
Lan An memundurkan diri sejenak. Padahal umurnya setahun lebih tua dari Xin Fai tapi pemuda itu jauh lebih cerdik, pemikirannya tajam seperti pisau ditambah lagi pengalaman bertarungnya lebih banyak.
"Darimana aku bisa tahu bagian yang tidak akan dilindunginya?"
"Kalau kau menyerang kakinya dia akan langsung melindunginya, satu-satunya cara adalah dengan membelokkan serangan ke bagian kepala."
Lan An mengangguk pelan sejenak, dia mulai mengeluarkan tenaga dalam serta aura bertarung yang cukup kuat untuk menggentarkan lawan. Tapi macan itu sama sekali tidak terpengaruh, dia tidak takut sama sekali pada manusia karena ukurannya lebih kecil daripada kaumnya sendiri.
Langkah Lan An berlalu begitu cepat membuat debu jalanan terbang di tanah yang dipijaknya. Dia mengarahkan mata pedang pada bagian mata macan, serangan itu ditanggapi dengan tebasan cakar yang sangat kuat.
Satu sentimeter lagi mata pedang akan bertemu dengan cakarnya di saat itu pula Lan An membelokkan arah serangan pedang menuju bawah dan dalam satu tarikan napas berhasil merobek bagian dada hingga ke leher lawannya.
Macan tersebut mundur beberapa langkah ketakutan, dia berbalik badan dan segera pergi begitu saja meninggalkan mereka. Termasuk macam satu lagi yang telah kehilangan taring dan cakarnya.
Xin Fai mengerutkan keningnya dalam melihat macan itu sama sekali tidak bergerak dari tempatnya, dia mencoba mendekat membuat binatang buas itu mundur hati-hati.
"Tenang saja aku tidak akan melukai mu lagi." Tangannya berhasil menjangkau kepala sang macan, membuatnya menggeram tidak jelas. Antara marah dan ketakutan, tapi beberapa saat kemudian dia menyadari Xin Fai sama sekali tidak berniat membunuhnya.
"Maaf aku mengambil cakar dan taringmu. Hidup di hutan tanpa dua hal itu pasti akan sangat sulit..." ujarnya merasa menyesal, seharusnya dia langsung membunuhnya saja tadi.
Xin Fai mengelus kepalanya lagi berharap macan tersebut sedikit terhibur, walaupun bukan manusia tapi terlihat jelas di matanya sang macan seperti kehilangan sesuatu yang berharga. Kuku-kukunya yang telah berdarah dia tatapi sebentar.
Tak mau membuang lebih banyak waktu Xin Fai segera melepaskan tangannya. Dia menoleh ke arah Lan An yang mengangguk pelan. Hari masih pagi dan mereka harus bergegas mengelilingi desa ini sebelum malam tiba.
Namun ketika mereka melangkah macan di belakang mereka mengikuti pelan-pelan. Xin Fai membalikkan badannya sambil tersenyum kecil, begitu juga Lan An.
"Kita ketambahan satu pemberani sepertinya."
***
Langit berubah gelap, suasana yang begitu mencekam membuat mental kedua pemuda itu tertekan sedemikian rupa. Hawa roh-roh jahat seperti menyusup di balik rumah papan yang telah hancur. Tumbuhan menjalar bergerak diam-diam. Bunyi berisik dari hutan dengan pepohonan tinggi menggema.
__ADS_1
Lan An memutari sekitarnya, langit mendung menandakan akan hujan sebentar lagi. Dia menatapi Xin Fai bergantian seperti meminta pendapatnya.
"Sepertinya kita harus bermalam di sini..." begitu katanya, Lan An menerawang sesaat.
"Adik kecil, matamu memerah kenapa?"
"Hah?" Xin Fai memegangi matanya pelan, dia sudah lebih dulu menyadari mata Lan "Kukira hanya kau yang kurang tidur semalaman, ternyata mataku juga sama."
Lan An menatapi macan di sebelah Xin Fai, dia sama sekali tidak terpengaruh energi jahat yang sejak sepuluh jam lalu mereka rasakan. Pantas saja saat bertarung dengannya langkah binatang buas itu lebih ringan, selain manusia kekuatan misterius yang melindungi desa ini tidak akan memengaruhi apapun.
"Jangan bilang sesuatu yang buruk akan datang saat malam tiba nanti..." Lan An mengusap tubuhnya ketakutan, dia menggelengkan kepalanya merasakan tengkuknya mulai mendingin. Membayangkan hal-hal semacam hantu atau arwah sang pembunuh berantai yang mendatangi mereka saja dia tidak sanggup lagi.
"Aku memiliki firasat yang sama. Mereka akan datang saat malam tiba."
"Darimana kau tahu tentang itu?"
"Orang-orang bilang para pengunjung yang hilang di sini meninggal saat malam. Dalam keadaan berdiri ataupun mata terbuka."
"Itu gunanya bergaul dengan orang-orang."
Lan An mencebik kesal merasa kini kalimatnya dibalikkan oleh Xin Fai, dia pernah mengatakan hal itu sebelumnya.
Sebuah rumah yang kemungkinan besar dulunya adalah kedai menjadi tempat untuk mereka berteduh, Xin Fai duduk di atas kursi bulat yang terbuat dari batu sembari menatap awan-awan tebal yang tengah berarak menuju desa Guangfu. Di bawah gulungan awan itu petir seolah berantai-rantai, bersiap menunjukkan keganasannya ketika tiba di tempat mereka.
Lima menit kemudian seperti yang telah diperkirakan awan hitam berkumpul di atas mereka bersama loncatan kilat yang dahsyat. Bumi terasa bergetar hebat, di satu sisi Lan An memilih memasuki dalam kedai tak sanggup melihat kilat di luar yang sangat kuat. Di sisi lain Xin Fai dan macan duduk di depan, menunggu langit sepenuhnya hitam.
Tatapan mata Xin Fai tidak pernah lepas dari petir yang terus menyambar, dia tersentak kecil saat Lan An menepuk pundaknya secara tiba-tiba.
"Aku melihat hantu! Benar-benar hantu! Dia ada di belakang rumah ini!" Serunya begitu ketakutan, suara menjeritnya seperti suara bebek jantan.
Xin Fai bangun menyingkirkan kain-kain lusuh yang menutupi dapur rumah dan di depan sana pintu belakang telah terbuka. Angin kencang membuat pintu bobrok itu berderit-derit kuat, suaranya sangat mengganggu. Hingga dalam kegelapan malam bayangan gelap muncul dan lewat begitu saja di depan mereka.
__ADS_1
"Apa kataku!" Lan An lagi-lagi tidak bisa mengendalikan diri, dia bersembunyi di balik tiang-tiang rumah. Punggungnya terasa merinding dan menyadari ada sesuatu di belakangnya.
"Di belakangmu." Xin Fai berkata pelan, Lan An menahan napas sambil menegakkan punggungnya panik. Dia tidak berani menoleh ke belakang, jujur dia tidak siap jika diharuskan untuk menatapi wajah hantu yang hancur berdarah-darah.
"Bi-bisa kau tangani sebentar sesuatu yang berada di belakangku?"
"Sayangnya tidak bisa, dia... Tidak bisa kita lawan sama sekali," ujar Xin Fai seakan tanpa harapan. Napas Lan An lagi-lagi tercekat mendengar suara langkah di belakangnya. Di dalam hatinya dia hanya bisa berharap punggungnya masih baik-baik saja setelah ini.
"Bagaimana bentuknya? Apa dia akan menyerangku?"
"Aku menjamin seratus persen asal kau tidak mengganggunya dia tidak akan menyerang mu. Dan... Dia sama sekali tidak memiliki gigi."
Kemungkinan besar hantu yang berada di belakangnya ini mengalami kematian yang begitu mengenaskan sampai tidak memiliki gigi. Lan An bisa membayangkan mulut koyak berdarah dengan muka busuk dipenuhi ulat. Dia ingin sekali menjerit detik itu juga.
"Kau benar-benar tidak mau menyingkirkannya dari belakangku?"
"Kau lihat saja siapa yang berada di belakangmu, untuk apa takut-takut seperti itu?"
Lan An menarik napas dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Dia masih menyiapkan mental selama beberapa menit hingga akhirnya memutuskan untuk melihat sosok di belakangnya.
Mata Lan An melotot kuat. "Xin Fai! Kau menakut-nakutiku!" umpatnya saat mendapati hanya macan yang berada di belakangnya, menoleh kanan kiri seperti merasakan sesuatu.
"Tapi kali ini sepertinya sungguhan."
"Apanya?" Lan An sama sekali tidak bisa melihat sekitarnya karena mereka tidak memiliki penerangan sama sekali.
"Di balik lemari itu, apa kau melihatnya?"
***
Ganti genre jadi horor aja apa ya wkwkkwš¤£
__ADS_1