala melihat rombongan Aliansi Pedang Suci tengah menunggu di depan kediaman.
Pasukan yang dibawa Qin Yijun adalah Kultus Iblis, tak heran kekuatan mereka cukup hebat bahkan tak hanya terdiri dari pendekar besar mereka juga dilengkapi dengan beberapa pendekar agung tahap terakhir. Salah satunya adalah sosok bernama Jiang Cheng, yang bertingkah seolah menguasai seisi daratan. Pria itu mengarahkan lirikan mata pada Xin Fai, berubah pula ekspresinya kala itu.
"Kau-!? Kau bukannya orang yang telah menghalangi jalanku waktu itu!?"
Tidak mendengar jawaban Jiang Cheng mendesis kesal sekali hingga terpaksa dia turun dari kudanya. "Masih punya muka juga kau menghalangi jalan kami! Kami membawa calon Kaisar berikutnya, jangan bersikap seperti itu jika tidak ingin kelompokmu menjadi sasaran pertama kami nanti!"
__ADS_1
Pedang dicengkeram semakin erat saat Jiang Cheng berbicara tepat di depan mukanya.
"Huh! Kau pasti orang bisu yang keras kepala! Hanya buang-buang waktu saja berbicara denganmu."
"Dasar bedebah... Tidak tahu malu."
Jiang Cheng membalikkan badan sangat tersinggung mendengar lontaran tersebut, dia merasakan dendam besar tengah mengincar mereka semua.
"Aku datang ke sini khusus untuk kalian semua, apa kalian terharu?" Ucap Xin Fai setelah itu, pedang pusaka di tangannya melintang lurus. Bercahaya terang kala terbias sinar matahari.
Jiang Cheng mundur beberapa langkah saat melihat pemuda itu, aura yang dikeluarkannya sangat tidak biasa. Untuk pendekar agung setingkat dirinya melihat kekuatan seperti itu sangat jarang bahkan tidak pernah sama sekali. Pengalaman bertarung Jiang Cheng bisa terbilang cukup banyak namun tak sekalipun dirinya bertemu dengan pendekar seperti pemuda di hadapannya ini.
"Kalian sudah mengambil dua temanku, bayar itu semua dengan nyawa kalian!"
Jiang Cheng menahan laju serangan yang semakin brutal menyerangnya, pria itu terpental agak jauh namun tubuh besarnya tidak tumbang sama sekali saat menerima serangan tapak.
Jiang Cheng mengelap darah yang mengucur di bibirnya dengan punggung tangan.
"Boleh juga kemampuan–"
Tidak memberi kesempatan berbicara, Xin Fai kembali memasukkan jurus Seratus Pedang Purnama dan telak mengenai dada Jiang Cheng. Lagi-lagi musuhnya jatuh tersungkur, bebatuan kerikil menggores kulitnya akibat hentakan yang amat dahsyat menghantam tengkuk lehernya.
__ADS_1
"Kau ini tidak sabaran sekali, membuatku terpojokkan seperti ini... Kau kira kau siapa?" Tatap mata Jiang Cheng berubah dipenuhi amarah meluap-luap. Seperti ingin memakan lawannya hidup-hidup.
Xin Fai memberhentikan penyerangan ketika menyadari perubahan kekuatan Jiang Cheng, pria itu melepaskan tenaga dalam dengan jumlah yang amat besar membuat dirinya seketika dipenuhi oleh kekuatan dahsyat. Aura kegelapan menghiasi kelopak matanya yang kini memerah, tato kalajengking di dadanya bersinar merah terang. Dia menyerahkan setengah kendali tubuhnya pada iblis.
"Akan kubuat kau menyesal setelah ini!" Teriaknya, pedang besar seukuran tubuhnya mengacung di udara. Dalam sekali tebas saja dua pohon bisa tumbang olehnya, Jiang Cheng berteriak kencang membuat beberapa aliansi merasakan tekanan hebat seperti batu besar yang menghimpit tubuh mereka.
Pedang milik pria itu mengeluarkan reaksi yang sama seperti pemiliknya, tak lama berselang setelahnya Jiang Cheng telah berada dalam posisi siap serang. Satu loncatan tinggi, pria itu berhasil menggapai Xin Fai dan mengayunkan pedang sekuat tenaga.
Lantas saja Xin Fai menahan kekuatan besar itu, dia baru menyadari seberapa besar kekuatan Jiang Cheng saat merasakan sendiri. Setidaknya dengan dirasuki iblis dalam tubuhnya, kekuatan Jiang Cheng lima kali lebih hebat dari yang sebelumnya.
Selain itu musuh-musuh bergerak memecah Aliansi Pedang Suci hingga mereka bertarung sendiri menghadapi dua orang sekaligus. Kultus Iblis melakukan serangan gencar-gencaran dalam beberapa menit, mereka berhasil menguasai keadaan dalam kurun waktu cukup lama.
Sementara itu pimpinan Aliansi Pedang Suci masih disibukkan dengan Jiang Cheng, kulit lawannya seolah kulit seekor siluman ribuan tahun. Keras tak tertembus oleh pedang. Jiang Cheng melompat ke pagar kemudian memutar tubuhnya kencang membuat serangan udaranya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
Sedangkan rantai api di tubuh Xin Fai sama sekali tidak berguna pada Jiang Cheng, pria itu terus menghindar seakan tahu bahaya dari rantai tersebut. Sembari menghindari serangan Jiang Cheng yang telah dirasuki juga membuat kacau kediaman, salah satu tiang tinggi ditebasnya membuat tiang kayu terjatuh dan menghantam punggung salah satu pendekar dari aliansi.
Xin Fai memasukkan pedangnya semakin kesal pada Jiang Cheng, wajah sombongnya semakin menjadi-jadi terlihat kala pasukannya terlihat jauh lebih unggul dari Aliansi Pedang Suci baik secara kekuatan maupun jumlah.
"Kau memang harus dihakimi dengan cara sadis. Ini semua pembalasan atas kematian dua anggotaku yang kau bunuh."
Jiang Cheng menangkap pedang yang tiba-tiba muncul di balik ruang hampa, dia menjadi jauh lebih curiga sejak terus bertukar serangan dengan Xin Fai. Saat pedang itu telah berada dalam genggamannya, langit berubah merah darah. Burung gagak berterbangan menghalau pandangan laki-laki itu, dia berusaha menyingkirkan burung-burung tersebut dari pandangan. Ketika matanya bisa melihat jelas siapa yang berada di hadapannya, Jiang Cheng menunjuk sosok Iblis Merah di hadapan dengan sangat ketakutan.
__ADS_1
"Kau..."
**