
Si Penguasa Danau berada di permukaan air dengan tenang, sebelum sedetik setelahnya air danau mulai memuncak menimbulkan gelombang.
Xin Fai yang baru saja memulihkan luka di tubuhnya dapat mendengar suara tersebut dan segera bersiap dalam posisi bersiaga. Dia menajamkan seluruh indera untuk membaca tiap-tiap gerakan yang terjadi di sekitarnya.
Suara kecipak di air menjadi sinyal pertama, Xin Fai memutar kaki seraya menarik pedang dari tempatnya. Satu buaya maju menyerang disusul buaya lainnya, mereka memiliki susunan gigi yang runcing bagaikan logam tajam. Tanduk di kepala mereka terlihat seolah terbuat besi padat.
Buaya tersebut menanduk dengan kepalanya yang kini berbenturan dengan pedang. Xin Fai menahan pedangnya yang terasa bergetar kala menahan daya serang tanduk tersebut. Dia memundurkan diri ketika cakar buaya tersebut berusaha mencapainya dan berhenti di tempat yang cukup aman.
Kedua kubu masing-masing bertahan di posisi sendiri untuk mengantisipasi segala pergerakan. Para buaya tersebut menebak seberapa kuat manusia di depannya sedang Xin Fai terus mencari tahu di mana posisi setiap buaya ini di berada dengan tepat.
Dia menghirup napas dalam, aroma danau berwarna hijau lumut tersebut tertutup dengan bau buaya ini.
Xin Fai menundukkan kepalanya, dia mengutip beberapa batu seukuran kepalan tangannya sebanyak empat buah. "Mulai dari sini aku juga harus belajar mencari posisi lawanku." Dia bergumam pelan, salah satu batu dilemparkan di tengah danau yang kosong.
Penguasa danau tentu saja ingin meledeki Xin Fai habis-habisan. "Hahahaha! Lihat! Kau lihat itu! Melempar saja dia tidak bisa, sungguh konyol! Konyol sekali menantang keluarga buaya besi ini bertarung!"
Lemparan kedua hampir mengenai tubuh salah satu buaya, binatang buas itu menghindar jauh lebih cepat dari batu lemparan Xin Fai.
Di lemparan ketiga dan keempat keadaan sama sekali tidak berubah bahkan menjadi semakin buruk. Xin Fai berdiri mematung sebentar mencoba memikirkan betul-betul seluruh lemparannya tadi. Dia mengambil dua buah batu lagi lalu melemparkannya ke pohon. Salah satunya hampir saja mengenai pohon dan satunya lagi arahnya memang benar namun tidak bisa mencapai pohon tersebut karena terlalu lemah dilemparkan.
"Perkiraan dari sumber suara serta instingku harus diasah lebih tajam lagi sepertinya." Xin Fai membayangkan dua pohon di depannya, namun para buaya di belakangnya tak bisa menahan lebih lama lagi. Mereka berlari tidak sabaran ke arahnya hingga suara percikan air terdengar di seisi tempat itu.
Xin Fai mengambil sebuah batu yang ukurannya lebih kecil lalu melemparkannya, awalnya si Penguasa Danau mengira batu itu meleset dan hampir saja mengenai salah satu saudaranya tetapi tidak berhasil.
Namun batu tersebut malah membentur batu di belakangnya lalu terpantul kembali mengenai kepala si buaya Penguasa Danau.
Batu yang dialirkan tenaga dalam oleh Xin Fai berhasil memancing emosi siluman buas tersebut. Perlahan Xin Fai tersenyum singkat. "Sesuai insting dan perkiraanku, ternyata di depan sana memang ada sebuah batu kecil untuk memantulkan batu itu ke kepalanya."
Xin Fai dapat mendengar tekanan udara yang melewati setiap celah-celah di antara para buaya serta bebatuan. Lamat laun bayangan tentang tempat di sekitar danau ini tergambarkan di otaknya. Setidaknya, hal ini akan sangat membantunya untuk menghadapi pertarungan selanjutnya nanti.
__ADS_1
Sedang para buaya masih tetap mengejarnya, Xin Fai menarik pedang cepat tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi. Dia berdiri di atas sebuah batu di mana di bawahnya puluhan buaya sedang menyerang.
Tarian pedang bagaikan iblis pemakan jiwa itu menggentarkan si Penguasa Danau, dalam waktu singkat saja tiga buaya telah terpotong oleh pedang anak manusia itu.
"Apa-apaan bocah itu... Kau yakin dia seorang manusia?"
"Menurutmu?" Sang Rubah Petir menjawab santai, dia berdiri seimbang di atas sebuah daun teratai.
"Seharusnya manusia semuda itu masih amatir dalam pertarungan, dia melakukannya seperti sudah mengalahkan monster ratusan kali saja..."
Rubah Petir meloncat ke atas kepala penguasa danau, dia membisikkan sesuatu. "Aku ingin kau bertarung serius dengannya, dengan seluruh kekuatanmu kalau bisa."
"Apa kau ingin membunuh anak itu?"
"Hm. Aku yakin dia tidak akan terbunuh semudah itu, jadi kau tenang saja. Sekarang ini dia masih memiliki banyak kekuatan aneh yang disembunyikannya."
Merasa tak mau berbasa-basi lebih lama si Penguasa Danau langsung saja beranjak dengan Rubah Petir yang menyingkir dari kepalanya.
Mayat para buaya menggenang di atas air danau yang memerah pekat, bau amis darah tercium jelas di hidung Xin Fai yang baru saja menarik pedang dari leher buaya bunuhannya. Dia memalingkan wajah mengikuti arus suara dan menyadari seekor buaya besar telah mengincarnya sejak tadi.
Si penguasa danau tersenyum licik. "Oh, kuakui kekuatanmu sampai bisa membunuh banyak saudaraku yang berharga ini. Bagaimana jika kita bertarung di atas air saja? Apa kau bisa melakukannya?" Kata-kata beracun itu terdengar seolah menantang dan sangat penuh jebakan, lawan bicaranya terdiam sebentar sebelum akhirnya melompat dari atas batu tersebut dan menapak sempurna di permukaan air.
Si penguasa danau tak mengira Xin Fai dapat melakukannya dengan mudah, dia merasa tertipu oleh matanya sendiri kali ini.
"Yang kau lihat sebenarnya tidak seperti kebenaran itu sendiri. Mata bisa jadi petunjuk, bisa jadi penipu."
"Kalau begitu yang kau lihat dariku semuanya adalah tipuan, bukan?"
"Aku tidak melihat, aku hanya merasakannya."
__ADS_1
Penguasa danau semakin tidak mengerti ke mana alur pembicaraan ini. Dia berseru kencang. "Sudahlah! Tidak ada gunanya berbicara denganmu. Hanya membuang-buang waktuku saja!"
Tubuh buaya penguasa danau ini jauh lebih besar dari saudaranya membuat frekuensi getaran air di telinga Xin Fai terdengar lebih heboh dari sebelumnya.
Buaya tersebut memamerkan sebelah tangannya dengan kuku panjang yang berkilat silau saat sinar matahari memantul di sana. "Kau tidak akan lepas lagi setelah ini!"
Seringaian siluman buaya melebar dengan lengkungan tajam, dia berhasil melepaskan satu cakaran namun sesaat seringaian tersebut memudar saat menyadari Xin Fai telah berada di belakangnya.
Seketika tangan buaya tersebut memuncratkan darah tanpa henti hingga nampak seperti loncatan air mancur. Kuku panjangnya tenggelam ke dalam danau begitu saja.
"Bagaimana bisa-!? Arrrgh!' buaya tersebut tidak sempat mencerna apa yang terjadi di hadapannya. Air di sekitarnya mulai merah oleh darahnya sendiri.
"Kurasa kekuatan Beruang Api jauh lebih hebat darimu."
"Apa katamu?!" Siluman buaya tersebut menjerit kesal seperti hendak mencakar wajah Xin Fai namun perkataan yang keluar dari mulut manusia itu setelahnya membuat dia tak berani melanjutkan kemarahannya.
"Aku sudah menghadapi siluman yang lebih senior darimu, hahaha!"
Rubah Petir merasa tergelitik saat mendengarnya, dia merasa omongan itu sedikit berlebihan mengingat dirinya adalah kategori yang cocok dalam sebutan 'Siluman Senior' ini mengingat umurnya saja bahkan sudah puluhan ribu tahun.
"Kurasa aku tidak pernah bertarung denganmu, Faifai? Apa kau pernah bertarung dengan Siluman Penguasa Bumi selain aku?" tanya Rubah Petir.
Membungkamnya Xin Fai menjadi jawaban tersendiri bagi si buaya tersebut, dia tertawa meledak. "Hahaha bocah banyak membual! Jika kau memang pernah bertarung dengan Siluman Penguasa Bumi aku akan memberimu satu buaya besi ini secara cuma-cuma setiap harinya!"
Penawaran tersebut sontak saja membuat Xin Fai mengulas senyum penuh arti. Dia mengeluarkan Permata Cahaya Biru yang selama ini dia simpan baik-baik di sakunya.
Mata Rubah Petir melebar, sinar keperakannya berkedip dan melompat sangat cepat merebut permata tersebut.
"Kau benar-benar pernah melakukannya!?"
__ADS_1
***
Alhamdulillah besok hari2 gabutku kembali😣 tapi hari ini cuma bisa up satu dulu, jadi diusahakan besok up sebanyak mungkin biar cerita ini cepat tamat hehehe^^ jangan lupa dukungannya ya, tq😘