Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
Ch. 195 - Pasukan Darah Hitam


__ADS_3

Riuh rendah mulai mengisi para pendekar di belakangnya, api pertarungan mulai berkobar dari dua kubu tersebut.


Teriakan menggema pertanda pertarungan selanjutnya akan dimulai, Xin Fai menghadap ke arah Liang Hui seakan ingin memakannya hidup-hidup. Entah benar atau tidak dugaannya namun dia merasa pasukan Darah Hitamlah yang dulu datang membakar desa Peiyu. Mereka adalah orang yang sudah membunuh keluarganya.


Jika benar mereka yang melakukannya maka pimpinan mereka Liang Hui, pria itu adalah orang yang harus dipastikan mati hari ini.


Xin Fai beradu serangan dengan Liang Hui dalam beberapa detik, pedang bergerigi milik pria itu sangat tajam. Kualitas senjata Manusia Darah Iblis yang telah memasuki tahap pendekar agung memang jauh lebih baik, bahkan bisa memotong batu besar sekalipun tanpa kepayahan.


Liang Hui menjadi sedikit terkejut ketika sebuah energi asing memancar dari tubuh lawannya, dia sedikit menaruh curiga bahwa pemuda itu adalah sosok yang belakangan menjadi bayangan hitam yang meneror para Manusia Darah Iblis. Bukan hanya itu, dari tatapan matanya saja Liang Hui tahu pasti dia menyimpan dendam yang amat mendalam pada mereka.


Liang Hui dan Xin Fai mundur serentak menjauh dengan tatapan tak luput dari musuh. Sesaat Liang Hui tersenyum tipis saat melihat lengan Xin Fai berhasil tergores oleh pedang bergeriginya, namun ketika itu juga pipinya ikut tergores mengeluarkan aliran darah.


"Meskipun aku tidak tahu siapa kau, tapi dengan kekuatan seperti ini seharusnya namamu sudah terkenal."


"Terkenal atau tidak aku juga tidak peduli."


"Matamu juga menunjukkan kau adalah seorang pembunuh berdarah dingin," ucap Liang Hui memanasinya.


"Jangan sembarangan berbicara, pak tua."


"Oh, kulihat wajahmu sedikit berubah? Ada apa dengan kata-kataku sebelumnya? Bukankah yang kubilang itu benar adanya?" Liang Hui menarik sudut bibirnya licik saat melihat Xin Fai kembali terganggu dan menolak perkataan itu. "Kau adalah seorang pembunuh haus darah, masih tak percaya? Aku punya buktinya. Setelah membunuh ratusan orang kau masih ingin terus membunuh, bukan?"


Reaksi yang ditunjukkan Xin Fai sesuai dengan perkiraannya, Liang Hui menyadari pemuda itu berusaha menolak percaya akan perkataannya namun di sisi lain apa yang dikatakan Liang Hui benar. Samar-samar terdengar suara Xin Fai di depannya.

__ADS_1


"Kalau niatmu hanya ingin membuat aku terpancing, maka kau benar sekali..."


Di satu sisi Liang Hui merasa senang sekaligus takut, entah mengapa perasaannya buruk sekali saat melihat pancaran aura merah meledak-ledak keluar dari tubuh Xin Fai. Dia menelan ludah susah payah. Ketika melihat pedang musuhnya bercahaya terang bagaikan petir, seketika itu pula ratusan pisau cahaya mengejarnya.


Liang Hui berusaha menangkis mengandalkan pedangnya saat ratusan pisau cahaya menyerbu, tak disangka dalam keadaan terpojok begitu Xin Fai malah datang menyerang. "Kau benar sekali. Mendengar omonganmu aku semakin ingin melenyapkanmu."


Kaki Liang Hui bergetar hanya beberapa saat sebelum melakukan perlawanan balik, pertarungan dua pendekar itu nyaris saja mengenai Zhu Yue yang sibuk melawan musuh. Lelaki itu menghambur ke gerombolan pendekar aliran hitam seraya melibaskan serangan berkecepatan tinggi namun sayang di saat seperti itu sebuah serangan tidak diduga datang hampir membelah tubuhnya.


Zhu Yue membalikkan badan melihat pendekar yang hendak membunuhnya mati terkapar dengan tubuh tertancap ratusan pisau cahaya yang perlahan memudar. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain dan benar saja pisau cahaya tersebut berpencar mencari mangsa layaknya mahkluk hidup yang memiliki akal.


Tidak habis sampai di situ, angin berembus kencang melewati tubuh Zhu Yue. Pria itu berusaha melihat apa yang terjadi dan matanya dapat melihat jurus Seratus Pedang Purnama tengah menyerang Liang Hui habis-habisan.


Liang Hui jatuh terkapar dan berusaha bangkit, di saat bersamaan seorang pendekar lainnya menyusul dan berniat melindunginya. Dia adalah wakil ketua Darah Hitam.


"Lawanmu adalah aku, pendekar muda." Wakil ketua Darah Hitam berucap dingin.


"Kebetulan aku baru mempelajari jurus baru dari Kitab Terlarang. Mungkin kau ingin menjadi orang pertama yang mencobanya?"


"Kitab Terlarang katamu?!" Liang Hui tersedak napasnya sendiri, dia yakin Kitab itu telah menghilang selama ratusan tahun dan berada di tempat paling tersembunyi. Manusia Darah Iblis meyakini kitab itu berada di Hutan Kabut dan mengirimkan seribu pasukan demi mendapatkannya namun hasilnya nihil.


Dari ribuan pendekar yang dikirim tidak satupun dari mereka kembali, kini di tangan Manusia Darah Iblis hanya terdapat dua lembar kitab tersebut yang didapatkan dulu saat Kitab Terlarang masih berkeliaran di dunia persilatan.


Kesaktian kitab tanpa banding itu pernah menyebabkan pertumpahan darah secara besar-besaran antar sesama pendekar aliran hitam. Namun sejak menghilangnya kitab tersebut semua itu tidak terjadi lagi.

__ADS_1


Kembali dengan kesadarannya, Liang Hui tersenyum remeh. Tidak mungkin kitab tersebut masih ada, bahkan meskipun kekuatan Xin Fai setara dengan Pilar Kekaisaran pertama pun belum cukup untuk merebut kitab tersebut dari Hutan Kabut.


"Kuharap bukan omonganmu saja yang besar, anak muda. Aku sudah sering bertemu dengan orang sepertimu. Menggertak di awal padahal tangan kosong tidak membawa apa-apa."


Teman Liang Hui tak menunggu lama lagi, dia segera maju bersama dua golok besarnya. Kecepatan geraknya yang lincah seperti belut membuat lawannya akan kesulitan mengikuti pergerakan lelaki itu belum lagi jurus-jurus tingkat tinggi yang dilakukannya setara dengan pendekar tingkat agung.


Nyatanya menghadapi seorang pendekar agung sepuluh kali lebih susah dibanding melawan pendekar besar. Kekuatan yang terbilang hebat ini membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk mendapatkannya meskipun menggunakan sumber daya.


Tubuh lelaki itu melesak maju tak memberi ruang bagi pedang Xin Fai bergerak karena terus tertahan dengan sebelah goloknya sedang satunya lagi mengincar tubuh Xin Fai dari segala arah tanpa jeda.


Jelas sekali pria itu menggunakan kekuatan penuh agar bisa menghancurkan Xin Fai, berbeda dengan Liang Hui yang masih menghemat tenaga dalamnya demi menghadapi situasi terburuk. Pria itu perlahan memundurkan dirinya membuat Xin Fai panik, dia tidak boleh kehilangan mangsanya itu.


"Lihatlah, hanya omongannya saja yang besar. Katamu sudah mempelajari Kitab Terlarang?" ucapnya meledek.


Terjangan lawan kembali datang tak membiarkannya menarik napas, Xin Fai menahan menggunakan pedangnya sekuat tenaga.


"Apa-apaan dengan wajah sombongmu tadi? Setelah bertarung dengan temanku tampaknya kau mulai tidak percaya diri. Apa ada yang salah? Jangan-jangan sebenarnya kau tidak memiliki kitab itu?"


Liang Hui tergelak di tempatnya berdiri, bahkan tawaan mengejeknya itu menggelegar hingga terdengar di tempat jauh sekalipun. Dia menggelengkan kepala beberapa kali dengan mata berair.


"Hahahaha ini benar-benar lucu! Kupikir kau serius dengan ucapanmu dan aku berniat merebut kitab itu sekaligus membunuhmu. Ternyata omonganmu itu sama saja dengan gonggongan anj*ng! Hanya menggertak saja! Tidak lebih!"


***

__ADS_1


__ADS_2