
Sebuah tendangan maut dengan rotasi 180 derajat berhasil mengenai kepala Lan An yang baru saja tertimpa kayu dari atas. Dalam keterkejutan itu Lan An tidak sempat menghindar, dalam sekejap dia telah jatuh terduduk dengan kepala yang terasa berdenyut perih.
Xin Fai mendarat mulus dengan senyuman paling lebarnya, dia memungut kayu yang terjatuh di samping Lan An.
Lan An mendengus ketika Xin Fai menghunus kayu ke arahnya yang dalam posisi terduduk. Dengan wajah seakan tak bisa berbuat apa-apa lagi akhirnya dia mengeluarkan suara.
"Baiklah, aku mengaku kalah..." Sambil menghela napas berat, Lan An mencoba memahami sekitarnya. Dia mengambil kesimpulan bahwa ketika pandangannya teralihkan Xin Fai melemparkan kayu miliknya ke atas, lalu anak itu berlari seolah ingin menyerangnya dengan kayu tersebut.
Ketika Lan An tertipu saat itu juga kepalanya dihantam kayu yang jatuh dari atasnya, sebuah taktik yang sangat ampuh untuk mengelabui orang sepertinya yang hanya tahu menebas dengan teknik pedang.
Xin Fai mengulurkan tangan dan disambut oleh Lan An dengan senyuman hangat.
"Aku tak habis pikir denganmu, adik kecil... Kau sungguh penuh dengan kejutan." Jujur Lan An, ia terkesima meskipun telah kalah.
"Aku sudah menyadari dari awal kalau dengan kekuatanku yang buruk ini tidak bisa mengalahkanmu begitu saja."
Lan An hendak membantah perkataan Xin Fai, menurutnya kekuatan adik kecilnya itu tidak buruk. Xin Fai bahkan lebih muda darinya satu tahun dan teknik pedang mereka hampir berimbang, jika saja umur mereka sama Lan An juga belum tentu bisa menang darinya.
"Tapi, aku punya sesuatu selain kekuatan. Yang sering membuatku menang dalam setiap pertarungan."
Lan An memasang ekspresi penasaran. Apakah itu sihir seperti permata yang hilang di punggung Xin Fai? Dia memasang wajah serius, bahkan sangat serius. Wajahnya kaku seperti patung.
Xin Fai menunjuk kepalanya sambil tersenyum kecil. "Kecerdikan."
__ADS_1
"Dasar adik kecil! Hahaha!" Tawa Lan An terdengar membahana, ia semakin menggelengkan kepala dibuat Xin Fai.
Lan An merangkul Xin Fai hangat. Chuan Gui menghampiri mereka sambil memberi hormat.
"Kuharap Tuan Lan An bersedia bergabung dengan sekte kami. Kekuatan anda sangat hebat dan saya berharap anda tidak keberatan bergabung dengan kami."
"Dengan senang hati, Pak Tua."
Xin Fai memelototkan matanya ganas, Lan An terdengar tidak sopan jika memanggil seorang seperti Chuan Gui dengan sebutan Pak Tua.
"Tidak apa-apa, saya tidak keberatan. Anggap saja panggilan itu untuk membuat kita semakin akrab."
Seketika Lan An tersenyum lebar. "Benar sekali Pak Tua! Kita akan menjadi sahabat sejati juga, hahahah!"
Di sisi lain Chuan Gui merasa dia telah menemukan seseorang yang tepat, Pasukan Seribu Kaki membutuhkan sosok seperti Lan An dan dia berterimakasih pada Xin Fai telah mengenalkan pemuda itu kepadanya.
Lan An memberikan Kitab Tujuh Kunci pada Xin Fai dengan memberikan sedikit arahan.
"Kitab ini berasal dari Kekaisaran Qing dan jurus ini jarang digunakan di sini. Di dalamnya kau bisa mempelajari beberapa jurus tanpa tenaga dalam. Hal inilah yang membuat Kitab Tujuh Kunci sangat diincar di dunia persilatan. Dan satu lagi, isi kitab ini sangat misterius. Aku bahkan baru menemukan dua kunci dalam kitab ini, yaitu kunci bulan dan kunci roh."
Lan An memberikan arahan setelah menarik napas sejenak. "Selama mempelajari kitab ini kuharap kau melakukannya dengan hati-hati, roh di dalam kitab ini sangat banyak. Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Jaga kitab itu jangan sampai jatuh ke tangan yang salah."
Xin Fai sempat menyesal telah merebut kitab tersebut dari Lan An namun Lan An mengatakan bahwa dia tidak membutuhkannya lagi karena dia sudah jarang mempelajarinya dan frustrasi karena tidak menemukan 5 kunci tersisa.
__ADS_1
"Semoga kau bisa membuka 5 kunci itu lagi. Aku akan menanti namamu terkenal sebagai Kaisar Langit Kedua."
Xin Fai yang daritadi hanya mendengarkan akhirnya mengeluarkan suara, mungkin bisa dibilang saat ini dia dia harus berpisah dengan Lan An.
"Kakak An. Aku sangat berterimakasih atas ilmu yang kau ajarkan padamu, aku akan mempelajari seluruh kitab ini seperti permintaanmu."
Lan An tersenyum lemah, ia menyodorkan sebuah gelang yang dibuatnya dari akar pohon.
"Aku tidak tahu harus memberikan apa padamu, gelang ini sebagai tanda perpisahan kita. Tidak penting harganya, yang terpenting adalah tulus tidaknya, bukan?" Senyum hangat Lan An dibarengi oleh hembusan angin sore kala itu. Xin Fai tidak akan melupakan sosok pemuda dengan tubuh serupa pohon cemara angin ini.
Xin Fai menerima gelang tersebut dan segera memakainya, Chuan Gui yang menatap perpisahan mereka dalam hati ikut tersentuh namun dia cukup lihai menyembunyikannya.
Kebaikan hati Lan An membuatnya selalu kagum pada pemuda itu, Xin Fai memeluk Lan An sebentar setelah mengucapkan salam perpisahan.
Sore itu Xin Fai telah menghilang dari pandangan Lan An dan Chuan Gui. Lan An hanya berharap mereka akan dipertemukan suatu hari nanti.
Di perjalanan melewati hutan tersebut Lang menyusulnya dari belakang, Xin Fai berniat melanjutkan perjalanannya ke kota Zhu. Bulan purnama bersinar terang kala itu, namun hati Xin Fai merasa tak tenang.
Ia membuka sebentar isi kitab dan menemukan mustika milik Lan An terselip di sana.
"Bukankah ini mustika berharga milik Kakak An? Aku harus mengembalikannya."
***
__ADS_1