Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 140 - Penyerangan Tak Diduga VI


__ADS_3

Sementara itu Jurus Seratus Pedang Purnama telah merenggut banyak nyawa di sepanjang jalan yang Xin Fai lewati bahkan dua pendekar besar dari Darah Hitam tadi juga tak luput dari tebasannya, tubuh Xin Fai kini telah bermandikan darah disertai tumpukan mayat yang berhamburan layaknya lautan darah.


Pemandangan itu tentu saja membuat Zhao Chen yang berada di ketinggian sana mengernyit, dia menyipitkan mata saat menyadari hal tersebut dilakukan oleh Xin Fai sendirian karena terlalu fokus membunuh pendekar aliran putih lainnya.


"Anak itu layaknya pembunuh berantai yang telah hidup berabad-abad, jika terus membiarkannya mungkin dia akan menjadi musuh terbesar Manusia Darah Iblis di masa depan..." Ucapnya sembari membidik anak panah ke arah Xin Fai, di saat bersamaan matanya bertemu dengan bola mata Xin Fai yang menyala-nyala dan ingin sekali mencabik dagingnya.


Melihat keadaan Lang semakin buruk akibat ulah Zhao Chen tentu saja Xin Fai emosi, dia memungut sebuah pedang di samping mayat lalu melemparkannya dengan kecepatan tinggi. Zhao Chen kembali menangkapnya seperti tadi dengan senyum remeh.


"Dengan lemparan anak-anak seperti ini kau kira akan melukaiku?"


Zhao Chen terkikik di atas sana. Sedang Xin Fai juga ikut tertawa namun tawaannya sangatlah aneh hingga membuat Zhao Chen kembali merasa ada sesuatu yang salah.


Xin Fai menunjuk ke arahnya. "Persediaan racun Kelabang Lima Mata terakhirku ada di gagang pedang itu, bagaimana rasanya terkena racun itu? Bukannya sangat menyakitkan?"


Tawaan Xin Fai terdengar ketika Zhao Chen melepaskan pedang itu tiba-tiba dan menatapi telapak tangannya yang saat ini terbakar hingga terkelupas dan menampakkan tulang di dalamnya.


"Kau-!? Bocah biadab!"


"Hahahaha percuma saja mengutukku begitu, umurmu sudah ditentukan tak lama lagi setelah terkena racun itu!"


Melihat Zhao Chen kini terkena sebuah racun mematikan para pasukan Darah Putih yang sejak tadi fokus membidik anak panah ke tempat lain kini beralih menyerang Xin Fai dengan menghujani anak panah ke arahnya. Meskipun Liu Fengying sudah menekankan pada mereka untuk tidak membunuh Xin Fai namun mereka tetap saja melakukannya tanpa pikir dua kali.


Xin Fai berlari di antara kerumunan orang hingga membuat sasaran anak panah itu justru mengenai teman mereka sendiri.


Zhao Chen menggerutu. "Sial! Anak itu sangat licik! Benar-benar licik! Kau lihat tingkahnya itu! Kau pikir ada anak seusianya yang pintar bertarung seperti ini?!" Pria itu tak bisa menahan diri untuk terus mengumpat selagi mengobati tangannya yang kian lama berwarna ungu kebiruan, sensasi panas di seluruh organ tubuhnya membuat Zhao Chen semakin ingin mencabik-cabik tubuh Xin Fai. Dia meminum segala jenis penawar dari sakunya bahkan sumber daya langka namun satupun tidak ada yang berguna menghilangkan racun tersebut.


Di bawah sana Xin Fai tersenyum lebar, dia mengeluarkan sebuah kotak kecil lalu bersuara keras. "Kau mencari penawarnya? Aku memilikinya. Hanya ada satu penawar untuk racun itu dan hanya tertulis di kitab yang dimiliki sang pemilik siluman kelabang sendiri."


Zhao Chen menelan ludahnya kasar, di satu sisi dia tetap ingin hidup dan mendapatkan penawar tersebut. Di sisi lain dia tak ingin mengkhianati Liu Fengying dengan mengikuti omongan Xin Fai.


"Berikan penawar itu padaku!"


"Kau menginginkannya?"

__ADS_1


Zhao Chen menggerakkan siluman elangnya sedikit ke bawah hingga jaraknya tidak terlalu jauh dari Xin Fai.


"Berikan itu atau aku akan membunuhmu!"


"Hee... Aku susah payah membuatnya dulu dan kau malah memintanya seperti ini." Xin Fai memegang kotak itu seperti hendak menjatuhkan isinya ke bawah. Hal itu kontan saja membuat Zhao Chen panik.


"Berikan!"


Xin Fai kembali memasukkan kotak kecil itu ke dalam sakunya. "Aku akan memberikannya jika kau menukarnya dengan mustika yang berada di balik jubahmu itu."


Zhao Chen terdiam membisu, dia meraba sakunya dan memperlihatkan salah satu Mustika 7 Musim berwarna merah darah yang belakangan dia dapatkan setelah melakukan perjalanan panjang di tanah asing.


"Tidak akan! Kau tahu, mustika ini kudapatkan dengan bertaruh nyawa! Aku tidak akan memberikannya padamu!"


Mendengar penolakan tersebut Xin Fai melipat kedua tangannya ragu-ragu, dia seolah berpikir sebelum menjawab.


"Tapi sekarang nyawamu juga sedang dipertaruhkan, bukan? Tidak ada yang bisa menyelamatkan nyawamu selain penawar ini."


Terdengar Zhao Chen menggerutu kesal, sikap gemulainya tak nampak lagi. Dia malah terlihat seperti lelaki kekar yang pusing tujuh keliling karena luka bakar di tangannya saat ini telah menjalar hingga ke lengannya.


"Kita harus memotong lengan Anda jika tak ingin racun itu menyebar lebih cepat." Sarannya. Xin Fai dapat mendengarnya dan lebih dulu menyangkal.


"Apa kau bodoh? Racun itu jelas-jelas sudah menyatu dengan darahnya sendiri. Memotong tangannya hanya akan membuat dia cacat dan apa yang kau lakukan itu sia-sia."


Zhao Chen tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena pria itu masih bimbang dengan keputusannya sendiri maka Xin Fai tak berniat lagi untuk bernegosiasi, dia langsung melangkahkan kakinya pergi dan masuk ke pertarungan demi membantu para pendekar dari pihak mereka.


"Anak kecil! Kemarilah!"


Sedikit senyum nampak di wajah Xin Fai. Dia berjalan mendekat. "Apa kau berubah haluan?"


"Ck! Bukan saatnya mengejekku! Berikan penawar itu padaku."


Zhao Chen turun dari siluman tersebut dan berjalan ke arah Xin Fai, dia memegang sebuah mustika di tangannya sedang Xin Fai mengeluarkan penawar tersebut.

__ADS_1


Tanpa diduga Zhao Chen tiba-tiba melakukan serangan, Xin Fai sudah lebih dulu menebak pria itu akan melakukan serangan karena orang sepertinya memang tak mungkin menuruti kemauannya dengan mudah.


Zhao Chen yang tak memperkirakan musuhnya akan menyerang balik tentu tak bisa berbuat banyak, dia hendak merebut penawar di tangan Xin Fai namun laju serangan berkecepatan tinggi kini menebasnya hingga membuka sayatan dalam yang melintang miring di sekujur tubuhnya.


Dalam detik-detik itu Xin Fai mengambil mustika di tangannya sedang tubuh Zhao Chen terjatuh di tanah.


Zhao Chen terbatuk dengan mulut dipenuhi darah, ingin berbicara saja dia sudah kesusahan karena darah tersebut menyumbat tenggorokannya.


"Kau... Bocah sialan..."


Xin Fai berdiri tepat di hadapannya. Dia berjongkok lalu meletakkan kotak kecil tersebut di tanah.


"Walaupun kau tiba-tiba menyerang aku tetap akan memberikannya, penawar ini akan memberikanmu kehidupan yang lebih baik..."


Zhao Chen merangkak dan meraih kotak kecil tersebut tertatih-tatih, merasa kesempatan hidupnya hanya bergantung pada kotak kecil ini dia tak memiliki pilihan lain. Perlahan demi perlahan tutup kotak tersebut dibukanya hingga yang terlihat hanya sebuah kotak kecil kosong.


Di hadapannya Xin Fai kembali berbicara.


"Sebenarnya bukan itu penawarnya..."


"Kau menyembunyikannya!?" Zhao Chen hendak bangkit, merasa telah ditipu pasukan Darah Putih juga berniat menyelamatkan pimpinan mereka. Namun melakukannya tidak semudah itu, pasukan pihak putih-netral juga melakukan penyerangan secara besar-besaran di stadium ini tanpa peduli harus merenggut nyawa sendiri.


"Kau menginginkan penawar itu? Penawarnya hanya ada satu." Xin Fai menarik pedangnya ke atas hingga sejajar dengan leher Zhao Chen.


"Penawar ini akan membuatmu lebih baik. Dan itu hanya akan kau dapat jika sudah sampai di neraka nanti!"


Sayatan pedang meluncur deras hingga memotong leher Zhao Chen begitu saja, pria itu terkapar dengan kepala yang terlepas dari tempatnya, darah mengalir di sana dengan mata Zhao Chen yang masih terbuka lebar.


Pasukan Darah Putih yang terlambat menyelamatkan pimpinan mereka hanya bisa menggerutu kesal, kini hanya tersisa bawahan Zhao Chen di sekitar Xin Fai yang telah bersiap dengan aura pembunuh begitu kuat.


Merasa belum puas menuntaskan dendam yang diembannya selama ini Xin Fai kembali mengacungkan pedang bersiap membunuh lebih banyak lagi.


"Demi kematian seluruh keluargaku, kalian harus mati hari ini."

__ADS_1


Pasukan Darah Putih mundur sejenak namun tidak berniat mengalah, mereka mengumpulkan pasukan lebih banyak lagi hingga membuat Yong Tao mengkhawatirkan Xin Fai. Dia menelan ludah kasar karena sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari Liu Fengying dan juga para pendekar hebat dari aliran putih lainnya tidak ada satupun yang bisa menyelamatkan Xin Fai.


__ADS_2