Pendekar Pedang Iblis

Pendekar Pedang Iblis
PENDAFTARAN


__ADS_3

Setelah tiga hari lamanya dalam keadaan tak sadarkan diri, Teo akhirnya membuka mata. Ia merasa lemah dan bingung.


"Ayah... Tolong ibu, ayah," bisik Teo dengan suara yang lemah, menggambarkan kekhawatirannya pada Eva.


Kelegaan langsung menyelimuti Eva, ibu Teo, segera melompat ke ranjang dan memeluknya dengan erat. Air matanya mengalir tersedu-sedu, mencerminkan kebahagiaan dan kelegaan atas kembalinya Teo. "Sayang, Teo sudah bangun!" serunya dengan suara bergetar, sambil terus memeluk Teo penuh kekhawatiran.


Agil, ayah Teo, tidak kalah khawatir. Ia mendekat dan segera memeluk Teo dengan penuh kehangatan. "Syukurlah, kau sudah sadar, nak. Maaf ayah tidak berada di dekatmu saat itu," ucap Agil dengan suara penuh penyesalan, sambil menatap mata Teo dengan penuh kelembutan.


Mereka bertiga saling merangkul, menguatkan satu sama lain, dan cinta yang tak tergantikan.


Selama satu bulan, Teo terpaksa harus terbaring lemah di kamarnya. Meskipun tubuhnya belum pulih sepenuhnya, ia tetap berusaha untuk bangkit dan mencoba berdiri. Namun, setiap kali ia melakukannya, rasa sakit yang tak tertahankan membuatnya jatuh kembali ke tempat tidur.


Di tengah kelemahan dan rasa sakit yang dirasakannya, Teo tak henti-hentinya memikirkan suara misterius yang pernah ia dengar sebelum ia mengalahkan beruang iblis. Suara itu sangat asing, namun memberikannya kekuatan.


"Suara siapakah itu? Mengapa tubuhku tidak kunjung sembuh juga?" batin Teo penuh kebingungan dan kegelisahan. Ia merenung dan mencoba mengingat setiap detail momen tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang masih disembunyikan darinya, seperti ada rahasia yang harus dipecahkan.


Dalam kesendirian kamarnya, Teo mengambil napas dalam-dalam. Ia tahu bahwa dia harus mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaannya. Dalam kegigihan dan tekadnya yang tak pernah pudar, Teo bersumpah untuk menemukan kebenaran di balik suara misterius itu.


Setelah berbulan-bulan berjuang dengan tekad dan pengobatan dari ayah, ibunya, tubuh Teo akhirnya pulih sepenuhnya. Setiap hari setelahnya, ia mulai melatih dirinya dengan gigih, mengasah keterampilan berpedang dan memperkuat fisiknya. Teo tidak mau lagi ibunya dalam bahaya.


Dalam proses latihan, ia menemukan bahwa lengan dan ototnya menjadi lebih kuat dari sebelumnya.


Kini, Teo merasa telah menjadi seorang pendekar kecil. Gerakan-gerakan pedangnya begitu lincah dan presisi.


***

__ADS_1


Di ibukota Braga, Raja Erick mengadakan turnamen untuk para pendekar, baik yang masih kecil maupun remaja. Tujuan dari turnamen ini adalah untuk memperkuat pasukan dan meningkatkan kualitas para pendekar di kerajaan. Bagi para pemenang, baik pendekar kecil maupun remaja, mereka akan mendapatkan pelatihan yang intensif untuk menjadi pasukan yang menjaga perdamaian di kerajaan Braga.


Raja Erick selalu mengadakan turnamen seperti ini sebagai upaya untuk membangun kekuatan kerajaan. Turnamen ini memberikan kesempatan kepada mereka yang kurang mampu untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Para pemenang tidak hanya akan mendapatkan pelatihan dari guru-guru profesional, tetapi juga dijamin mendapatkan dukungan keluarga atau dukungan pribadi. Ini menjadi kesempatan langka bagi warga yang memiliki impian untuk meningkatkan hidup mereka.


Kabar tentang turnamen ini telah menyebar ke seluruh negeri Braga. Dari mulut ke mulut, sampailah berita itu di telinga Teo. Ia yang tidak mengetahui garis keturunannya, meminta bantuan Agil untuk mengantarkannya ke turnamen tersebut. Berharap akan menaikkan derajat orang tuanya.


"Ayah, aku ingin mengikuti turnamen ini. Aku ingin meninggalkan desa perbatasan ini agar kita dapat hidup lebih baik," pinta Teo kepada ayahnya dengan harap-harap cemas.


Namun, ayah Teo tidak setuju dan langsung menjawab dengan nada tinggi, "Mengapa kau ingin meninggalkan desa ini? Apakah kau tidak menyukainya? Kehidupan kita di sini tenang dan damai, nak."


Meskipun mendapat penolakan, Teo tetap menjawab dengan tenang, "Bukan karena tidak menyukai desa ini, ayah. Aku sangat menyukainya. Aku ingin masyarakat desa, yang telah menjadi keluarga bagiku, hidup dengan lebih baik."


"Aku ingin menjadi pendekar terkuat untuk melindungi penduduk desa, terutama ibu. Aku tidak ingin ibu terluka lagi. Untuk itu, aku butuh pelatihan terbaik," lanjut Teo dengan tekad yang bulat.


Mendengar perkataan itu, Agil terkejut dan tidak bisa mempercayainya. Tapi ia melihat keputusan Teo yang tulus dan tanpa egois.


"Mungkin sebaiknya aku harus mendukung Teo." Pikirnya.


Agil, tidak memberitahu Teo tentang mendaftarkannya ke turnamen. Agil sebatas memberikan alasan bahwa ia harus pergi ke ibukota untuk membeli perlengkapan dapur yang lebih memadai. Ia meminta Teo untuk melanjutkan latihan sendirian sambil menunggu kedatangannya.


Meskipun bingung dengan keputusan Agil, Teo patuh dan melanjutkan latihan. Ia menghabiskan banyak waktu sendirian, melatih gerakan pedangnya dan mempertajam keterampilannya. Setiap hari, ia berlatih dengan penuh semangat dan dedikasi, mengingat semua pelajaran yang pernah diajarkan oleh Agil.


Selama Agil pergi, Teo berjuang melawan rasa takutnya jika akan ada binatang iblis lagi. Ia juga merasa kehilangan sosok yang selama ini selalu ada di sisinya. Namun, ia menyadari bahwa ini adalah ujian baginya, ujian untuk membuktikan bahwa ia mampu mandiri dan mencapai impian-impian yang diinginkannya.


Hari-hari berlalu, dan dengan setiap latihan yang dijalani, Teo merasakan kemajuan yang pesat. Kekuatan dan ketangkasannya semakin meningkat, dan ia semakin percaya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Ketika Agil akhirnya kembali, ia terkesan dengan kemajuan yang telah dicapai oleh Teo. Ia menyadari bahwa Teo telah menjadi seorang pendekar yang tangguh dan siap untuk menghadapi turnamen. Dengan bangga, Agil memberitahu Teo tentang pendaftaran yang telah ia lakukan sebelumnya.


"Bersiap siaplah anakku... Anak terkuatku. Kau harus mengalahkan semua lawanmu di turnamen itu," Agil berbicara dengan lantang agar Teo kaget saat melakukan latihannya.


segera berbalik arah karena kaget, Teo melihat sosok yang tidak lain adalah Agil ayahnya," ayah... ayah serius?" Teo segera memeluk ayahnya dan senyum lebar terlihat di bibirnya.


Teo awalnya terkejut dan sedikit kesal karena tidak diberitahu sebelumnya, namun ia segera melupakan rasa kecewanya dan berterima kasih kepada Agil.


"Sudah, sekarang kita berangkat. Ganti bajumu!" perintah Agil kepada Teo.


Di perjalanan menuju ibu kota, Teo merasa pusing karena ini adalah pertama kalinya ia naik kendaraan. Namun, ia mencoba menenangkan dirinya dan berusaha menikmati pengalaman baru ini. Tak lama kemudian, mereka tiba di ibu kota Braga.


Setelah mereka sampai, Agil segera menuju stadion tempat turnamen akan berlangsung. Ia mendaftarkan ulang Teo sebagai peserta, namun sesuatu yang tak terduga terjadi. Semua penjaga yang ada di sana mengenali Agil.


"Pangeran Agil?" seru salah satu penjaga yang bertanggung jawab atas pendaftaran. Teo saat itu tidak fokus pada kata-kata itu, ia terlalu gugub, juga masih mengagumi keindahan ibu kota.


"Shh... Jangan terlalu keras," bisik Agil pada penjaga tersebut.


"Inilah putraku yang akan mengikuti turnamen. Teo... Segera daftarkan namanya!" perintah Agil dengan tegas.


"Maaf saya tidak tahu kalau Anda memiliki putra. Selamat atas kelahiran putra Anda, Pangeran. Saya yakin putra Anda memiliki kekuatan seperti Anda ketika masih kecil." Ia bicara terlalu cepat karena antusias. "Hanya sebagai informasi, banyak anak berbakat yang ikut dalam turnamen ini, seperti Jeremy dan Jessica, anak-anak Pangeran Wilson." Penjaga itu berbisik kepada Agil sambil tersenyum rindu.


Setelah Teo selesai mendaftar, mereka segera pergi mencari penginapan untuk istirahat sejenak sebelum turnamen dimulai.


Di penginapan, Teo merasa campur aduk antara kegembiraan dan kecemasan. Ia tidak sabar untuk mengikuti turnamen dan menunjukkan kemampuannya, tetapi juga merasa tegang karena persaingan yang ketat dengan para peserta lain. Di tempat pendaftaran ulang Teo yakin mereka jauh lebih berbakat. Mengetahui itu, Agil memberikan semangat dan dorongan kepada Teo, meyakinkannya bahwa ia telah siap untuk menghadapi tantangan tersebut.

__ADS_1


Malam itu, mereka beristirahat dengan harapan dan impian yang diidam-idamkan Teo.


__ADS_2