
"Aku rasa ini akan menjadi perjalanan yang panjang..." Xin Fai menyatukan kedua tangannya untuk bisa menampung air sungai, lalu meminumnya.
Lang mengomentari wajah lelah Xin Fai dengan acuh, "Itu karena kau terus ikut campur dalam segala hal. Dasar bodoh."
Kata-kata pedas itu sudah menjadi makanan sehari-hari, setidaknya itu yang Xin Fai rasakan selama ini. Dia memilih menajamkan ujung tombak untuk menangkap ikan di sungai.
Agak lama Lang bermalas-malasan, saat menunggu begitu lama dia mulai berpikir Xin Fai sudah mati di dalam sungai itu. Anak itu tak kunjung keluar dari dalam air, membuat Lang berinisiatif untuk menggali kuburan setelah menemukan mayat anak itu.
"Fuaah!"
Xin Fai mengusap wajahnya membuat air di sekitarnya pecah, dia mengangkat dua ikan dalam genggamannya.
Belum sempat mengeringkan dirinya, Lang buru-buru mengeluarkan pertanyaan. "Bukankah kau menyelam agak lama? Bahkan kurasa kau sudah tenggelam tadi."
Xin Fai yang hendak mengumpulkan ranting kayu berhenti bergerak, dia seolah mengingat-ingat. "Benar juga. Tunggu sebentar."
Lang menatap Xin Fai yang kembali berlari dalam sungai, sekitar empat menit telah berlalu baru Xin Fai timbul ke permukaan.
"Hei hei bukankah ini aneh?"
Xin Fai memeriksa tubuhnya, apakah jika dibiarkan dirinya akan berubah jadi duyung. Itu yang pertama kali Xin Fai takutkan.
"Coba ingat-ingat dulu mungkin kau pernah mengonsumsi sesuatu yang aneh."
Sambil menghidupkan api ia merenung, sesaat setelah menemukan jawaban Xin Fai menatap Lang. "Apa ini karena permata siluman kepiting?"
"Bisa jadi."
"Sebelumnya aku juga mendapatkan permata siluman capung... Apa efeknya?"
Lang tak menjawab, dia menggulung di bawah pohon yang teduh setelah menempuh sekitar tiga hari perjalanan.
Sambil menunggu ikan tersebut masak Xin Fai memanfaatkan waktunya untuk berlatih, dia membuka Kitab Tujuh Kunci dan membaca lembar pertama; Kunci Bulan. Jurus Tendangan Bulan Sabit ternyata adalah jurus paling rendah, Xin Fai tak bisa menerimanya mengingat tendangan Lan An tempo lalu saja sudah cukup kuat.
"Tergantung yang menggunakannya juga," gumam Xin Fai. Dia berdiri di sebuah pohon.
"Tendangan Bulan Sabit!"
Pohon tersebut hanya menimbulkan bunyi, tidak ada bekas retakan di sana karena Xin Fai tidak menggunakan tenaga dalam. Anak itu bertolak pinggang memikirkan cara lain. Kali ini dia memasang ancang-ancang serta mengumpulkan tenaga dalam.
"Tendangan Bulan Sabit!"
Hanya retakan kecil yang terlihat membuat Xin Fai sama sekali tidak puas, dia menggaruk pipinya mencari jalan lain. Ia mengambil Kitab Tujuh Kunci di atas tasnya dan membaca ulang.
Kitab tersebut mengeluarkan hawa aneh setiap kali Xin Fai menyentuhnya, meskipun demikian ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.
__ADS_1
Dengan kuda-kuda yang mantap Xin Fai kembali melakukan hal yang sama.
"Tendangan Bulan Sabit!"
Bersamaan dengan tubuhnya yang memutar seketika itu kakinya mengeluarkan asap misterius. Xin Fai berjongkok mengerutkan alis, kitab di dalam genggamannya pun melakukan reaksi yang sama.
Dia melakukan hal itu berulang kali sampai tiba di kesimpulan terakhir, ada suatu roh yang berada di dalam kitab ini dan jika penggunanya bersama kitab ini kekuatan sesungguhnya akan keluar.
Selain energi alam juga terdapat energi roh yang jarang ditemui, di kitab tersebut Xin Fai bisa merasakan energi yang begitu aneh dari yang pernah dikenalnya. Xin Fai mencoba jurus kesembilan yang sepertinya cukup mudah.
"Bulan Separuh Lingkaran?"
Xin Fai mengernyit heran namun mencoba mempraktekkannya, di percobaan pertama pedang yang digunakannya hanya bergerak seperti biasa.
Namun lama kelamaan ketika pedang itu membentuk separuh lingkaran timbul asap hitam yang bertahan lima detik di udara, asap itu membentuk separuh lingkaran.
Xin Fai menggunakan jurus tersebut ke pohon di hadapannya dan hasilnya bagian yang terkena ujung pedang terbuka lebar tanpa mengeluarkan suara apapun. Seperti hilang ditelan bumi.
Xin Fai terkesima dibuatnya, memang benar jurus dari Kekaisaran Qing begitu unik. Dia bahkan tidak bisa bernapas beberapa detik dibuatnya.
Asap yang keluar dari pedangnya mendadak mengepul di satu titik dan menampakkan sosok sepuh bertubuh ringkih. Hal itu membuat Xin Fai kaget sampai jatuh, dia merangkak mundur ketakutan.
"Ha-hantu!"
"Siapa yang kau sebut hantu, anak kecil?" Pria itu marah, ia bertumpu dengan satu tongkat di depannya.
Pertanyaan tersebut membuat pria itu menaikkan sudut bibirnya, jenggot hitam lebat pria itu bergerak layaknya ulat bulu. Seketika punggung Xin Fai keringat dingin, dia takut dengan ulat bulu.
"Aku adalah salah satu dari seribu roh penghuni kitab itu."
Membelalakkan matanya, Xin Fai tergagu-gagu mendengar kenyataan itu.
"Se-seribu?!"
Xin Fai mulai waspada mendengar ada seribu roh di dalam kitab itu, jika saja mereka memiliki niat yang jahat sudah pasti hari ini dia akan terbunuh. Ia menoleh ke samping dan mendapati Lang sudah terlelap tidur.
"Dasar serigala pemalas, di saat genting seperti ini dia malah tidur!" Batin Xin Fai mengumpat keras. Dia juga tidak mungkin berteriak untuk membangunkan Lang, bisa jadi sepuh di hadapannya tersinggung.
"Aku tidak tahu apa maksudmu muncul di hadapanku, jika kau menginginkan kitab itu kembali padamu silahkan ambil aku tidak akan menghalanginya." Xin Fai berujar sehalus mungkin.
"Kau bodoh?"
Mendengar kata-kata itu Xin Fai tertohok, dia batuk kecil.
"Kitab itu sudah kau miliki sepenuhnya. Jadi tidak ada alasan bagimu untuk bermalas-malasan dalam menguasai kitab tersebut," pria sepuh itu mendekat.
__ADS_1
"Kemarilah."
Entah berbahaya atau tidak, naluri Xin Fai mengatakan bahwa tidak menuruti keinginan roh itu seperti menggali kuburannya sendiri.
Telunjuk pria itu bersentuhan dengan dahi Xin Fai, sambil memejamkan matanya pria tua itu komat-kamit.
"Manusia Iblis sempurna, 3 permata siluman, kekuatan Serigala Berbulu Emas dan... apa ini?"
Xin Fai tak menyangka pria itu bisa membaca jumlah permata siluman yang berhasil dikumpulkannya dan juga kebenaran bahwa dia adalah Manusia Iblis. Hal itu tentu saja baru baginya.
"Kenapa? Kau menemukan kejanggalan?"
"Ya... Aku bisa melihat Iblis dalam dirimu sudah mulai tumbuh. Seharusnya iblis itu akan bangkit ketika umurmu 12 tahun. Ini jauh lebih cepat dari yang kubayangkan."
Xin Fai mempersilakan pria tua itu duduk, sebelumya mereka memperkenalkan diri terlebih dahulu.
"Aku roh dari desa Daan, namaku Kaibo."
"Desa Daan?"
"Kau mengetahuinya?"
Xin Fai tentu pernah mendengarnya dari Lan An. "Desa itu tempat patung Manusia Iblis didirikan."
"Manusia Iblis, ya? Aku jadi teringat sosok pemuda yang mengurung kami di dalam kitab ini..."
Kaibo menceritakan bahwa dulu ketika roh sepertinya berkeliaran bebas dan menganggu ketenangan manusia sosok Qiang Jun datang. Dia membuat sebuah kitab yang kini menjadi tempat bersemayamnya para roh. Mereka sebenarnya bukanlah roh jahat namun kehadiran mereka membuat manusia tak nyaman.
Bahkan manusia sempat melakukan ritual besar-besaran untuk mengusir mereka, hal itu membuat roh sepertinya tak memiliki tempat tinggal.
"Setidaknya aku berterimakasih padanya telah memberikan rumah untuk kami tanpa harus bersinggungan dengan manusia." Kaibo mengakhiri ceritanya yang agak lama tersebut, Xin Fai mulai paham. Dia menopang dagunya sembari berpikir.
"Bagaimana dengan iblis di dalam tubuhku sendiri? Apa menurutmu itu berbahaya?"
"Ya, sangat berbahaya. Jika suatu saat nanti Iblis itu berhasil mencuri kesadaranmu itu artinya kau harus bertarung dengannya."
"Bertarung dengan Iblis?"
"Mau tak mau kau harus melakukannya."
Wajah Xin Fai mendadak lesu, dia mengingat perkataan Fu Shi yang mengatakan bahwa iblis sepertinya memiliki sejuta tenaga dalam.
"Bukankah itu tidak mungkin?" Ia berujar lemas, wajahnya dipenuhi rasa putus asa.
"Maka dari itu takdir mempertemukan kita, aku akan membantumu untuk menjadi kuat. Sebagai bentuk balas budiku kepada Qiang Jun."
__ADS_1
***
A/N: support author dgn like, komen, rate serta vote wahai pembaca yang budiman😄