Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
PERTARUNGAN DIMULAI


__ADS_3

Keesokan harinya, Teo bersama Agil bergegas menuju arena turnamen. Suasana di sekitar arena begitu ramai dengan kerumunan penonton yang bersemangat. Langit mendung yang pekat menambah kesan misterius dan tegang di udara.


Mereka masuk ke dalam arena yang telah dipenuhi dengan penonton yang antusias. Sorak-sorai dan tepuk tangan menyambut kedatangan para peserta. Di sekeliling arena, terlihat layar-layar besar yang memperlihatkan adegan pertandingan bagi mereka yang tidak dapat melihat langsung. Layar-layar yang dibuat oleh penyihir kerajaan.


"Pergilah, Nak!"


"Aku ingin tau kekuatan seperti apa yang dimiliki Teo, hingga bisa membunuh binatang iblis itu." Namun Agil segera menyampingkan pikirannya tentang kejadian mengerikan yang dialami oleh Teo saat ia membunuh beruang iblis. Ia ingin fokus pada turnamen ini dan ingin melihat Teo bertarung dengan serius. Namun tetap, batinnya masih penasaran dan penuh pertanyaan tentang peristiwa tersebut.


Ketika mereka tiba di arena, suasana semakin tegang. Peserta-peserta turnamen yang terdiri dari pendekar kecil dan pendekar remaja berjalan dengan tegap menuju panggung utama. Mata mereka penuh semangat dan tekat untuk memenangkan turnamen ini.


Di pinggir arena, raja Erick dan para bangsawan duduk dengan pakaian kerajaan yang megah. Mereka siap menyaksikan pertarungan yang menentukan nasib para pendekar muda ini. Cahaya sorotan memancar dari langit-langit arena, menciptakan suasana yang dramatis dan mengesankan.


Agil memilih duduk tak jauh dari arena. Ia duduk di tempat terdepan bangku penonton.


Teo melihat sekeliling dengan penuh kagum, merasakan getaran energi dan semangat yang memenuhi udara. Ia merasakan adrenalin memuncak di dalam dirinya.


Turnamen akan segera dimulai. Teo dan para peserta lainnya berdiri di tengah arena, siap untuk bertarung. Mata mereka memancarkan tekat dan semangat yang kuat. Teo merasakan getaran energi dan persaingan yang menegangkan di antara para pendekar muda yang berdiri di sekelilingnya.


Dalam kegelapan mendung yang menyelimuti arena, sorak-sorai penonton semakin membesar. Raja Erick memberikan sambutan singkat, menyatakan tujuan turnamen ini untuk mencari bakat terbaik yang akan bergabung dalam pasukan kerajaan untuk menjaga perdamaian di Braga.


Ketika raja Erick mengangkat tangan kanannya, pertanda dimulainya turnamen, cahaya memancar dari langit-langit arena, menerangi panggung pertarungan.


Para peserta mulai mengambil undiannya, nomor urut siapa yang akan melawan siapa.


Teo mendapat nomor urut pertama.

__ADS_1


Mendung semakin pekat, dan tiba-tiba sambaran petir yang sangat kuat memecah kegelapan. Dari sambaran tersebut, muncullah Dewa Trevor, dewa petir yang menjadi pelindung negeri Braga.


Para penonton yang hadir segera menyadari bahwa kehadiran dewa tersebut menandakan adanya seseorang yang menarik perhatiannya.


Dewa Trevor turun ke arena dengan langkah tegap dan berbicara dengan suara lantang yang memenuhi seluruh arena, "Aku akan memilih murid dari para peserta yang memenangkan pertandingan ini."


Sorak-sorai penonton semakin membesar, dan antusiasme mereka tak terbendung. Mereka sangat penasaran siapa yang akan menjadi murid dewa itu.


"Aku sebenarnya tidak berniat mengambil murid. Namun, kali ini aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri pertandingan dari utusan Dewa Agni," batin dewa petir dengan senyum yang mencurigakan.


Teo, yang tidak mengenal siapa Dewa Trevor, tetap fokus pada pedangnya. Ia merasakan kegugupan dalam dirinya karena ini adalah kali pertama ia memegang pedang sungguhan.


Ia merapatkan tangan di sekitar pegangan pedang, menarik napas dalam-dalam, dan memusatkan pikirannya pada pertarungan yang akan datang.


Saat sorak-sorai penonton mereda, pertandingan pun akan dimulai. Suasana tegang dan penuh semangat meliputi seluruh arena.


Teo melangkah maju dengan gugup, "bagaimana jika aku membunuh seseorang? Ayah tidak pernah melatihku untuk menggunakan tenaga setengah-setengah." Batinnya.


Memang Teo dilatih untuk tidak pernah mengurangi kekuatannya, justru diharuskan untuk menambah tenaganya. Sedang aturan itu mengharuskannya untuk tidak membunuh. Bagaimana caranya, sedang saat ini Teo memegang pedang sungguhan, bukan kayu.


Ia memasuki arena, masih memenuhi pikirannya dengan cara agar tidak membunuh.


Teo akan berhadapan dengan Mael, seorang anak laki-laki berjubah hitam dengan mata hijau yang menyala.


Wasit telah memberi isyarat pertarungan dimulai.

__ADS_1


Teo memulai pertandingan dengan berhati-hati, memperhitungkan setiap langkahnya.


Raja Erick, yang tidak mengetahui identitas asli Teo, menjadi bingung melihat wajah Teo yang mirip dengan anaknya. Di samping itu, ia juga tak dapat menahan rasa penasaran terhadap kemampuan berpedang pendekar muda ini.


Mael mulai menyelimuti dirinya dengan elemen kegelapan, menciptakan aura kegelapan di sekelilingnya.


Teo melancarkan serangan pertamanya, tetapi Mael dengan kecepatan yang mengagumkan berhasil menghindari serangan tersebut. Pertarungan mereka menjadi semakin intens ketika kedua pedang mereka saling bertemu dan berbenturan. Dari benturan tersebut, terciptalah percikan api kecil, menambah dramatisasi pertarungan.


Penonton yang menyaksikan pertarungan ini sangat terpesona dengan keahlian berpedang mereka. Dewa Trevor dan Raja Erick, keduanya tersenyum menunjukkan minat mereka pada pertandingan ini. Tak disangka, pertandingan pertama bisa semenakjubkan ini. Namun, Agil, melihat pertarungan dengan khawatir, tetap memperhatikan keadaan Teo dengan cemas, takut anaknya terluka.


Ketika pedang Teo dan Mael berbenturan dan saling adu kekuatan, Mael tiba-tiba berbicara pada Teo, "Kekuatanmu begitu hebat. Aku berharap, itu bukanlah satu-satunya kekuatan yang kau miliki."


Teo tersenyum karena dia merasa lega bahwa ia tidak harus berusaha untuk tidak melukai lawannya. "Kekuatanmu juga mengesankan," jawab Teo dengan senyuman, menggambarkan rasa hormatnya pada Mael.


Mael tiba-tiba mengeluarkan aura yang awalnya hitam pekat, berubah menjadi aura hitam yang diliputi oleh warna merah menyala. Teo melihat perubahan aura Mael lalu bersiap-siap dengan jurus pedang satu tangannya yang ia ciptakan sendiri.


Dengan kecepatan yang luar biasa, Teo menyerang Mael. Mael mencoba menahan serangan Teo dengan gagang pedangnya. Namun, Mael tidak menyadari bahwa efek dari jurus pedang Teo bukanlah tebasan, melainkan sayatan angin yang sangat tajam. Angin yang diciptakan oleh Teo langsung mengarah ke leher Mael.


Namun, Mael yang masih dikelilingi oleh aura hitam dan merah berhasil menghindari serangan mendadak dari Teo. Ia melompat dengan lincah dan dengan sigap menghindari serangan mematikan tersebut.


“Jika aku boleh tau, aura apa itu?” tanya Teo penasaran.


Mael membusungkan dada, “Aura hitam ini berfungsi untuk meningkatkan kekuatan. Dan aura merah yang keluar setelahnya adalah aura untuk meningkatkan cara berpikir atau bisa digunakan untuk meningkatkan refleksku.”


“Pantas saja kau bisa menghindari seranganku tadi.” Ucap Teo penuh kekaguman. Dalam hatinya ia ingin mempelajari aura-aura itu.

__ADS_1


Pertandingan semakin memanas, dan suasana di arena menjadi semakin tegang. Teo dan Mael saling menatap dengan tekad yang kuat. Mereka siap untuk melanjutkan pertarungan ini dengan kekuatan penuh dan memperlihatkan kemampuan terbaik mereka.


__ADS_2