Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 168 - Misi Penyusupan VI


__ADS_3

Tak lama ketika telah sampai di kamarnya Xin Fai menarik pendekar yang membawanya ke dalam kamar dan membunuhnya seketika. Dia menutup pintu setelah memastikan tidak ada orang yang melihat dan segera menyembunyikan mayat pria itu ke bawah kolong kamar. Dia memakai pelindung kepala milik pria itu disertai jubah panjang hitam khusus milik anggota Manusia Darah Iblis yang bertugas menjaga markas Kota Sanmin.


Xin Fai keluar dari kamar sembari membetulkan letak pelindung kepalanya. Dia berjalan di lorong-lorong utama melewati para penjaga. Untungnya tidak ada yang menaruh curiga padanya hingga dia bisa bergerak bebas.


'Setelah ini belok kiri menuju gudang.' batinnya mengingat kembali perkataan Xu Ming. Telah sampai di gudang dia berjalan jongkok karena di balik tumpukan kotak terlihat dua orang tengah memindahkan barang di sana.


Xin Fai tidak bisa memastikan ke arah mana dua orang itu melihat, dia terus berjalan di balik meja dengan menimbulkan sedikit bunyi.


"Hei!"


'Sial! Seharusnya aku membunuh mereka tadi.' umpat Xin Fai dalam hati namun hal itu tidak bisa dilakukan karena jika seandainya ada yang menyadari dua orang yang tengah bertugas ini tidak kunjung kembali pasti akan memunculkan masalah baru.


"Cepatlah bergerak! Si pelontos itu pasti akan mengoceh lagi jika kita telat seperti tadi!"


"Jangan cuma bicara, bantu aku angkat juga!"


Dua orang itu akhirnya pergi dan hilang di depan pintu, Xin Fai melanjutkan kembali perjalanannya. "Seharusnya di gudang ini ada sebuah ruangan rahasia..." Xin Fai menyentuh dinding gudang yang sangat keras, dia mengetuk setiap bagiannya hingga terdengar satu bagian yang menimbulkan bunyi nyaring.


"Ini dia."


Namun jika dipikir-pikir lagi tidak ada cara untuk masuk ke sana, mendobraknya juga tidak mungkin. Xin Fai mulai berbalik badan kemudian mengetuk dinding hingga menimbulkan bunyi. Bunyi tersebut memantul ke setiap benda di dalam ruangan dan secara otomatis membuatnya memiliki gambaran akan tempat di sekitarnya.


Xin Fai menemukan sebuah tuas di dekat meja, saat menariknya ke bawah sebuah pintu bergerak hingga membuka ruangan rahasia di dalamnya. Dia segera masuk ke sana sampai pintu itu menutup kembali.


Lorong-lorong di depan Xin Fai kini diterangi oleh cahaya lilin yang dipasang di dinding, banyak lukisan-lukisan aneh dan juga bercak darah menempel di sana. Semakin masuk ke dalam genangan darah semakin membanjiri tanah, dinding juga menguarkan bau amis karena terdapat bekas darah berbentuk telapak tangan. Tidak tahu apa maksud dari ini semua. Mungkin saja telah terjadi pertarungan di sini.


"Ketua Liu akan segera pensiun? Anaknya yang menjadi pimpinan kita? Apa kau bercanda?" Seorang penjaga berbicara di depan sana. Xin Fai buru-buru bersembunyi di balik tong minyak sembari mendengar informasi yang cukup mengejutkan itu.


"Yah begitulah, dia sekarang sedang dirawat di kediamannya. Pertarungan tujuh tahun lalu membuat kesehatannya semakin memburuk dari tahun ke tahun."

__ADS_1


Tanpa diduga kedua orang itu malah berjalan ke arahnya, Xin Fai bersiap mengeluarkan pedangnya. Saat dia telah keluar dari tempat persembunyiannya dan memotong tepat di leher dua orang itu dalam satu tebasan rupa-rupanya satu penjaga lagi menyusul dan menyaksikan kematian dua penjaga tersebut.


"Penyusup! Ada penyusup!"


Sontak saja teriakan tersebut mengundang penjaga lainnya. Xin Fai melesat secepat mungkin dan memotong batang lehernya agar tidak bersuara lagi. Ketika penjaga lain datang menghampiri yang mereka dapati adalah tiga orang telah terkapar tak bernyawa dan satunya masih bertahan.


"Apa yang terjadi?!"


Xin Fai menjawab. "Ada satu penyusup di antara mereka, dia sudah membunuh dua orang!"


Tidak ada yang menaruh curiga pada Xin Fai, kelima orang itu meneliti jasad penjaga tersebut dan tidak mendapatkan lencana identitas dari sakunya.


Xin Fai menyembunyikan lencana milik pria itu di sakunya, dan bergerak waspada. Sebenarnya dia bisa saja membunuh lima orang ini namun dirinya sendiri tidak bisa memastikan jumlah penjaga ruang bawah tanah ini. Lagipula jika bergerak dengan diketahui musuh akan jauh lebih merepotkan menurutnya.


"Bisa kau tunjukkan lencana milikmu?"


Xin Fai menunjukkan lencana yang baru saja didapatkannya, dia bersyukur Xu Ming memberitahu betapa pentingnya lencana ini jika ingin menyusup.


Ruangan gelap itu berhasil menyembunyikan tubuh Xin Fai, dia berjalan mengendap-endap. Tak jauh darinya di sebelah kanan dan kiri terdapat kurungan siluman bertubuh besar.


Baru saja ingin melewati mulut pintu seekor siluman terbangun, dia menatapi Xin Fai bersama suara desisannya yang membuat Xin Fai tersadar dirinya telah ketahuan. Namun siluman iblis itu tidak bereaksi apa-apa dan menganggapnya hanya angin lalu.


'Apa dia membiarkanku karena aku seperti penjaga di sini? Atau karena ada iblis di tubuhku?' batinnya menebak-nebak.


Tidak memilih memikirkan lebih jauh Xin Fai kini telah tiba di ujung lorong. Di sana terdapat banyak tuas aneh dan juga roda gerigi berukuran besar.


Xu Ming mengatakan Xin Fai hanya perlu mengotak-atik roda gerigi dan tuas ini hingga terdengar bunyi. Meskipun begitu sedikit informasi yang diberikan namun hal itu berguna sejauh ini dan tidak ada satupun yang meleset.


Namun hampir satu jam mengarahkan benda-benda ini ke segala arah tidak ada satupun yang berhasil. Xin Fai menghela napas berat. Menggeser besi berat seukuran setengah badannya ini bukan hal mudah. Tapi ini adalah pertahanan terakhir yang harus dilaluinya demi mendapatkan penawar segala racun.

__ADS_1


"Ais... Seandainya aku orang yang beruntung, ayolah berpikir... Sebentar lagi mereka mungkin akan datang." Xin Fai bergumam pelan, langkahnya mondar-mandir di depan tuas besi.


Xin Fai menarik tuas paling kecil ke kanan, lalu ke kiri, saat menarik ke arah bawah terdengar suara 'tuk' di dalamnya. Namun tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.


Tuas berikutnya Xin Fai arahkan ke kiri, namun tuas sebelumnya berpindah ke tempat semula. Xin Fai meremas rambutnya kesal, ini adalah sebuah teka-teki rumit yang sulit dipecahkan. Tak mau menyerah begitu saja dia terus mengulang dari tuas pertama sampai ke tuas kesembilan hingga setengah jam mencoba. Dia menarik napas penat, fisiknya memang tidak lelah tapi otaknya mulai panas sejak tadi.


Ketika mengarahkan tuas terbesar ke belakang sebuah bunyi 'tuk' terdengar kembali. Xin Fai membuka pintu besar itu sekuat tenaga. Bobotnya yang berat menimbulkan suara gesekan saat didorong.


Xin Fai menarik napas lega saat dia berhasil memasuki ruangan ini setelah bersusah payah, jika saja bukan karena kecerdikannya mungkin dia akan terus buntu saat membuka pintu tadi.


Di depannya sebuah ruangan dengan rak-rak tinggi diisi oleh berbagai macam barang berharga seperti peta dunia, liontin mahal dan juga kitab-kitab Kekaisaran lain menyambut kedatangannya. Barang-barang hasil rampokan seperti emas dan juga perunggu bertumpuk-tumpuk di sudut kiri. Xin Fai berkeliling agak lama hingga hidungnya dapat mencium bau sebuah ramuan di ujung ruangan.


Saat menyadari obat yang mengeluarkan bau khas ini berada dalam giok Xin Fai tersenyum kecil, dia bisa memastikan itu bukanlah racun setelah mencium aromanya. Xu Ming mengatakan bahwa penawar segala racun buatan Wei Xinxin diletakkan dalam sebuah giok kecil berwarna ungu dan dia bisa memastikan barang yang dimaksud ada di tangannya.


Xin Fai segera meminumnya, beberapa detik pandangannya masih gelap hingga di detik kesepuluh perlahan matanya mulai menangkap samar-samar gundukan emas di depannya.


"Aku... Aku bisa melihat? Ah, setelah sekian lama..." Xin Fai tidak tahu harus berkata apa-apa lagi, rasa bahagia ini telah sekian lama diinginkannya. Dia memutar pandangan dan baru bisa melihat langsung kelap-kelip barang berharga ini.


Sekilas senyum licik terpasang di wajahnya. Dia menggerakkan tangan sambil tertawa-tawa. "Hehehe..."


Dalam kurun waktu dua menit seluruh isi ruangan menjadi kosong melompong, entah bagaimana ekspresi Fen Gong saat melihat ini semua mungkin saja dia akan muntah darah.


Tidak ada satupun barang berharga yang tersisa selain sebuah pedang pusaka yang kini berada dalam genggamannya. Xin Fai yang baru saja bisa melihat kembali tak habis-habisnya tersenyum puas.


"Setelah aku bisa melihat lagi jangan harap kalian bisa selamat. Aku akan membantai kalian semua hari ini." Dia berkata sembari menenteng pedang pusaka, dalam sekejap mata dia telah menghilang dari ruangan itu.


***


**sebenarnya kemarin udh diketik sayangnya pas lgi revisi aplikasi nulisnya force close (nutup sendiri) pas liat eh yg kutulis juga ngilang. terpaksa ngetik ulang hari ini🀣

__ADS_1


btw jangan lupa dukungannya πŸ™πŸ™πŸ£**


__ADS_2